Mentari

Mentari
bertemu orang tua Awan



Awan dan Mentari sedang duduk di jok belakang mobil Awan dengan Indra sebagai sopir mereka. Indra menunjukkan raut wajah masam semenjak ia kalah berdebat dengan sang boss yang meminta mengantarkan Mentari terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor. Kenapa Indra marah? Pasalnya,hari ini mereka ada meeting dengan para kepala divisi untuk membahas laporan bulanan perusahaan. Bahkan lelaki itu sampai tak pulang agar tak terlambat melakukan meeting hari ini. Namun, apa yang sudah ia korbankan menjadi sia-sia ketika Awan dengan seenaknya malah bangun siang tanpa merasa bersalah, padahal ia sudah membangunkan bossnya itu sejak jam 6 pagi.


Entah karena terlalu ngantuk atau terlalu nyaman karena tidur berdua,Awan dan Mentari sama-sama susah dibangunkan pagi tadi. Mentari sampai malu kepada Indra karena lelaki itu mencecarnya dengan pertanyaan memalukan karena Indra menemukan Awan dan Mentari kompak bangun siang. Padahal memang tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Yang lebih menguji kesabaran Indra adalah ketika sudah telat,namun Awan tetap memaksanya untuk mengantar Mentari lebih dulu, meskipun gadis itu sudah menolaknya.


"Kamu nggak usah sekolah dulu ya", Awan menoleh ke Mentari.


"Lagian jam segini mau ke sekolah juga nggak pantes om", sergah Mentari. Pasalnya sekarang sudah hampir pukul sepuluh pagi."Meskipun aku udah bebas dari pelajaran,tapi tetep aja ada aturan keluar masuk sekolah. Apalagi aku nggak ada keperluan penting ke sana"


"Hmmm, jadi bentar lagi kami lulus?",Awan mengerti kalau Mentari sudah selesai Ujian kelulusannya.


"He'em",Mentari mengangguk.


"Setelah perceraianku selesai dan kamu sudah lulus,aku akan segera melamar kamu kepada abangmu", Awan menggenggam tangan Mentari,membawanya ke bibir untuk ia kecup punggung tangan itu.


Mentari serasa dibawa terbang ke langit ketujuh saking bahagianya. Ia berharap,setelah Awan resmi bercerai, mereka bisa hidup dengan tenang sebagai pasangan normal.


Awan masih mengelus punggung tangan Mentari yang tadi ia kecup. Saat itulah ia sadar sesuatu.


"Gelang kamu bagus",komentarnya setelah mengamati gelang itu."Sejak kapan kamu suka belanja barang mahal begini?",Awan tentu paham mana barang murah,mana barang mahal. Dulu,ia sering membelikan pernak-pernik lucu sebagai hadiah kecil untuk Lusi. Dan pasti hadiah yang Awan berikan bukan barang murahan.


Mentari langsung menarik tangannya. Ia khawatir Awan akan menanyakan hal macam-macam mengenai gelang tersebut.


"Dari siapa gelang itu?",Awan terlalu peka dengan gelagat Mentari.


"Emm....",Mentari menggaruk kepalanya,dia berpikir keras apa yang akan ia jadikan alasan kepada Awan.


"Jawab Mentari!", Nada bicara Awan naik satu oktaf yang membuat Mentari terlonjak kaget.


"Dari Angga",Mentari reflek menjawab jujur karena terkejut. Namun,detik berikutnya ia menutup mulutnya saat menyadari kesalahannya.


Awan melepas paksa gelang itu dari tangan Mentari. Tidak ada lelaki lain yang boleh perhatian ke Mentari selain dirinya.


"Awh,sakit Om. Pelan-pelan"


"Maaf",Awan menyadari ia terlalu terbawa emosi.


Sedangkan Indra didepan kemudi hanya bisa pasrah jika sampai mereka bertengkar lagi. Karena itu pasti akan membuatnya kerepotan lagi dengan segala tingkah konyol Awan jika sedang patah hati. Baru kali ini Indra terlibat langsung dalam kisah percintaan Awan. Yang sudah-sudah,Indra hanya sebagai pendengar jika temannya itu curhat tentang cinta.


"Jangan dibuang Om,sayang... itukan mahal",ucap Mentari ketika ia lihat Awan membuka kaca mobil dan bersiap membuang gelang itu.


"Kasih aja ke orang Om",Mentari masih berusaha membujuk Awan. Dan berhasil,Awan mengurungkan niatnya meski ragu.


"Sini buat gue aja! Biar gue kasih ke bini gue",Indra menengahi perdebatan.


Awan langsung menyetujui dan melempar begitu saja gelang itu ke dasboard mobil tepat di depan Indra.


"Ingat! Kamu hanya boleh memakai barang-barang dari aku. Paham?"


Mentari mau tak mau mengangguk menuruti Awan. Dia sedang malas berdebat juga. Setidaknya gelang itu tidak berkahir sia-sia di jalanan. Dia bisa pikirkan alasannya nanti saat Angga menanyakan.


Mobil Awan telah menepi di depan rumah Mentari. Gadis itu turun setelah mengucapkan terima kasih.


"Mentari",Awan memanggil saat gadis itu membuka pintu gerbang.


Mentari mendongak," Kenapa Om?"


