
2 minggu kemudian
Jarum jam terus berputar, menit ke jam sudah tidak terasa. Waktu yang terus berputar menandakan hari akan terus berlanjut, entah siap atau tidak itu tergantung yang menjalaninya.
Sinar matahari yang menyilaukan mata, hawa panasnya mulai terasa setelah membuka gorden disalah satu kamar rumah Purnawan itu.
Mentari menahan sinar matahari itu dengan lengannya, "Silau bangat, jam berapa sekarang?" gumamnya lalu melihat jam dinding dikamar itu.
Jam dinding itu ada karena atas keinginan Mentari sejak tinggal di kediaman mertuanya itu. Mentari menormalkan pikiran dan memfokuskan pandangannya pada jarum jam.
"Haaaaa, jam 8 pagi" Ucap Mentari kaget. Ia langsung menyingkirkan selimut ke samping dan menurunkan kakinya perlahan kelantai.
Mentari jalan menuju dapur sambil mengusap perutnya karena lapar, perutnya terus bunyi sehingga ia kadang tertawa sendiri. Bunyi perutnya pagi ini bagaikan hiburan baginya.
Sesampainya meja makan Mentari melihat banyak menu bahkan, seketika Mentari menelan ludah begitu menggiurkan makanan hari ini. Ia menarik pelan kursi yang berada dimeja makan itu lalu ia duduk dan makan.
"Kemana sih ini orang rumah, apa kak Arka ninggalin aku juga sendiri dirumah" Gumamnya sambil makan.
Ritual makan Mentari kali ini cepat tapi banyak sampai-sampai bersendawa, meskipun disitu tidak ada yang dengar suara sendawanya namun Mentari tetap malu, ia buru-buru ingin kembali dikamar.
Mentari dalam kamar memutuskan untuk mandi setelah itu ia membaca buku tentang anak. Saat itu Arka masuk kamar dengan cara pakaian kasualnya, seketika Mentari memutar kursinya ingin melihat suaminya itu.
"Kak Arka sudah tua tapi ganteng pantas Santi suka kak Arka" Batinnya sambil menatap suaminya itu yang sedang menggantung jaketnya.
"Ihhh, geram aku jadinya" Ucap Mentari dengan sedikit membanting bukunya diatas meja.
Arka yang mendengar itu langsung menghampiri sang istri dan memeluknya dari arah belakang dengan dagu di bahu sang istri itu, deru napasnya terdengar jelas oleh sang istri.
"Kenapa, hmm?" tanya Arka dengan lembut, tetapi Mentari menjawab hanya dengan gelengan kepala. Mentari malu kalau ia jujur tentang kekesalannya pagi ini.
"Kenapa?" ulang Arka yang begitu lembut ditelinga Mentari.
"Gak kok, hanya sedikit tergeser saja" jawab asal Mentari.
Arka langsung memutar kursi sang isteri itu menghadap padanya, dengan panik Arka langsung bertanya, "tergeser apa dek?, apa yang tergeser?."
Mentari ingin tertawa melihat wajah panik sang suami, "Otak kak" jawabnya sambil mengulum senyum.
Arka yang mendengar itu langsung mengambil ponselnya yang berada diatas meja dekat tempat tidur dan ia seperti menelfon seseorang disana.
Mentari yang melihat itu langsung melambaikan tangan kepada sang suami, ia malas berdiri hanya untuk menghampiri suaminya itu.
"Kak Arka, bercanda" Ucap Mentari, namun ucapan itu tidak dihiraukan oleh sang suami.
Mentari bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri sang suami yang duduk pinggir tempat tidur itu, sembari menguping percakapan sang suami itu.
"Gak baik istri nguping pembicaraan suami" tegur Arka kepada Mentari.
"Dasar pelit" Ucap Mentari lalu menoleh tempat lain.
📞 "Bu, otak anakku tergeser. Apa obatnya yang harus diminum Mentari bu?" tanya Arka ditelepon itu.
Mentari langsung ketawa dengan menutup mulut agar tidak didengar oleh sang suami dan itu tidak disadari oleh Arka.
Diseberang telepon terdengar suara yang sedang mengomel,
📞 "Mana ada otak bayi tergeser dalam kandungan, Mentari mana?" tanya ibu Dewi itu.
📞 "Ini bu, lagi...." ucapan Arka seketika berhenti melihat Mentari yang baring menyamping membelakanginya dengan menahan tawa.
Arka seketika menaruh ponselnya lalu memanggil sang istri, "Dek, Mentari, Sayang" panggil Arka panik.
Diseberang telepon itu, ibu Dewi masih memantau. Ia langsung memanggil salah satu karyawan untuk memanggil Aldi.
"Tolong panggil pak Aldi kesini sekarang" ucap ibu Dewi dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
Orang yang mendekorasi gedung itu kembali bersama Aldi.
"Kerumah sekarang. Mentari sakit, Arka tadi menelfon dan memanggil manggil Mentari. Kesana cek dulu, apapun y g terjadi kabari yaa" Ucap ibu Dewi itu dengan khawatir tergambar jelas di wajahnya.
