
Rionaldo kembali melajukan mobilnya dengan cepat dan sampai rumah sudah menunjukkan pukul 8 malam dan disana sang ibu menunggu kedatangannya
"Rio, gimana masakan ibu, apa Mentari suka?" Tanya ibu Ayu
"Iya ma, habis seketika dimakan oleh Mentari" ucap Rionaldo, "ma aku ke kamar dulu ya" pamit Rionaldo lalu jalan menuju kamar dan istrahat sejenak sebelum mandi
Beda halnya dengan Santi yang sekarang lagi di klub malam sebagai tempat bertemunya dengan anak buahnya
"Gimana, apa anak buah mu sudah disini sekarang?" Tanya Santi
"Iya bos, mereka tinggal tunggu perintah" jawabnya
"Bagus, ini untuk uang makan kalian, kalau berhasil saya tambahkan" Santi memberikan amplop coklat yang berisi uang
Anak buahnya itu dengan senang menerima amplop tersebut dan tidak lupa mencium amplop tersebut sebelum memasukkan dalam saku jaketnya
"Ingat dalam waktu dekat ini, ada tugas jadi harus siap, sekarang pergi nanti ada yang curiga" perintah Sinta kepada anak buahnya itu
Selepas anak buahnya pergi, ia langsung mengirim pesan kepada Rionaldo
✉️ "Apa rencanamu? saya sudah siapkan anak buah" pesan singkat Sinta itu membangunkan Rionaldo yang tertidur karena capek
"Anak buah, emang dia saja yang punya anak buah" batin Rionaldo sambil membalas pesan Santi itu
✉️ "Belum ada rencana" balas Rionaldo
Santi melihat balasan pesan dari Rionaldo dengan cepat membuka pesan tersebut,
"Sial, belum ada rencana. Oke jangan salahkan aku bertindak sendiri" lirih Santi lalu ia meraih tasnya yang ia simpan kursi tepat disampingnya lalu ia pergi dengan hati geram
Disisi lain, Rionaldo istrahat sejenak sebelum membersihkan diri dan lanjut tidur sampai pagi. Pagi hari sedikit bersantai sambil menikmati keindahan udara segar dari jendela kamarnya dengan pandangan diluar, ia sangat rindu dengan suasana rumah tempatnya ia tumbuh sampai tinggal di apartemen setelah masuk kuliah. Setelah lama bersantai ia memutuskan untuk bersepeda pagi ini hanya untuk sekitar kompleks
"Ma.. aku keluar dulu ya" pamitnya
"Mau kemana pagi-pagi seperti ini?" Tanya ibu Ayu penasaran
"Bersepeda ma, mama mau ikut?" Tanya Rionaldo dengan ajakan
"Tidak, kamu saja mama sudah tua" tolaknya
"Oke.. assalamualaikum ma" pamit Rionaldo dengan salam
Rionaldo keliling kompleks dengan sepeda kesayangannya itu lebih dari sejam, keringat ditubuh Rionaldo sudah bercucuran dan untung membawa handuk kecil khusus lap keringat. Rionaldo pulang setelah perutnya keroncongan karena lapar. Rionaldo mengayuh sepedanya dengan cepat agar cepat sampai rumah, sampai teras ia sudah mencium bau masakan ibu yang begitu harum
"Harumnya" batin Rionaldo sambil mengusap perutnya yang sudah bunyi "kruk kruk kruk".
Rionaldo masuk dalam rumah dan langsung ke dapur dimana ibunya sedang masak
"Harumnya ma, pasti enak" puji Rionaldo sambil mengambil sendok kecil untuk menyendok sayur tumis ibunya itu
"Lapar sekali ya nak?" Tanya ibu Ayu
"Iya mam, aku duluan yaa ada kerjaan sedikit jadi saya harus keluar hari ini.. aaahhh padahal hari ini pengen dirumah seharian untuk istrahat"
"Gak kangen sama mama?"
