
"Hay guys",Meli menyapa Angga dan teman-temannya yang sedang nongkrong di tribun penonton lapangan basket. Di belakang Meli,ada Mentari yang berjalan mengekorinya.
"Hai Tari...." malah Arya yang menyapa dengan gaya slengeannya. Ia sok-sokan tersipu malu. "Sekarang jomblo kan?"
Sontak Angga menggeplak kepala Arya, ia melotot. "Emangnya kenapa kalau Mentari jomblo?"
Arya mengelus kepalanya yang lumayan sakit." Sakit bego!",umpatnya.
"Kalaupun Mentari jomblo,lo nggak boleh deketin dia", tegas Angga.
"Siapa juga yang mau deketin Mentari", Arya bersungut-sungut."Kita kan emang udah deket ya Tar",dengan entengnya dia malah menyulut api cemburu Angga.Tidak dapat dipungiri,meskipun Angga punya banyak koleksi cewek,tapi hatinya belum move on dari Mentari.
"Mau ini lo?",Angga menunjukkan kepalan tangannya.
"Ya elah...sensi amat sih bang,makanya move on biar kalau orang ngomong apa-apa tuh nggak di suudzonin terus. Kan kasihan Arya yang cute ini kalau sampai beneran kena libas". Itulah Arya,anaknya suka bercanda.
"Kita kan emang deket ya Tar,maksudnya temenan deket gitu kayak yang lain",imbuhnya cengengesan.
Mentari cuma geleng-geleng Kapala dengan tingkah Arya. Sedang yang lain malah asyik menertawakan Angga yang malah malu sendiri karena ketahuan belum bisa move on. Kalau cewek-cewek lain tahu bagaimana Angga sebenarnya,mungkin Angga nggak bakalan jadi idola sekolah.
"Minggir lo!", perintah Angga kepada Deny disampingnya. "Duduk sini Tar!", Angga beralih ke Mentari,mengajaknya duduk di bangku sampingnya yang semula diduduki Deny.
Mentari menurut,ia diapit oleh Angga dan Deny,sedangkan Meli,sudah mojok berduaan dengan Ardi di bangku yang agak jauh. Meli sudah putus dengan Bian. Bian ketahuan selingkuh oleh Meli. Yang selama ini katanya sibuk nugas,nggak tahunya sibuk pacaran dengan yang lain. Untung Meli sudah punya Ardi,jadi nggak sakit-sakit amat. Malah terkesan senang dan langsung memproklamirkan hubungannya dengan Ardi.
"Gue mau kasih sesuatu sama lo",ujar Angga.
"Apa?", Mentari mengerutkan alisnya.
Angga mengeluarkan sebuah gelang lucu dari kantong celananya. Ia meraih tangan Mentari,memasangkan benda itu di pergelangan tangan Mentari sembari berkata," Besok lo kan ulang tahun, gue mau jadi orang pertama yang kasih lo hadiah".
"Hemmm... mau coba modus lagi dia",cibir Arya.
Sekali lagi Arya dapat pukulan yang kali ini datang dari Deny. "Bukan urusan lo dodol",kata Deny mengingatkan temannya." Makanya cari cewek,biar nggak hobi ngurusin urusan orang"
"Jangan lupa,lo juga jomblo", Balas Arya tajam.
"Suka-suka gue lah,yang penting banyak yang suka"
"Sama donk,gue juga banyak yang suka",Arya tak mau kalah. Entahlah, Arya dan Deny juga tampan,banyak cewek-cewek yang suka dengan mereka,tapi mereka masih asyik sendiri bersama teman-teman. Momen yang seharusnya romantis itu malah dirusak oleh pertengkaran Arya Deny.
"Woy!! Kalian bisa diem nggak sih?",teriak Angga. "Sono lo jauh-jauh kalau mau pada berantem"
Arya dan Deny sikut-sikutan saling menyalahkan. Tapi setelahnya mereka kembali hening dengan gawai masing-masing.
Angga masih memegang tangan Mentari,dan Mentari membiarkannya. "Dipake ya sebagai tanda persahabatan dari gue"
"Makasih ya Ngga. Harusnya lo nggak perlu repot-repot. Cukup doain gue biar gue bahagia dengan hidup gue".
"Itu sih pasti", jawab Angga sambil mengacak gemas rambut Mentari.
"Jangan gini deh,nanti ketahuan Della baru tahu rasa lo",ucap Mentari celingukan melihat sekitar. Ia memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka.
"Biarin aja,masih ada Sherly", jawab Angga enteng.
"Inget karma Ngga!",Mentari mengingatkan.
