
"Assalamualaikum....." kata Rika dan Lala yang baru saja datang.
"Waalaikumusalam...." Mentari tersenyum dan ia langsung berjalan mendekati dua sahabatnya.
"Tari aku kangen banget," kata Lala.
"Aku juga," jawab Mentari dan ketiganya mulai berpelukan.
"Kamu apa kabar?" tanya Rika setelah melepaskan pelukannya.
"Aku baik," Mentari tersenyum, karena beberapa hari tidak bertemu membuat ketiganya terus merasa rindu.
Namun kemudian mata Lala melihat Arka, "Bapak kenapa Pak?" tanya Lala yang mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Abis di sembur sama dukun," jawab Arka sambil menatap Radit.
Radit menjauhkan tubuhnya, karena kesal Arka menyebutnya dukun.
"Sayang Kakak ke kamar sebentar, ada najis!" kata Arka lagi.
"Iya," Mentari mengangguk dan melihat Radit, sungguh Arka sangat keterlaluan. Tapi terasa lucu juga menurut Mentari.
"Lala, Rika, Kak Ulan sama Kak Radit ke kamar dulu ya....kalian duduk aja, kalau mau minum nanti minta tolong bik Sum atau buat sendiri di dapur seperti biasanya," kata Rembulan, karena kedua ABG itu sudah sering bermain di rumahnya. Bahkan pernah beberapa kali menginap juga.
"Iya Kak," jawab Rika.
"Iya Kak," timpal Lala.
Rembulan bangun dari duduknya, ia membantu Radit untuk berdiri. Radit berjalan seperti orang yang baru di sunat, bahkan memegang pinggangnya yang terasa sangat sakit sekali.
"Abi enggak papa?" tanya Rembulan saat keduanya menaiki anak tangga.
"Enggak papa," jawab Radit, padahal ia sudah gemetaran.
Keduanya masuk kedalam kamar, Radit duduk di ranjang di bantu Rembulan sambil bersandar.
"Abi maaf ya, gara-gara Umi.....Abi jadi begini," kata Rembulan dengan tidak enak hati, bahkan tangannya saling meremas karena merasa bersalah.
Radit tersenyum, "Enggak papa, yang penting mangga nya udah dapat," kata Radit.
"Iya," Rembulan meletakan dua buah mangga yang di petik Radit pada meja nakas, kemudian ia ke kamar mandi.
Radit tersenyum bahagia karena bisa membahagiakan istrinya, sesaat Rembulan keluar dari kamar mandi ia langsung naik ke atas ranjang. Terlambat makan membuatnya lelah, dan ia berbaring di sebelah Radit.
"Mi," panggil Radit setengah duduk.
"Iya," Rembulan tidur miring dan melihat Radit.
"Mangga nya kok enggak di makan?" tanya Radit.
"Umi memang enggak mau makan Abi, tapi cuman pengen pegang aja," jawab Rembulan santai.
"Pegang aja?" tanya Radit bingung.
"Iya," jawab Radit lagi.
Radit menepuk jidatnya, karena ternyata kini ia bukan mendengarkan curahatan suami pasiennya. Tapi ia juga sudah merasakan yang di rasakan suami pasien nya itu.
"Umi," panggil Radit.
"Apa Abi?"
"Makan dong, Abi udah usaha buat ambil buahnya sedikit aja gitu," pinta Radit.
"Iya Umi juga pengen, tapi makannya sama Abi," kata Rembulan lagi.
Glek.
Radit meneguk saliva, mangga itu bahkan masih begitu kecil. Sudah pasti rasanya sangat asam sekali, bagaimana bisa Rembulan memintanya memakan mangga itu.
"Bentar ya Bi," Rembulan turun dari ranjangnya.
"Umi mau kemana?" tanya Radit.
"Mau ambil pisau sama piring, kita makan mangga pakek garam," setelah mengatakan itu Rembulan langsung keluar dari kamar dan mengambil garam. Namun sampai di pintu ia melihat Arka, "Arka, kamu mau kemana?" tanya Rembulan.
Arka menunjuk arah bawah, karena memang ia ingin menyusul Mentari.
"Bisa minta tolong nggak, aku enggak kuat turun tangga......" kata Rembulan.
"Apa?" tanya Arka.
"Bilangin sama Bik Sum buat ngantar pisau dan piring, sedikit garam...." kata Rembulan, sebenarnya ia tidak ingin merepotkan Arka. Tapi karena Rembulan takut nanti ya ia terpeleset dan menjadi masalah, jadi tidak ada salahnya meminta tolong pada adik iparnya itu. Lagi pula Rembulan sudah mencintai Radit, dan Arka pun sudah mencintai Mentari. Tidak ada lagi rasa saling cinta di antara keduanya.
