
Mentari seharian dirumah orang tuanya. Ibu Anita sesekali memberi petuah pada anaknya itu yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Ibu Anita melihat kaki Mentari sedikit bengkak, "Sayang, sering-sering jalan kaki ya" Ucapnya.
"Iya bun, tiap pagi jalan kaki bersama ibu" Jawabnya.
"Arka gak nemenin?" tanya ibu Anita.
"Ke kantor bun, lagian gak apa-apa kok, ada ibu yang temanin Mentari jalan" ucap Mentari yang tidak mempermasalahkan hal itu.
"Tapi tidak mungkin ke kantornya subuh atau pagi-pagi sekali" Protes ibu Anita
"Kalau subuh pasti aku minta kak Arka yang nemenin, tapi aku jalan paginya jam 7" jelas Mentari.
"Arka ke kantor jam berapa?"
"Jam 8" jawab Mentari singkat dan jujur.
"Masih ada satu jam lagi nak, nanti bunda kasih tau Arka. Arka seharusnya itu sering di rumah saat ini bukan ke kantor"
"Bunda, gak apa-apa lagian kak Arka kerja buat Mentari dan cucu bunda juga, benar gak bun?" tanya Mentari sembari senyum.
"Iya, yaa sudah kalau gitu. Tapi bunda tetap minta Arka jangan full time waktunya di kantor, apalagi sudah dekat melahirkan, aduh jadi bunda yang bingung lihat kalian berdua. Bunda dulu kalau sudah hamil besar seperti ini, papa gak boleh kemana-mana, dia harus disamping bunda terus. Kalau ke kantor hanya ambil berkas dan periksa di rumah, kalau bun...da.. Sayang, lah kok malah tidur" Ucap ibu Anita sambil geleng kepala melihat Mentari yang ketiduran disampingnya sambil bersandar di sofa.
"Sayang, bangun, gak baik tidur di waktu sore, ayo kita jalan sore" ucap ibu Anita sambil menepuk-nepuk lembut pipi Mentari.
Mentari mulai membuka mata dengan begitu berat sembari senyum, lalu kembali menutup matanya dengan senyum yang belum luntur di sudut bibirnya sembari mengelus perutnya.
"Hey bangun sayang" ucap ibu Anita lagi kembali menepuk pipi Mentari.
Mentari meraih tangan ibunya dan meletakkan tangan ibunya itu kearah perutnya yang sedang bergerak-gerak, Ibu Anita spontan diam dan ikut merasakan itu.
"Bunda sekarang baru sadar nak, sekarang kamu sudah besar dan tidak lama lagi akan memiliki anak dan itu tandanya kamu akan semakin sibuk dan jarang ketemu bunda, saat ini saja kalau tidak menelepon mungkin tidak datang dirumah bunda"
Ucapan ibunya itu membuat Mentari seketika membuka mata dan menatap ibunya itu, dimata ibunya Mentari melihat sedikit berkaca-kaca. Ia tau sejak kejadian di rumah sakit itu Mentari tidak ke rumah orang tuanya lagi, ia masih takut. Namun hari ini mendengar ibunya merindukannya maka ia memutuskan untuk ke rumah yang selalu ia rindukan saat sendirian di rumah mertuanya.
"Bunda, bukan gak mau datang di rumah hanya Mentari takut, keadaan Mentari tidak aman bun. Bunda tau kan Santi dan Rionaldo menginginkan aku pisah dengan kak Arka dengan berusaha menggugurkan kandungan Mentari dan Rionaldo itu sampai saat ini belum ditau kemana ia pergi, dia bagaikan ditelan bumi setelah kejadian itu" Ucapnya sambil memegang tangan ibunya itu, "Mentari rindu rumah, biar bagaimanapun dirumah ini Mentari tumbuh dan besar" sambungnya lagi lalu memeluk ibunya itu.
Dalam pelukan Mentari kembali berkata, "Bunda jangan berpikir aneh-aneh, Mentari sayang sama bunda, papa dan kak Aldi"
"Bunda tau" Ucapnya.
Mereka lama dalam berpelukan untuk melepas rindu satu sama lain sebelum Arka menjemputnya untuk pulang.
Ibu Anita jika ingin jujur, ia ingin sekali putrinya itu menginap di rumah malam ini. Namun melihat antusias putrinya siap-siap untuk dijemput maka ia urungkan niatnya.
"Apa Mentari gak rindu bunda?" tanya Anita lagi melihat Mentari yang sedang memperbaiki kerudungnya dengan cermin menggunakan layar ponselnya.
"Rindu dong bun, nanti Mentari datang lagi" Ucapnya
"Ohh, ya udah, jaga cucu bunda" Ucap Anita.
"Pasti dong bunda" Jawab Mentari.
30 menit kemudian, mobil berhenti di halaman rumah. Mentari tau kalau itu suaminya, ia sangat hafal suara mobil suaminya.
Mentari bangkit dari duduknya ingin menyambut suaminya dari pintu utama rumah.
"Apa gak sebaiknya tunggu saja disini?" tanya ibu Anita. Ia khawatir dengan gerakan lincah Mentari dengan perut yang besar.
