Mentari

Mentari
Episode 133



"Sini Abi obatin lukanya," Radit mengobati luka Rembulan dengan hati-hati, ia kasihan pada Rembulan karena ia Rembulan menjadi seperti ini.


"Abi, salah ya kalau Umi mau Abi cuman setia sama Umi?" tanya Rembulan dengan mata yang berkaca-kaca.


Radit sejenak menghentikan tangannya yang mengobati luka Rembulan, "Abi nggak akan nikah lagi, Abi bakalan nebus kesalahan ini....maaf ya," ujar Radit penuh rasa bersalah, "Jangan stres ya Umi, kasihan debayi nya.....soalnya kandungan Umi lemah karena pendaran kemarin," jelas Radit. Ia sebenarnya tahu Rembulan ingin dirinya selalu ada, tapi ia takut malah lupa dengan keadaan Rembulan yang akhirnya berujung pada penyesalan. Radit rela menahan diri hanya karena ia takut Rembulan kenapa-kenapa.


"Iya," Rembulan mengangguk dan ia merasa bersyukur karena Radit tetap bersamanya.


"Umi sekarang mandi, terus ganti baju nya ya....terus kita tidur, Abi peluk boleh ya?" tanya Radit.


"Abi ish...." Rembulan merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh Radit.


"Belajar Umi, biar kebiasaan...." kata Radit lagi.


"Iya udah iya," kata Rembulan.


"Apanya yang iya?" goda Radit.


"Ish....nggak ada apa-apa!" Rembulan memanyunkan bibirnya, kemudian ia masuk ke kamar mandi.


"Hehehe....." Radit tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Rembulan, ia berniat segera menyelesaikan masalahnya dengan Diva. Radit sungguh tidak tega dengan Rembulan yang menjadi korban, bahkan Rembulan terlihat takut kehilangan nya. Radit sangat mengerti dengan perasaan Rembulan saat ini.


Selesai Rembulan membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dengan memakai daster. Sungguh daster adalah pakaian ternyaman saat ini untuknya.


"Abi mandi dulu ya sayang biar wangi, pas di peluk istri...." kata Radit kemudian ia masuk ke kamar mandi.


"Huuuufff...." Rembulan menarik nafas dengan panjang, kini Radit sangat berbeda sekali. Suaminya itu sangat suka sekali menggombal yang terkadang membuatnya bungkam tanpa bisa berkata-kata.


*


Pagi hari ini Mentari merasa bahagia, karena semua orang sudah tahu ia adalah istri Arka. Tidak ada lagi yang harus di tutupi maupun di sembunyikan, semua berjalan lancar saja tanpa hambatan. Namun ada yang tidak beres dengan Mentari, karena ia terlihat pucat sekali.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Arka, ia kemudian memegang dahi Mentari.


"Tari kedinginan Kak," kata Mentari sambil menggulung selimutnya.


"Badan mu hangat,' kata Arka yang merasa suhu tubuh Mentari cukup tinggi, "Kakak keluar sebentar ya," pamit Arka.


"Kemana Kak?" tanya Mentari.


"Sebentar saja, mau panggil Mami," kata Arka panik.


Tok tok tok.


Belum sempat Arka membuka pintu ternyata sudah ada yang terlebih dahulu mengetuk pintu kamarnya.


Clek.


"Mami," kata Arka yang melihat Linda di sana.


"Tari masih tidur?" tanya Linda, "Bangunkan ya Arka, nanti masuk angin," kata Linda.


"Tari sakit Mi, dia demam," jelas Arka.


"Tari sakit?" Linda langsung masuk dan ia melihat Mentari yang berbaring di ranjang, sambil memeluk selimutnya, "Kamu sakit Tari?" tanya Linda sambil memegang dahi Mentari.


"Dingin Ma," kata Mentari dengan tubuh menggigilnya.


"Biar Mami panggil Radit saja," Linda langsung keluar dari kamar Arka, dan pergi ke kamar yang di tempati Radit hanya bersebelahan saja dengan kamar Arka. Sebab mereka semua memang menginap di hotel.


Tok tok tok.


Clek.


Pintu terbuka dan Radit di sana, "Ada apa Mu?" tanya Radit.


"Kamu bisa tolong periksa Mentari Nak, dia demam," kata Linda.


