Mentari

Mentari
Episode 96



Hari Aqiqah


Sejak pagi pukul 07.00 sudah mulai sibuk dengan persiapan aqiqah cucu pertama di keluarga Algantara dan Purnawan.


"Apa sudah siap?" tanya ibu Dewi.


"Bu, ini masih jam 7, aku belum mandi" Ucap Arka dengan rambut yang acak-acakan.


"Lho, jam 9 sudah disana" Ucap Ibu Dewi lagi didepan pintu kamar yang sudah Arka buka sejak ibunya memanggil namanya.


"Ibu, sudah siap-siap?" tanya Mentari yang baru keluar dari kamar mandi.


"Iya, ibu datang kirain sudah pada siap semua" Ucap ibu Dewi lagi.


"Maaf ya bu, telat bangun, baby bangun jam 3 pagi tadi" Ucap Mentari.


"Kok tumben cucuku seperti itu" Ucap ibu Dewi heran dengan perubahan jam bangun cucunya.


Ibu Dewi menghampiri ranjang bayi cucunya itu, "Ya Allah, masih tidur anteng" Ucapnya dengan nada kecil sambil mengusap lembut pipi gembulnya.


"Kalian siap-siap, nanti ibu yang urus cucuku pagi ini" sambungnya lagi yang masih memperhatikan cucunya itu.


"Iya bu" Jawab Arka bersamaan dengan Mentari.


Arka dan Mentari pun siap-siap sedangkan ibu Dewi masih menunggu cucunya bangun.


Persiapan orang tua muda itu memakan waktu hampir satu jam dan kebetulan sang bayi bangun, dengan mata sedikit ia buka dan menggeliatkan matanya dan menguap.


"Cucu Oma menguap, udah bangun rupanya, kita siap-siap yaa" Ucap ibu Dewi dan mengangkat cucunya mengeluarkannya dari ranjang bayi.


Ibu Dewi memandikan cucunya, lalu ia memakaikan bajunya yang sudah disiapkan sejak Mentari mengambil baju untuk ia kenakan hari ini.


"Sudah siap" Ucap ibu Dewi sambil melihat cucunya dan ia tidak tahan hanya untuk menatapnya dan akhirnya ia mendaratkan satu ciuman pada cucunya itu.


"Harumnya gadis cantik hari ini" puji Dewi lagi pada cucunya itu.


Semua sudah siap tinggal menunggu keluarga Mentari datang di di kediaman Purnawan. Mereka sengaja jalan bersama-sama menuju gedung tempat dimana anak Mentari di aqiqah nanti.


Arka duduk disamping istrinya dengan pusat perhatian mereka adalah ibu Dewi dan anaknya. Mentari begitu bersyukur melihat ibu mertuanya main dengan anaknya.


"Penasaran deh, gimana perasaan ibu main dengan cucunya" Ucap Mentari tiba-tiba.


"Pasti senang dong sayang" Jawab Arka.


"Iya juga sih" Mentari membenarkan ucapan suaminya dan kembali fokus kepada anaknya lagi.


"Ibu senang bangat hari ini, ada ibu?" tanya Mentari, meskipun ia sudah tau alasannya tapi tetap bertanya hanya untuk memastikan.


"Ibu senang karena punya cucu" Jawab Ibu Dewi lalu menoleh kearah anak dan mantunya itu.


"Alhamdulillah, Mentari ikut senang dengarnya" Ucap Mentari lagi sembari senyum.


"Rencana Balqis punya adik umur berapa?" tanya ibu Dewi to the point membuat Mentari diam sejenak lalu menoleh ke suaminya dan saat itu Arka hanya senyum sambil menaik turunkan alisnya sembari senyum kepada Mentari.


"Kakak kenapa?" tanya Mentari.


"Gak, jawab pertanyaan ibu" ujar Arka.


"Aa..mm.. eee.. " Mentari bingung mau jawab apa pada ibu mertuanya itu karena jujur Mentari belum kepikiran ketahap punya anak kedua.


"Kok bingung" Gumam Arka.


"Aoww, sakit sayang" Ucap Arka sambil mengusap pahanya yang dicubit oleh sang isteri.


Ibu Dewi yang tidak di respon tapi malah mendengar mantu dan anaknya saling menganggu.


"Cucu Oma yang cantik, sepertinya adik Balqis tidak lama akan menemani Balqis disini" Ujar Ibu Dewi. ibu Dewi tidak lupa mengambil gambar cucunya itu lalu ia kirim di ponsel Anita.


"Belum memikirkan itu Bu" Jawab Mentari dengan hati-hati.