Aldi mengangguk, "Oke oke, Aldi pergi dulu. Assalamualaikum".
Aldi membawa mobil dengan kecepatan tinggi, ia sangat takut jika sang adik itu kenapa-napa, kejadian di RS membuatnya takut.
30 menit kemudian Aldi sampai dirumah orang tua Arka itu, dengan buru-buru masuk dalam rumah tanpa memberi salam terlebih dahulu langsung lari kesana kemari mencari adik dan iparnya. Aldi semakin panik ketika dalam rumah itu begitu sepi dan tidak ada suara apapun yang terdengar dalam rumah.
Aldi naik lantai dua memasuki semua kamar seperti rumahnya sendiri, ia pun tidak melihat sang adik dan suaminya. Aldi kembali mengatur napas karena capek lari sana sini, ia memutuskan untuk menelpon Arka dan akhirnya tersambung.
📞 "Assalamualaikum" Ucap Arka diseberang telepon itu dan terdengar jelas oleh Aldi suara itu tepat dibelakangnya dibagian balkon.
"Sial aku dikerjain" gumam Aldi lalu ia matikan sambungan telepon dan menuju balkon dimana sumber suara tersebut.
Disana Arka dan Mentari lagi santai sambil menikmati udara pagi menjelang siang itu. Aldi penuh dengan keringat dan napas tersengal-sengal menatap kedua makhluk didepannya itu yang tidak merasa bersalah sedikit pun.
"Kakak kenapa?" tanya Mentari yang sedikit kebingungan.
Aldi kesal langsung menjawab dengan penuh penekanan, "coba kalau sudah tua itu jangan buat orang panik seperti ini, aku lari sana sini kayak orang bego dalam rumah sebesar ini belum naik tangga, ternyata kalian disini santai-santai"
Mentari yang tidak tau apa-apa dan ia baru kali ini melihat sang kakak marah dengan nada bicara pelan tapi penuh penekanan.
"Mentari minta maaf, tapi masalah sebenarnya apa?" Tanyanya
"Kami kira kamu itu kenapa-napa lagi dek, makanya ibu Dewi langsung menyuruh ku kesini,. ohh iya, aku lupa ngabarin tante" Ucap Aldi lalu menelfon ibu Dewi.
📞 "Assalamualaikum tan, mereka baik-baik saja" ucap Aldi.
📞 "Alhamdulillah, Mentari dimana?" tanya Ibu Dewi diseberang telepon itu.
📞 "Disini tan, lagi menikmati pemandangan luar" lapor Aldi lagi.
📞 "ohh iya, terima kasih ya Al" ucap ibu Dewi lagi lalu i matikan sambungan telepon.
Aldi kembali ditempat semula dimana ibu Dewi berada saat ini. Namun sebelum pergi ia berpesan kepada Arka dan Mentari.
"Lain kali kalau bercanda dengan istri ucapannya yang pasti-pasti aja, jangan yang dengar menimbulkan asumsi lain" Ucapnya sambil melirik Arka dan beralih ke Mentari, "Dan kamu dek, jangan bertingkah seperti anak kecil dan jangan buat Arka panik. Kejadian kemarin, membuat kami selalu was-was kalau membiarkan kamu sendiri. Paham?" Ucap Aldi diakhiri dengan pertanyaan.
"Iya, terima kasih kak" Ucap Mentari sembari senyum dan merentangkan tangannya.
"Apa?, kayak anak kecil saja mau digendong" ucap Aldi tidak paham.
"Peluk" ucap manja Mentari kepada kakaknya itu.
"Hahaha, oh peluk, sini adik kecilku" Ucap Aldi lalu memeluk adiknya itu. Dalam pelukan sang kakak, Mentari menuturkan bahasa yang begitu membuat Aldi seketika diam.
"Kakak maafin Mentari ya, kalau selama ini belum bisa jadi adik yang baik untuk kakak" Ucapnya lembut.
"Kenapa ngomong seperti itu, bagiku adik terbaikku itu kamu dek dan ingat Arka" Ucap Aldi melepaskan pelukannya pada sang adik, "Seperti yang aku ucapkan dulu, dia bidadari kecil kami" Sambung Aldi kepada Arka seketika tegas.
Aldi bukan tidak percaya pada Arka tetapi lagi-lagi kejadian di RS itu membuat sekeluarga khawatir dengan Mentari, apalagi sekarang Mentari hamil membuat mereka waspada setiap waktu.
"Dia istriku Di, jadi mana mungkin aku tidak menjaganya, apalagi dia nanti akan menjadi ibu dari anak-anakku" Jawab Arka setelah lama diam.
Aldi menghela napas lalu menghampiri Arka, ia rasa ucapannya sangat menyinggung perasaan Arka dengan menepuk pundak iparnya sembari berkata
"Maaf kalau ucapanku tadi menyinggung perasaanmu, itu murni hanya untuk mengeluarkan perasaan khawatiku" ucap Aldi
"Saya paham itu Di" Ucap Arka.
"Kalau begitu aku pamit, Assalamualaikum" Pamit Aldi
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏**...