
"Sayang," Arka mencoba mendekati Mentari, karena dari tadi Mentari terus cuek dengan nya.
"Apa?" jawab Mentari.
"Sayang bentar lagi kan acara nikahan Kak Ulan sama Radit," Arka tidak lagi lanjut berbicara karena tatapan Mentari sangat tajam padanya.
"Terus?" tanya Mentari yang malah merasa penasaran, sebab tidak bisa nya Arka mau ikut campur dalam urusan orang lain. Dan kali ini sungguh membuat Mentari seketika tercengang.
Arka tersenyum samar, rasanya rencana sebentar lagi akan segera berhasil. Arka kini pindah lebih dekat dengan Mentari, dan kini keduanya sudah duduk di sisi ranjang tapi Mentari yang sedang memberikan asi untuk baby Sea.
"Jadi gini yang, kalau orang yang mau nikah itu kan harus di pingit gitu. Jadi," Arka tidak berani lagi berbicara karena takut Mentari marah. Mungkin Arka tidak takut pada mafia di luar sana, bahkan Dimitri sekali pun. Yang terkenal dengan dingin, angkuh, kejam, tapi Arka sama sekali tidak gentar menghadapi nya demi bisa membebaskan Lala dari suami kejamnya itu. Tapi jika dengan Mentari, Arka benar-benar kalah, bahkan sebelum bertanding sekalipun. Hanya dengan tatapan istrinya saja ia sudah tidak berani lagi berbicara, apa lagi membantah.
"Jadi apa Kak? Kalau ngomong jangan setengah-setengah dong!" kesal Mentari.
"Jadi kalau orang nikah itu biasanya di pingit kan yang, biar ada kangen-kangen nya dan rambah greget gitu. Pasti lebih gimana gitu," jelas Arka.
"Iya sih," Mentari mengangguk mengerti, dan ia diam sambil berusaha berpikir, "Tari setuju, kalau gitu selama satu minggu ini Kak Radit sama Kak Ulan enggak usah ketemu dulu," Mentari tersenyum karena kaki ini ide Arka memang benar.
Arka tersenyum penuh kemenangan, karena Radit pun akan ikut merasakan apa yang ia rasakan. Lagi pula Arka harus membalas apa yang sudah Radit lakukan barusan padanya.
"Tapi Kak Ulan sama Kak Radit itu udah nikah Kak, pasti udah sering ehem-ehem. Terus apa lagi? Mana ada lagi yang rasa kangen atau apalah itu," Mentari berpikir tidak ada lagi rasa-rasa debar-debar seperti seorang perawan dan perjaka yang akan menikah, jadi tidak perlu ada acara pingit seperti usul Arka.
"Sialan," umpat Arka. Karena tadi ia berpikir akan menang, tapi ini ternyata cukup sulit sekali. Tapi ia tidak akan mau menyerah begitu saja, pantang mundur sebelum perang. Itulah yang selama ini di pegang teguh oleh Arka, jadi ia akan berusaha lagi untuk bisa membuat Radit juga ikut berpuasa bersama dengan nya, "Justru itu yang, Kak Ulan dulu nikah nya sama Radit karena Radit yang salah. Dan waktu itu Kak Ulan belum cinta sama Radit, dan sekarang itu beda yang. Mereka bakalan nikah resmi dengan rasa cinta yang ada, maksud Kak biar mereka bisa merasakan yang namanya malam mendebarkan itu," Arka terus berusaha untuk membuat Mentari agar mengikuti keinginan nya, dan ia masih terus mencoba.
"Kali ini Tari setuju banget, Kakak keren!"Mentari meletakan Sea pada box bayi, kemudian ia kembali melihat Arka, "Bentar ya Kak, Tari mau ke kamar Kak Ulan," dengan cepat dan bersemangat Mentari langsung menuju kamar Rembulan, dan menjalankan usul dari Arka yang sangat bagus.
Sementara di kamar lainya, kini terjadi hal yang berbeda.
"Umi," Radit berdiri sambil melihat Rembulan, yang sudah meletakan baby Raka kedalam box bayi.
"Iya?" Rembulan kini melihat Radit.
"Tehnya enak?"