"Harus dipikirkan dong sayang, masa Balqis sendirian di rumah" Jawabnya dan memegang tangan cucunya yang mungil itu, "iya kan cucu oma yang cantik?" sambungnya dengan pertanyaan seakan bayi kecil itu mengerti.


"Hmmm.. Balqis bilang gak mau sendirian dirumah, apalagi melihat Omanya kesunyian di rumah, itu membuat Balqis sedih" Ucap ibu Dewi lagi.


"Balqis tau isi hati Omanya, terima kasih cucu oma yang cantik. Kita turun ke bawah yaa temui Opa" Ucap ibu Dewi lagi sibuk dengan cucunya sedangkan Mentari dan Arka hanya geleng kepala lalu bangkit dari tempat duduk mengikuti belakang ibu Dewi.


oohh iya, kenapa disini ibu Dewi langsung memanggil cucunya Balqis? karena sekeluarga kompak bertanya kepada Arka dan Mentari tentang naman anaknya itu.


Mentari ingin sekali memberitahukan nama anaknya tapi si bapak baru itu tidak mau. Arka ingin mengumumkan nama anaknya pas Aqiqah, tapi karena saat Aqiqah nama anak harus ada di gedung itu kata keluarga besar terpaksa ia memberitahukan nama anaknya itu.


"Ini nama cucu kami harus ada di gedung nanti, jadi siapa namanya?" tanya pak Rahmat.


"Apa gak bisa pak tidak usah pakai nama?" tanya balik Arka.


"Kasih tau aja, gak ada masalahnya diberitahu sekarang" Timpal Mentari mendukung keluarga besarnya.


"Iya, dimana-mana anak sejak lahir sudah diberi nama" Protes Aldi, "tapi aku tau kalau ayahnya gak mau kasih tau, yaa kita tulis saja di gedung Aqiqah si bocil" Sambungnya sengaja.


"Ehh, enak saja penerus Arka Mahardika Purnawan di panggil bocil" Arka tidak terima dengan ucapan iparnya itu.


"Maka dari itu, lagian yang tau keluarga inti bukan orang lain" Pancing Aldi lagi.


"Ok ok" Arka mengalah. " Namanya Nurul Balqis Purnawan" sambungnya.


"Nah kan itu enak, ditahan juga sampai 6 hari" Ucap Aldi lagi, "Kalau punya anak laki-laki nanti diberi nama apa?" sambungnya dengan pertanyaan.


"Hee, Balqis saja umurnya besok baru 7 hari, udah nanya adiknya. apa kabar omnya yang belum menikah" Sindir Mentari.


"Aku masih mempersiapkan mental dek, supaya nanti kalau istri saya melahirkan gak pingsan di ruang persalinan" balas Aldi.


Seketika Mentari melirik suaminya dan Arka menoleh ketempat lain. Sedangkan para tetua hanya ketawa mendengar percakapan Mentari dan Aldi, tidak menyadari maksud dari ucapan Aldi tersebut.


...💛💛💛...


Tepat pukul 09.00.


"Ini yang aku tidak suka banyak ucapan selamat" Ucap Arka setelah turun dari mobil.


"Namanya juga orang ikut senang" Ujar Mentari.


"Banyak yang mendoakan itu baik" Timpal Aldi.


Para tetua sengaja menggunakan satu mobil bersama cucu mereka. Ibu Dewi keluar dari mobil bersama bayi Balqis yang diikuti oleh ibu Anita serta Hadi dan Rahmat.


"Balqis gak rewel bu?" tanya Mentari.


"Alhamdulillah tidak, dia ini anteng-anteng saja kalau bersama Omanya, iya kan Anita?" Ucap ibu Dewi.


"Benar banget, jadi biar Balqis cepat punya adik lagi selesai Aqiqah ini dibiasakan tidur dirumah Omanya saja" tutur ibu Anita.


"Bunda, Balqis ini baru mau di Aqiqah lho, umurnya baru 7 hari" Jawab Mentari.


"Kita masuk dalam, kasian Balqis lama-lama diluar" Ucap Arka memotong pembicaraan. Ia mengingat putrinya baru kali ini lama ditempat terbuka seperti saat ini.


"ayo" Ucap ibu Dewi.


Semua masuk dalam gedung dan disana sudah ada anak yatim piatu serta kerabat dekat dari keluarga Purnawan dan Algantara.


Acara aqiqah pun dimulai di awali dengan shalawat terlebih dahulu lalu potong rambut.


Setengah jam sudah berlalu, tamu yang datang pun lagi menikmati hidangan yang telah disediakan.


