Mentari

Mentari
Episode 163



"Namanya Sea bagus nggak sih?" tanya Rembulan, ia ingin sekali memberi nama untuk keponakan nya.


"Mama setuju, bagus," kata Linda dengan bahagia.


"Gimana, Arka?" tanya Rembulan ia sangat berharap sekali jika Arka setuju.


Arka melihat Mentari, "Kamu gimana Mom?" tanya Arka.


"Setuju, tapi buat anak kita yang cowok gimana?" tanya Mentari karena mereka belum menemukan nama yang cocok.


"Satya, namanya Satya Anggara Wijaya," kata Anggara yang dari tadi hanya diam, dan ia merasa itu nama yang cocok untuk cucunya.


"Ok, Mami setuju...." Linda tersenyum, "Berarti, Satya Anggara Wijaya, sama Sea Anggara Wijaya," kata Linda.


"Iya Mi, Tari juga setuju," kata Mentari tersenyum bahagia. Karena mereka sudah menemukan nama yang cocok untuk anak-anak nya.


"Kamu kenapa Dit, diam aja?" tanya Nina.


"Radit lagi berdoa Ma," kata Radit sambil melihat Arka.


"Ngapain liatin aku begitu banget," tanya Arka.


"Aku lagi berdoa semoga Satya tidak seperti Daddy nya," jawab Radit.


"Emang ada apa?" tanya Arka penasaran.


"Daddy nya es balok, tapi pas ketemu Mommy nya Satya sekarang berubah enggak karuan," kata Radit.


"CK...." Arka memutar bola matanya, karena tidak suka dengan apa yang di katakan oleh Radit.


"Kak, kalau kita pulang hari ini gimana sama anak kita?" tanya Mentari.


"Mereka di sini dulu sampai dokter memperbolehkan mereka kita bawa pulang," jawab Arka.


Mentari diam dan tertunduk, sebagai seorang wanita yang sudah memiliki anak. Tentu saja ia merasa khawatir walaupun mungkin anak-anak nya di jaga dengan baik.


"Kamu kenapa?" tanya Arka karena Mentari dari tadi hanya diam saja.


"Kak," Mentari menatap Arka, "Kira-kira pernah enggak sih Kak, kalau bayi ketuker?" tanya Mentari, "Maksud Tari gini Kak, semua bayi itu kan mirip sulit gitu buat bedainnya....apa nanti bayi kita enggak ketuker?"


"Ahahahhaha.... korban sinetron!" kata Rembulan sambil tertawa, karena Mentari terlihat kembali pada kekonyolan nya yang hampir saja hilang.


"Tau nih anak, emang kamu pikir ini sinetron!" timpal Rika yang juga merasa lucu dengan tingkah Mentari.


"Ini bukan sinetron bego!" celetuk Lala.


"Hehehe....mana aku tahu, kan aku takut aja," kata Mentari sambil terkekeh.


"Sayang," Arka yang tengah menyisir rambut Mentari juga merasa lucu dengan tingkah istrinya, "Enggak akan ketuker, kamu enggak perlu khawatir," kata Arka, dengan tangannya yang mulai menguncir asal rambut Mentari.


"Lagian kecebong Arka itu enggak akan ada yang mau nuker juga," celetuk Radit.


"Maksud Kak Radit?" tanya Mentari yang mulai melihat Radit.


"Itu kecebong enggak berkualitas, beda sama kecebong Kakak," jawab Radit dengan bangga.


"Radit!!!" geram Nina, "Kamu lebih baik diam! Kalau ngomong juga enggak ada yang benar!" kesal Nina.


"Hehehe....." Radit tersenyum, karena niat hatinya pun hanya ingin membuat Mentari tidak bersedih. Radit tahu jika Mentari tengah khawatir, ia terbiasa menghadapi pasien seperti Mentari. Dan kekhawatiran itu wajar terjadi pada seorang ibu, inilah cara Radit dengan tidak langsung membuat Mentari tidak terlalu terpikirkan hal yang buruk tentang anak-anak nya.


"Kak, rambut Tari kok kuncirnya aneh ya?" Mentari yang mulai bercermin di ponsel Arka merasa aneh, karena kuciran rambutnya yang asal.


"Itu kucirang rambut terbaru sayang," jawab Arka, sebab ia pun baru pertama kali menguncir rambut seorang wanita. Tapi sepertinya sebentar lagi ia akan pandai, karena setelah baby Sea besar ia bisa menjadikan rambut Sea sebagai belajar mengucir rambut.


