
"Cepat" Ucap Hadi lagi.
Arka dan Aldi hanya ikut perintah lalu mengangkat tas pakaian ganti Mentari selama di RS itu.
"Jangan" Ucap Rahmat.
"Terus?" tanya Aldi bingung.
"Sudah siap semua?" Tanya Rahmat dan mereka mengangguk kecuali Mentari karena tertutupi oleh jubah hitam.
"Dengar instruksi ayah" Ucap Rahmat lagi.
"Oke" Jawab Aldi dan Arka.
Jujur Arka dan Aldi sangat bingung dengan keadaan yang tiba-tiba seperti itu, membuat otak keduanya tidak berjalan normal seperti biasa. Aldi dan Arka menuju pintu untuk keluar, namun tiba-tiba tangan pak Rahmat menghalangi keduanya.
📞 "Iya, ada apa?" tanya Pak Rahmat ditelepon itu.
📞 "Dua orang perempuan yang berpakaian seragam dokter berjalan kearah situ pak" Ucapnya dengan nada kecil.
📞 "Oke" Ucap pak Rahmat ditelepon itu.
"Kamu sudah melangkah jauh untuk menghancurkan keluarga anak ku bu Tuti" Batin Pak Rahmat.
"Yah gimana, siapa yang menelepon?" tanya Arka seperti orang bodoh.
"Siapa yang gantikan Mentari disini?" tanya Pak Rahmat setelah ia lama diam.
"Maksudnya?" tanya Aldi.
"Kenapa bisa seperti ini?" batin Aldi yang belum mengerti sama sekali keadaan saat ini.
"Cepat Aldi, sudah tidak ada waktu" Ucap Hadi lalu menggerakkan kepalanya menyuruh Arka untuk membuka pintu, sedangkan Mentari dalam waktu genting seperti itu masih sempat minta izin untuk tidur.
Mentari mendongak sambil menurunkan penutup kepalanya itu, "Pa, Mentari tidur ya" Izinnya.
"Jangan dulu nak, nanti tiba dirumah baru tidur" Larang Hadi dan Mentari mengangguk tanda setuju dengan ucapan papanya itu.
"Siap semua?" tanya Rahmat dan mereka mengangguk.
"Maaf pak saya terlambat karena didepan tadi ada dua orang perempuan yang mencurigakan" Ucapnya pelan namun terdengar jelas ditelinga Mentari.
"Familiar dengan suaranya, tapi dimana?" Batin Mentari bertanya-tanya sambil mengintip dibalik jubah penutup kepalanya itu hanya untuk melihat siapa perempuan baru itu. Namun usaha Mentari tidak berhasil karena pada saat mengintip perempuan itu sudah duduk dikursi roda dan membelakangi Mentari sehingga sulit untuk mengenalinya kalau hanya untuk melihat dari arah belakang.
Begitupun dengan seorang gadis yang hampir mirip postur tubuhnya dengan Mentari siap dengan pakaian yang sama dengan Mentari duduk di kursi roda yang dipegang oleh pak Rahmat itu.
"Kita keluar sekarang" Ucap Hadi.
Mereka pun keluar bersamaan dengan masing-masing mendorong kursi roda. Rahmat dan Hadi berjalan sedikit berjauhan, belum jauh dari meninggalkan ruangan itu tiba-tiba ponsel Hadi dan Rahmat bunyi bersamaan tanda ada panggilan masuk, dengan handsfree yang sudah terpasang ditelinga.
📞 "Semua lorong ada mata-mata" Ulang Hadi dengan nada pelan.
📞 "Iya bos,ada jalan lain pak lewat tangga darurat" Ucap anak buahnya diseberang telepon itu.
📞 "Oke, arahkan saya. Saya akan kesana" Ucap Hadi lalu matikan sambungan telepon.
Sedangkan dipihak Rahmat, ia mengarahkan anak buahnya untuk mengambil alih perhatian dengan menonjolkan keberadaannya di RS itu.
📞 "Pak, saya lewat tangga darurat, semua lorong ada mata-mata" Ucap Hadi memberi tahu besannya itu.
📞 "Baik" Ucap Rahmat.
