
Malam yang melelahkan, keluarga Purnawan dan Algantara baru pulang dirumah masing-masing kecuali Mentari dan Arka yang stay di rumah.
Ibu Dewi dan Pak Rahmat masuk dalam rumah, menuju kamar untuk melepas penat. Malam ini tidak ada perbincangan bersama anak dan mantunya, mereka habiskan waktu dengan keluarga masing-masing.
Ibu Dewi sudah siap untuk tidur namun namanya perempuan tidak akan tidur kalau belum bicara,
"Yah, ayah" panggil ibu Dewi kepada suaminya itu.
"Hmm" Respon pak Rahmat.
"Sudah tidur?" tanya ibu Dewi lagi memastikan.
"Capek bu, besok aja yaa kita bahas" Ucap pak Rahmat lagi.
"Oke" jawab ibu Dewi, lalu menarik selimutnya sampai dada lalu tidur.
Sedangkan di keluarga Algantara, mereka baru sampai rumah dari kantor dan Aldi dari gedung yang sama dengan ibu Dewi.
Papa Hadi baru turun mobil melihat putranya berhenti tepat disamping mobilnya.
"Papa baru pulang juga?" tanya Aldi.
"Iya, hari ini rasanya dikantor banyak kerjaan" Jawab Hadi sambil jalan masuk dalam rumah diikuti oleh anak dan istrinya.
"Bunda ke kantor juga?" tanya Aldi lagi.
"Hmm, anak zaman sekarang sudah tau jawabannya tapi masih pura-pura bertanya" jawab ibu Anita.
Aldi langsung menggandeng tangan bundanya dan menoleh kearah papanya, "Pa, jangan sering ajak bunda akting,. bahaya pa" Ucap Aldi itu
"Hahaha, istrahat sana" Ucap ibu Anita mengusir anaknya itu, "Pa, Aldi gak bahas menikah gitu?" sambung Anita pada suaminya.
"Lah, kamu bundanya" Jawab Hadi santai.
"Pa, biasanya laki-laki itu bisa terbuka kalau sesama mereka, ajak cerita pa bahas tentang nikah gitu, masa anak sendiri harus bunda beri contoh" Ucap Anita panjang lebar.
"Iya, iya" Hadi mengalah lalu menuju kamar meraka.
...💛💛💛...
Tengah malam seperti orang pada umumnya, tidur dengan nyenyak tanpa mengingat pekerjaan yang membuat capek. Begitupun dengan Arka meskipun tidak masuk kantor tapi berada dirumah seharian membuatnya lebih capek.
Deru napas Arka begitu teratur dan damai rasanya, Mentari tidak enak membangunkan suaminya itu. Mentari bangun dan duduk karena perutnya tiba-tiba sakit.
"Kenapa ya?" tanya Mentari seorang diri sambil mengelus perutnya itu, "Eehh bergerak" kaget Mentari.
Mentari begitu senang bisa merasakan gerakan bayi dalam kandungannya itu. Mentari mengelus perutnya sembari ia senyum, hatinya saat ia tidak mampu diceritakan dan gambar dalam bentuk apapun saking bahagianya.
"Baby, jadi anak yang berbakti pada orang tua yaa, tunduk pada agama Allah, bawa ayah dan ibumu sampai surga yaa" gumam Mentari.
Malam yang sunyi itu Mentari habiskan komunikasi dengan bayinya, meskipun masih dalam kandungan tetapi Mentari tidak bosan dan tidak henti-hentinya terus bicara seakan anaknya itu sudah lahir dan menimpali ucapannya.
Mentari menguap dengan sedikit menggelengkan kepala dan mata yang ia coba terus buka, "gak bisa dibiarin ini, udah setengah tiga Mentari shalat dulu" ucapnya dan turun dari tempat tidur itu untuk mengambil air wudhu.
Beberapa menit kemudian Mentari shalat dua rakaat dan selesai langsung kembali baring disamping suaminya. Ia menatap wajah suaminya itu lekat dan tidak berkedip,
"Kenapa aku selalu takut kak?" tanya Mentari dengan sedikit berbisik, "Kak Arka, aku takut" ulangnya lagi dan disitu Mentari menjatuhkan air mata.
Rasa takut itu terus menghantuinya ditambah dengan dering ponselnya yang terus bunyi sejak selesai shalat tadi.
