
Saat Rembulan dan Radit tengah mengobrol, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
JGeeer.....
Suara petir yang di iringi dengan hujan lebat membuat Rembulan ketakutan, dengan cepat ia bangun dari duduknya dan mencari perlindungan.
Radit tahu sejak dulu Rembulan memang takut dengan suara petir, hingga saat suara petir menyala ia dengan cepat memeluk Rembulan. Sejak dulu juga begitu, Radit sudah sangat mengenal Rembulan dan ia selalu siap memeluk Rembulan bila itu terjadi. Begitu pun dengan saat ini ia bangun dan dengan cepat memeluk Rembulan dengan cepat.
Namun ada yang berbeda dengan kali ini, karena kali ini rasanya sangat berbeda sekali dari yang sudah lalu. Jika saat dulu Rembulan memeluk Radit hanya karena mencari perlindungan tanpa melibatkan perasaan, namun kini tidak. Sebab kini dada Radit seakan menenangkan dan yang membuat bingung adalah mengapa baru sekarang Rembulan merasakannya. Sejak dulu mengapa ia hanya biasa saja.
Hujan semakin deras, tapi suara petir sudah tidak terdengar lagi. Biasa nya Rembulan akan menjauh, tapi tidak dengan kali ini. Kali ini tanpaknya Rembulan begitu betah di sana, hingga ia tidak ingin menjauh.
Radit hanya tersenyum sambil mengelus pundak Rembulan, dan sebelah tangannya mengambil ponsel. Ia meminta sopir di rumahnya untuk menjemput mereka, dan membawa motornya. Karena tidak mungkin ia membawa Rembulan naik motor.
Si penjual jagung dari tadi hanya melihat bertapa romantis nya pasutri di hadapannya, hingga ia senyum-senyum karena ikut hanyut dalam kemesraan itu, "Aduh Neng, sama suaminya romantis banget deh," ujar penjual tersebut, karena ia sudah sangat tidak kuat menyaksikan nya hingga ia tidak sadar berbicara dengan bahagianya.
"Maaf Bu," Rembulan tersadar, ternyata ia begitu betah memeluk dada Radit. Dan perlahan ia mulai menjauh, namun tanpa di duga Radit menariknya kembali.
"Di sini saja," Radit duduk, dan Rembulan juga ikut duduk dengan di pangkuan Radit. Ia bahkan melepas jaketnya dan menyelimuti Rembulan agar tidak kedinginan, "Dingin ya," tanya Radit yang terus memeluk Rembulan.
Glek.
Rembulan hanya mengangguk, ia merasa sepertinya sesak. Mungkin karena ia butuh nafas buatan, hujan yang turun bukan nya terasa dingin. Tapi panas yang Rembulan rasa.
"Kita ke puncaknya lain kali saja," bisik Radit di telinga Rembulan, karena hujan deras membuat Radit harus berbisik agar Rembulan mendengar nya.
Rembulan memejamkan matanya, setelah itu ia membukanya kembali, "Huuuufff....." Rembulan menghembuskan nafasnya dengan panjang, saat ini Radit benar-benar membuat nya tidak karuan.
"Umi nggak marah kan?" tanya Radit. Takut jika Rembulan malah marah, sebab ia tahu perihal perasaan wanita hamil.
"Enggak!!!" Rembulan menggeleng.
"Nggak nangis?"
"Enggak!"
"Hehe...." Radit tertawa kecil, mengingat tadi Rembulan menangis hanya karena jagung bakar.
"Kok ketawa sih?" tanya Rembulan bingung.
"Nggak nangis kan?"
"Enggak!" Rembulan juga tersenyum, ternyata Radit tertawa karena mengingat kekonyolan nya barusan.
Tin tin.
Terdengar suara klakson mobil, dan benar ternyata sudah ada seorang sopir dengan membawa payung ke arah Radit dan Rembulan.
"Bos," sapa sopir tersebut.
"Kamu bawa motor saya," kata Radit, sambil berdiri dan Rembulan juga ikut berdiri. Sesaat kemudian Radit mengambil alih payung yang di pegang sang sopir, "Ayo," Radit merangkul pundak Rembulan, dan sebelahnya lagi memegang payungnya.
Rembulan mengangguk, keduanya berjalan menuju mobil, setelah Rembulan masuk dan duduk manis di sana. Barulah Radit memutari mobil dan ikut masuk juga. Tangan Radit mulai bergerak dan menyalakan mesin mobilnya, setelah itu ia mengemudikan nya dengan kecepatan sedang.
