
Hari ini adalah hari pernikahan yang kedua untuk Rembulan dan Radit, dan hari inipun pesta pernikahan yang cukup mewah sudah tersiapkan. Gaun putih milik Rembulan sungguh indah, ia tampil bagaikan seorang bidadari yang turun dari kayangan. Tanpaknya impiannya yang ingin menjadi seorang ratu kini tercapai sudah, sebab Mentari mewujudkan impian itu. Mentari sudah tahu sejak dulu keinginan Rembulan, hingga kini akhirnya waktu itu tiba. Berkat dari lelahnya mengatur semuanya, pesta ini terlihat seakan begitu sempurna.
Radit kini duduk di kursi, dengan Arya dan penghulu yang duduk di sampingnya. Dan Beberapa saksi yang duduk mengelilingi nya termasuk Arka. Perlahan Radit mulai menjabat tangan Arya, dan akad nikah pun di mulai dengan penuh haru.
Air mata Ranti menetes seiringan para saksi mengatakan kata sah, tidak ada yang dapat ia ucapkan selain kata bahagia sebab kini putri nya sudah resmi menyandang status istri yang sah secara agama mau pun hukum negara.
Setelah itu Rembulan baru di bawa keluar dari kamarnya, kepalanya sedikit tertunduk karena Rembulan memang seorang wanita yang pemalu. Sampai akhirnya ia di dudukan di samping Radit, namun tanpa di duga Mentari malah berbisik di telinga Rembulan.
"Sikat cuy," bisik Mentari sambil menggoda Rembulan.
Glek.
Rembulan ingin sekali mengetuk kepala Mentari, karena adiknya itu memang sangat menjengkelkan. Tapi tetap saja Mentari sangat menyayangi dirinya.
Perlahan Radit mulai memakaikan cincin di jari Rembulan, begitu juga Rembulan yang memakaikan cincin di jari manis Radit. Setelah itu di lanjutkan dengan cium tangan, dan di balas Radit dengan mencium kening Rembulan.
Acara Akad selesai di lanjutkan dengan acar sungkeman, tangis haru lagi-lagi tidak bisa di hindari. Tangis Ranti benar-benar pecah saat Radit meminta doa darinya, Ranti sadar cara yang di lakukan Radit adalah salah. Tapi Ranti juga memiliki nilai tersendiri untuk Radit, sebab Radit sangat mencintai putrinya. Bagi Ranti Rembulan adalah wanita yang paling karena bisa di cintai dengan begitu besar, bahkan perjuangan Radit bukanlah hal yang mudah. Semua sulit dengan penuh duri dan luka penuh dosa serta air mata.
"Ya ampun Kak, Kakak ngerasa nggak sih kalau Tari itu anak tiri?" tanya Mentari yang berdiri di samping Arka.
Arka tersenyum pada Mentari, "Kenapa begitu?" tanya Arka.
Mentari memeluk lengan suaminya, dan ia sedikit berjinjit agar bisa lebih dekat pada telinga Arka, "Tari nikah dulu Mama seneng aja, enggak ada nangis. Pasti Mama seneng deh kalau Tari keluar dari rumah," bisik Mentari.
Arka kini tersenyum sambil menatap istrinya, "Yang penting Kakak cinta sama kamu," Arka menaikan sebelah alisnya menggoda istrinya.
"Ish..Kakak," Mentari tersipu malu, karena Arka yang tersenyum padanya dengan begitu tampan.
"Ada yang malu-malu," seloroh Arka sambil tertawa kecil, sebab ini jarang sekali terjadi. Mentari bukan wanita yang pandai dalam hal romantis, bahkan ia selalu tampil apa adanya di depan Arka. Jadi ini adalah hal yang cukup langka, hingga Arka begitu menikmati senyum istrinya.
"Kakak ish...." Mentari menyembunyikan wajahnya di dada Arka, entah mengapa Mentari merasa indah saat bersama Arka. Bahkan ia merasa masih pacaran dengan Arka, wajar saja. Usia Mentari masih delapan belas tahun, dan ini adalah saat-saat nya merasakan manis nya jatuh cinta. Dan Arka mengerti akan hal itu, ia pun sangat senang dengan tingkah Mentari yang menganggap Arka adalah pacarnya.
"Jangan di sini kalau mau senyum begitu!"
