Mentari

Mentari
Episode 158



"Napa lu?" tanya Arka.


Radit kini hanya menggunakan kain sarung, dengan berjalan sedikit sulit. Karena pinggangnya masih terasa cukup sakit, malam ini mereka memutuskan untuk berkumpul bersama di taman sambil membakar beberapa jagung sebagai camilan. Bukan hanya ada Mentari, Arka, Rembulan, Radit saja. Tapi juga ada Dimas, Rika dan juga Lala yang selalu memandang Dimas dengan kagum.


Rika selalu kesal pada sahabat nya Lala, karena Rika merasa temannya itu sangat rendah sekali. Apa lagi di di hadapan Kakaknya.


"Lala...." Rika menyenggol Lala yang duduk di sampingnya. Bahkan tatapan Rika terlihat tajam, "Apasih!" kesal Rika.


Lala tersenyum pada Rika, sesaat kemudian ia melihat Dimas kembali, "AA Dimas, Lala dosa nggak kalau liatin Aa Dimas terus-menerus?" tanya Lala.


Dimas yang tengah membakar jagung melihat Lala, kemudian ia kembali melihat jagung di hadapannya.


Mentari yang duduk di sofa sambil bersandar pada Arka tersenyum, "Ya dosa lah kan bukan mahram!" celetuk Mentari.


"Tau nih anak, dosa besar!" timpal Rika.


Lala bangun dari duduknya dan mendekati Dimas, ia berdiri di samping Dimas sambil memainkan kedua tangannya.


"Itu tambah dosa bego!!" kesal Rika lagi, dengan menaikan nada bicaranya.


Lala tersenyum melihat jagung yang di bolak-balik oleh Dimas, dan Dimas juga hanya melihat jagung di tangannya.


"Aa dengar? Mereka bilang dosa kalau bukan mahram dekat-dekatan, jadi Lala mau di halalkan dong...." kata Lala dengan konyolnya.


Dimas sedikit terkejut dengan kata yang di ucapkan oleh Lala, sesaat ia melirik Lala. Kemudian Dimas kembali melihat ke depan dan fokus pada pekerjaan.


Bersamaan dengan itu Rika langsung melemparkan sendok di tangannya tepat mengenai kepala Lala.


Plak.


"Aduh," Lala mengusap kepalanya, karena terasa sakit, "Apasih lu Rika, iri bilang sayang...." kesal Lala.


"Mmmmfffffpp....." Mentari menutup mulutnya, karena menahan tawa. Lihatlah bertapa anehnya Rika yang kesal pada Lala yang terus berusaha mendekati Kakaknya, karena Rika dan Dimas memang sering kali bertengkar.


"Ngapain aku iri, aneh aja!" Rika membuang pandangannya kearah lain, ia benar-benar kesal pada Lala.


Sementara Dimas hanya diam saja, sambil menunggu jagungnya matang. Sebenarnya ini keinginan Mentari, dan Rembulan juga cukup menginginkan jagung bakar. Tapi kedua bumil itu ingin di bakar dengan cara manual, hingga terasa sedikit sulit. Namun tidak di pungkiri mereka sangat menikmati acara malam ini.


"Aa Dimas?" panggil Lala lagi, "Kapan main ke rumah Lala?" tanya Lala sambil melihat Dimas.


Dimas hanya diam saja, ia memang tidak suka banyak bicara. Apa lagi pada orang yang baru ia kenal, di tambah lagi ia masih memiliki pendirian tidak tertarik pada ABG. Karena selera Dimas adalah wanita dewasa yang seumuran dengan nya, bukan ABG berusia 17 tahun, tinggi 140, dan berat badannya sekitar 40kg. Sangat kecil menurut Dimas. Tidak termasuk wanita impian Dimas, dan Dimas pun tidak ingin Lala sakit hati. Jadi ia lebih memilih diam dan cuek, agar Lala tidak lagi berusaha mendekati nya.


"Dimas!" seru Mentari, "Lala nanyain kapan ke rumah?" kata Mentari.


"Buat apa?" Dimas bukan menjawab, tapi malah mengajukan pertanyaan.


"Buat lamar Lala atuh....Aa...." jawab Lala lagi.


"Huek.... Hueeekk...." Rika langsung berpura-pura muntah, ia sungguh sangat kesal pada Rika.


"Rika kamu apa sih?" Mentari cekikikan melihat kekesalan wajah Rika.


