
"Ulan, kita ke kamar yuk.....biar aku bantu, terus kita sarapan," kata Radit, berusaha membujuk Rembulan.
Rembulan merasa mengenal suara itu, perlahan lehernya bergerak kesamping dan ternyata benar ada Radit di sana. Rembulan berdiri sambil melihat dengan pasti, apakah benar itu Radit atau ia yang salah melihat.
"Ulan," kata Radit lagi.
Dengan cepat Rembulan memeluk Radit begitu erat, entah apa yang ada dipikiran Rembulan yang jelas ia begitu saja langsung memeluk Radit. Bahkan Radit juga terperanjat kaget, ia tidak percaya dengan ekspresi Rembulan saat melihat nya.
"Dit....kamu kemana aja?" tanya Rembulan.
"Aku....."
Belum sempat Radit berbicara Rembulan sudah menjauh dan melepaskan Radit, "Radit apanya dia sudah pergi dan kami akan segera bercerai?" kata Rembulan lagi, kemudian ia masuk kedalam rumah dan menuju kamar, "Ahahahahah....." tawa Rembulan masih terdengar walaupun ia sudah jauh di sana.
Sampai dikamar Rembulan diam, dan ia tertunduk, "Maaf ya Dit aku lakuin ini, aku cuman mau kamu balik sama aku lagi," gumam Rembulan.
Sebenarnya Rembulan sudah mulai bisa mengendalikan diri nya sejak tadi ia memeluk Radit. Tapi Rembulan kemudian takut setelah ia baik-baik saja pasti Radit pergi lagi, hingga Rembulan memilih untuk kembali lagi menjadi sedikit gila.
Dua hari sudah berlalu, dokter Sahara dengan senang hati merawat Rembulan. Setiap pagi dan sore hari ia selalu melihat kondisi Rembulan yang berangsur membaik, bahkan Rembulan sudah mulai bisa di ajak untuk berkomunikasi.
"Rembulan, apa kandung mu sudah di periksa bulan ini?" tanya dokter Sahara.
"Dok, tidak usah bicara kandungan.....aku tidak ingin membahas nya," jawab Rembulan sambil menitikkan air mata nya.
"O," dokter Sahara mengangguk, kali ini ia hanya berdua saja dengan Rembulan di taman. Dan itu atas permintaan dokter Sahara sendiri, "Kenapa begitu, bukankah hamil adalah hal yang sangat-sangat di nantikan wanita yang sudah menikah?" tanya Dokter Sahara lagi, ia ingin Rembulan mengeluarkan segala keluh kesahnya dan tidak ada lagi yang di pendam hingga Rembulan bisa merasa lebih baik.
"Tidak apa-apa," kata Rembulan lagi.
Dokter Sahara mengangguk mengerti, inilah satu penyebab Rembulan stres pikir dokter Sahara, "Dulu, aku mengandung dan suami ku sangat senang sekali....dia memberikan apa yang aku inginkan, bahkan sekarang saja dia terus menyayangi ku," kata dokter Sahara seolah ia tengah bercerita.
"Indah sekali ya dokter, tapi aku tidak begitu....." Rembulan menitihkan air matanya, "Aku nggak tau harus apa, tapi...... entahlah....." keluh Rembulan, rasanya percuma bercerita pikir Rembulan. Tidak akan mengubah segalanya.
Dokter Sahara melihat sekitarnya, tapi matanya bisa melihat Radit di kejauhan sedang melihat mereka. Akhirnya dokter Sahara diam saja.
"Kak Ulan," panggil Mentari, kemudian ia berjalan kearah Rembulan dan dokter Sahara, "Selamat sore dokter," sapa Mentari ramah.
"Selamat sore," dokter Sahara sudah tahu siapa Mentari, karena ia juga datang di resepsi pernikahan Arka dan Mentari. Sebab Brian juga memiliki kerja sama yang baik dengan Arka, dan kemarin juga saat memeriksa keadaan Rembulan ia sempat berkenalan dengan Mentari yang ternyata adik dari Rembulan.
"Dokter sebentar lagi mau gelap, kita makan malam dulu ya....." tawar Mentari.
"Tidak usah Ibu Mentari," tolak Dokter Sahara merasa tidak enak.
"Tidak usah panggil Ibu, panggil Tari aja....dan enggak ada penolakan ya dokter," kata Mentari dengan memaksa.
"Baiklah," dokter Sahara merasa tidak enak karena Mentari memaksanya.