"Kangen dong" ucap Rionaldo sambil merangkul pundak ibunya itu
"Carikan mantu dong" ibunya lagi
"Iya iya.. mama tenang saja" jawab Rionaldo sambil mengusap lengan ibunya itu dengan bibir tersungging senyum lalu ia pergi
Berbeda dengan suasana rumah Arka dan Mentari. Mentari sekarang sedang mencari suaminya yang entah kemana
"Kakak" panggil Mentari dari depan pintu kamar setelah mencari suaminya dari berbagai sisi rumah
"Kak Arka" panggilnya lagi dengan kesal
Mentari sudah bertolak pinggang dengan perut yang sudah mulai membuncit.
"Kak arka mana sih" batinnya lagi
ART yang sedang dibelakang rumah, mendengar istri tuannya memanggil langsung menghampirinya dengan sedikit lari
"Tuan Arka lagi keluar tadi" Ucapnya setelah melihat Mentari mencari keberadaan suaminya itu
"Kemana mbok?" Tanya Mentari penasaran
ART yang tidak tau apa-apa ia hanya menggeleng sembari ia berkata "tidak tau tuan kemana"
Mentari menetralkan perasaannya yang kesal, ia tidak suka kalau suaminya pergi tanpa memberitahunya
"Ya sudah mbok, lanjut kerja saja" ucap Mentari lalu ia kembali masuk dalam kamarnya.
Mentari mencari ponselnya untuk menelepon suaminya, tidak menunggu waktu lama sudah terhubung
📞"Assalamualaikum kakak dimana?" Tanya Mentari dengan hati yang masih kesal
📞"Wa'alaikumussalam, kakak dikantor dek.. ada apa?" Tanya Arka balik dengan lembut
📞"Kenapa gak kasih tau aku kalau ke kantor?" Tanya Mentari yang tidak menjawab pertanyaan suaminya itu
Arka mendengar istrinya ngoceh terlebih dahulu ia senyum
📞"Tadi kamu lagi tidur pulas sayang, lagian ke kantor hanya ambil berkas" jawab Arka lagi
📞"Kan bisa Mentari ikut kak, ihhh kak Arka" Mentari kesal. Ia bosan dirumah sendirian
Arka tau kalau istrinya mulai marah lagi
📞"Biarin" rasa kesal Mentari sudah mulai memuncak, ia tau ibu hamil harusnya tidak bisa sering stres akan mengganggu pertumbuhan janinnya namun ia tidak bisa tahan, karena kalau ia tahan maka itu akan membuatnya tidak tenang dan terus kepikiran
📞"Sayang.. kakak sekarang mau pulang.. ada yang dibeli di luar?" Tanya Arka lagi
📞"Gak ada" jawabnya dengan hati yang masih kesal
📞"Perlengkapan baby?" Tanya Arka lagi
Mentari mendengar perlengkapan anaknya itu tanpa mengajaknya membuatnya semakin kesal,
📞"kok kakak belanja keperluan baby sendiri gak ngajak aku" protes Mentari
Arka yang mendengar itu "salah lagi" batinnya sambil menggaruk tengkuknya,
📞 "bukan kayak gitu sayang" Arka memelas
📞"Terus gimana? Kak Arka hari ini bikin Mentari kesal"
📞"Maaf.. maaf.. kakak pulang yaa.. assalamualaikum" Arka menyegerakan teleponnya dengan Mentari
📞"Kak Arka gak peka, wa'alaikumussalam" ucap Mentari yang masih kesal
Arka yang merasa lucu dengan bumil itu membuatnya ingin sekali mencubitnya karena gemas
📞"Mau beli makanan?" Tanya balik Arka lagi yang masih fokus menelepon sambil menunggu jemputan
📞 "Hmmm.. kakak aku pengen makan kue" Mentari mulai mengutarakan keinginannya
"Apa sayang? Kue...." Ucap Arka berrhenti setelah mendengar ketukan pintu ruangannya
"Masuk Brian" Arka mempersilahkan Brian masuk dalam ruangannya yang masih didengar oleh Mentari
"Maaf pak, apa kita pulang sekarang?" Tanya asisten Brian
"Iya" jawab Arka lalu bangkit dari kursinya itu menuju pintu keluar yang diikuti oleh Brian.
