
...SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 🙏...
Jam 06.00 pagi
Mentari sudah siap ingin ke rumah orang tuanya, Arka yang baru selesai mandi langsung senyum dan sedikit sedih melihat antusias sang istrinya. Ia begitu merasa bersalah terlalu sibuk dengan kantor sehingga tidak memperhatikan kalau istrinya merindukan keluarganya.
Arka dengan jalan pelan menghampiri istrinya lalu ia peluk dari belakang karena saat itu Mentari lagi berdiri didepan cermin sambil memperhatikan badannya yang semakin gendut.
"Kak Arka baju Mentari basah" Ucap Mentari melihat pantulan suaminya di cermin air dari rambut Arka jatuh mengenai bajunya.
"Oh yaa, ganti yang lain dong kalau basah" Jawab Arka dengan santai.
Mentari menoleh sedikit kesamping sehingga pipinya semakin dekat dengan wajah Arka.
"Ini mancing ya?" tanya Arka.
Mentari langsung mengerutkan keningnya, bukan Mentari yang paham dengan bahasa seperti itu.
"Bukan memancing itu di sungai atau di laut?" tanya Mentari, lalu mendorong wajah suaminya itu kebelakang, "Jangan menaruh dagu kakak di bahu Mentari, berat" Sambungnya
"Alasan saja kan" Respon Arka sambil menggelitik sang istri. Seketika suara Mentari pecah.
"Ampun kak, aku ngos-ngosan nih gara-gara ketawa" Ucap Mentari sambil mengatur napas dengan tangan mengelus perutnya.
Aktivitas pagi Mentari dan Arka ini disaksikan oleh ibu Dewi, karena pintu mereka tidak tertutup rapat. Ibu Dewi senang melihat keharmonisan keluarga anaknya itu lalu ia kembali mencari suaminya yang sedang siap-siap ke kantor.
"Yah, apa sebaiknya Arka tinggal saja disini?" tanya Ibu Dewi.
Pak Rahmat menghadap cermin sambil memasang dasinya sembari menjawab, "Bu, mereka punya rumah sendiri tidak mungkin mau tinggalkan rumah begitu saja"
"Yah, bisa dijual baru pindah disini" Jawab ibu Dewi lagi.
Ayah Rahmat memilih untuk mengalah dari pada menjawab ucapan istrinya yang pasti tidak akan berujung.
"Kasih tau aja Arka" Ujar Rahmat dan ibu Dewi hanya mengangguk lalu kembali pergi.
Pak Rahmat hanya geleng kepalanya heran menghadapi perempuan, "perempuan ini selalu benar" gumam pak Rahmat.
...💛💛💛...
Sementara disebuah hotel prodeo dimana tempat Santi dan Ibunya berada saat ini sedang bertemu dengan seseorang yang berjaz hitam layaknya seorang pengacara.
"Gimana pak, kapan kami keluar dari sini?" tanya Santi.
"Saya sedang usahakan" Jawabnya.
"Ok, lalukan secepatnya aku tidak suka tempat ini" keluh Santi lagi.
"Baik, saya pergi dulu jam kunjunganku sudah habis" Ucapnya lalu pergi.
"Iya" Jawab Santi dan Ibunya sudah tidak sabar menunggu hasil pertemuan tadi.
"Dia bilang apa?" tanya ibunya.
"Masih dalam proses, jadi kita harus sabar" Ucap Santi dan ibunya langsung menunduk seakan putus asa karena ucapan pengacaranya itu selalu memberikan jawaban yang sama.
"Enak sekali Rionaldo masih berkeliaran diluar sana tanpa beban, sementara kita disini" Ujar ibu Santi tidak terima.
"Gampang menyingkirkan Rionaldo" jawan Santi dengan senyum miring tanda merencanakan sesuatu untuk Rionaldo nanti.
Sedangkan orang yang berjaz hitam tersebut setelah bertemu dengan Santi, ia menelpon seseorang.
"Sudah pak, mereka percaya dengan saya" Ucap orang tersebut dalam telepon lalu ia matikan sambungan telefon dan masuk dalam mobil.
Di keluarga Algantara, ibu Anita menyiapkan segala sesuatu untuk mengantisipasi jika Mentari menginginkan sesuatu.
"Bunda, pagi sudah repot saja" Tegur Aldi
"Iya dong" Jawabnya sambil menata makanan diatas meja.
"Tunggu dulu Mentari, sayang" tegur Ibu Anita.