Mentari merapatkan tubuhnya pada suaminya itu, namun lama-kelamaan tidak bisa karena panas.
"Huuu" menghembuskan napasnya sambil meniup keatas mukanya.
Mentari kembali menoleh kearah jendela, ia melihat bayangan lewat sekilas, "Astaghfirullah" Gumam Mentari lagi sambil mengusap dada.
"Kak Arka kita balik rumah saja yaa, disini ada hantu" Ucap Mentari lagi dan lagi-lagi Arka tidak dengar saking nyenyaknya ia tidur.
Mentari kembali melihat wajah sang suami, lama ia tatap lalu berkata, "Berdosa seorang isteri kalau membangunkan mu dengan memencet hidung mu?" tanya Mentari lagi, "ehh.. kalau sakit gimana?" Mentari mulai bingung.
Masih dalam mode berpikir seketika tiba-tiba guntur dan spontan Mentari memeluk suaminya itu sambil teriak, "Guntuuuurrr, hiks hiks hiks"
Arka terbangun, "Kenapa dek?" tanya Arka dengan memijit pelipisnya.
"Gak" Jawabnya cuek. Mentari menahan rasa kesalnya karena suaminya tidak membalas pelukannya malah bertanya.
"Tadi teriak, ada apa coba cerita?" Arka mulai membujuk.
"Gak, hanya tiba-tiba pengen teriak saja" Jawab Mentari asal dan kembali keposisi tidurnya sambil menarik selimut sampai atas kepala.
"Yakin?" tanya Arka lagi sambil memeluk istri yang berlapis selimut tebal.
""Hmmm" jawab Mentari pura-pura marah namun dalam hati senang.
"Tok Tok Tok" bunyi ketukan pintu kamar Arka dan Mentari.
"Tidak bu, Mentari hanya mimpi buruk" Jawab Arka.
"oohh, ibu kembali di kamar yaa" Pamit ibu Dewi lalu kembali dikamarnya.
"iya bu" jawab Arka, "Tidur lagi" sambungnya kepada Mentari.
Mentari mengangguk, tapi tidak lama Arka menutup mata Mentari kembali membangunkan suaminya itu.
"Kak Arka" panggilnya sambil menarik-narik ujung selimut suami-suami.
"Iya, aku mengantuk dek" ucap Arka lagi tanpa membuka mata.
"Buka mata dulu" Mentari mulai merengek pada suaminya. Ia sebenarnya sudah tidak tahan untuk kekamar mandi, "Kak Arka, aku mau ke kamar mandi tapi takut, disini banyak hantu, tadi aku lihat hantu lewat disamping jendela, kak Arka tolong Mentari" Sambungnya dengan nada memohon
"Kakak sudah buka mata nih, lihat" Ucap Arka sambil membuka matanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jari.
"Hahaha, astaghfirullah. Hahahaha seperti hantu yang aku lihat tadi" Ucap Mentari sambil memegangi perutnya saking lucunya melihat Arka
"Hahaha, antar" Ucap Mentari yang sudah berdiri dipinggir tempat tidur, meskipun ia ketawa tapi rasa takutnya masih belum hilang dan bayang-bayang makhluk yang lewat disamping jendela masih menghantui Mentari.
"Ngerjain pasti nih, iyakan?" tanya Arka
"Oohhh, kirain Mentari bercanda, aku buang air kecil disini aja kalau gitu" respon Mentari sedikit kesal sambil bertolak pinggang.
Arka bangkit dari tempat tidur dengan rambut acak-acakan dan mata dipaksa buka, "Ayo kalau gitu" Ucapnya jalan melewati sang isteri.
Mentari jalan sambil menghentakkan kakinya dilantai, "Pokoknya aku gak suka, jengkel sama kak Arka" Batin Mentari sambil jalan masuk kamar mandi dengan Arka berdiri tidak jauh dari pintu itu.
"Hmm, dasar suami gak peka" Ucap Mentari lalu menutup pintu kamar mandi sedikit keras.
"Haaoomm" Arka menguap tidak sengaja mengeluarkan suara sambil menutup mata.
"Itu gak ikhlas temanin Mentari" Ucap Mentari yang sudah membuka pintu.
"Heee, bukan buang air kecil?" tanya Arka dengan memasang senyum kepada sang isteri.
