
Arka mulai mengemudikan mobilnya, dan Mentari yang duduk terus mengomel di sampingnya. Arka sangat senang dengan kecerewetan istri cantiknya, karena Mentari dunianya seakan lebih berwarna. Di tambah lagi Arka kini tidak lagi merasa sepi seperti sebelum Mentari hadir di hidup nya.
"Kak kita ke mana?" tanya Mentari karena ini bukan arah pulang ke rumah.
"Ke kantor sayang, Kakak ada pekerjaan," kata Arka.
"O, terus kalau ada kerjaan kenapa Kakak malah ke kampus?" bukan Mentari namanya, bila tidak punya alasan untuk bertanya. Karena Mentari punya IQ di atas rata-rata hingga tidak ada yang bisa menandinginya termasuk Arka.
"Agar kau tidak bisa melirik laki-laki seperti tadi!" Arka menjitak kepala Mentari, karena istrinya itu sangat iseng sekali.
"Hehehe...." Mentari tertawa melihat wajah kesal Arka, hingga akhirnya mereka sampai di kantor dan Mentari turun dari mobil bersama dengan Arka.
Arka menggenggam tangan Mentari, bahkan tanpa melepaskan sedetikpun. Banyak yang bertanya-tanya tentang Arka yang membawa wanita lain, sedangkan setahu mereka Arka menikah dengan Rembulan. Tapi tidak ada yang berani bertanya, sebab mereka sangat segan pada Arka.
Sementara di ruangan Arka sudah ada Radit dan juga Rembulan. Bukan tanpa alasan Radit berada di sana, karena kini ia di hukum oleh Papa Mahesa atas kesalahannya. Hingga ia harus ikut mengurus perusahaan, walaupun Radit sangat tidak suka tapi ia tetap mencoba demi mendapatkan maaf dari sang Papa dan memberikan restu untuk melamar Rembulan secara resmi.
"Umi," Radit yang duduk di samping Rembulan mulai mencolek dagu Rembulan.
Rembulan yang dari tadi menunduk diam mendadak menatap Radit yang duduk di samping nya. Bahkan kini tangan Radit bergerak ke atas dan tangan itu mendarat di pinggang Rembulan. Tidak lupa Radit tersenyum dan mengkedipkan sebelah matanya.
"Kenapa?" tanya Radit lagi, karena ia melihat Rembulan hanya diam saja.
Clek.
Pintu ruangan terbuka dan itu Arka yang datang bersama Mentari, keduanya langsung melihat ada Radit dan Rembulan di sana.
"Kalian sedang apa di sini?!" tanya Arka, padahal ia tahu dari Dimas kalau Radit berada di kantor menunggu dirinya dari tadi. Karena mereka memang terlihat satu proyek bersama.
Mata Mentari juga melihat Radit dan Kakaknya Rembulan, ia bisa melihat bertapa dekatnya duduk keduanya, "Ehem.....Ehem.....mereka pasti lagi lakuin yang nggak-nggak di sini Kak!" tebak Mentari asal. Padahal itu hanya untuk menggoda Kakaknya Rembulan, yang tengah malu-malu.
Rembulan langsung menatap Mentari dengan tajam, "Apasih Dek!" kesal Rembulan, "Nggak jelas banget...." gerutu Rembulan.
Mentari meminta Arka sedikit menunduk, "Mereka berdua abis ngapain aja ya Kak? Kam cuman berdua dari tadi di sini?" bisik Mentari pada suami tampannya.
Arka menatap Radit, kemudian kembali menatap Mentari sambil tangannya menarik kepala Mentari, "Kayaknya itu-itu deh...." balas Arka yang juga berbisik.
Keduanya saling pandang, "Ahahahhaha....." tawa Mentari pecah.
Peltak.
Arka menyentil kepala Mentari, karena istrinya itu kini sudah sangat baik bila membahas soal hal berbau dewasa.
"Ahahahhaha....." Mentari terus tertawa, sampul memeluk perutnya.
"Lu kenapa Tar?" tanya Rembulan bingung.
"Kak Ulan sama Kak Radit udah sing begini masih bau shampoo," celetuk Mentari, kemudian ia setengah menunduk, "Itu leher merah, bekas apa ya?"