Sementara Mentari yang mendengar suaminya menyebut nama Brian, entah kenapa ia ingin sekali mendengar suara Brian menyanyi diiringi dengan gitar.
📞 "Kak arka, apa bapak Brian kerumah?" Tanya Mentari dengan biasa agar suaminya itu tidak curiga
📞"Iya sayang, ini sudah dijalan" ucap Arka lagi
📞"Ohhh" jawab singkat Mentari sembari ia kegirangan, "Mentari tunggu ya" sambungnya dengan penuh bahagia
Arka melihat Brian yang sedang fokus drive "Brian, istriku menunggu mu" ujar Arka
Asisten Brian yang mendengar itu menelan ludah dengan susah paya, diotaknya sudah mulai berkeliaran beribu-ribu kata dan tingkah istri bosnya yang membuat dirinya ingin pindah planet dari pikirannya itu membuat Brian geleng kepala
"Kenapa Brian?" Tanya arka heran kepada asistennya itu
"Eehh.. tidak pak" jawab Brian
"Ngantuk?" Tanya Arka lagi, ia takut kalau sopirnya mengantuk hilang fokus malah membuat mereka celaka
"Tidak pak" jawab Brian lagi
"Ya udah, hati-hati bawa mobil" Arka mengingatkan yang diangguki oleh Brian
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil sudah parkir depan rumah, sedang Mentari menunggu sejak tadi dengan gelang karet yang warna-warni
Arka yang tidak paham dengan gelang karet itu, ia dengan cepat menghampiri istrinya
"Kok gak tunggu didalam saja?" Tanya Arka dengan heran. Selama ini Mentari tidak pernah melakukan hal itu
"Hmmmm... Emang gak boleh?" Tanya balik Mentari dengan gelang karet yang masih setia ditangannya
Brian yang sejak tadi hanya diam dengan tatapan mata ke gelang karet yang dipegang Mentari
"Bapak Brian, kenapa lihat gelang karet aku?" Tanya Mentari lagi. Dengan cepat Brian menggelengkan
"Takut nanti aku suruh lagi?" sambung Mentari
"Tidak nona, hanya saja untuk apa gelang karet itu?" Tanya balik Brian dengan harapan keberuntungan berpihak padanya
Mentari menghampiri Brian yang tidak jauh darinya, "bapak suka pakai gelang karet?"
Lagi-lagi Brian menggelengkan kepala dengan cepat. Arka yang melihat asistennya yang selalu geleng kepala membuat Arka ingin mengganggu Asistennya itu
"Nanti leher kamu sakit Brian" goda Arka kepada asistennya itu yang membuat sang empu hanya senyum pasrah
Brian bingung, ia takut jawabannya salah akan muncul masalah baru tapi kalau jujur pasti istri bosnya itu marah. Brian dilema sedang Mentari menunggu jawabannya
"Eeh.. gimana yaa nona" Brian tidak enak hati kepada istri bosnya itu
"Bapak Brian gitu aja susah... Kesini bapak Brian" ajak Mentari sambil melambaikan tangan kearah Brian agar mendekat. Brian pun menurut.
Mentari menaruh gelang karet tersebut diatas sofa lalu mengambil satu persatu dan mengikat rambut Brian dengan karet gelang tersebut. Brian meringis kesakitan karena kepalanya seperti dijambak.
Mentari dengan senang hati dan telaten mengikat rambut Brian tersebut sambil bertanya
"Bapak Brian.. tanggal berapa bapak Brian lahir?"
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...JANGAN LUPA MAMPIR DAN DUKUNGANNYA 😉...
...TERIMA KASIH 🙏**...