Mentari

Mentari
Episode 205



"Anak Mommy dah cantik dan keren," ujar Mentari tersenyum sambil mencium pipi anak-anak nya.


Hari ini mereka akan berangkat ke Bali, sesuai dengan janji Arka jika mereka akan liburan bersama dengan keluarga besar. Mentari kini sudah rapi, memakai dress berpadu heels yang membuatnya terlihat anggun, di usia yang masih 18 tahun namun sudah memiliki dua orang anak sungguh membuatnya terlihat luar biasa.


"Tari, kamu sudah rapi?" Mami Linda yang kini sudah keluar dari dalam kamarnya melihat Mentari bersama dengan baby twins.


"Udah Mi, Tari udah cantik belom Mi?" tanya Mentari yang tidak pede dengan penampilan nya sendiri.


Mami Linda tersenyum, "Cantik dong, kan anak Mami," goda Mami Linda.


"Hehe...." Mentari terkekeh, "Tari enggak seperti emak-emak banget kan Mi?" tanya Mentari lagi dengan sedikit ragu. Apalagi dengan berat badannya yang kini sudah naik, karena baby twins yang minum asi. Hingga ia sering lapar dan banyak makan.


"Itulah kesempurnaan seorang wanita ia bisa menjadi seorang Ibu. Jadi kita harus bangga," ujar Mami Linda dengan senyuman.


"Iya Mi."


Kini semuanya sudah berada dalam jet pribadi milik keluarga, Anggara Wijaya. Mentari duduk bersama dengan Arka, baby twins bersama masing-masing baby sitter. Sedangkan Lala bersama dengan Dimas, Radit bersama Rembulan. Semua anggota keluarga sudah duduk dengan pasangan mereka masing-masing, kecuali Rika.


Rika selalu saja menjadi bahan ejekan, karena ia yang belum memiliki pasangan. Hingga membuat nya kesal, bahkan sedikit menyesal saat meminta ikut untuk berlibur bersama Mentari dan Lala.


"Jadi Lala kapan?" tanya Mami Linda.


"Lala nunggu Dimas nikah, tapi sekarang Dimas udah udah nikah. Nunggu siapa lagi dong?" timpal Mama Ranti.


"Rika masih betah sendiri Tan, lagian cepat nikah cepat tua," mata Rika mengejek Lala dan juga Mentari.


"Iya sih kamu bener Rika," Mentari yang duduk di depan Rika tersenyum, "Kak Tari pengen senderan," pinta Mentari pada Arka.


"Kemari," Arka menarik kepala Mentari untuk menjadikan bahunya sebagai sandaran.


Mentari langsung bersandar, "Kak, kalau Tari pengen senderan kan ada Kakak yang bisa ngasih bahu. Tapi kalau Rika gimana ya Kak?" tanya Mentari seolah bingung.


"Kok bawa-bawa aku sih?!" kesal Rika, karena ia tahi ternyata tadi Mentari bukan membelanya, tapi juga ikut mengejek dirinya.


Mentari mengelus pundak Arka, "Nggak usah sesi Rika, itu kan kamu bawa boneka. Jadi kalau kamu mau senderan kan bisa sama bonekanya, itu aja kok ngotot....." ejek Mentari lagi.


Rika memang melihat sekitarnya, dan mereka semua memiliki pasangan. Sedangkan ia hanya duduk sendiri sambil memeluk boneka. Mungkin nanti juga ia hanya bisa memeluk bonekanya, ataupun menjadi obat nyamuk saja, "Gini banget ya nasib gue," batin Rika, walaupun ia terus saja menjawab setiap ejekan keluarga nya, tapi sebenarnya hatinya juga ingin memiliki seseorang yang mencintai dirinya.


"Ini penting baru kalem banget sih?" seloroh Mami Linda lagi.


Lala dan Dimas memang hanya diam tanpa bicara, dengan Lala yang terus memeluk lengan Dimas. Kemudian ia menjatuhkan kepala pada dada Dimas.


"Tau nih, jangan aneh-aneh lho!" celetuk Mentari.


"Peluk yang erat Aa nya Lala, nanti di culik Tante girang," ejek Rika.


Lala hanya diam dengan wajah yang memerah, tapi kini dan dulu sungguh berbeda. Kini Lala lebih banyak diam karena takut melakukan kesalahan-kesalahan.


"Jangan liat-liat," kata Lala dengan suara yang pelan.


