
Mentari menginap dirumah orang tuanya sudah dua hari, dan saat ini mereka akan balik ke rumah mertuanya. Lagi mengemas barang terutama barang penting Balqis dan memasukkannya dalam tas. Arka menelfon sambil masuk dalam kamar dimana Mentari dan Balqis berada.
"Oh iya, baik" Jawab Arka ditelepon itu lalu mematikan sambungan telepon.
Mentari penasaran,"Siapa yang menelepon?" tanyanya.
"Biasa orang rumah" Jawab Arka santai sambil mencium pipi gembul anaknya.
"Ibu?" tanya Mentari lagi.
"Yang jaga rumah kita" Jawab Arka lagi lalu mengangkat balqis dari pembaringan dan hendak membawanya keluar kamar.
"ehh mau kemana?" tanya Mentari melihat Arka membawa Balqis.
"Keluar, bosan dalam kamar terus, iyakan sayang?" Jawabnya lalu melihat wajah anaknya seakan Balqis sudah bisa bicara.
Balqis kecil hanya merespon dengan suara tawa.
"Nah tu kan, Balqis pengen keluar dari kamar ini" Ujar Arka lagi lalu keluar.
Sedangkan Mentari kembali melanjutkan memasukkan pakaian Balqis dalam tas. Kurang lebih 20 menit sudah selesai dan ia memutuskan untuk menghampiri suami dan anaknya.
Mentari baru keluar sudah terdengar suara tawa orang rumah dan disela-sela itu terdengar juga ucapan sang Bunda.
"Sering-seringlah kalian datang disini" Ucapnya yang membuat Mentari tersadar kalau selama ini ia jarang mengunjungi orang tuanya.
Mentari menghampiri mereka, "Lagi pada ngapain nih?"
"Biasa lagi main sama Balqis, lihat dia udah bisa respon" Jawab Aldi.
"Iya, meskipun hanya dengan tertawa" Timpal Hadi.
Mereka keasyikan membahas Balqis sedangkan Balqis melihat mereka satu persatu dan sekali-kali ia tertawa seperti nonton stand up komedi.
"Kok asyik sendiri ya" Ucap bunda Anita melihat cucunya tertawa dengan main tangan sendiri.
"Iya nih" Timpal Mentari.
Kedatangan Mentari ini sebenarnya sekaligus untuk pamit pulang sebenarnya, apalagi melihat waktu sudah menunjukkan sore dan saatnya untuk balik nanti kemalaman dijalan.
"Bunda, kayaknya kami balik sekarang soalnya sudah sore takutnya nanti kemalaman dijalan" Ucap Mentari.
"Kemalaman kayak jauh saja" Timpal Aldi.
"Kan bawa bayi kak" Jawab Mentari, "Gak nikah sih jadi gak tau nih bagaimana perasaan jadi orang tua" Sambungnya.
"Iya, kamu yang menang" Aldi mengalah daripada menghabiskan waktu berdebat adiknya, lebih baik main bersama ponakannya sebelum pulang.
"Ya sudah, ambil barang dan siapkan mobil nanti Balqis aku dulu yang gendong" Tawaran Aldi itu masuk akal menurut Mentari.
"Oke" Jawab Mentari.
Mentari membawa tas begitupun dengan Arka lalu dimasukkan dalam mobil. Setelah itu Mentari menggendong Balqis dan pamit kepada kedua orang tuanya.
"Kami pulang dulu nya bun, pa, bro" Pamit Arka.
"Pamit ya bun, pa, kak. Assalamualaikum" Pamit Mentari
"Wa'alaikumussalam, hati-hati ya" Jawab Anita.
"Wa'alaikumussalam, kenapa gak bawa sopir?" tanya Hadi.
"Enak begini pa, jalan bertiga" Jawab santai Arka.
"Aman gak nih?" Tanya Aldi.
"In syaa Allah, aku sudah telepon Brian untuk memantau dan katanya aman" Jawab Arka penuh yakin.
"Oh hati-hati kalau begitu" Ujar Aldi.
Mentari dan Arka masuk dalam mobil tentu bersama Balqis. Mulai mengendarai mobil menuju kediaman Purnawan dengan pelan karena membawa bayi sedang Balqis dengan antengnya menghisap jarinya dan akhirnya belepotan karena ludahnya sendiri.
"Tas kecil dimana tadi kak?"
"Disamping tu" Jawab Arka tanpa menoleh.
Mentari pun melihat tas itu dan mengambil tisu didalamnya dan membisikkan mulut anaknya.