"Nanti malam,aku akan menjemputmu jam tujuh. Aku akan mengajakmu kerumahku"


"Ke...ke rumah Om?",Mentari terkejut, ia bertanya dengan gugup. Apa itu artinya Awan ingin mengenalkannya kepada keluarganya?


"Iya. Nanti aku suruh orang mengantarkan gaun buat kamu"


"Iya iya bawel. Kita berangkat!", Titah Awan kemudian.


Indra melajukan mobilnya meninggalkan Mentari yang masih bengong diambang kebingungan. Beneran nggak sih yang dibilang Awan?


Setelah sadar,Mentari mengedikkan bahunya acuh. Biarlah,kalaupun serius,pasti nanti akan ada kabar lagi dari kekasih tuanya itu.


***


Awan menepati janji. Ia bahkan datang saat jam belum menunjukkan pukul eman sore.


"Ayo Mentari! Udah nggak usah cantik-cantik", pria itu berteriak. Awan terus mengganggu Mentari yang sedang bersiap di kamarnya.


"Sebentar Om,belum juga jam tujuh.Lagian siapa suruh datengnya kecepetan"


"Kamu nyalahin aku?",Awan merasa tak terima. Tak tahukah Mentari jika Awan ingin cepat-cepat bertemu dengannya?


"Bukan begitu,tadi bilangnya jam tujuh,ya aku belum siap-siap lah kalau Om dateng jam 6 kurang". Rumah Mentari yang kecil,memudahkan mereka berkomunikasi meskipun berbeda ruangan.


Mentari keluar dari kamarnya dengan wajah memberengut. "Udah nih",dia berucap dengan galak.


"Kamu cantik sekali Baby",pujian Awan yang langsung merubah ekspresi Mentari. Yang tadinya cemberut,sekarang malah jadi malu-malu.


Awan mendekati gadisnya itu. Ia bahkan tak sanggup mengedipkan matanya. Perempuan muda di depannya ini sungguh memukau. Padahal dia sama sekali tidak berdandan berlebihan. Mentari hanya memakai gaun selutut berwarna peach polos dengan lengan pendek. Pakaian itu bahkan tidak terbuka sama sekali. Make upnya pun hanya sapuan minimalis biasa dengan rambut digerai begitu saja. Tapi dimata Awan itu tetap memukau.


"Stop! Nggak usah cium-cium. Nanti lipstik aku rusak",kata Mentari ketika Awan mulai menunjukkan gelagat ingin mencium bibirnya.


"Sedikit aja By",Awan memelas.


"Nggak ada!",tegas Mentari. Dan Awan hanya bisa menuruti kekasihnya itu. Oke,dia akan menahan kali ini. Tapi dia sudah punya rencana luar biasa saat mereka telah sah nanti.


Awan menghentikan mobilnya di pelataran rumah Awan. Awan menggandeng Mentari dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Sejak mobil Awan berbelok masuk ke halaman rumah Awan,Mentari sudah mengagumi kemegahan rumah itu. Sempat terbesit di benaknya keraguan dan rasa insecure berlebihan ketika sadar akan jarak perbedaan mereka.


Kedatangan Awan dan Mentari disambut rasa terkejut oleh mama dan adik Awan. Sedangkan pak Roby,beliau hanya menampakkan wajah datar.


"Pa,ma...Ini Mentari, kekasih Awan"


Mentari tersenyum, membungkukkan badannya. "Malam Pak,Bu", Mentari tidak seberani itu untuk memanggil mereka om dan tante. Memangnya siapa dia?


"Ini kan pembantu di apartemen kakak. Jangan-jangan waktu itu kakak bohong ya....",selidik Cloudya bahkan sebelum sapaan Mentari dijawab. "Jadi selama ini Kak Awan ngumpetin ceweknya di apartemen? Dan bilang kalau ceweknya pembantu? ck...ck...ck...",Cloudya berdecak sambil bergeleng-geleng mengolok-olok kakaknya.


"Benar yang di bilang adikmu Awan?",mamanya tampak shock.


Awan mengelus tengkuknya. Bingung darimana ia menjelaskan.


"Kamu bukan pedofil kan Nak?",mamanya masih tampak khawatir. "Dia masih muda banget loh pa",wanita itu merengek ke suaminya.


"Sudahlah ma, itulah pilihan Awan",sang papa lebih pasrah.


"Jangan-jangan papa udah tahu soal ini?",istrinya curiga kepadanya.


" Ya,dan papa pastikan Awan bukan pedofil. Mentari sebentar lagi lulus sekolah". Pernyataan Pak Robby membuat semua orang terkejut. Mentari terkejut bahwa ternyata papa Awan mengetahui tentang dirinya.Sedangkan Bu Mayang dan Cloudya tak menyangka jika calon Awan masih sekolah.


"Apa kakak nggak bisa cari yang seumuran dengan kakak?", pertanyaan Cloudya membuat Mentari menunduk. Adik Awan ternyata tidak menyukainya.


"Cloudya!",sang papa memperingatkan anak gadisnya.


Cloudya mencebik dan menatap sinis pada Mentari. Sedangkan bu Mayang,mau tak mau harus merestui mereka. Biar bagaimanapun dia sudah sangat menginginkan cucu. Tapi apa bisa calon menantu kecilnya ini memberikan cucu secepatnya?