Mentari dan Arka lagi berada disalah satu kamar di gedung itu untuk menemani istrinya memberikan asi pada Balqis. Mentari selalu memandang wajah anaknya itu.


Arka merasa tidak diabaikan keberadaannya protes kepada istrinya.


"Dek, apa wajah kakak ini sudah tidak menarik lagi?" tanya Arka.


"Maksudnya kak?" tanya balik Mentari tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


"Tidak, kalau sudah selesai kita kembali, gak enak sama yang lain sudah nungguin Balqis. Keluarga ingin melihat Balqis" Ucap Arka lagi.


"Iya kak" jawab Mentari.


Arka dan Mentari kembali ke tempat semula dimana tempat Aqiqah sang anak, dan disana Mentari tidak sengaja melihat Siska.


"Kak Arka, itu benar Siska kan?" tanya Mentari kepada suaminya.


"Iya benar" jawab Arka.


"Kenapa gak bilang sama aku mau datang yaa" Mentari heran dengan keberadaan Siska sahabatnya.


"Emang kenapa?" tanya Arka.


Seketika Mentari melihat wajah suaminya, ekspresi Arka biasa saja.


"Kok kakak gak kaget atau gimana gitu" Ucap Mentari lagi.


"Gimana, maksudnya?" tanya Arka lagi.


"Kakak gak ngerti maksud Mentari, mau samparin Siska dulu" Ucap Mentari dan saat itu ibu Anita datang.


"Mau kemana sayang?" tanya Anita karena melihat putrinya yang hendak melangkah.


"Temuin sahabat kuliah Mentari bun. Minta tolong Bun gendong Balqis sebentar" Ucap Mentari.


"Ya sudah" Ucap ibu Anita dan Balqis berpindah tangan kepada Omanya lagi yang satunya. "Nak Arka temanin Mentari" sambungnya.


"Iya bun" Jawab Arka dan mengikuti arah belakang istrinya itu.


Mentari yang sudah tidak sabar ingin bertemu sahabatnya yang sudah lama bertemu, tanpa aba-aba Mentari memeluk Siska dari belakang.


"Ya Allah Siska, kenapa gak WhatsApp aku datang disini? kemana aja sih, gak ada kabar sama sekali" Ucap Mentari sambil mengerucutkan bibirnya seakan kesal pada sahabatnya itu.


"Duduk dulu kali" Respon Siska dengan santai.


"Ok Ok, aku penasaran nih" Ucap Mentari lagi sambil duduk.


Arka duduk tidak jauh dari Siska dan Mentari, ia sengaja tidak ingin mengganggu obrolan keduanya.


"Siska, sekarang kamu kerja dimana?" tanya Mentari dan Siska hanya senyum.


"Kok malah senyum sih, pengen tau. Kalau aku jangan ditanya yaa sarjana aja belum" Ucap Mentari dengan wajah ditekuk.


"Nanti selesai acara aqiqah tinggal bilang sama pak Arka, lagian pembimbing mu pak Arka, santai saja" Jelas Siska mencoba untuk menyemangati sahabatnya itu.


"Justru Pak Arka atau suami sendiri pembimbing aku jadinya makin lama" Ucap Mentari lagi.


"Yakin tidak, dulu pak Arka melarang kamu karena hamil takut kamu stres sekarang kan Balqis udah lahir, gak ada yang dikhawatirkan lagi"


"Benar ucapanmu Siska, aku setuju" jawab Mentari, "Malu tau kalau Balqis besar nanti baru bertanya pendidikan terakhir ibu hanya tamatan SMA" sambungnya lagi sambil berpikir. "Apa aku lanjut lagi ya?" bertanya sambil menaik turunkan alisnya sembari senyum.


"Itu tanya pak Arka saja, tapi aku yakin pasti diizinkan hanya sampai S1 saja tidak untuk S2"


Mentari langsung memelototi Siska dan Siska hanya meresponnya dengan ketawa. Setelah berhenti ketawa, ia kembali dengan wajah serius.


"Ada yang aku mau bicarain, penting" Ucap siska sambil menghadap penuh kepada Mentari.


"Apa itu?" tanya Mentari penasaran. Begitupun dengan Arka yang mendengarnya ikut penasaran.


"Saya harap kamu gak marah ataupun kaget" Ucap siska lagi yang semakin mengundang rasa penasaran yang dengar tentunya Arka dan Mentari.


"Iya, dijamin gak, apa?" Tanya Mentari sudah tidak sabar.


"Maaf kan aku terlebih dahulu" Ucap Siska lagi dengan menatap wajah Mentari.


...SEMOGA SUKA 😊...


...TERIMA KASIH 🙏...