Keduanya berjalan masuk ke rumah Linda, karena Mentari memang ingin makan malam bersama di sana. Setelah masuk ke rumah mertuanya Mentari langsung menutup pintu dan menarik dokter Sahara dan juga Rembulan untuk duduk di sofa.
"Maaf dok," kata Mentari karena ia tahu dokter Sahara seperti bingung.
"Iya tidak apa, tapi ada apa?" tanya Dokter Sahara.
"Dokter kita bisa kerja sama nggak?" tanya Mentari.
"Gini," Mentari menatap Rembulan yang duduk di samping dokter Sahara, "Kak lu pengen Kak Radit apa enggak?" tanya Mentari.
"Maksudnya?" tanya Rembulan bingung.
"Gue tahu ya Kak ku lagi ngibulin kita," celetuk Mentari.
"Hus..." Rembulan langsung menutup mulut Mentari agar tidak ada yang mendengar apa yang dikatakan oleh Mentari barusan.
"Iya, saya juga tahu kok Ulan....tapi pas kita pertama ketemu kamu memang sedang sedikit terganggu....tapi besoknya saya merasa kamu sudah bisa di ajak komunikasi tapi anehnya kamu seolah gila," kata Dokter Sahara yang juga bingung.
"Iya dok," Rembulan mengangguk, "Waktu itu pikiran saya kacau dan saya ingin Radit balik, sampai akhirnya ternyata Radit datang dan saya tidak ingin Radit pergi lagi, dan pagi esoknya saya seolah masih sakit, maaf dok," kata Rembulan.
"Iya," dokter Sahara mengangguk.
"Nah justru itu," kata Mentari.
"Selamat sore dokter," sapa Arka yang ikut bergabung tiga wanita yang tengah duduk di sofa.
"Ah....tuan Arka, selamat sore," dokter Sahara bangun dari duduknya kemudian Arka dan dokter Sahara saling berjabat tangan.
Mentari memanyunkan bibirnya, tidak suka Arka bersentuhan dengan wanita lain.
"Sayang kenapa?" Arka tahu istrinya itu tengah cemburu, ia menarik Mentari dan ikut duduk di sampingnya.
Dokter Sahara tersenyum, karena Mentari persis seperti dirinya saat sedang mengandung. Dimana ia selalu menaruh cemburu pada Brian walau hanya berjabatan tangan saja, seketika dokter Sahara mengingat wajah suami tampannya.
"Dokter Sahara saya harap anda bisa bekerja sama dengan saya, dengan kami," kata Arka lagi.
"Maksudnya tuan Arka?" tanya dokter Sahara.
Arka mulai berbicara dan menjelaskan pada dokter Sahara, kemudian ia berbicara pada Rembulan. Setelah semua jelas mereka semua setuju untuk melanjutkan rencana mereka.
"Semoga bisa berjalan dengan baik dokter," ujar Arka.
"Hehehe....." dokter Sahara terkekeh, tampak nya ini sedikit lucu sekali. Tapi juga sedikit menyenangkan, "Baiklah tuan Arka, tidak ada salahnya untuk saling membantu....." dokter Sahara tahu rasanya menjadi Rembulan. Ia juga dulu menikah karena terpaksa, dan pernikahan itu di jebak oleh Brian. Tidak gampang melalui pernikahan yang rumit itu, hingga akhirnya semua bisa berjalan dengan baik dan mereka memiliki dua orang putri yang sangat cantik sekali, "Tapi saya tidak bertanggungjawab bila nanti ini menjadi masalah," kata dokter Sahara.
"Kalau soal tanggungjawab nantinya serahkan pada suami saya," jawab Mentari sambil terkekeh karena melihat wajah Arka yang kesal padanya.
"Kenapa Kakak?" tadinya Arka pikir Mentari siap pasang badan bila nanti Radit mengamuk karena ia sedang dikerjai. Tapi ternyata Mentari menjadikan dirinya untuk bertanggungjawab untuk semuanya.
"Hehehe......" Mentari cengengesan, "Kan Kakak suami tercinta nya Tari."
"Sayang jangan di sini kalau kau seimut itu," kata Arka, karena di sana ada yang lain selain mereka.
"Hehehe....." Mentari terkekeh geli melihat exspresi Rembulan dan dokter Sahara yang merasa malu, karena ulahnya dan Arka yang menjadi pusat perhatian.
*
jangan lupa like dan Vote Kakak.