"Merah!" kata Rembulan panik, apa benar merah pikir Rembulan. Tangannya mengambil ponsel dan ia mulai bercermin pada ponselnya dan ternyata Mentari menipunya, "Tari!" Rembulan mengeratkan giginya ia sangat kesal pada Mentari yang memiliki hobi mengerjai orang.
"Ahahahhaha......Kak Radit, Kak Ulan sensitif parah....apa nggak di kasih jatah, Ahahahhaha......" Mentari tertawa terpingkal-pikal, saat melihat wajah Rembulan penuh kekesalan.
"Tari udah dong kasihan Kak Ulan," kata Radit, tapi ia tidak berniat memarahi Mentari. Hannya saja ia kasihan pada Rembulan yang sudah tidak sanggup mendapatkan godaan Mentari.
Radit bangun dari duduknya, dan ia juga membalas tatapan Arka, "Gue nggak bentar bini lu, cuman bilang baik-baik!" Radit yang berniat baik tentu saja tidak terima jika ia di bentak, karena maksudnya memang bukan begitu.
"Sama aja lu barusan bentak bini gue!" Arka mendorong Radit hingga terjatuh di sofa.
Radit bangun dan balas mendorong Arka, keduanya tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Hingga akhirnya Mentari dan Rembulan saling tatap karena bingung.
Mentari menarik Rembulan agar menjauh, ia memberikan minuman dan camilan yang tadi ada di atas meja pada Rembulan, "Makan aja Kak, anggap aja ini kita lagi nonton film live," ujar Mentari.
Rembulan mengangguk, entah kenapa untuk kali ini ia setuju dengan ide dari Mentari. Dan keduanya menonton pertarungan hebat dengan camilan dan minuman dengan santai.
"Nggak ada yang boleh membentak istri ku!" tegas Arka sambil mengungkung Radit.
Radit tidak mau kalah ia membalikan posisinya, hingga Arka yang ia kungkung, "Aku tidak membentak istri mu, tapi istri mu suka sekali mengerjai istri ku!" jawab Radit.
"Kak," Mentari bersuara dan Arka begitu juga Radit langsung melihat istrinya, "Pakek senjata nggak biar Tari bantu ambil," kata Mentari sambil terus mengunyah camilannya.
Arka dan Radit mulai saling pandang, keduanya baru sadar jika Mentari dan Rembulan malah menjadi penonton di sana. Dan bodohnya mereka yang di pertontonkan.
"Kak, kalian berdua penyuka sesama juga ya?" tanya Mentari lagi.
Arka dan Radit cepat-cepat menjauh, keduanya langsung menghentikan pertandingan sengit itu dengan rasa kesal.
"Kamu ya, Kakak belain kamu, kamu malah santai jadi penonton!" Arka mendekati Mentari dan langsung menjewer istri nakalnya.
"Aduh Kak sakit," kata Mentari sambil berusaha menjauh.
"Kenapa kamu nakal sekali!" kesal Arka.
"Hehehe.....Kakak lucu tadi sama Kak Radit pelukan gitu, kalau Tari di madu tari mau....asal madu nya Kak Radit."
"Mentari!!!" Arka mulai menatap Mentari dengan tajam dengan wajah seriusnya.
Mentari tahu itu tandanya Arka sudah benar-benar marah, ia tersenyum dan mengkedipkan-kedipkan matanya. Lalu ia sedikit berjinjit dan mendaratkan bibirnya di pipi Arka.
Cup.
Kemarahan Arka hilang seketika berganti dengan senyuman, dan senyum manis pun ia berikan pada istrinya.
"Umi kenapa?" tanya Radit. Karena ia malah terlihat tersipu malu saat Mentari mengecup Arka. Bahkan wajahnya langsung memerah, "Mau?" tanya bisik Radit, tangan Radit menyisir rambut Rembulan hingga mengaitkan nya pada telinga.
Rembulan yang bersandar di dinding merasa sangat sesak, karena tangan Radit di samping lengannya yang bertopang pada dinding. Wajah nya semakin memerah dan tidak karuan.
"Sayang jawab?" kata Radit dengan suara lembut.
Glek Rembulan benar-benar tidak bisa bernafas, dengan baik.
*
Tolong like dan Vote ya Kak.