"Anak cantik ini lupa gak dibelikan empeng ya?. Sabar ya, Nanti ibu suruh bapak Brian yang beli supaya ada inisiatif untuk cari calon istri" Ucapnya.
"Empeng itu apa?" Tanya Arka tidak tau dan bari dengar.
"Itu pengganti dot, biasa juga disebut compeng" Jelas Mentari.
"Itu pernah saya dengar, nanti saya yang beli masa Brian" Arka tidak terima kalau yang lakukan itu Brian meskipun hanya hal empeng.
🌺
Sudah setengah jam sampai rumah dan Arka pun keluar sudah selama itu juga, karena hanya menurutkan Mentari dan membawa tas masuk dalam rumah lalu ia kembali keluar dengan alasan akan cek rumah. Padahal selama ini selalu pergi hanya untuk ambil berkas atau baju kantor.
Sementara dari halaman rumah baru saja parkir mobil yang ditumpangi ibu Dewi dan pak Rahmat.
"Ternyata Balqis belum pulang Yah, mobil Arka tidak ada disini" Ucap Dewi dengan lesu karena biasanya keluar seperti ini pas pulang disambut cucu dan rasa capeknya hilang seketika.
"Mungkin besok mereka balik" Jawab Rahmat sembari membuka sepatu dan menyimpannya di rak yang biasa mereka sediakan dalam rumah, begitupun dengan Dewi.
Masing-masing pegang tas, Dewi jalan menuju kamar diikuti oleh Rahmat karena kamar mereka tidak jauh dari kamar cucu mereka. Sengaja, dengan alasan kalau Balqis menangis kedengaran dikamar mereka.
Samar-samar Dewi mendengar suara tawa anak kecil dan ada percakapan kecil seperti suara mantunya.
"Yah, Balqis sudah dirumah ternyata" Ucap Dewi dengan senyum sumringahnya dan dengan cepat masuk dalam kamar dan menyimpan tasnya disembarang tempat lalu ke kamar cucunya.
Dan ternyata benar, disana Mentari sedang mengajak anaknya bicara sembari menggelitik sehingga Balqis kegelian dan ketawa dengan renyah khas anak bayi.
"Ya Allah, gak nelepon kalau sudah dirumah" Ucap Dewi kesenangan.
"Maaf bu, lupa karena Balqis tadi menangis setelah kak Arka pergi" Jawab Mentari.
"Ya udah, istrahat tapi ibu mandi dulu ya" Ujar ibu Dewi dengan buru-buru ke kamarnya.
Masuk kamar dan disana Rahmat sedangkan periksa berkas dari kantornya. Pak Rahmat menoleh sekilas lalu kembali fokus di kertas didepannya.
"Tumben cepat kembali?" Tanya Rahmat heran kepada istrinya.
"Mau mandi Yah" Jawab Dewi lalu masuk kamar mandi. 10 menit ritual mandi ibu Dewi dan pakaian santai sudah selesai.
"Yah, istrahat. Di kantor kerja dirumah juga kerja. Mending temani saya ke kamar Balqis" Ajak ibu Dewi.
"Mentari mau keluar?" tanya Rahmat.
"Saya suruh istrahat Yah, karena Balqis tadi itu rewel sebelum kita sampai dan Arka juga kemana sudah sore gini masih juga di luar" Ucap Ibu Dewi lagi dan Pak Rahmat sudah merapikan berkas diatas mejanya.
"Ayo" Ajak Rahmat yang sudah jalan menuju pintu.
"Ok" Jawab Dewi lalu ikut suaminya menuju kamar sang cucu.
Sementara disisi lain, Arka dirumah dengan sepucuk surat ditangannya dari satpam rumah. Saat Arka tanya penjaga rumahnya itu, ia pun tidak tau dari siapa yang penting ada laki-laki yang antar menggunakan motor.
Arka membolak balik surat itu tapi tidak ada nama pengirim yang ada satu kata nama istrinya "MENTARI"
Arka penasaran tapi tidak sopan jika ia buka surat itu tanpa persetujuan istrinya terlebih dahulu. Arka menimbang mau telepon atau tidak saking penasarannya dengan isi surat tersebut.
"Sudahlah nanti dirumah saja bacanya" Gumam Arka dan pamit kepada orang-orang yang jaga rumahnya selama ia tinggal di rumah orang tuanya.
