
"Saya masih ada pasien di rumah sakit," kata dokter Sahara sambil meneguk saliva, tampaknya dokter Sahara sudah bisa menebak jika Radit sudah tahu dengan drama yang selama ini mereka mainkan, "Saya permisi," kata dokter Sahara.
"Tunggu dulu Dok," Radit tidak mengijinkan Dokter Sahara pergi, "Kita bawa dulu istri saya ke rumah sakit," Radit menatap Rembulan yang tengah meremas kedua tangannya yang saling bergantian, "Sakit jiwa," lanjut Radit.
'Mati aku," batin Rembulan, keringat dingin mulai bercucuran. Rasanya semua mendadak horor seketika.
"Biar saya telpon ambulance, untuk menjemput Rembulan," Radit mengambil ponselnya yang tadi sempat ia simpan di saku, dan mencari kontak rumah sakit untuk mengirimkan ambulance, "Halo, saya Dokter Radit Mahesa Wijaya SpOG, tolong kirimkan satu ambulance ke rumah saya, nanti alamat lengkapnya saya kirim," kata Radit lalu ia menutup panggilan nya.
"Saya permisi, saya sangat buru-buru sekali," dokter Sahara cepat-cepat keluar tanpa mendapat persetujuan yang lainnya, ia rasa mungkin besok ia tidak akan punya muka bila bertemu dengan Radit.
"Dokter!!!!" seru Radit dengan panik, padahal ia ingin tertawa karena melihat exspresi dokter Sahara saat melarikan diri begitu juga, "Tidak apa, sebentar lagi akan ada perawatan yang membantu," kata Radit sambil menatap Rembulan, "Mama setuju kan Ma? Ini demi kebaikan Rembulan juga," tanya Radit pada Mama Ranti.
"Iya, Mama ikut saja," jawab Ranti. Sebenarnya Ranti ingin tertawa melihat wajah, Nina, Mentari dan Rembulan, "Mama pamit dulu, Mama serahkan semua sama kamu....apa pun keputusan yang baik Mama setuju," Ranti berjalan menuju pintu, namun ia sejenak berhenti melangkah dan berbalik pada tiga wanita yang menatapnya, "Kan aku sudah bilang, tapi kalian ngeyel!!!" kemudian Ranti pergi menghilang di balik pintu.
"Tante?" tanya Mentari ketakutan.
"Ehem.....Ehem....." Nina berusaha tenang dan menghilangkan suara gugupnya, kemudian ia menatap Radit dengan wajah menantang.
Radit melihat Nina seolah ia tengah putus asa dan bersedih.
"Kamu itu memang suami durhaka pada istri, bukan hanya durhaka pada istri tapi juga durhaka pada anak kamu!" kesal Nina demi mencari aman.
"Iya Mama, Radit minta maaf dan Radit mau memperbaiki semuanya," jawab Radit.
Nina meneguk saliva sambil berpikir keras, kemudian ia kembali melihat Radit setelah ia rasa memiliki ide, "Kamu pergi dari sini, kamu jangan pernah temui Ulan......suami apa coba yang tega masukin istrinya ke rumah sakit jiwa," omel Nina seolah Radit memang sangat salah.
"Yasudah," Radit pun menyetujui apa yang di katakan oleh Nina.
"Apanya yang ya sudah!!!" kesal Nina.
"Ya udah, Radit pergi dan enggak lagi temuin Ulan ...." jelas Radit.
Deg.
Nina semakin kehilangan ide, semua begitu saja di jawab oleh Radit. Bahkan tanpa ada penolakan atau pun emosi yang biasanya di tunjukan oleh putra kesayangannya itu.
"Ulan," Radit menatap Rembulan, "Aku minta maaf ya, tapi ambulance sudah menuju ke sini dan aku terpaksa harus membawa mu ke rumah sakit JIWA....." Radit menekankan kata jiwa, agar Rembulan semakin bergidik ngeri.
Rembulan meremas tangannya, ia tidak mau di bawa ke rumah sakit jiwa.
Uwiw Uwiw Uwiw......
Terdengar suara mobil ambulance, dan sepertinya ambulance yang di telpon Radit sudah sampai. Tapi Radit merasa tadi ia hanya berpura-pura menghubungi ambulance, lalu suara itu dari mana. Radit tidak larut dalam pikirannya, karena sepertinya ada yang mendukung dirinya di sini tanpa di ketahui Radit, Ranti yang memutar bunyi ambulance pada ponselnya di depan pintu kamar. Ia bersembunyi di sana agar tidak terlihat, kemudian setelah di rasa cukup Ranti langsung masuk kembali ke kamar Rembulan.
