Mentari

Mentari
Episode 86



Arka yang masih periksa dokumen diatas meja tiba-tiba ponselnya bunyi tanda ada pesan masuk, tanpa menunggu Arka langsung membuka pesan itu dan disana terlihat gambar ruangan dan orang yang sedang merenovasi ruangan itu dengan warna dan desain-desain yang sangat cocok dengan baby.


Arka langsung membalas pesan itu.


✉️ Arka : Kapan tiba ini dek?


Mentari yang masih bertolak pinggang sambil memperhatikan orang-orang yang bekerja itu dan ponselnya bunyi.


"Pasti kak Arka" batin Mentari dan langsung melihat layar ponselnya, "Benar kan" gumamnya lagi.


"Kenapa sayang?" tanya ibu Dewi yang habis dari ruang sebelah.


"Tidak bu, kak Arka balas pesan Mentari" Jawab Mentari lalu membalas pesan dari suaminya itu.


"Oohh" jawab ibu Dewi, "Kita ke depan biarkan mereka menyelesaikan pekerjaan mereka nanti kita cek lagi" Sambung itu Dewi.


"Ok bu" jawab Mentari sembari senyum.


...💛💛💛...


Matahari sudah di ufuk barat, tapi para laki-laki dalam rumah itu belum pulang juga. Mentari memutuskan untuk ke kamar ibu mertuanya, ia mengetuk pintu lalu beri salam.


"assalamualaikum bu" Ucap Mentari dibalik pintu itu.


"wa'alaikumussalam, masuk nak" jawab ibu Dewi dalam kamar.


Mentari kemudian membuka pintu dan masuk dalam kamar tersebut dan duduk disalah satu kursi dalam kamar tersebut.


Ibu Dewi yang melihat mantunya itu pertama kalinya masuk dalam kamarnya, maka ia berpikir ada yang Mentari tanyakan atau minta tolong.


"Ada yang ibu bisa bantu?" tanya ibu Dewi.


"Gak ada bu, hanya sunyi aja gak ada teman cerita" jawab Mentari.


"Gimana kalau kita jalan-jalan ke taman?" tanya ibu Dewi karena dia juga sebenarnya bosan dirumah seharian.


"Boleh tu bu, kapan?" tanya Mentari sambil jalan menghampiri ibu mertuanya yang sedang duduk disalah satu kursi dalam kamar itu.


"Yang penting bukan sekarang, besok atau kapan-kapan kalau kita suntuk dirumah. Gimana?" tanya balik ibu Dewi.


Mentari memainkan mimik wajahnya, "hhmm kapan-kapan, itu tidak pasti bu" jawab Mentari sembari senyum.


Ibu Dewi merasa gemas dengan ekspresi wajah mantunya itu ditambah pipi Mentari tambah tembem semenjak hamil, "Gimana kalau kita pergi besok?" tanya ibu Dewi.


"Boleh, ke toko kue gimana bu?" tanya balik Mentari.


"Ke Toko nanti capek, sekarang fokus olahraga jalan pagi untuk memperlancar proses persalinan nanti" Ujar ibu Dewi.


Mentari mendengar itu langsung diam. Setiap membahas persalinan muncul rasa takut di hatinya, berbagai macam pertanyaan yang muncul dibenaknya sehingga membuat dirinya khawatir sendiri.


Ibu Dewi menyadari itu, ia langsung memegang pundak mantunya itu, "Ibu tau kamu pasti takut kan? tapi jangan khawatir ada Arka yang nemenin nanti diruang persalinan"


Mentari tersenyum paksa meskipun ibu mertuanya mencoba untuk menenangkannya namun rasa takut itu sering muncul tiba-tiba.


"Ibu paham, karena ibu pernah juga pernah diposisi mu. Ibu takut malah ibu sampai nangis-nangis dulu saking takutnya" Ucap ibu Dewi sambil menuntun mantunya untuk duduk di bibir ranjang.


Mereka pun duduk samping dan sedikit berhadapan, ibu Dewi kembali meyakinkan mantunya itu, "Tapi rasa sakit itu hilang seketika setelah mendengar suara tangis Arka" Ucapnya sembari senyum membayangkan saat itu, "Dia begitu lucu, dia menangis tapi saat berada di pelukan ibu langsung diam, tau tidak nak? ibu merasa pada saat itu orang yang paling bahagia di dunia ini" tuturnya sambil memegang tangan mantunya itu.


"Semoga Mentari setangguh ibu dan bunda ya" Ucap Mentari dan saat ini perasaannya mulai membaik setelah mendengar cerita ibu mertuanya.


"Sekarang istirahat, besok kita olahraga pagi, ok? tapi ini Arka dan Ayah sudah pulang atau belum sih, udah jam delapan malam ini lho" ucap ibu Dewi sambil melihat jam di tangannya.