Dimas tersenyum, karena jarak mereka yang cukup dekat membuat keduanya merasa dunia hanya milik berdua saja, "Kamu cantik," bisik Dimas, agar tidak ada siapapun yang mendengarnya.


"Ish....." Lala tersipu malu dan mencubit perut Dimas.


"Hehe....." Dimas tertawa kecil melihat kelucuan istrinya, "Sayang kalau sekali gigit bibirnya boleh nggak?" tanya Dimas.


"Hus....." Lala melebarkan matanya, "Enggak usah aneh-aneh, banyak keluarga," kata Lala memberikan peringatan.


"Hehehe.....pengen, gimana dong," bisik Dinas lagi.


"Tahan."


"Caranya?"


"Sedikit ya," kata Dimas dengan wajah melas.


Semua mata langsung tertuju pada Dimas dan Lala, sedangkan Lala dan Dimas merasa malu.


"Jangan aneh-aneh di sini!" kata Arka memberikan peringatan.


Mentari tersenyum saat mendengar suara Arka yang memberikan peringatan, karena Arka juga sebenarnya dari tadi terus berbisik mesra padanya.


"Emang Kakak enggak aneh-aneh?" tanya Mentari dengan berbisik, karena sebelah tangannya juga asik berkeliaran bebas.


"Sut....." Arka menutup mulut Mentari, dan mengkedipkan sebelah matanya.


Rika yang tahu dengan apa yang terjadi pada Mentari dan Arka merasa kesal. Langsung saja ia memasang handset pada telinganya dan menyetel volume music dengan suara yang ia rasa aman pada gendang telinganya.


1 jam 50 menit sudah berlalu, kini mereka sampai di Bali wisata terindah di Indonesia. Pemandangan alam yang seakan menawarkan keindahan surga, bahkan terlihat indah hingga bisa membuat siapa saja betah berlama-lama berada di sana.


"Welcome to Bali!!!!" seru Rika dengan bahagia.


"Ahahahhaha...." tawa yang lainnya pecah, karena tingkah Rika yang lucu.


"Kamu bahagia banget nyampek di sini, padahal cuman jadi nyamuk...." goda Mami Linda.


"Ish....Mami!!" seru Rika kesal.


"Ahahahhaha......" Mama Ranti tidak bisa menahan tawa melihat wajah kesal Rika.


"Oh....Tuhan, aku lelah di ejek terus menerus!!! Turunkan satu jodoh untuk ku!!!!" teriak Rika sambil berjalan dengan mundur, sesaat kemudian ia berbalik karena akan memasuki lobby hotel.


Bruuk!!!


Rika yang berjalan tidak melihat jalanan, tiba-tiba menabrak seseorang. Dan akhirnya ia terjatuh di lantai.


"Maaf," ujar pria tersebut sambil mengulurkan tangannya, untuk menolong Rika.


Semua mata anggota keluarga langsung menatap Rika yang tiba-tiba menabrak seseorang pria.


"Doa mu cepat sekali terkubul," kata Lala yabg tiba-tiba berbicara, karena sepanjang perjalanan ia hanya diam saja.


Rika menepis tangan Sandy, kemudian ia berdiri sambil menatap Sandy kesal, "Kenapasih dimana-mana ada lu!!!" geram Rika, lalu ia pergi begitu saja. Bahkan tanpa mendengar jawaban dari Sandy sekalipun.


"Maaf Tante," kata Sandy menatap Mama Linda.


"Mama masuk duluan ya," pamit Mami Linda, yang di ikuti Mama Nina dan juga Mama Ranti.


"Kapan kembali ke Indonesia?" tanya Radit.


"Udah lumayan lama," jawab Sandy.


"Udah enggak gila kan? Kan udah jadi psikiater," seloroh Radit lagi.


"Memang nya dokter Sandy pernah gila Aa?" tanya Lala dengan polosnya.


Dimas ingin tertawa mendengar pertanyaan Lala.


"Dia ini bukan hanya gila, tapi lebih dari gila!!" timpal Arka.


"Sialan!" kesal Sandy sambil terkekeh, "Udah taubat sekarang kayaknya," tambah Sandy sambil mengingat wajah Rika.


"Yakin?" tambah Radit.


"Untuk kali ini yakin," jawab Sandy lagi.


Sedangkan Dimas langsung pergi, tanpa berpamitan pada yang lain apa lagi Sandy. Entah mengapa Dimas mulai curiga pada Sandy yang sedang berusaha mendekati adiknya.