Hadi lewat tangga darurat dengan menggendong putrinya itu, walaupun capek namun mengingat keselamatan putri dan cucunya seakan rasa capek itu hilang, tangga demi tangga mereka lalui dengan putrinya itu.
Mentari malah senang digendong oleh papanya, ia malah mengingat waktu kecil saat main petak umpet dengan kakaknya, karena takut didapat oleh kakaknya, maka Mentari mengajak papanya untuk kerja sama dengan cara minta digendong dengan ditutupi handuk kecil dan meminta dibawa dikamar papa dan bundanya.
"Pa, jadi keinget waktu Mentari main petak umpet dengan kak Aldi, hihihi" Ucap Mentari sambil ketawa dibalik jubah hitamnya itu.
"Iya, papa ingat" Jawab Hadi yang sudah sampai depan parkiran mobil bagian belakang RS dan disana sudah ada Arka yang sudah menunggu dengan gelisah.
Sedangkan di RS, Aldi sudah gelisah dengan pakaian Mentari yang melekat di badannya ditambah baring menyamping membelakangi pintu kamar. Belum kedua bu ibu yang akting dalam ruang rawat itu yang membuat Aldi tambah pusing.
Aldi mulai kepanasan dan mulai mengipas dengan ujung selimutnya, mau mengeluarkan suara takutnya tiba-tiba Santi dan maminya datang.
Aldi mulai menunjuk AC ruangan itu dan Dewi langsung mengambil remote dan menyalakan AC tersebut.
"Alhamdulillah" Batin Aldi.
Mereka sudah dalam ruangan RS, Dewi dan Anita untuk menghilangkan rasa bosan mengisinya dengan cerita dan Aldi sendiri lebih memilih untuk tidur.
Berbeda dengan Pak Rahmat, ia harus mengarahkan anak buahnya untuk bawa mobil dengan kecepatan tinggi agar sebisa mungkin untuk kabur dari orang yang mengikuti mereka. Namun, orang yang mengikuti mereka itu sepertinya lihai dalam perbalapan sehingga anak buah Rahmat sulit untuk menghilangkan jejak.
"Jadi gimana pak?" tanya anak buah Rahmat itu.
"Bawa mobil pelan seperti biasa dan kearah kantor polisi agar tidak diikuti lagi" Ucap pak Rahmat kepada anak buahnya itu.
Mereka memutuskan untuk bawa mobil dengan pelan dan sampai depan kantor polisi mereka turun dan pura-pura masuk dalam kantor polisi itu.
"Pak Rahmat kapan balik indo?" tanya polis tersebut yang tidak lain adalah teman Rahmat itu sambil jabat tangan.
"4 hari yang lalu, apa kabar?" jawab pak Rahmat dan mengakhirinya dengan pertanyaan.
"Baik, Pak Rahmat sendiri?" tanya Polisi tersebut.
"yaaa seperti yang dilihat, hahaha" jawab Pak Rahmat yang dia akhiri dengan tawa.
"hahahaha, iya iya. Siapa? kemenakan? atau putri sendiri?" tanyanya lagi.
"Bukan, dia teman istri anak saya" jawab Rahmat.
"Ohh anak bapak sudah menikah, wahh bapak tidak undang-undang" ucapnya lagi.
"Anaknya tidak mau meriah, maunya cukup keluarga inti yang hadir" Jelas pak Rahmat lagi yang diangguki paham oleh pak polisi tersebut.
"Terus, ada apa kesini?" tanyanya lagi.
"Kami diikuti, kebetulan lewat depan kantor jadi saya singgah" jelas Rahmat lagi.
"Kapan dan dimana pak Rahmat?" tanyanya lagi.
"Sejak dari RS" jelas pak Rahmat lagi.
"Kenapa tidak lapor saja?" tanyanya.
"Bukti belum lengkap, sepertinya kedepan saya minta bantuannya untuk masalah ini" jelas Rahmat lagi.
"Telepon saja dikantor atau ke nomor ku langsung" Ujarnya lagi.
"Oh iya, nanti aku telepon" Ucap Rahmat lagi sembari senyum.