Mentari tersenyum, ia ingin sekali minta di perbaiki oleh Mama Ranti agar lebih bagus. Tapi ia juga menghargai hasil dari kerja keras suaminya itu, ia tahu dan yakin ini adalah pertama kalinya untuk Arka.


"Mau Mama kuncir ulang?" tanya Ranti.


Arka tersenyum bangga, karena merasa berhasil dalam menyelesaikan satu misi menguncir rambut.


"Kak, tolongin," pinta Mentari untuk naik ke atas kursi roda.


Arka tersenyum dan dengan senang hati mengangkat Mentari.


"Ngeliat Tari jinak begini kayaknya enggak akan ada yang percaya ya, kalau kalian dulu musuh bebuyutan..." ujar Rembulan sambil terkekeh. Bayangan dulu Arka dan Mentari tidak pernah akur mulai hadir di kepalanya, tidak ada yang mengira sama sekali kedua musuh bebuyutan itu akan berjodoh.


"Iya Kak, dulu pertama ketemu Tari malah sengaja melempar kulit pisang sampai Arka terpeleset," timpal Ranti, karena itulah pertama kalinya Arka dan Mentari bertemu.


"Hehehe...." Mentari yang sudah duduk di kursi roda menggaruk kepalanya, karena memang ia sangat konyol sekali saat itu.


"Lho....memang iya begitu?" tanya Linda yang tidak tahu.


"Iya Mi," jawab Mentari merasa tidak enak hati, karena kini ia sangat menyesal akan itu semua.


"Ahahahahah....." Linda malah tertawa lepas mendengar pengakuan Mentari.


"Kok Mami ketawa?" tanya Mentari, dan yang lainnya juga menatap Linda bingung.


"Dulu ya Tari, dengerin Mami," Linda ingin sekali berbicara. Tapi ia juga tidak bisa menahan tawa, "Dulu ya Arka ini pas pulang dari rumah kamu."


Flashback on.


Saat itu Arka di minta Linda mengantarkan oleh-oleh ke Ranti. Dan setelah pulang ia memegang pinggangnya.


"Kami kenapa Arka?" tanya Ranti yang melihat anaknya aneh.


"Sakit Mi," kata Arka.


"Lho, kamu jatuh?" Rinda bangun dari duduknya dan melihat Arka lebih dekat.


"Iya, Mi."


"Dimana? Terus kok bisa?" tanya Linda panik.


"Di rumah temen Mami, Tante Ranti punya peliharaan galak banget," kata Arka dengan wajah kesalnya.


"Peliharaan?" tanya Linda semakin bingung, "Tapi setahu Mami, Tante Ranti enggak punya kucing atau anjing deh."


"Ini lebih dari anjing atau kucing Mi, kalau enggak salah namanya Tari," jelas Arka. Karena ia mendengar Ranti menyebutkan nama Tari saat tadi.


"Aduh Arka, itu bukan peliharaan Tante Ranti. Tapi itu anak bungsunya Tante Ranti," kesal Linda.


"Kelakuannya aneh," kesal Arka mengingat wajah Mentari.


"Entar jodoh lho...jangan terlalu membenci," ujar Linda sambil terkekeh karena menggoda putranya.


"Kalau Arka jodoh sama peliharaan Tante Ranti itu, Arka bakalan bersihin rumah Mami seharian!" geram Arka sambil melangkah pergi.


Mata Ranti melebar saat mendengar kata Arka, "Mami ingat lho Arka..." seru Linda.


"Iya!" Arka mulai menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.


Flashback off.


"Kakak, bilang Tari peliharaan Mami!" geram Mentari. Mungkin di bagian kepalanya nada dua tanduk yang keluar tapi tidak terlihat, karena ia haru tahu ternyata Arka saat itu malah membicarakan dirinya.


"Sayang Mami bohong," wajah Arka memerah dan ketakutan, karena apa yang di katakan Ranti semua benar.


"Arka, kamu belum bersihin rumah Mami lho..." kata Linda dengan santai.


"Mampus!" Radit tertawa jahat melihat wajah Arka yang kini seperti kucing takut terkena air, "Kamera mana ya, kapan lagi liat CEO es bisa ketakutan begini," kata Radit sambil mengeluarkan ponselnya.