"Tidak jadi, gara-gara terlambat" Jawab Mentari sambil jalan menuju tempat tidur lagi.
"Hmmmm" Gumam Arka melihat sang isteri.
Arka dan Mentari sudah diatas tempat tidur, tanpa basa-basi Arka kembali merebahkan badannya sambil membelakangi Mentari. Mentari yang melihat perubahan sang suami langsung menyusun bantal dan bersandar dibantah tersebut dengan helaan napas berkali-kali untuk mengontrol hatinya yang kesal.
"Sabar Mentari, baby jangan malu yaa punya orang tua seperti ini" Ucapnya sambil menunjuk Arka.
"Baby anak yang baik, nanti kalau udah di dunia ini nurut sama orang tua yaa, jika kamu boy maka ibu ajarkan tentang tanggung jawab tentang dunia yang KEJAM ini" Ucap Mentari sambil menekan kata kejam, "tapi kalau kamu girl, maka hal yang pertama ibu ajarkan rasa malu. Banyak tuh diluar sana wanita berlenggak lenggok tanpa merasa risih dilihat mata laki-laki" Sambung Mentari lagi.
"Ehh baby, kalau wajah mu mirip saja ibu yaa jangan mirip papamu soalnya ibu pernah dengar kalau fisik seorang anak itu dari bapaknya tapi kecerdasan dari ibunya, tapi ibu gak cerdas jadi cerdasnya ambil kecerdasan ayahmu saja nanti fisik ibu saja. Soalnya ayahmu sudah tua" Ucap Mentari dengan nada kecil diakhir kalimatnya.
Arka yang mendengar itu tidak tahan menahan tawa, tapi kalau tidak pura-pura tidur dia akan kehilangan kata-kata apa lagi yang dikatakan sang istri kepada calon anaknya itu.
Arka mendengar jelas kadang Mentari menghela napas berkali-kali, dan kadang suara Mentari terdengar sedikit ketawa yang membuat Arka penasaran.
"Hihihi, baby respon ucapan ibu yaa, makanya bergerak" Ucap Mentari lagi.
Arka mendengar itu langsung membalikkan badan dengan wajah berbinar-binar, "Benar baby bergerak tadi?" tanya Arka yang membuat Mentari menatap suaminya itu tanpa menjawab.
Arka yang melihat itu hanya senyum menampilkan deretan giginya, "hehehe, benar?" tanya Arka lagi.
Mentari langsung menggeleng pelan dengan wajah tiba-tiba berubah serius, ia menghela napas terlebih dahulu lalu menjawab, "Kak bukan bergerak tapi lagi nendang tadi, lagi main bola"
"Haaa, main bola" ulang Arka dengan kening ia kerutkan.
Mentari merasa lucu karena lagi-lagi sang suami tidak mengerti dengan bahasanya.
"Gitulah kak nikahnya sudah berumur, jadi lupa-lupakan dan kadang terlambat berpikir juga" Ucap Mentari yang membuat Arka menatapnya seketika.
"Kenapa tatap aku, kakak. Benar kan ucapan ku?" tanya Mentari sembari senyum, seakan meledek suaminya itu.
Arka balas, "Gimana mau nikah muda dek kalau kamu dulu masih kecil, contohnya sekarang sudah mau punya anak tapi kelakuan masih kayak anak-anak. Kakak gak bisa bayangin kalau kita menikah pas tamat SMA"
"Ingat pak Arka yang terhormat, kita saat itu belum saling mengenal yaa. Lagian orang tuaku pasti gak izinkan menikah pas tamat SMA" jawab Mentari lagi.
"Yakin?, Kakak datang lamar gak ditolak" Arka bangga karena niat baiknya dipermudah dan diterima langsung oleh Hadi Algantara.
"Itu karena aku tidak tau, aku kira papa menelfon masalah ganti pembimbing" Mentari tidak mau kalah dari suaminya itu.
"Intinya kalau jodoh itu pasti Allah permudahkan jalannya" Jawab Arka dengan bangga.
Arka dan Mentari terus berdebat tidak ada yang mau mengalah sampai adzan berkumandang dimesjid dekat rumah. Arka mendengar adzan langsung cepat siap-siap ke mesjid untuk shalat subuh. Begitupun Mentari siap-siap untuk shalat subuh.
...SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏...