Mentari

Mentari
Episode 193



"Aduh," Radit berdiri dengan susah payah karena pinggangnya cukup sakit sekali, "Sialan lu Ka!" geram Radit.


"Lagian ngapain lu manjat-manjat! Ngapain coba?!" tanya Arka seolah ia tidak tahu, padahal ia tahu Radit tengah rindu kepada istrinya Rembulan.


"Istri gue di sana, gue kangen!" jawab Radit dengan kesal.


"Kagak ada istri lu, entar pas resepsi baru ada istri," kata Arka.


"CK," Radit tidak perduli lagi dengan Omelan Arka, ia lebih memilih kembali pulang ke rumah Linda yang saling berhadap dengan rumah Ranti. Sebab selama di pingit Radit tidak di perbolehkan bertemu dengan Rembulan.


"Kamu kenapa Dit?" Linda merasa aneh saat melihat Radit berjalan dengan posisi seperti orang yang baru saja di sunat.


"Ini gara-gara Arka Tan," adu Radit.


"Kok gue?" Arka yang berjalan di belakang Radit tentu saja tidak akan terima mendapatkan tuduhan yang menurutnya sangat merugikan dirinya, lagi pula menurut Arka ia tidak salah jadi untuk apa di salahkan.


"Ya kan ini memang ulah lu sama istri gesrek lu!"


"Heh, jangan berani lu ngatain istri gue ya! Abis lu entar sama gue!" Arka geram dan langsung menarik kerah kemeja Radit.


"Sudah!!!! Cukup!" kesal Linda, karena dua pria dewasa itu selalu terlihat seperti anak kecil. Dan membuat kepalanya pusing, "Kalian berdua itu udah punya anak, bisa nggak jangan seperti anak-anak terus?"


Radit dan Arka menggaruk kepalanya karena masih menahan amarah.


Drett....drettt....


Ponsel Arka berdering dan terlihat nama, "Dimas," tertulis di sana.


"Ada apa?" tanya Arka tanpa basa-basi, setelah panggilannya terhubung.


"Bos, rumah saya sedang di kepung oleh Dimitri dan para antek-antek nya!" kata Dimas yang berada di sebrang sana.


"Baik, saya akan segera ke sana," jawab Arka dan langsung memutuskan panggilannya sepihak.


Bib.


Panggilan terputus, dan Arka kembali memasukan ponselnya pada saku.


"Kita menyusul Dimas," kata Arka pada Radit.


"Kita?" tanya Radit bingung.


"Iya, elu dan gue!" kata Arka dengan lebih jelas.


"Gue mau nikah bro, kalau terjadi sesuatu sama gue gimana! Seharusnya gue itu luluran di rumah," kata Radi beralasan.


"Bacot lu," Arka kini beralih menatap Mami Linda yang hanya menatapnya bingung, "Mi Arka sama Radit pamit sebentar," Arka langsung menarik Radit untuk ikut dengan menuju mobil.


"Arka.....kalian mau kemana?" tanya Linda panik.


Arka berhenti melangkah begitu juga dengan Radit, kini keduanya kembali melihat Linda, "Sebentar saja Mi."


"Kalian hati-hati ya," kata Linda dengan panik.


Arka mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, di susul dengan para bodyguard yang juga menyusul di belakang mobil Arka yang melaju dengan kecepatan tinggi juga. Sampai di sana mobil tersusun dengan rapi, dan semua mulai turun dari mobil.


"Saya yang akan duluan masuk, kalian boleh berpencar," titah Arka.


"Siap bos," jawab kedua para bodyguard Arka.


"Terus gue?" tanya Radit.


"Ambil!" Arka melemparkan sebuah senjata api pada Radit.


"Aduh," Radit geram sekali pada Arka, sebab senjata api itu jatuh di kepalanya, "Gue biasanya pegang gunting, jarum suntik, sekarang kok pegang senjata!" kata Radit dengan suara pelan, karena kini keduanya mulai masuk dan mengintai para musuh yang juga tengah mengincar rumah Dimas.


Arka menarik Radit kebelakang, sebab ada seorang bodyguard yang juga akan melewati mereka.


Buk!


"Jangan terlalu parah Ka, nanti di rumah sakit dokter yang susah ngurusin," kata Radit dengan konyolnya.