"Kenapa?" Mentari menatap Arka dengan bingung.
"Kakak takut senyum nya ke bagi, kan Kakak bisa rugi," celetuk Arka.
"Ish....Kakak, Tari pengen nangis," kata Mentari yang tidak kuasa mendengar kata manis dari Arka.
Sementara beberapa pasang mata menatap Mentari dan Arka dengan begitu manis, bahkan ada beberapa dari mereka yang malah terhanyut dalam kemesraan keduanya.
"Ya ampun Tari, enggak merasa bersalah apa ya. Gue masih jomblo," gerutu Rika.
Rika bukan iri, tapi bisa di katakan iri sedikit juga. Bukan membenci Mentari atau berusaha merebut Arka juga. Tapi Rika juga sudah ingin memiliki kekasih, tapi sayang ia masih saja belum menemukan lelaki yang tepat.
Kini waktunya untuk melakukan sesi pemotretan, Mentari dan Rembulan berada di tengah. Sedangkan Arka berada di samping Mentari dan Radit berada di samping Rembulan. Semua keluarga tersenyum melihat bertapa bahagianya kini keluarga mereka.
"Sekarang kedua mempelai nya di fhoto," kata seorang juru potret.
Mentari dan Arka segera menjauh, dan kini Rembulan dan Radit yang menjadi pusat perhatian.
"Masnya pegang tangan istrinya," pinta juru potret.
"Coba lebih dekat lagi," kata sang juru potret.
Radit kembali mendekat, dan juru potret langsung mengambil gambar.
"Tukar posisi ya," pinta juru potret.
"Kak Ulan Rika enggak di ajak fhoto ya," rengek Rika, sebab ia memang belum pernah di fhoto.
Radit mengangkat tangannya, memanggil Rika, "Kemari," kata Radit.
"Iya," Rika tersenyum dan langsung melenggang naik ke pelaminan, ia langsung masuk di tengah dan bersiap-siap untuk fhoto.
Radit dengan cepat menarik lengan Rembulan, hingga Rembulan tertarik ke depan bersama Radit.
"Cup," Radit mengecup bibir Rembulan seketika.
"Waaaaaa!!!!!" teriak Rika histeris, karena ia malah di jadikan penonton di sana.
"Ahahahhaha....." seru yang lainnya karena melihat wajah Rika yang kesal.
"Kakak Ulan sama Kak Radit jahat, Rika enggak usah fhoto," kesal Rika lalu ia pergi, bahkan Rika menghentakkan kakinya.
"Rika mau kemana?" tanya Radit, "Kan belum di fhoto, tadi minta ikut fhoto?" tanya Radit lagi sambil menertawakan Rika.
"Enggak mau!" Rika memanyunkan bibirnya, dan ia kini lebih memilih duduk di kursi. Sambil menggerutu kesal.
"Abi," Rembulan mencubit lengan Radit, karena apa yang di lakukan oleh Radit barusan sangat memalukan.
"Sakit Umi," kata Radit, sambil mengusap tangannya.
"Malu tau Bi," kata Rembulan lagi.
"Hehehe......biarin aja, itu anak kelamaan jomblo. Sampek sekarang enggak punya pacar," jawab Radit sambil terkekeh.
Berbeda dengan juru potret yang langsung duduk di lantai.
"Mas nya kenapa?" tanya Mentari bingung.
"Saya juga jomblo Mbak, nasib jadi juru kamera...." jawab pria tersebut sambil ingin menangis.
"Ahahahhaha....." Semua yang ada di sana tertawa karena ternyata nasib juru potret itu masih sama dengan Rika.
"Rika kamu sama Mas ini aja," ejek Dimas.
Rika langsung menatap juru potret itu, "Yuk Mas, itu ada Kakak aku yang jadi wali nikahnya," Rika mendekati pria tersebut, dan seolah mengajaknya menikah.
"Kurang ajar!" kesal Dimas karena adiknya itu lagi-lagi menjengkelkan.
"Ahahahhaha......" Rika tertawa melihat wajah kesal Dimas, "Kena mental kan lu Kak, Kakak nya jomblo abadi! Kalau adiknya duluan nikah, di mana harga diri lu Kak?" tanya Rika menggoda Dimas, hingga membuat tawa yang lainnya seketika pecah.