"Radit ambulance nya sudah sampai," kata Ranti dengan wajah bersedih, Mama tidak sanggup melihatnya. Kemudian Ranti kembali pergi dari kamar Rembulan.
Rembulan berdiri dan dengan cepat memegang tangan Radit yang tergantung, "Dit, aku nggak mau di masukin ke rumah sakit jiwa," kata Rembulan sambil berlinang keringat.
"Aduh!!!!" Mentari tepuk jidat, karena semua sudah hancur berantakan.
Radit mengangkat sebelah alisnya, sambil melihat Mamanya Nina.
"Mama pamit, terserah kau sana mau kau apakan istri mu...." kata Nina lalu pergi begitu saja, ia secepat kilat keluar dari kamar karena ketakutan.
"Aduh....." kaki Mentari gemetaran, ia juga sudah ketakutan, "Tari tetap di sini apa keluar?" tanya Mentari dengan bodohnya.
"Tari jangan keluar, aku takut," kata Rembulan yang berdiri di depan Radit.
"Iya aku teman ni Kakak, aku bantu doa...." Mentari juga cepat-cepat keluar, karena mendadak suana menjadi seram setelah kebohongan mereka terbongkar habis. Itu karena Rembulan barusan.
"Tari!!!!" seru Rembulan dengan tubuh gemetaran, ia juga bersiap-siap untuk pergi namun tangannya di pegang Radit. Hingga mau tidak mau Rembulan terpaksa hanya diam di tempatnya.
"Ke rumah sakit jiwa?" bisik Radit di telinga Rembulan.
Cepat-cepat Rembulan mendongkak dan menatap Radit, "Dit, aku enggak gila.....aku nggak mau dibawa ke rumah sakit jiwa...." kata Rembulan berharap Radit mengasihani dirinya.
Radit diam sambil terus melihat Rembulan, ada rasa kasihan melihat istrinya seperti ini, "Kenapa," Radit menarik Rembulan hingga mendekat padanya, bahkan tangan Radit melingkar di pinggang Rembulan.
Glek.
Dengan kasar Rembulan kembali meneguk saliva.
"Aku enggak gila Dit....." lirih Rembulan.
"Benarkah?"
"He'um....." Rembulan mengangguk.
"Lalu kenapa kau membohongi ku?" tanya Radit tanpa melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Rembulan.
"Dit aku sesak....." suara Rembulan terlihat pelan, karena bercampur tubuh gemetaran, "Tapi kemarin kamu peluk aku terus, kamu nggak mau di lepas," goda Radit.
"Aduh...." gumam Rembulan dengan wajah semerah tomat.
"Ayo ambulance sudah menunggu!" kata Radit lagi.
"Dit ampun Dit, aku udah bohong, tapi ini ide Mentari...." kata Rembulan berdalih, karena ingin mencari aman.
"Mentari?" tanya Radit.
"Iya," Rembulan mengangguk cepat.
"Lalu kenapa kau setuju?" tanya Radit lagi.
"Dit.....ampun....." pinta Rembulan dengan melas, karena Radit hanya diam sambil menatapnya dengan wajah datar akhirnya Rembulan kembali mencoba membujuk Radit, "Abi....." panggil Rembulan dengan suara pelan, "Maaf...."
Radit mengangkat alisnya, Radit merasa memiliki kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, 'Ini namanya kesempatan saat ada kesempatan.... hehehe....' batin Radit, bahkan ia tersenyum samar, "Coba ulangi panggilan mu?" kata Radit.
"Abi," kata Rembulan tanpa pikir panjang, karena saat ini yang terpenting adalah ia tidak di masukkan kerumah sakit jiwa.
"Iya Sayang," jawab Radit.
Deg deg deg deg.
Jantung Rembulan terus berdetak kencang, jawab Radit sungguh membuat nya panas dingin. Walaupun ia masih takut untuk di bawa ke rumah sakit jiwa, karena Radit bel mengatakan ia untuk itu. Tapi tidak di pungkiri wajah Rembulan semakin memerah.
*
Kakak semuanya tolong Like dan Vote.