
"28 maret nona"
"Karet aku kurang lima" ujar Mentari sambil menghitung gelang karet tersebut
Brian memberanikan diri untuk bertanya "memang apa hubungannya tanggal lahir dengan gelang karet nona?"
"Bapak Brian gimana sih, ini kan mau dandanin bapak Brian kayak siswa baru masuk SMA" ujar Mentari yang membuat Brian lemas seketika
"Harus yaa nona?" Tanya Brian lagi
"Iya bapak Brian, ini sudah setengah perjalanan dandannya"
Mentari memberitahu Brian kemudian memanggil ART, "Bawakan karung pink, topi model kerucut ya mbok"
Brian yang mendengar Mentari memanggil ART dengan ucapan yang seperti itu membuatnya susah untuk menelan ludah.
Dengan menghela napas Brian kembali bertanya "Ini temanya apa ya nona?"
"Ini lhoo bapak Brian, aku tu pengeeen bangat melihat teman-teman aku yang dulu waktu MOS disekolah.Jadi pengennya aku mau ulang itu ke bapak Brian" ujarnya lagi penuh semangat sambil mengikat rambut asisten Brian
"Hahaha, bapak Brian kayak Marsha meskipun kurang poni sih" sambungnya sambil berdiri didepan Brian dan bertolak pinggang memperhatikan wajah Brian, "cocok bangat"
Brian yang mendengar itu hatinya seperti diiris-iris dengan begitu perih dan menyiksa. Brian untuk melihat wajahnya lewat cermin pun sudah tidak sanggup.
ART dengan segala perlengkapan yang ada dia bawa memberikannya kepada Mentari setelah sampai diruang tamu.
"Ini Nyonya" ucapnya
"Hmmm.. Nona aja mbok kalau gitu" protes Mentari karena sudah beberapa kali tidak suka dipanggil Nyonya tapi ARTnya selalu memanggilnya Nyonya.
Aldi yang baru masuk rumah mendengar ucapan adiknya itu langsung geleng kepala. Dengan menyimpan baper bag diatas meja lalu menghampiri adiknya.
"Sok muda bangat dek, ingat kamu itu orang tua bukan anak muda lagi, mau dipanggil nona pantasnya dipanggil ibu".
Mentari yang masih bertolak pinggang menghampiri kakaknya itu lalu ia memukul lengan kakaknya menggunakan buku.
"Kenapa sih kak? Sirik aja lihat orang bahagia" ujarnya dengan bangga.
"Heee.. dek, bahagia apanya? Kakak malah sedih lihat kamu" jujur Aldi
"Masa sih?, aku sebahagia ini dibilangin menyedihkan.. enak aja"
"Bukan keadaanmu tapi sifatmu, kasian asisten Brian" Aldi merasa kasian pada asisten Brian yang sudah didandanin dengan rambut yang diikat sebanyak 28 ikatan
"Ini siswa baru kak., Aku tu pengen lihat model aku dan teman-teman waktu MOS disekolah dulu" Mentari menjelaskan alasan dia mendadani Brian seperti itu, "kayak Marsha kan?"
Aldi yang ingin menjawab hanya menganga mendengar penuturan adiknya itu, ia ingin sekali membenarkan ucapan adiknya tapi lebih mendominasi rasa kasihan pada Asisten iparnya itu.
"Tapi gak diikat rambutnya juga kali dek" protes Aldi lagi.
"Ini namanya inovatif kak, tapi Mentari jujur sih kurang poni aja.. mana wajah bulat lagi.. eehhh tunggu-tunggu kayaknya ada yang kurang tapi apa yaa?" Mentari melihat Brian dengan melipat tangannya diatas dada sehingga sedikit terlihat perut buncitnya.. "ohhh tas dan topi" sambungnya lalu memberikan tas karung beras warna pink dan topi kerucut yang terbuat dari kertas manila.
Brian tanpa protes sedikit pun langsung menerima begitu saja dan ia pakai. Awalnya Brian malu tapi lama-lama ia mencoba berdamai toh ini hanya dalam rumah bosnya saja.
Aldi melihat itu dengan cepat menoleh kearah lain untuk menghindar agar tidak tertawa namun pertahanan Aldi itu hancur setelah Arka datang dengan wajah kaget dan tidak bisa menahan tahan.
"Hahaha.. Brian, aku kira tadi sudah pulang ternyata masih ditahan bumil ini, tapi kok aku gak bisa tahan tawa Brian.. hahaha.. Maaf Brian" ucap Arka lagi. Ia tidak bisa berhenti tertawa kalau ia bertemu wajah dengan Brian.
"Maka dari itu Ar, kasihan asisten Brian mana sudah capek urusan kantor sekarang ditambah lagi dengan Mentari" Aldi prihatin kepada asisten Brian. Aldi harap kalau Mentari melepaskan Brian itu.