"Bun, Aldi mau kekantor masa ia harus tunggu Mentari kalau sarapan"
"Mentari sudah dijalan" jawab ibu Anita lagi sembari senyum dan Aldi hanya mengangguk dan duduk sambil main ponsel.
Hadi pun datang dan duduk di samping putranya itu, "Kenapa belum makan?" Tanya Hadi.
"Tuu yang larang" Ucap Aldi sambil menunjuk Ibunya.
"Kenapa? ini sudah lengkap menunya malah ini banyak tidak seperti biasa" Ujar Hadi lagi yang tidak mengerti maksud dari ucapan Aldi.
Hadi mengambil piring dan langsung ditegur oleh ibu Anita, "Pa alangkah baiknya kita tunggu dulu Mentari, gimana?" tanya ibu Anita dengan meminta pendapat.
"Oke" Jawab Hadi.
Aldi yang melihat orang tuanya membuatnya merasa lucu namun untuk ketawa sangat tidak mungkin. Aldi menarik napas dan membuangnya dengan kasar lalu bersandar di kursi.
"Bun, Aku dan papa ini sebenarnya buru-buru mau ke kantor bun" ucap Aldi lagi.
"Sebentar lagi" Ucap ibu Anita lalu mengambil benda pipihnya itu untuk menelepon Mentari, baru saja ponsel ibu Anita tertempel ditelinga sudah terdengar suara dari arah pintu utama.
"Bunda, papa, kak Aldi, Mentari datang" Ucapnya sambil memegang paper bag.
Ibu Anita langsung bangkit dari duduknya menghampiri Mentari, ibu Anita begitu rindu pada anaknya itu, sementara Hadi dan Aldi langsung menikmati makanan diatas meja.
"Apa ini sayang?" tanya Ibu Anita setelah paper bag sudah berpindah ditangannya.
"Biasa bun, kue dari Toko Mentari" Jawabnya sambil jalan menuju meja makan, Bunda.. Papa dan Kak Aldi mana atau sudah ke kantor?" sambungnya dengan pertanyaan.
"Ohh aku gak disambut sama kakak" protes Mentari yang sudah berdiri disamping kakaknya yang masih menikmati makanannya.
"Buru-buru dek ke kantor" Jawabnya lalu ia akhiri makan pagi ini dengan meminum segelas air putih.
"Ohh, kak Arka dari tadi pergi ke kantor" ucap Mentari
"Nah maka dari itu dek, aku dan papa buru-buru ke kantor" Ucap Aldi.
"Aku harus cepat-cepat pergi sebelum keinginannya kumat" Batin Aldi. Ia sekarang serba hati-hati sama ibu hamil, bukannya apa? tapi keinginannya membuat orang serba salah, diikuti tersiksa, tapi tidak diikuti kasian juga, jadi mau tidak mau harus nurut keinginannya. Jadi Aldi mencoba untuk kabur.
"Oh gitu" Jawab Mentari sembari duduk dikursi samping kakaknya itu.
"Kita makan" ucap ibu Anita sembar menyendok makanan.
Mereka makan di selingi dengan cerita.
"Sayang kandungan mu sudah berapa bulan?" tanya ibu Anita
"Masuk 9 bulan bun, tidak lama lagi papa dan bunda jadi kakek dan nenek lho, kak Aldi juga jadi paman nanti" Jelas Mentari, "Ehh kak Aldi dengar-dengar sering ke toko kue" sambungnya setelah mengingat ucapan sang suami kalau Aldi menyempatkan waktunya toko kue setiap pagi sebelum ke kantor.
"Oh yaa" respon Hadi, "terus ngapain disana?" tanya Hadi.
"Biasalah Pa pantau toko Mentari, jangan sampai ada yang kurang" kilah Aldi.
"Benar? firasat bunda bukan seperti itu atau gara-gara perempuan yang ada di acara peresmian toko kue Mentari?" tanyanya lagi.
"Perempuan, hmmm kak Aldi ada yang dia naksir salah satu karyawan disana?" tanya Mentari menimpali.
"Assalamualaikum, aku ke kantor dulu" Pamit Aldi.
"wa'alaikumussalam, hee jawab dulu kak" Ucap Mentari lagi.
"By, mmuuaaacchh" Ucap Aldi melambaikan tangan lalu cium jauh.
...SEMOGA SUKA❤️...
...TERIMA KASIH 🙏...