
Hari berganti minggu, minggu sudah berganti bulan. Hari pernikahan Mentari dan Awan sudah ada di depan mata. Namun, keduanya masih tetap sibuk dengan kegiatannya masing-masing. persiapan pernikahan kedua Awan yang tak kalah megah dari pernikahan pertamanya terdahulu sudah masuk tahap 90% menuju selesai. Dan tiga hari lagi adalah hari di gelarnya pesta besat itu.
"Tar, udah donk. Nggak usah masuk hari ini. Mama minta lo dipingit", Cloudya mengikuti Mentari yang tengah tergesa karena kelasnya akan segera di mulai.
"Iya Dy, tinggal hari ini aja. kamu pulang aja sana", Mentari mengusir calon adik iparnya itu. Sudah sedekat itu hubungan mereka.
"Aku masuk dulu ya", Mentari langsung berlari saat sang dosen sudah ada di depan matanya tanpa menghiraukan Cloudya lagi.
Cloudya menghela napas, pasrah. Dia sudah di beri mandat oleh sang mama untuk membawa Mentari pulang. Oke, dia laksanakan. Dan sepertinya ini butuh perjuangan karena harus menunggu Mentari sampai selesai kelas.
Kelas Mentari baru saja selesai. Gadis itu belum punya banyak teman selain Meli yang berbeda jurusan dengannya, yang sekarang justru jarang ketemu. Gadis itu melangkah sendirian menuju parkiran tempat Cloudya menunggunya dengan berat hati.
"Maaf Dy, kamu harus nungguin aku kayak gini", Mentari meras tak enak hati. Tapi bagaimana lagi, dia tak mau ketinggalan mata kuliah dosen killer dan pelit nilai itu karena malas jika harus mengulang lagi.
"Ya udah ayo! Udah ada orang salon di rumah. mama juga ngomel aja dari tadi"
"iya iya maaf...", wajah Mentari lucu sekali kalau sedang cemberut begitu.
Kedua gadis cantik itu masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Cloudya. Sepanjang perjalanan, mereka asik mengobrol ngalor ngidul nggak jelas. Sesekali soal fashion, terkadang juga bisa mengghibah orang. Dasar mulut perempuan!
" Lucu ya. Mas Awan yang anak pemilik rumah, tapi malah aku yang tinggal di sana", Mentari tertawa saat mengatakannya. Sejak Mentari mulai masuk kuliah, anak itu di minta untuk tinggal di kediaman Mahardika oleh sang nyonya rumah. Siapa lagi jika bukan mamanya Awan. Wanita paruh baya itu tak mau Mentari tinggal di apartemen Awan bersama Awan yang mengkhawatirkan itu. Ia tahu bagaimana anaknya. Dia harus menyelamatkan Mentari sampai waktunya tiba. Pasalnya, rumah Mentari sudah mulai di renovasi. Jadilah Mentari menyetujui permintaan mama Awan.
"Ya nggak apa-apa, dia kan punya tempat tinggal sendiri. Lagian aku seneng loh ada acara-acara begini. Seru!"
"Alah... bilang aja kamu yang kebelet kawin", cibir Mentari.
"Iya sih, tapi kak Awan belum ngerestuin Rendra", wajah Cloudya berubah sendu. "Nanti lo bantuin gue bujuk kak Awan ya biar ngerestuin kita", Cloudya menghiba.
"iya...."
" Eh,Tapi nggak enak aja Dy, tiap malem mas Awan ngerengek pengen pulang, katanya mama jahat udah nggak anggep dia anak", Mentari terkekeh mengingat Awan yang menghiba setiap malam.
"Alah... modus itu mah. Biar lo kasihan, terus bilang sama mama. Mama nggak bakalan mempan", Cloudya tertawa keras.
"Modus gimana? aku beneran ngerasa nggak enak loh"
"Ya modusin lo Tari. Jangan polos-polos lo jadi orang."