"Iya, mau makan mangga sama suami aku," kata Rembulan.
"Mangga yang tadi?" tanya Arka sambil bergidik.
"Iya," Rembulan mengangguk.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rembulan, tentu saja Arka sangat bersemangat sekali, "Kakak ipar tunggu di sini, sebentar lagi pesanannya sampai," kata Arka dengan semangat, ia sangat bahagia melihat penderitaan Radit.
Rembulan kembali masuk kedalam kamar, tidak lama kemudian pintu di ketuk dan Bik Sum bawa apa yang tadi ia pinta.
"Abi," Rembulan mulai memotong mangga, dan menatanya di atas piring. Kemudian ia naik keatas ranjang, dan dengan mangga nya.
"Abi," Rembulan mengambil satu ****** mangga, dan memberikan sedikit garam lalu memakannya, "Enak banget," Rembulan terlihat begitu menikmati.
"Kok enggak di kupas?" tanya Radit.
"Enggak papa, mangga muda ini enak kalau dimakan pakek kulitnya sekaligus," kata Rembulan sambil terus mengunyah mangga nya, "Abi," Rembulan mulai menyuapi Radit.
Radit membuka mulutnya, dan menahan rasa asam yang sangat membuat lidahnya ngilu.
"Enakan Abi?" tanya Rembulan sambil terus mengunyah mangga nya.
"Enak," kata Radit dengan terpaksa, "Umi, jangan banyak makan mangga muda....nggak bagus juga," kata Radit.
"Iya pak dokter makanya bantuin ya,* Rembulan kembali menyuapi Radit.
Dengan menutup mata Radit mengunyah mangga muda yang terasa asam, hingga akhirnya mangga nya habis di malam dengan Radit yang paling banyak memakannya.
"Enakan Abi?" tanya Rembulan.
"Aduh," Radit memeluk perutnya yang terasa mulas, kemudian dengan susah payah ia turun dari ranjang dan masuk ke toilet.
"Abi kenapa?" Rembulan bingung dan ia menggaruk kepalanya.
Radit keluar dari kamar mandi, namun sesaat kemudian ia masuk kembali.
"Abi," Rembulan merasa kasihan pada Radit, tanpanya Rembulan mulai sadar Radit begitu karena mangga muda barusan.
"Aduh," Radit keluar dari kamar mandi dan naik keatas ranjang, "Mangga nya asam banget Umi, Abi Sampek masih ngerasa ngilu," kata Radit yang kini duduk di atas ranjang.
"Kalau Abi engga suka kenapa enggak ngomong?" tanya Rembulan, "Umi enggak maksa Abi lho, lagian tadi Umi makan karena menghargai Abi yang ngambil dengan susah payah.... karena Umi cuman pengen liatin mangganya aja," jelas Rembulan.
Radit melongo ia pikir tadinya Rembulan akan bersedih jika ia tidak memakan mangga itu, namun ternyata tidak sama sekali.
"Aduh Umi kenapa enggak bilang," kesal Radit, "Abi udah makan teh rasa pedas, sekarang mangga muda lagi," kata Radit dengan lesu.
"Abi juga engga nannyak!" Rembulan kesal karena Radit menyalahkan nya, karena ia merasa tidak salah.
"Mana Abi tahu!" kata Radit lagi.
"Abi nyalahin Umi?!" tanya Rembulan dengan wajah kesalnya.
"Enggak...."
"Ish," Rembulan merujuk dan masuk kebawah selimut, "Abi jahat!" kesal Rembulan.
"Maksud Abi enggak begitu, kok sensitif banget sih?" tanya Radit.
"Tau ah!" kesal Rembulan yang masih di bawah selimut.
"Umi...."
"Enggak!!" ketus Rembulan.
"Sayang," kata Radit lagi.
"Enggak!" kata Rembulan masih dengan ketua.
"Buka dulu selimut nya, kepalanya enggak usah di tutup selimut," kata Radit sambil berusaha membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya.
"Enggak!!!" Rembulan tetap berusaha bertahan pada pendiriannya.
Tuuuuutttttt.....
Radit tidak kuat lagi menahan kentutnya.
Rembulan cepat-cepat keluar dari dalam selimut.
"Abii!!!!!??" teriak Rembulan.
"Enaknya," Radit mengelus perutnya karena merasa lega.