"Dek.. kasian asisten Brian"
"Iya iya.. lepas tas dan topi kerucutnya bapak Brian" ucap Mentari sambil membantu asisten Brian.
Arka yang melihat itu langsung mengambil alih, ia tidak mau kalau istrinya itu membantu asistennya.
"Kakak saja sayang" pinta Arka dan Mentari mendengar itu kembali duduk di sofa.
"Ekhem, masih juga cemburu-cemburu, masih banyak wanita lain yang tidak menyusahkan seperti Mentari" ujar Aldi lagi sambil melihat Arka yang cemburu kepada Brian. Aldi sengaja mengatakan hal itu hanya untuk melihat reaksi Arka dan kalau Arka menyia-nyiakan adiknya seperti yang ia ucapkan maka orang pertama pasang badan untuk adiknya adalah dirinya.
"Apan sih kak" kesal Mentari. Ia tidak suka kalau berkata seperti itu.
"Kenapa sih dek.. aaaoo aaks sakit, benjol dek" ucap Aldi sambil mengusap kepalanya karena lemparan paper bag
"Penganiayaan ini dek namanya.. astaghfirullah dek" Aldi kaget melihat paper bag nya sudah dilantai sedang isinya sudah terhambur diluar. Ia langsung mengambil paper bag tersebut dan menyimpannya kembali diatas meja, "itu untuk kamu" sambungnya
Mentari yang melihat itu, "untuk aku, dalam rangka apa?" Tanya Mentari penuh selidik
"Ya elah dek, terima saja kenapa sih" protes Aldi, "mana kepala aku masih sakit lagi" sambungnya sambil mengusap kepalanya
"Salah siapa.. salah aku? Enak aja.. siapa suruh bikin kesal.. hadiah apa sih? bikin penasaran aja" ujar Mentari sambil meraih paper bag tersebut.
"Apa ini kak?" Tanya Mentari lagi.
"Buka aja dulu supaya tau apa isinya" jelas Aldi lagi.
Sedang Arka jangan ditanya masih fokus dengan membuka karet yang berada di kepala Brian.
"Ori gak nih?" Tanya Mentari lagi.
"KW" jawabnya singkat.
"Hmmm.. pantas anak aku tadi menyuruh ibunya ini untuk membuangnya" jawab Mentari lagi tidak mau kalah.
"Oohhh jadi sengaja? Baguslah setidaknya kalau rusak ganti sendiri" ujar Aldi malas pusing.
"Dompet.. lumayan baguslah" ucap Mentari setelah ia melihat dompet pemberian dari kakaknya itu.. "terima kasih kak., kebetulan aku punya dompet warna hitam seperti ini, tapi lebih bagus dompet aku sih sedikit padahal sudah lama aku beli" sambungnya panjang lebar, namun terdengar sakit ditelinga Aldi, bagaimana tidak ia bandingkan dompet yang dia beli dengan dompet pemberian suaminya.
"Ya Allah dek jujur boleh tapi juga bahasanya jangan buat nyesek dan sakit hati" jawab Aldi.
"Itu jujur kak bukan bikin sakit hati" jawab Mentari lagi.
"Sudah-sudah aku pusing dek hadapin kamu" ujar Aldi menyerah.
"Iya kak, eeh bapak Brian harus nyanyi dulu diiringi dengan gitar" ujar Mentari lagi yang membuat Arka berhenti melepaskan karet di rambut asistennya itu.
"Nasib nasib" batin asisten Brian
"Ayo bapak Brian" ujar Mentari lagi dengan senyum diwajahnya dan menunjuk kakaknya sebagai gitarisnya, "Kak Aldi yang iringi" sambungnya.
"Dek, aku gak pintar metik gitar" jawab Aldi
"Ayolah kak, Bapak Brian mau menyanyi asalkan kak Aldi yang iringi" bujuk Mentari lagi sedangkan Brian hanya diam seribu bahasa.
Asisten Brian bukan mau menyanyi tapi kalau ia mengeluarkan suara takutnya malah jadi masalah, rambutnya saja masih diikat sebagian bagaimana mau protes.
"Gimana Aldi saja dulu yang menyanyi sambil main gitar" usul Arka ingin ngerjain kakak iparnya sekaligus sahabat satu-satunya itu.
Asisten Brian mendengar usulan bosnya itu membuatnya sedikit lega, sedangkan Aldi malah membulatkan matanya pada Arka.
Arka menyadari itu namun pura-pura tidak melihatnya
"Ayo paman Aldi" ujar Arka lagi meniru suara anak kecil yang didukung oleh Mentari
"Yeeee.. paman lapuk mau menyanyi" timpal Mentari dengan mengangkat tangannya keatas tanda ia senang.