"Nih, gue kasih tau. Kakak pengen pulang karena ada lo di rumah. Mana lagi tujuannya kalo bukan kamarnya yang lo tempatin"
"Dia nggak suka aku tidur di kamarnya? Kenapa nggak bilang sih?", Mentari yang nggak enakan malah jadi semakin merasa bersalah.
"Lo tuh polos apa bego sih? Ck", Cloudya berdecak.
"kok kamu ngatain aku", Mentari tak terima. " Ingat! kamu itu calon adik iparku kalo kamu lupa"
"Ya habisnya lo kelewatan bego sih. Masa di modusin kak Awan aja nggak tau"
"Kak Awan itu mau tidur sama lo Tari", Cloudya sampai meninggi suaranya.
Mentari melongo dengan penuturan Cloudya.
Dugh,
"Ah"
Mentari dan Cloudya terkejut kala mobil yang mereka tumpangi di tabrak dari belakang secara tiba-tiba.
"Sialan!", umpat Cloudya yang hampir hilang kendali dalam berkendara. Dia lantas menepikan mobilnya yang ternyata diikuti oleh mobil yang menabraknya.
"Bagus! mobil itu ikut berhenti. Gue mau cari perhitungan sama dia", Cloudya melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil dengan emosi yang memuncak.
"Dy, jangan diperpanjang", Mentari tak mampu mencegah. Cloudya sudah menjauh. Mau tak mau ia pun ikut turun karena khawatir pada Cloudya.
"Keluar lo! Tanggung jawab!"Cloudya menggedor kaca mobil itu. sedikit di cegah Mentari agar Cloudya mampu menguasai diri.
Kaca mobil terbuka, Ada beberapa orang seram berbadan besar di mobil itu. Kedua gadis itu mundur seketika.
"Dy, udah yuk", cicit Mentari ketakutan. Orang-orang itu sudah keluar. Oh no! jumlahnya empat orang ternyata.
" Berani juga lo", salah satu dari mereka mencibir.
"Maaf pak, om, nggak jadi. Nggak apa-apa mobil dia penyok", Mentari yang berkata sampai mendapat pelototan dari Cloudya.
"Udah, nggak apa-apa penyok. uang kamu masih banyak buat benerin", lirih Mentari berbisik pada Cloudya.
"Ngapain bisik-bisik?", bentak salah satu orang seram itu.
"Nggak apa-apa Om, eh pak. kita mau pulang", Mentari menarik paksa Cloudya. Namun, baru beberapa langkah, keduanya di cekal oleh orang-orang itu.
"Lepasin!", sentak Cloudya sambil terus meronta. Sedangkan Mentari sudah pingsan dan di bawa masuk ke dalam mobil. Sepertinya gadis itu di beri obat bius.
"Mentari!", teriak Cloudya.
"Lepasin temen gue!", Cloudya berteriak tiada henti. memanggil Mentari dan sesekali mengumpat. Tenaganya jauh lebih lemah dibanding orang besar itu, apalagi yang memegangi nya dua orang.
"Sialan kalian!"
"Tolong...tolong....", nihil, jalanan tiba-tiba berubah sepi. tak ada satu kendaraan pun yang lewat. Padahal tadi, masih normal saat mereka berkendara.
Cloudya bingung, kenapa cuma Mentari yang di bawa masuk mobil. Sedangkan dirinya hanya di tahan oleh orang-orang itu. Seketika pikiran buruk merajai otaknya.
"Mau kalian apain Mentari?", Cloudya berteriak histeris. Namun tak di gubris oleh para lelaki seram itu. Tak lama setelahnya, Cloudya di lepaskan begitu saja dan ditinggalkan dengan cepat. Cloudya jadi panik.
"Tari!", Cloudya menangis sambil mengejar mobil itu. Mustahil, tak mungkin terkejar. Dia sampai jatuh terduduk karena lelah mengejar mobil itu dengan keputus asaan. Satu-satunya cara adalah meminta pertolongan. OSatu nama yang langsung ada di kepalanya. Yaitu, Awan.
..." Ya Dy"...
"Mentari kak", Cloudya menelpon sambil sesenggukan.
"Mentari kenapa?", suara Awan terdengar panik.
"Mentari di culik!"