Arka kembali dirumah dan tidak lupa ke toko perlengkapan bayi membeli empeng untuk anaknya. Setelah beli langsung melanjutkan perjalanan meskipun di toko ada sesi bingung karena lupa yang mau dibeli dan penjaga toko pun pusing sehingga ia menyebut semua perlengkapan bayi yang ada di toko.
"Balqis tidur?" tanya Arka.
"Tidak tidur, habis nangis" Jawab Mentari.
"Jadi?"
"Aman"
Arka dan Mentari masuk kamar bersamaan. Mentari pegang gelas air minum sedangkan Arka memegang paper bag. Arka menaruh paper bag tersebut diatas kursi dan mengeluarkan isinya.
"Ya Allah kak, baju Balqis itu udah satu lemari" Ujar Mentari tanpa memperhatikannya.
"Ini bukan pakaian tapi empeng" Jawab Arka.
"Oh iya, itu penting untuk Balqis" Ujar Mentari lagi.
"Hmmm,.. ini sengaja aku beli tadi, takutnya lupa meskipun aku lupa namanya pas sampai toko"
"Kok bisa?" tanya Mentari.
"Saya juga heran, jadi aku bilang saja 'pucuk dot', ehh ketawa penjaganya sambil mereka carikan, tapi alhamdulillah ada" jelas Arka sambil membuka pembungkus empeng, "jadi gak perlu lagi isap jari" Sambungnya.
"Benar juga, gimana dengan proposal kak?, bukannya kalau udah lebih 6 bulan itu harus ganti judul?" tanya Mentari kepada suaminya.
"Ganti saja kalau gitu, nanti urus ulang" Jawab enteng Arka.
Mata Mentari terbelalak, mana mungkin dia ganti judul mengingat perjuangannya sampai masuk rumah sakit.
"Lho.. perjuanganku sampai rumah sakit kak, mana bisa kayak gitu" Mentari tidak terima.
"Iya, tapi masalahnya udah expired kan? jadi ganti saja sesuai bidang yang kamu kuasai. Kalau dulu aku rasa kamu tidak kuasai, contohnya kalau bimbingan hanya makan" Ucap Arka sembari senyum.
Dewi dan Rahmat mendengar itu hanya senyum sambil geleng-geleng kepala.
Mentari terlebih dahulu menutup telinga anaknya.
"sayang ibu tutup telinganya yaa" Izin mentari kepada Balqis.
"Kak bukan kegitu, kaka..." Ucap Mentari dipotong langsung oleh Arka.
"heee" Ucapnya sambil menaikkan satu jarinya, "ingat bukan kakak tapi ayah Balqis" Sambungnya lalu lari keluar dari kamar setelah melihat istrinya sudah bertolak pinggang karena kesal.
"Hahaha" Suara tawa Arka diluar kamar itu.
Mentari mendengus kesal, ia pamit kepada mertuanya.
"Bu, Yah. Mentari tinggal sebentar yaa" Pamitnya lalu mencium pipi gembul anaknya itu, "sayang ibu tinggal sebentar yaa" pamit kepada anaknya itu lalu pergi menyusul suaminya.
🌺
Malam menjelang, semua sudah ke kamar masing-masing hendak tidur untuk melepas penat seharian. Ada yang berbeda dari keluarga Algantara, saat ini mereka lagi sidang Aldi bukan karena melakukan kesalahan melainkan karena didesak untuk segera menikah. Dan anehnya, orang tuanya menyukai Siska teman Mentari tapi masalahnya Aldi sudah ditolak oleh Siska.
Memang Aldi tidak mengajak Siska untuk pacaran, ia ingin langsung membawa Siska ke rumah. Salah satu kesalahan Aldi yaitu sering menemui Siska ditempat kerja tapi tidak pernah mengatakan ketertarikan dan niat baiknya.
Namanya perempuan pasti tindakan sangat perlu tapi harus didukung dengan ucapan. Namun, Aldi tidak menggunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan perasaannya yang alhasil setelah ada niat membawanya ke rumah, Siska menolak meskipun dengan kalimat sopan tapi bagi Aldi itu sangat sakit.
"Gimana dengan rencana Bunda dan Papa, setuju?" tanya Anita.
"Bunda, Siska itu gak mau dengan Aldi" Jawab Aldi.
Ia sekarang sudah bingung menghadapi orang tuanya.
"Jadi, menurut kamu harus gimana?" Timpal Hadi dengan pertanyaan.
"Nanti lihat ke depan lagi" Jawabnya sedangkan orang tuanya sudah pusing dengan santainya anak laki-laki tentang menanggapi soal pasangan hidup.