Aldi mendengar itu hanya menganga kaget dan tidak terima dengan ucapan adiknya itu.
"Dek, jangan kotori pikiran anakmu itu dengan bahasa yang tidak sopan. Mau anakmu nanti keras kepala terus kalau dia lihat papanya dipanggil kakek" ucap Aldi membalas ucapan adiknya itu bertameng Arka.
Arka pun tidak terima, ia berhenti membuka karet di rambut asistennya itu dan menghampiri istrinya lalu merangkulnya.
"Baby, pura-pura gak dengar aja yaa" ucap Arka yang diangguki oleh Mentari dengan senyum.
Mentari sangat senang mendengar ucapan suaminya itu, "baby paman...." Ucap Mentari sambil mengusap perutnya itu tiba-tiba dipotong oleh Aldi kakaknya itu.
"Oke oke, tapi kakak gak bisa menyanyi dan terus gak bisa main gitar juga" jelas Aldi. Ia sengaja berkata jujur agar Mentari membatalkan niatnya itu.
Asisten Brian jadi betah duduk disitu dan mendengar penuturan CEO perusahaan Algantara Grup itu. Ia senang akhirnya selamat dengan keinginan istri bosnya itu
"Alhamdulillah, terima kasih" batin Brian
"Gak apa-apa kak, aku hanya mau lihat bakat terpendam mu" jawab Mentari dan menoleh kearah suaminya, "bagaimana menurut kakak?" Tanya Mentari pada suaminya
Arka senyum kepada istrinya itu lalu ia menjawab sambil mengusap kepala istrinya itu, "iya sayang, kakak pun belum tau kalau bakat terpendam kakak ipar ku ini menyanyi"
Mentari sambil menepuk tangannya,"cocok...ayo kak" ucap Mentari penuh semangat
"Mbok, gitar mbok" panggil Mentari lagi
5 menit kemudian ARTnya datang dengan membawa gitar,
"Ini tuan" ucap ARTnya itu kepada Aldi
Aldi menerima gitar itu dengan perasaan antar kesal dan sedih, ia sedih dengan nasibnya hari ini
"Apes banget hidup aku hari ini" gumam Aldi
Aldi mulai memetik senar gitarnya, melodi gitarnya begitu bagus terdengar ditelinga membuat yang ada disitu memejamkan mata menikmati alunan melodi itu dan Aldi pun mulai menyanyi, awalnya ia baik-baik saja tiba-tiba masuk nada tinggi yang membuat Aldi menarik suara berakhir fals.
"Hahaha.. kak Aldi salah" ucap Mentari yang tiba-tiba tertawa yang diikuti oleh Arka sedangkan Brian hanya menutup mulut agar tidak terdengar menertawakan Aldi
"Aduh.. aduh" ucap Mentari lagi sambil memegang perutnya
Arka panik "kenapa dek?"
Aldi langsung menaruh gitarnya dan menghampiri Mentari, "sakit perut dek?"
Mentari menggeleng pelan membuat tiga laki-laki yang ada di situ jadi bingung.
"Terus kenapa sayang?" Tanya Arka dengan lembut namun tergambar jelas dari sorot matanya dia khawatir
"Cerita dek" timpal Aldi lalu ia menyandarkan kepalanya dipinggir sofa dengan posisi melantai, "dek jangan panik, bunda bisa marahin aku lho kalau pulang kamu kenapa-napa" sambungnya dengan panik.
"Apa nona, sakit perut karena lama tertawa?" Tanya asisten Brian yang diangguki cepat oleh Mentari.
"Nah, itu asisten Brian benar" ucap Mentari setelah diam tidak menjawab pertanyaan kakak dan suaminya itu, "hmm, kakak dan suami gak mengerti masa hanya bapak Brian yang paham" sambung Mentari lagi sambil melirik suami dan kakak nya itu.
"Kakak kenapa duduknya di lantai?" Tanya Mentari lagi
Aldi mendongak melihat wajah adiknya itu, dengan menghela napas pelan lalu ia menjawab, "aku kira tadi kamu udah mau lahiran dek, makanya aku panik" sambung Aldi yang membuat Mentari mengerutkan kening bingung lalu menoleh kearah suaminya.
"Emang kandungan aku sudah berapa bulan kak?" Tanya Mentari kepada suaminya itu.
"Gak hitung dek?" Tanya balik Arka
"Gak, tapi kayaknya 6 bulan" jawab Mentari yang mendapat komentar dari Aldi lagi.
"Masa gak tau, orang tua macam apa ini.. iya gak Assisten Brian?" Tanya Aldi yang membuat Brian bingung.
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏**...