"Sudah biasa sambut kak Arka depan pintu bun, jadi pas masuk dalam rumah senyum istrinya yang ia lihat duluan" Jawab Mentari sembari senyum.
Sedangkan dari sisi luar, Arka masih menunggu istrinya itu untuk menyambutnya.
"Dia kemana?" tanya Arka membatin dalam mobil.
"oohh iya, lupa. ini rumah mertua pasti Mentari sibuk cerita dengan bunda" Gumamnya lalu turun dari mobil dan jalan menuju pintu utama.
"Assalamualaikum kak Arka" Ucap Mentari dengan diayun-ayunkan suaranya dan lembut membuat Arka mengerutkan keningnya.
"wa'alaikumussalam dek dan baby" jawab Arka sembari membalas senyum istrinya itu, "Udah rapi, mau kemana?" tanya Arka sambil jalan menuju kursi dimana ibu Anita berada.
"Mau pulang, kasian ibu sendiri di rumah" Ucap Mentari
Ibu Anita mendengar itu sebagai orang tua pasti ada rasa sedih, namun ia sadar biar bagaimanapun anaknya sekarang ini sudah menikah dan tidak ada hak lagi untuk melarangnya bahkan menyuruhnya untuk tidur dirumah.
Arka orang yang super peka dengan ekspresi wajah ibu mertuanya itu, ia tidak tega memisahkan ibu dan anaknya, apalagi ibunya sangat rindu kepada anaknya saat ini.
"Kakak ingin bermalam disini, rindu ingin tidur dikamar kamu waktu gadis" Ucap Arka seketika wajah ibu Anita cerah dan senyum.
"Emang sekarang aku bukan gadis lagi?" tanya Mentari yang membuat Arka menepuk jidat dan ibu Anita langsung bangkit dari duduknya sembari menatap anaknya yang kadang bertanya diluar logika orang dewasa.
"Bunda gak tau mau bilang apa" Ucap ibu Anita.
"Tapi bun, Mentari hanya bertanya" ucap Mentari lagi dengan jujur
"Emang kalau gadis, bisa hamil?" tanya Arka
Dengan cepat Mentari menjawab "Bisa, kalau sudah menikah"
"Ohh iya ya" Jawab Arka lagi sambil berpikir.
Ibu Anita melihat anak dan mantunya hanya senyum.
"Memang aku gak salah milih mantu" batinnya
"Ya sudah kalau gitu istrahat dan bersihkan badan dulu, bunda mau ke dapur dulu" Ucap ibu Anita. Hari ini ibu Anita begitu bahagia ditambah anak dan mantunya menginap membuatnya sangat antusias untuk memasak berbagai menu.
Arka dan Mentari masuk kamar, ibu Anita memasak dibantu oleh ART.
"Banyak bangat bu masak sore ini?" tanya ART
"Mentari bermalam disini" jawab ibu Anita sembari memotong mengiris bawang.
"Pantas ibu repot sekali sore ini" Ucap ART nya lagi sembari senyum
"Iya, Alhamdulillah keluarga lengkap" Respon ibu Anita lalu lanjut memasak dengan ART tanpa ada pembicaraan lagi selain fokus di kerjaan mereka saat ini.
Disisi lain, Ibu Dewi dirumah tidak kalah sibuk memasak untuk makan malam keluarga dibantu oleh ART Setelah memasak ia menyimpan diatas meja lalu lanjut mandi. Ibu Dewi sengaja memasak cepat agar setelah sampai mantunya langsung makan.
Ibu Dewi saat ini lagi melihat katalog perlengkapan bayi sambil menunggu kepulangan anak dan mantunya itu.
Waktu tidak terasa sudah malam, tapi Arka dan Mentari belum sampai rumah juga. Ibu Dewi mulai khawatir ia telpon ponsel Arka tapi tidak ada jawaban. Ibu Dewi langsung menuju balkon dimana suaminya biasa habiskan waktu dimalam hari jika ia capek dari kantor.
"Yah, Arka dan Mentari belum pulang" adu ibu Dewi kepada suaminya itu.
"Arka bermalam dirumah Mentari malam ini besok baru pulang" Jawab Ayah Rahmat dengan santai.
"Gitu ya, mana ibu masak banyak tadi, kirain mereka pulang" Ucap ibu Dewi sembari duduk dikursi samping suaminya dengan pandangan kearah depan.
"Yah, ibu pengen kalau Mentari sudah melahirkan nanti, pokoknya jangan tunda hamil lagi, supaya cucu pertama tinggal dengan kita yah disini, pasti rame" Ucap ibu Dewi lagi sembari senyum jika membayangkan hal itu.
Ayah Rahmat yang awalnya hanya duduk santai seketika menoleh melihat istrinya setelah mendengar ucapannya, "Kasian menantu ibu, kerjaannya hanya melahirkan saja sudah tidak ada pekerjaan lain" Ucapnya sambil geleng kepala heran dengan pikiran istrinya saat ini.
"Supaya ramai Yah. Contohnya sekarang, siapa yang makan makanan yang sudah ibu sediakan diatas dimeja makan itu, kalau banyak cucu, mereka yang habiskan" Jelas Dewi lagi.
"Terserah ibu saja" jawab ayah Rahma yang membuat ibu Dewi senyum.
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏🥰**...