Rembulan tersenyum mendengar pertanyaan Radit, tapi ia memang barusan meminum teh buatan Radit. Teh spesial pasti rasanya juga sangat spesial tentunya.
"Enak dong, kan udah Umi abisin," Rembulan menunjukan gelas cangkir kosong, karena isi nya memang habis ia minum.
Radit mengangguk, dan tersenyum bangga, "Ada harapan," gumam Radit.
"Abi bicara apa?" Rembulan sayup-sayup mendengar Radit berbicara, tapi ia tidak mendengar dengan jelas.
"Em... enggak papa," Radit perlahan mendekati Rembulan, "Mi," Radit memeluk pinggang Rembulan dari belakang.
Deg.
Rembulan seperti nya tahu arah pembicaraan Radit, tapi ia tetap berusaha tenang. Karena ia juga sebenarnya gemetaran.
"Kenapa?" tanya Rembulan dengan menahan nafas, karena ia mulai panas dingin. Menikah sudah beberapa bulan, tapi mereka baru dua kali menikmati indahnya menyatu. Hingga masih ada kecanggungan.
Mata Rembulan melebar dan ia seketika meremang, nafas Radit yang hangat begitu terasa berhembus pada tengkuk nya.
Karena Rembulan hanya diam dan menerima Radit menganggap itu sebagai jawaban setuju, dan Rembulan menerima dengan baik. Ketika lampu hijab begitu tentu saja tidak boleh di sia-siakan pikir Radit.
Clek.
Pintu kamar terbuka Mentari di sana, Rembulan langsung menjauh.
"Sial!" Radit meninju udara, karena ia sudah hampir saja mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Kenapa Dek?" tanya Rembulan.
"Hehehe..... ganggu nya," Mentari menggaruk kepalanya dan merasa tidak enak, " Tapi untung Tari masuk bukan pas Kak Ulan sama Kak Radit lagi anu-anu," ujar Mentari.
"Ngomong aja, ngapain bicara anu-anu! Lu ngapain ke sini!!" ujar Rembulan kesal, karena Mentari melihat ia dan Radit tengah saling bermesraan.
"Santai aja kali Kak," celetuk Mentari lagi, "Ngegas amat! Besok-besok kalau ada rencana begituan, pintu kamar di kunci dulu!" kata Mentari memberikan peringatan.
"Ck.....kamu ada apa ke kamar Kakak?"
"O iya hampir aja lupa," Mentari kembali mengingat tujuannya datang ke kamar Rembulan, "Kak Radit dan Kak Ulan enam hari lagi bakalan nikah ulang kan?" tanya Mentari.
Rembulan dan Radit saling pandang, "Iya," jawab Rembulan, "Terus?"
"Jadi kalian berdua harus di pingit!"
Rembulan dan Radit seketika terkejut mendengar ide aneh Mentari.
"Kita udah tua Tari, udah nikah lama. Enggak usah lebay Dek," jawab Rembulan.
"Mama setuju!" Entah dari mana Nina, tapi saat ini ia juga sudah berdiri di depan pintu kamar Rembulan.
"Cobaan apa lagi ini," geram Radit.
"Mama setuju ide Mentari, Radit kamu dan Ulan di larang ketemu sampai waktu pernikahan tiba," Nina langsung masuk dan menarik Radit, "Kita pulang ke rumah," Nina menarik lengan Radit.
"Mama apa sih, enggak usah pakek pingit-pingit juga kan. Radit sama Ulan itu udah nikah sembilan bulan Ma, udah basi," Radit terus berdalih, berusaha agar tidak ada acara pingit seperti yang dikatakan oleh Mentari dan Mama Nina. Karena Radit juga tidak sanggup bila harus berjauhan dari istri tercinta nya Rembulan.
"Enggak ada acara penolakan, pokonya Mama mau kamu di pingit. Mama ini cuman punya anak satu, dan Mama mau punya pesta yang meriah," kata Nina.
"Abi, ikutin aja apa kata Mama," Rembulan mengerti dengan perasaan Nina, pasti ia ingin seperti teman-teman nya yang menikahkan dan membuat pesta meriah untuk anak satu-satunya itu.
"Umi....tapi Abi enggak kuat," kata Radit dengan wajah melasnya.
"Jangan rindu, biar kuat!" tandas Mentari.