"Tari demam Mi?" tanya Rembulan yang berdiri di samping Radit.


"Iya," jawab Linda, "Mata kamu sembab.....kamu nangis ya?" tebak Linda.


"Nggak kok Mi," bohong Rembulan, padahal ia memang menangis. Tapi semalam bukan pagi ini.


"Kita ke kamar Arka yuk Mi," kata Radit, ia tidak ingin membuat Linda semakin banyak bertanya-tanya.


"Radit ambil tas di mobil sebentar," Radit langsung keluar dan memanggil tas yang selalu ada di mobilnya, di mana itu adalah tas yang berisi alat-alat untuk memeriksa apa bila ada pasien darurat.


Linda dan Rembulan mulai memasuki kamar Mentari, "Kamu sakit dek?" tanya Rembulan khawatir.


"Iya Kak," kata Mentari dan sambil mengigit.


Tidak lama berselang Radit masuk, dan melihat Mentari berbaring di ranjang.


"Boleh pegang nggak ni?" tanya Radit. Karena Arka menatapnya dengan tajam, "Umi pegangin tangannya Tari," kata Radit pada Rembulan.


Rembulan menggaruk kepalanya, "Umi nggak ngerti Abi," jawab Rembulan dengan suara pelan.


"Ah masa iya, kan Umi separuh nafas Abi jadi sedikit pasti tahu dong," kata Radit.


"Abi!" Rembulan mengeratkan giginya, ia merasa tidak sopan karena ada Linda juga di sana.


"Hehehe...." Radit tersenyum.


"Cepat!" kata Arka, karena ia ingin Radit segera memeriksa istri nya.


"CK...." Radit kesal dan ia memeriksa keadaan Mentari.


"Tari kenapa Dit?" tanya Linda.


"Kecapean Mi," jawab Radit kemudian ia melihat Arka, "Usia kandungan Mentari dua bulan, apa sudah pernah di periksakan kan sebelumnya?" tanya Radit pada Arka.


"Udah," kata Arka.


"Siapa dokter nya?" tanya Radit lagi.


"Dokter Anggia," jawab Arka.


"Apa dokter Anggia ada mengatakan sesuatu?" tanya Radit lagi.


"Ada, dokter Anggia bilang.....Mentari masih terlalu muda dan....." Arka menggantung perkataannya, karena sulit sekali untuk melanjutkan pembicaraannya.


"Dan?" tanya Radit lagi, karena ia tahu apa yang seharusnya di katakan Arka, "Dan kandungannya sangat lemah, serta beresiko jadi bapak Arkana Anggara Wijaya, tolong rutinitas malam anda untuk di kurangi....sampai janin istri anda kuat, biasanya sampai usia tiga bulan, demi keselamatan istri dan anak anda," lanjut Radit lagi.


"Radit, maksud kamu itu bagaimana?" tanya Linda yang kurang mengerti.


Radit melihat Mentari, "Mentari apa semalam kau begadang?" tanya Radit.


"Iya Kak, Tari udah berapa malam begadang terus...." jawab Mentari dengan polosnya.


"Kalau begitu mulai sekarang banyak istirahat ya, jangan banyak aktivitas dulu terutama aktivitas begadang," lanjut Radit lagi.


"Arka!!!!" Linda menatap Arka dengan begitu tajam, ia yakin anaknya itu yang sudah membuat cucunya ikut begadang.


"Mi, ampun Mi.....kita damai......Arka kan juga butuh Tari Mi," kata Arka ketakutan.


"Dasar bocah edan! Kamu nggak sayang sama Cucu Mami hah!" teriak Linda.


"Sayang dong Mi," Arka takut dan ia menjauh dari Linda.


"Keluar dari kamar ini!" Linda menunjukan arah pintu.


"Kok keluar Mi?" tanya Arka bingung.


"Mulai hari ini Mentari Mami yang jagain!"


"Mami apasih, Tari itu istri Arka," jelas Arka dengan kesal.


"Iya tapi itu ada cucu Mami!" Linda tidak mau kalah, bagiannya cucunya jauh lebih penting saat ini.


"Mi..."


"Nggak!"


"Kasihani Arka Mi..."


"Keluar Arka, atau kamu Mami telan lagi!" kata Linda dengan nada mengancam, ia benar-benar ingin menelan Arka hingga Arka merasa horor.