"Gue udah dapet karmanya"
Mentari menghela napas,ia tahu maksud Angga bahwa karma Angga ada pada Mentari. Mentari tak enak hati,dia tak mau membahas soal itu.
"Maksud gue,kan adik sama kakak perempuan lo bisa aja yang dapet imbasnya"
"tenang aja! gue cuma punya satu kakak laki-laki. Dan dia lebih playboy dari gue"
Angga suka denan tawa Mentari. Ia tersenyum melihat keindahan di depannya.Berharap bisa mendampinginya,maskipun hati Mentari masih tertutup untuknya.
***
"Gimana Ndra? Udah beres persiapan surprise nya?", Awan berjalan menghampiri meja kerja Indra.
"Nggak sabaran banget sih sampai mau jalan kesini segala?!",cibir Indra.
Awan duduk di kursi depan meja Indra, menyandarkan punggungnya,bertopang kaki sambil memainkan kursi yang didudukinya.
"Nih!", Indra menyodorkan tablet kepada Awan yang menampilkan sejumlah foto persiapan surprise untuk Mentari. " Sesuai keinginan lo,diadain di apartemen lo"
"Hmmmm, Oke. Gue suka", Awan puas dengan kinerja anak buah Indra.
"Kamu disini rupanya",suara baritone itu muncul setelah suara derit pintu terbuka. Menampilkan lelaki paruh baya yang masih gagah. Sontak mengalihkan perhatian Awan dan Indra.
"Papa!", Awan berdiri mempersilahkan papanya duduk di tempatnya tadi.
"Kalian sedang membahas apa?",Beliau melirik tablet di atas meja yang masih menyala.
Awan langsung menyambar tablet itu. Takut jika sang papa tahu kalau dia malah mengurusi hal remeh daripada bekerja.
"Papa sudah melihat", Ungkapnya enteng."Siapa yang mau ngadain pesta?"
"Emm...Itu cuma desain pa", Awan berkilah. Tentu saja Pak Roby tak percaya,sejak kapan perusahaannya memegang desain pesta?
"Kamu bisa jelaskan Indra!", Pak Roby tak menggubris Awan tapi malah menyuruh Indra.
Indra melirik Awan,Awan mengkode 'jangan' dengan gelengan kepalanya. Tapi Indra lebih segan dengan Pak Roby.
"Itu memang benar cuma desain Pak",Ucap Indra.
"Untuk?"
"Surprise party Mentari", Indra kikuk,dia bingung mau berpihak kepada siapa.
"Kapan dan dimana?"
"Nanti malam,di apartemen Pak Awan,Pak", sudah kepalang tanggung,mending ia jujur.
"Pak Roby manggut-manggut. "Pastikan tidak akan terjadi apa-apa setelahnya Ndra!"
"Maksud papa?", Awan khawatir papanya melarang menjalin hubungan dengan Mentari. Indrapun juga berpikir demikian,dahinya sampai berkerut.
Bukannya menjawab Awan,pak Roby malah menjawab pertanyaan Indra yang tersirat diwajahnya meskipun tak ia ungkapkan." Kamu tahu sendiri kan Ndra? Jangan sampai ia merusak anak orang,apalagi belum lulus sekolah".
Indra menahan tawanya, tahu maksud boss utamnya itu. Sedangkan Awan cukup sadar diri disindir oleh papanya sebagai lelaki yang sering mengumbar nafsu.
"Pa....", Awan merengek hendak protes tapi tak dihiraukan oleh pak Roby yang malah beranjak pergi.
Sampai di ambang pintu,papa Awan berhenti dan berbalik. Tentu saja Awan dan Indra langsung fokus pada beliau."Selesaikan dulu perceraianmu dengan Lusi! Baru kamu bisa dengannya. Jangan suka memepermainkan perempuan kalau kamu nggak serius", nasehat beliau.
"Iya pa",jawab Awan. Lelaki paruh baya itupun benar-benar pergi dari sana.
"Ingat pesen bokap lo boss",sindir Indra. Dia tahu seberapa jauh hubungan Awan dan Mentari sebelum kandas.
"Iya....kenapa lo ikutan bawel sih?", Awan malas menanggapi Indra.
"Itu urusan gue,lo hanya perlu memastikan semuanya beres Ndra!",tegas Awan.
Indra hanya berdehem singkat lalu meneruskan pekerjaannya dengan setumpuk berkas perusahaan. Sementara Awan mengeluarkan kotak kecil berisi cincin berlian minimalis yang akan ia berikan kepada Mentari nanti. Memandang cincin sambil tersenyum sendirian yang hanya mendapatkan gelengan kepala dari Indra.