"Lain kali kita ke puncak ya?" Radit sekilas tersenyum dan mengacak rambut Rembulan.
"Em...." Rembulan mengangguk, ia hanya menggulung-gulung jarinya karena malu bercampur bahagia.
"Mau nangis lagi?" seloroh Radit.
Dengan cepat Radit menarik Rembulan, hingga kini Rembulan bersandar di dada bidang Radit sambil terus mengemudi dengan baik.
Rembulan yang merasa nyaman seketika tertidur lelap di pelukan Radit, sampai-sampai ia tidak sadar karena mereka sudah sampai di rumah.
Radit tidak membangunkan Rembulan, karena ia kasihan. Dan terlihat Rembulan sangat nyenyak sekali, apa lagi di luar masih hujan deras. Yang ada Radit menyisir rambut istrinya dengan penuh cinta.
"Eeemmmmm...." Perlahan tidur Rembulan mulai terusik, ia mulai melihat sekitarnya dan mereka ternyata sudah sampai di rumah, "Kita udah di rumah, kok nggak di bangunin?" tanya Rembulan.
"Kamu nyenyak sekali."
Rembulan ingin menjauh, tapi Radit tidak mengijinkannya. Perlahan tangan Radit memegang tengkuk Rembulan, dan menarik agar lebih dekat lagi. Deru nafas keduanya seakan semakin terasa hangat, perlahan Rembulan menutup matanya dan siap menerima sentuhan dari Radit.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pada kaca mobil, dan di sana ada Mama Ranti. Mama Ranti sebenarnya dari tadi bingun dan bertanya-tanya mobil siapa yang dari tadi parkir di depan rumah nya, ia berpikir mungkin teman atau kerabat jauh. Karena hujan tidak bisa turun karena tidak ada payung, hingga akhirnya ia mendekat dan membawa payung.
Tok tok tok.
Rembulan tersadar, begitu pun dengan Radit. Keduanya melihat kearah luar dimana ada Ranti di sana.
"Mama," kata Rembulan. Dengan susah payah Rembulan menarik nafas dan ia berusaha tenang.
Begitu juga dengan Radit yang sangat kecewa, karena mertuanya datang di saat yang tidak tepat sekali. Tapi ia tetap tersenyum pada Rembulan, karena ia juga salah tempat saat ini.
Rembulan membuka pintu mobil, dan Ranti cukup terkejut karena ia memang tidak mengetahui ada Rembulan di sana, "Kamu ngapain di sini Kak, ayo masuk," Ranti langsung memayungi Rembulan untuk masuk kedalam rumah.
Radit yang masih di dalam mobil malah senyum-senyum sendiri, karena hari ini sangat manis sekali. Dan dengan Rembulan yang begitu menggemaskan, bayagan keduanya dulu selalu bersama kini kembali melintas di otaknya.
Flashback on.
"Dit bagi contekan dong, Pr gue belum siap nih!" pinta Rembulan di pagi hari yang cerah, dan lima menit lagi tugas itu harus segera di kumpulkan.
Radit langsung mengeluarkan buku Pr nya, namun saat Rembulan akan mengambilnya Radit kembali menyimpannya hingga Rembulan kesal.
"Dit!" Rembulan menunjukan wajah masam nya.
"Kalau gue kasih ini, lu harus jadi bini gue setuju nggak?!" tanya Radit menunjuk Rembulan dengan buku Pr nya.
"Setuju!" Rembulan tidak mau pikir panjang, lagi pula ia tahu Radit hanya bercanda saja.
"Nih...." Radit memberikan bukunya pada Rembulan.
"Ok..." Rembulan mengembalikan buku Pr milik Radit, setelah ia selesai mencontek, "Besok kita nikah ya!" seloroh Rembulan sambil tertawa.
"Awas lu kalau nggak mau!" Radit menjitak kepala Rembulan.
"Dasar bocah tengil, sakit woy...." Rembulan kesal pada Radit, hingga ia memukuli Radit dengan buku tugas yang barusan ia tulis dan bukunya rusak dengan begitu saja. Hingga akhirnya keduanya mendapat hukuman bersama karena tidak bisa mengumpulkan tugas, dengan persahabatan dan rasa cinta Radit keduanya berdiri di lapangan dan hormat pada bendera.
"Kita emang sehati ya?"
"Iya, dan ini gara-gara kamu!" kesal Rembulan.
"Kita berdua deh!"
"Iya deh berdua!"
"Ahahahhaha..." keduanya tertawa bersama, menikmati hukumnya.