"Oh iya ya, nanti Mentari telepon. Mentari ke kamar dulu ya bu" Pamit Mentari lalu keluar dari kamar itu, begitupun dengan ibu Dewi ia merebahkan badannya diatas tempat tidur.


Mentari jalan menuju kamar sambil memperhatikan ponselnya, setibanya dipintu kamar ia hendak membuka pintu tapi pintunya sudah terbuka duluan, karena fokus di ponselnya maka ia langsung masuk dalam kamar.


"Dek sudah makan?" tanya Arka.


Seketika Mentari bersendawa walaupun itu sedikit ia paksa, "Alhamdulillah kenyang" Jawabnya yang membuat Arka senyum sambil geleng kepala.


"Aku bawakan makanan ya" ucap Arka lalu ia pergi menuju dapur.


Sedangkan di keluarga Algantara sekarang baru selesai makan malam, mereka terlambat karena menunggu Aldi dan Hadi yang baru pulang dari kantor.


"Bunda kangen Mentari, apa Mentari tinggal dengan kita saja ya pa?" tanya ibu Anita.


"Telepon saja, Mentari sekarang sudah ada suami jadi dia ikut suaminya atau papa yang telepon"Ujar Hadi menanggapi ucapan istrinya itu.


Aldi yang mendengar itu langsung melakukan video call kepada sang adik dimana saat itu Mentari pun sementara makan ditemani oleh sang suami.


"Dek, lagi makan juga?" tanya Aldi sambil mengarahkan kamera hpnya kepada bunda dan papanya.


Seketika diseberang telepon terdengar berteriak memanggil kedua orang tuanya, "Bunda...papa.. Mentari rindu" ucapnya sembari mengunyah makanannya.


Aldi melihat itu langsung menegur adiknya itu, "Kebiasaan bicara sambil makan, telan dulu dek makanannya baru bicara"


Mentari dengan cepat menelan makanannya dan membuka mulutnya menghadap kamera memperlihatkan kepada orang kakak dan kedua orang tua mereka.


"Lihat, sudah aku telan makanannya" Ucap Mentari lagi yang diangguki oleh Aldi dan ditanggapin dengan senyuman oleh orang tua mereka berdua.


"Iya, bunda dan papa rindu kamu dek" ucap Aldi lagi menyampaikan isi hati orang tua mereka.


Mentari mendengar itu seketika melihat Arka dan Arka pun langsung menjawab ucapan Aldi itu, dengan memutar ponsel Mentari agar kameranya menghadap padanya, "Besok pagi Mentari datang, saya antar sebelum ke kantor"


"Bunda tunggu yaa" ucap ibu Anita mendengar ucapan mantunya itu.


"Ya sudah kalau begitu, selamat beristirahat. Assalamualaikum" ucap Aldi lalu ia matikan sambungan telepon tersebut.


Setelah mematikan sambungan telepon Aldi kembali bertanya pada orang tuanya, "Gimana?."


"Gimana, maksudnya?" tanya ibu Anita yang tidak mengerti maksud dari ucapan anaknya itu.


"Perasaannya bunda" jelas Aldi.


"Senang dong. Ya sudah sekarang istrahat, bunda mau istirahat juga" Ucap ibu Anita lagi lalu ia bangkit dari duduknya dan jalan menuju kamar, begitupun dengan Aldi dan Hadi. Hadi mengikuti istrinya dan Aldi ke kamarnya.


...💛💛💛...


Sedangkan di hotel prodeo dimana Santi dan Ibunya berada lagi meratapi nasibnya, tidur beralaskan tikar yang tipis ditambah nyamuk yang menggigit tubuh membuat Santi dan ibunya emosi.


Memukul lengannya tempat digigitan nyamuk, "Mami, aku gak betah disini" ucap Santi dengan wajah yang jauh dari make-up.


"Menurutmu, mami juga betah disini. Kalau bukan tindakan gegabah mu tidak akan seperti ini" Ucapan Ibunya itu membuat Santi terbangun dari tempat tidurnya.


"Bukan mami sendiri yang bilang kalau kita bertindak cepat" Santi menjawab dan mengembalikan kata-kata ibunya tempo hari.


"Iya, tapi tidak hati-hati"


"Tidak hati-hati gimana?, apa anak buah yang Santi perintah itu sedikit, gak Mi"


"Terus kenapa kita yang malah seperti ini?" Tanya ibu Tuti lagi dengan nada suara yang sedikit meninggi sehingga membangunkan orang disekitarnya.


"Heii" Ucap orang tahanan disamping mereka sembari mukul lantai, "Bisa diam, aku disini masuk penjara karena membunuh jadi jangan macam-macam nanti aku bunuh" Sambungnya membuat Santi dan ibu Tuti bergidik ngeri dan diam. Beruntungnya Santi dan ibunya ditempatkan dalam satu tahanan yang sama.


...SEMOGA SUKA ❤️...


...TERIMA KASIH 🙏...