"Udah kali ini lu pegang senjata dulu, jangan Megang ibu-ibu hamil terus," jelas Arka.


"Enakan megang Ibu-ibu hamil, apa lagi pas bikin hamil bini. Mantap jaya," ujar Radit tersenyum.


"Abis ini kita puding, terus mantap-mantap," kata Arka yang juga tengah membayangkan wajah Mentari.


"Awas!" kini Radit yang menarik Arka, sebab satu peluru di lepaskan dan hampir bersarang di kepala Arka.


"Mungkin mereka sudah tahu," ujar Arka.


Radit meloncat dan begitu juga dengan Arka, dengan cepat Radit menendang sebuah kursi tepat mengenai bodyguard lawan.


Buk!


Dalam sekejap bodyguard lainnya menyusul, dan mereka juga mulai mempertunjukkan jurusannya pada Radit dan Arka. Pertarungan pun mulai terjadi dengan begitu sengit, dan para korban pun mulai tumbang beberapa orang dari mereka.


Prok prok prok.


Dimitri bertepuk tangan dan semua seketika tidak lagi melanjutkan pertarungan mereka yang cukup sengit itu.


"Kenapa anda ikut campur tuan Arkana Anggara Wijaya?!" tanya Dimitri tersenyum miring, "Dan anda tuan Radit Mahesa Wijaya, tempat anda di rumah sakit bukan di sini. Anda itu hanya untuk ibu-ibu hamil saja! Ini itu tempatnya mafia!" ejek Dimitri lagi.


"Yatttttt....."


Buk!!


Radit langsung menendang Dimitri tanpa basa-basi, sebab ia sangat kesal pada Dimitri yang begitu lancang berbicara.


"Kasihan sekali nasib mu Dimitri, sangking tidak bisanya mendapatkan wanita Lala anak yang bau kencurpun kau paksa menjadi istri mu. Sungguh lelaki tidak punya harga diri, kau tidak sadar usia mu berapa! Kau itu sudah bau tanah, waktunya taubat! Lagi pula seperti nya kau lahir di dukun beranak, maka dari itu kau menghina dokter seperti aku!' kata Radit dengan angkuhnya.


"Kurang ajar! Kau berani menghina aku!" Dimitri mengepalkan tangannya, dan ia tengah menahan amara yang sangat membuncah, "Lala itu istri ku, lalu kenapa kalian menyembunyikan istri ku?!"


"Karena kau suami yang bajingan, kau tega menyiksa wanita yang kau sebut istri. Apakah pantas suami menyiksa istrinya sendiri sampai dia gila, dan ketakutan seperti sekarang?!" tanya Dimas yang perlahan keluar dan mendekati Dimitri.


"Apa maksud kata-kata mu?!" tanya Dimitri yang belum mengerti.


"Wanita yang kau sebut istri, yang sering kau siksa itu sekarang sedang dalam pengaruh obat bius. Dia ketakutan saat mendengar suara peluru yang kau lepaskan, dia bahkan sangat takut saat mendengar nama mu saja! Dia sekarang gila!" jelas Dimas lagi.


"Aku tidak percaya, kembalikan dia pada ku! Dia istri ku."


Buk!


Dimas langsung menendang Dimitri, dan pertarungan pun kembali terjadi. Tidak ada yang ingin kalah mereka semua mulai mengeluarkan alat yang mereka bawa.


Door!!


Sebuah timah panas hampir mengenai Radit, namun dengan cepat Arka menendang Radit hingga tersungkur di tanah.


"Sial!" geram Radit pada Arka.


"Itu lebih baik!" kata Arka tersenyum dan kembali bertarung dengan Dimitri.


"Aduh pinggang ku!" Radit menggosok pinggangnya, namun tiba-tiba seorang bodyguard menyerangnya dengan mendadak. Radit langsung siap dan kembali melawan.


Buuk!


Radit menendang pria itu dengan cukup kuat hingga lawannya benar-benar tersungkur di tanah.


"Aduh," Radit kembali mengelus pinggang nya, sebab selain barusan di tendang Arka demi menyelamatkan Radit dari timah panas, sebelumnya Radit juga baru saja jatuh dari tangga.