Mentari

Mentari
gagal romantis



"Kenapa?", Awan bingung melihat Mentari melepas paksa genggaman tangannya.


"Ini salah Om", Mentari bangkit dari duduknya."Om udah punya istri,ini nggak bener om",Mentari terus menggelengkan kepalanya.


Awan ikut bangkit. "Dengerin penjelasan aku dulu",ia raih tangan Mentari,namun ditepis oleh sang empunya.


"Nggak ada yang perlu dijelasin lagi". Bahkan Mentari masih menggeleng,tapi air matanya mengalir.


Awan memberi Isyarat Indra beserta anak buahnya untuk meninggalkan mereka. Indra paham instruksi itu dan mematuhinya.


"Mentari,tolong dengarkan aku dulu", masih berusaha menggapai tangan Mentari. Tapi lagi-lagi ditolak Mentari.


Awan menghela napas. "Baiklah",dia mengangkat tangannya tanda tak akan menyentuh Mentari. "Tapi duduklah sebentar. Dengarkan aku kali ini saja"


Mentari masih diam dalam kebimbangan.


"Please.....",Awan memohon dengan tulus.


Mentari akhirnya menurut. Dia duduk di kursi yang tadi ia duduki. Awan juga sudah mendudukkan bokongnya berhadapan dengan Mentari.


"Aku sudah selesai dengan Lusi". Ucapan Awan mengundang Mentari untuk mendongak,menatap Awan. Sebelumnya ia hanya menunduk.


"Aku memang belum bercerai secara resmi,tapi semua sedang dalam proses pengadilan",Jelas Awan.


"Om nggak bisa jahat kayak gitu"


"Aku nggak bersalah Soal itu. Lusi selingkuh",Awan membela diri. Mentari bahkan tak dapat merespon apa-apa.


"Aku punya bukti tentang itu semua. Aku nggak mengada-ada",Awan terus berusaha meyakinkan Mentari. "Percayalah Mentari. Cuma kamu yang aku cintai. Bahkan aku seperti orang gila saat kamu menjauhiku"


"Om yang membuat kita jadi jauh", Mentari menyangkal.


"Iya,aku tahu. Aku minta maaf atas semua itu. Aku sadar aku salah Mentari. Tapi aku benar-benar mencintai kamu. Aku akan menikahimu setelah kamu lulus"


"Aku nggak bisa Om"


"Kenapa?",Awan mengernyit bingung.


"Aku harus kuliah. Aku harus membuat orang yang menolongku bangga"


"Menolong apa? siapa?",Awan sungguh penasaran.


"Aku dapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah dari perusahaan tempat ayah kerja",jawab Mentari.


"Maksudmu perusahaan Rayan?",Awan ingin memperjelas.


"Ya,sebagai kompensasi kecelakaan ayah"


" Apa kamu bisa tolak tawarannya? aku yang akan membiayai kuliahmu"


Mentari menggeleng. " Nggak bisa Om. Itu peraturan perusahaan. Aku juga udah terdaftar di universitas"


Awan menghela napas. "Oke. Aku nggak akan maksa kamu. Tapi aku minta kamu hati-hati sama Rayan"


"Kenapa begitu? Om Rayan baik",Mentari tak habis pikir dengan Awan yang secara tak langsung menjelekkan Rayan.


"Om? Kamu panggil dia Om?"


Mentari mengangguk. "Kenapa emangnya? apa terlalu nggak sopan?"


"Baiklah,terserah kamu. Tapi kamu harus panggil aku dengan panggilan lain", permintaan bodoh Awan yang bertindak seperti anak kecil.


"Emangnya kenapa?"


"Nggak apa-apa. Kamu harus punya panggilan yang berbeda kepadaku"


"Tapi aku panggil Om Indra,Om juga kan? Tapi om dari dulu biasa-biasa aja",suasana tegang sudah mulai mencair secara natural.


"Pokoknya harus!"


"Dasar pemaksa!",cibir Mentari.


Awan bangkit mendekati Mentari. Mentari sudah dalam mode waspada.


"Apa kamu bilang hmmm?",Awan menarik Mentari kedalam pelukannya. "Kamu bilang aku pemaksa?",Awan menyeringai. "Akan aku tunjukkan seperti apa itu memaksa". Setelahnya ia cium bibir Mentari. ********** dengan menggebu,mengantarkan kerinduan dan rasa cinta yang begitu dalam.


Mentari yang awalnya terkejut,sekarang malah ikut terbawa arus gairah yang diciptakan Awan. Mereka hanyut dalam peleburan rasa rindu yang membuncah.


"Kamu mau maafin aku?",tanya Awan setelah pagutannya terlepas.


Mentari mengangguk dengan napas yang masih terengah. "Tapi Om harus janji nggak akan ada perempuan lain lagi diantara kita"


Awan mengangguk,dia tersenyum bahagia. "Ayo kita makan dulu",ajak Awan menuntun Mentari duduk kembali.


"Ini semua om yang nyiapin?",Mentari sudah punya waktu mengamati semuanya.


Awan menggaruk kepalanya,lalu menggeleng. "Bukan aku tapi Indra",ia tersenyum kikuk.


"Udah aku kira",kata Mentari enteng.


"Aku tahu yang nyiapin emang om Indra,tapi aku yakin om Awan yang nyuruh. Om kan emang tukang perintah",cibir Mentari.


"Yang penting aku bisa bayar orang yang aku perintah",Awan membela diri.


"Mentang-mentang bos jadi suka maksa",Mentari masih mencibir.


"Udah!! Makan Mentari! Jangan banyak omong!",titah Awan yang malas berdebat. Ia takut malah akan menimbulkan masalah lagi diantara mereka.


Mentari menurut. Mulai melahap makanannya."Hemmmm enaaakkk",komentarnya.


"Kamu suka?",tanya Awan yang bahagia akan reaksi Mentari.


Mentari mengangguk sambil tersenyum.


"Lain kali aku ajak kamu makan di restoran mewah dengan makanan seperti ini",Awan mengacak rambut Mentari. "Maaf ya,selama ini nggak pernah ajakin kamu makan malam romantis",ucapnya tulus. Ia elus pipi lembut Mentari. Dia merasa bersalah karena mengingat kejadian Rayan mengajak Mentari makan di restoran mewah, sedangkan ia tak pernah membawa Mentari kemana-mana.


"Nggak apa-apa. Itu bukan masalah buat aku Om",jawab Mentari yang memang orangnya apa adanya.


Mereka terus menikmati makan malam yang harusnya romantis itu.Tapi yang terjadi malah jauh dari kesan romantis yang mereka dapatkan. Bagaimana bisa dikatakan romantis? Mentari saja hanya memakai celana pendek di bawah lutut dengan sweater rajut kesayangannya. Sedang Awan sendiri memang terlihat keren dengan kemeja navy yang ia gulung lengannya dan celana jeans mahalnya.


Mentari makan dengan lahap. Bahkan Awan yang merasa kasihan pada Mentari karena melihat Mentari makan sangat lahap,sampai memberikan steak bagiannya kepada Mentari. Gadis itu benar-benar kelaparan karena terakhir makan kemarin siang sepulang sekolah. Sedangkan sekarang sudah hampir jam dua dini hari. Maka malamnya gagal karena insiden penculikan berencana itu.Dan Awan merasa bersalah disini.


"Hoooaaaammmm",Mentari menguap. Setelah kenyang ia jadi mengantuk.


"Ngantuk?", tanya Awan lembut.


Mentari mengangguk. Dan Awan tersenyum. Mentarinya sudah kembali,dia sangat bahagia.


"Ayo masuk,kita tidur"


Mentari memperhatikan sekitar. Ia baru sadar tempat yang didekorasi sedemikian rupa itu ternyata balkon kamar Awan.


"Aku mau pulang aja", Mentari takut terjadi apa-apa dengan mereka karena ini adalah pertemuan pertama mereka setelah memendam rindu yang luar biasa.


"Aku janji hanya tidur",Awan mengangkat jarinya membentuk huruf V.


"Janji?",Mentari menegaskan sekali lagi. Mengacungkan kelingkingnya pada Awan


"Janji",Awan menautkan kelingkingnya di kelingking Mentari. Mentari menuruti perintah Awan untuk tinggal. Lagipula sudah terlalu malam kalau dia pulang.


Keduanya terkejut saat masuk ke dalam kamar Awan mendapati Indra dan anak buahnya yang asyik dengan gadgetnya masing-masing.


"Kalian masih disini?",tanya Awan heran.


"Lo lupa apa kata boss besar?",Jawab Indra enteng.


"Gue bukan anak kecil Ndra!",Awan geram.


"Kenapa sih Om marah-marah? Biarin aja Om Indra disini. Ini kan udah malem", Mentari malah membela Indra.


Awan memejamkan mata,mengurangi rasa jengkelnya pada Indra yang sangat patuh pada papanya, dan lebih menyebalkan lagi,Mentari malah membela Indra.


"Seperti kata boss besar,gue harus pastiin nggak ada yang terjadi setelah ini antara lo dan Mentari",Indra berpindah tempat dari sofa menuju ranjang Awan. "Ayo kalau kalian mau tidur,kita tidur bertiga"


Awan menghela napas. "Gue pasti pegang janji gue Ndra. Gue cuma butuh waktu dengan Mentari",Awan menghiba. Dia ingin kangen-kangenan dulu dengan Mentari.


"Nggak bisa,gue tau lo boss",jawaban Indra semakin menjengkelkan.


Awan tidak bisa terus melawan Indra. Dia sudah menemukan rencana lain.


"Kalian semua boleh tidur disini",ucap Awan. Pelan-pelan ia bergerak ke luar kamar sambil menggandengnya Mentari. Sementara Indra masih berbaring dengan santai. Dan Brakkk.... Awan menutup pintu kamarnya dari luar. Dia segera menarik Mentari ke kamar yang dulunya ditempati Mentari. Lalu mengunci pintunya.


Indra yang terkejut lantas mengejar Awan. Namun dia terlambat. Pintu itu sudah terkunci.


"Awan!!! buka pintunya! Dasar brengsek lo! Awas aja lo sampai apa-apain Mentari", Indra berteriak sambil menggedor pintu itu. Sudah tidak ada sopan santun lagi kepada Awan.


Awan tertawa di dalam kamar,sementara Mentari kebingungan dengan tingkah mereka berdua.


"Kenapa sih om?"


Awan menggeleng dan masih terbahak.


" Terus boss besar itu siapa Om?",nyatanya Mentari bingung harus mengubah panggilan kepada Awan dengan sebutan apa.


"Boss besar itu papa", Awan berucap sambil menghentikan tawanya.


"Terus kenapa Om Indra bilang nggak boleh ada yang terjadi diantara kita?",Mentari penasaran.


"Emmm itu...",Awan bingung menjelaskan apa. Ia menggaruk tengkuknya.


"Papa om pasti nggak setuju kan sama kita?",Mentari berkata dengan lesu.


Awan melihat reaksi Mentari. Ia merasa tak enak hati dengan pikiran Mentari."Bukan begitu",ia peluk Mentari menenangkan gadis itu. "Papa bahkan setuju"


"Lalu?", Mentari melepas pelukan Awan.


"Papa takut kita kebablasan karena melepas rindu setelah lama nggak ketemu",jawab Awan ragu-ragu. Dan Mentari sadar,itu juga yang menjadi kekhawatirannya.