"Aku ngantuk bun, pa.. Aldi pamit duluan ke kamar ya" Izinnya lalu pergi menuju kamarnya sedangkan Anita dan Hadi mau tidak mau kembali ke kamar juga.
Berbeda dengan Arka dan Mentari. Saat ini Mentari sedang membaca surat yang dikirim melalui alamat rumah mereka.
"Kapan surat ini dibawa?" tanya Mentari kepada suaminya itu.
"Kata satpam rumah, tadi pagi" Jawab Arka.
"Berarti Rio ada disini, kenapa gak ketemu langsung saja untuk minta maaf" Ujar Mentari lagi. Jujur hati Mentari merindukan sahabatnya itu, meskipun ia takut bertemu dengan Rionaldo tapi kangen saat bersama itu selalu membuatnya tersenyum.
"Andaikan Rio gak jahat sama aku" Gumam Mentari yang masih bisa ditangkap oleh pendengaran Arka.
"Kenapa kalau Rio tidak jahat sama kamu?" tanya Arka.
"Mungkin aku selalu merindukannya kak. Dia itu orang baik, tapi kenapa dia seperti itu. Aku gak nyangka" Jelas Mentari sedikit curhat kepada suaminya itu dengan panjang lebar.
"Masa lalu yang indah yaa?" tanya Arka lagi tapi dalam hatinya muncul rasa cemburu.
"Masa lalu" Ulang Mentari, "Hhmm, sepertinya bagus nih kerjain suami. Maafkan istrimu ini pak suami" Sambungnya dalam hati sembari senyum.
"Menurut kakak, cinta itu bisa merubah seseorang?" pancing Mentari.
"Iya, seseorang itu bisa baik tiba-tiba jahat karena cinta dan begitupun sebaliknya"
"Berarti Rio berubah seperti itu karena terlalu cinta sama aku. Padahal kak, Rio itu baiiiik bangat sama aku, apa yang aku inginkan selalu diadakan oleh Rio" Puji Mentari depan suami membuat Arka jadi gak mood.
"Kak, Rio itu .." dipotong oleh Arga dengan menarik tangan istrinya untuk tidur.
"Kenapa kak?, aku itu masih mau cerita" Ujarnya lagi.
"Tidur"
"Dengar dulu kak, seru lho" Mentari semakin menjadi jadi kerjain suaminya itu.
"Tidur, Mentari ayu lestari Algantara" Ucap Arka dengan posisi membelakangi istrinya itu.
Mentari mendengar suaminya menyebut nama lengkapnya itu langsung merinding takut. Ia mendekati suaminya lalu ia peluk dari belakang.
"Maaf, bercanda tadi" Bujuk Mentari dengan sedikit menggigit bibir bawahnya karena takut.
"Hmmm"
"Kak Ar.... Ayah Balqis, maafkan ibu Balqis ini" Ucapnya lagi. Ia yakin cara ini mampu meluluhkan hati suaminya yang sedang kesal.
"Hmmm"
"Kok gak mampan yaa" Batin Mentari kebingungan.
Mentari kembali membujuk suaminya. Kali ini dengan cara yang berbeda. Masih dengan posisi yang sama memeluk suaminya dari belakang.
"Allah menyukai orang selalu dihatinya sejuta maaf kak, dan saya tidak akan berhenti minta maaf sebelum kakak maafkan saya" ucapnya lagi.
Sebenarnya Arka sudah memaafkannya hanya ia sengaja untuk mendengar rengekan istrinya. Namun, satu yang belum terpenuhi keinginannya dengan harapan istrinya bisa menyadari kesalahannya kenapa sampai ia kesal.
"Kak Arka, kok diam. Eehh, ayah Balqis" Ucapnya membuat Arka tersenyum lucu. Ia sudah tidak tahan dengan ucapan Mentari yang mengundang tawa menurutnya tapi kalau ia ketawa percuma pertahanannya sejak tadi.
"Ayah Balqis. Saya janji gak akan menyebut nama Rio lagi deh" Ucapnya.
"Semoga berhasil" Batin Mentari.
Dan ternyata benar, Arka langsung membalikkan badan setelah melepaskan tangan Mentari dari badannya.
"Saya sudah maafkan kok, dan janji tidak menyebut nama Rionaldo lagi kan?" Ucapan Arka berakhir dengan pertanyaan dan Mentari mengangguk sembari senyum bahagia.
"Ya sudah kita tidur" Ajak Arka.