Rika memutar bola matanya dengan jenuh, "Aku ngerasa Lala udah enggak waras," ujar Rika yang tidak jauh duduk di sofa, yang cukup dekat dengan Mentari.


"Biarin aja tau Rika, mana tahu jodoh," tambah Mentari lagi.


"CK......masa iya, Kakak ipar aku Lala sih," gerutu Rika.


"Mmmmfffffpp...." Mentari lagi-lagi menahan tawa mendengar, ocehan Rika yang tidak jelas. Sebenarnya Mentari tahu Rika akan setuju saja bila Lala dengan Kakaknya. Hanya saja Rika kesal kenapa harus Lala yang berusaha mendekati Dimas, bukannya Dimas yang mengejar Lala.


Radit yang meletakkan tangannya di atas sandaran sofa, melihat Rembulan yang duduk di sampingnya, "Iya, tapi Abi masih kuat kalau dua atau tiga kali," kata Radit.


"Ish...." wajah Rembulan memerah, sungguh Radit begitu pandai menggoda dirinya.


"Mukanya Umi merah banget, Abi kok gemes ya," Radit menaik turunkan sebelah alis matanya melihat Rembulan.


Plak!


Dimas melepaskan kipas di tangannya pada Radit, karena dua manusia itu terlihat seperti sedang berdua saja tanpa ada yang lainnya di sana.


"Apasih!" kesal Radit, sambil melempar balik kipas yang tadi di lepas Dimas padanya.


"Bini lu yang minta jagung bakar, harus nya lu yang di sini!" Dimas menunjuk jagung yang tengah ia bakar, "Bukan gue, malah mesra-mesraan!" kesal Dimas.


"Yaudah, Aa bakar jagungnya buat Lala aja," kata Lala.


"Nah tuh bener," celetuk Radit.


"Minta tuh Dim, kasih aja, halalin dulu gih," kata Arka yang sesekali berbicara.


"Ahahahhaha......" Mentari tertawa melihat wajah Dimas.


"Udah Dim, enggak usah di tunda-tunda.... nunggu apaan lagi coba?" tambah Radit.


"Kalian tidak waras!" kesal Dimas.


Lala yang berdiri di samping Dimas menyenggol Dimas dengan punggungnya, "Lala mau Aa, kalau pun cuman dengan mahar bismillah aja," kata Lala dengan malu-malu.


"Wahahaaaa..." tawa Mentari dan Rembulan benar-benar pecah, karena kelucuan Lala yang begitu berani. Mentari sangat tahu siapa Lala, Lala adalah wanita yang cukup pilih-pilih namun sepertinya Dimas meruntuhkan semuanya. Hingga Lala begitu berusaha untuk mendekati Dimas.


"Nih jagung udah matang, mending makan jagung dari pada enggak jelas begini," kesal Dimas.


"Makasih Dimas," kata Mentari menerima dengan senang hati, jagung matang yang di berikan Dimas.


"Enak banget sih...." kata Rembulan yang terus mengunyah tanpa henti.


"Enak dong Umi, yang ngipas itu lho....calon imam dan juga calon makmum," Radit melihat Dimas, kemudian beralih melihat Lala.


"Makasih Kak Radit," Lala tersenyum karena bahagia, sebab Radit mengatakan ia dan Dimas cocok.


"Nanti kalau kalian jodoh jangan sampai aneh-aneh ya...." kata Arka yang memberikan peringatan.


"Aneh-aneh gimana Pak?" tanya Lala bingung.


Arka melihat Radit dan Rembulan, "Enggak usah kayak pasangan itu," kata Arka lagi.


"Maksudnya, enggak usah pura-pura gila biar bisa minta ini itu," jelas Mentari, karena Lala dan Rika terlihat bingung. Sebab Arka memang tidak pandai berbicara dengan panjang lebar.


Wajah Rembulan memerah karena malu, sungguh Arka dan Mentari sangat jail sekali.


"Iya bener," tambah Radit yang melihat wajah Rembulan memerah, "Tapi dari sini ke depan, kalau pengen bilang ya Umi?" Radit semakin bersemangat menggoda Rembulan.


"Wawaahahah......." yang lain bersorak mendengar yang dikatakan oleh Radit. Mereka semua saling berteriak histeris karena mengingat bertapa konyol Rembulan.


*


Like dan Vote.