"Pak Rahmat saya harus kedalam nanti saya datang lagi" pamitnya lalu pergi dan pak Rahmat menjawab sembari ia senyum.
"Iya, silahkan"
Berbeda dengan di RS, perlahan-lahan ada suara ketukan pintu seketika ibu Dewi dan Anita menoleh kearah pintu. Suster yang biasa temani dokter menangani Mentari itu masuk.
"Maaf bu, Nyonya Mentari akan diperiksa dan diharapkan itu untuk keluar sebentar" Ucap suster itu.
Ibu Dewi berdiri menghampiri suster tersebut, "Bukan mantu saya setiap periksa kami temani, bukan mantu saya hanya menunggu proses pemulihan dan rutin minum vitamin? Kenapa sekarang saya harus keluar."
"Maaf bu, ini arahan dari Bu dokter" Ucap suster itu.
"Bukan dokter yang menangani putriku laki-laki?" tanya Ibu Anita kali ini. Meskipun Dewi dan Anita tau kalau itu bukan dokter tapi apa salahnya kalau mencoba bermain-main dulu.
Santi dan Ibu Tuti itu masuk dengan alat lengkap seperti dokter pada umumnya, hanya saja Santi kali ini memakai kaca mata dengan rambut diwarnai begitupun dengan ibu Tuti memakai kaca mata dan masker ditambah memakai kerudung.
"Maaf, apa bisa langsung keluar bu" Ucap Santi dengan mengarahkan tangannya kearah pintu tanda menyuruh Dewi dan Anita itu keluar
Anita menoleh kearah ranjang Aldi, ia bingung melihat Aldi yang masih tidur dan membangunkannya sangat tidak memungkinkan.
"Tapi anak saya lagi tidur, dia tidak bisa diganggu saat tidur bisa-bisa mengamuk" Ucap Anita nada keras dengan tujuan Aldi bisa bangun dari tidurnya
"Maaf bu, kami hanya periksa keadaan pasien dan suntik intravena" jelas ibu Tuti itu dengan layaknya dokter yang sudah profesional.
"Haaa, biasa jadwal Mentari itu.." Ucap ibu Dewi sedikit terhenti sambil melihat jam ditangannya itu, "jam 7 malam biasa" sambung Dewi.
"Maaf ya bu" Ucap ibu Tuti dengan lembut, "Kami hanya ingin periksa lalu saya suntik intravena agar cepat sehat seperti sediakala" Sambungnya.
"Cepat mati" Batin ibu Tuti.
Ibu Anita pun mengangguk mengizinkan untuk menghampiri Aldi itu. Ibu Dewi yang khawatir maka ia dengan cepat-cepat menghampiri Aldi yang baring membelakangi mereke itu dengan tangan yang diinfus itu senagaja ia letakkan diatas badannya agar mudah untuk disuntik nanti.
"Maaf bu, saya hanya takut ibu kena tendangannya, jadi aku pegang kakinya" kilah Dewi
"Ohh iya" respon Ibu Tuti itu. Namun ibu Tuti sedikit curiga dengan selang infus yang berada ditangan Aldi itu,. "ini kenapa harus diperban tangannya?" sambungnya dengan pertanyaan.
"Hmmm pura-pura jadi dokter, dikerjain percaya-percaya saja" batin Dewi sembari ketawa dalam hati.
Berbeda dengan ibu Anita yang duduk diluar sambil menunggu, aktingnya. Duduk sambil menelfon suaminya itu, hanya untuk menanyakan kabar dan mereka sudah sampai dimana.
Sedangkan menelfon tiba-tiba ada dua orang polisi datang dan bertanya kepada ibu Anita.
"Maaf bu, apa ini ruangan rawat inap atas nama Nyonya Mentari Ayu Lestari Algantara?" Tanya pak polisi itu
"Iya, silahkan masuk pak" Ucap ibu Anita mempersilahkan polis itu.
Pak polisi itu tidak menunggu waktu lama langsung mengetuk pintu dan masuk dalam kamar itu dan dimana saat itu ibu Tuti baru saja mengeluarkan jarum suntik dari sakunya.
"Haaa, polisi. Siapa yang telepon polisi?" Batin ibu Dewi kaget
...SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏...