Mentari

Mentari
Episode 154



Buuk!


Radit terjatuh di tanah, semua langsung melihat pada Radit.


"Abi," Rembulan panik dan langsung mendekati Radit, "Abi nggak papa?" tanya Rembulan lagi, ia hanya sedikit berjongkok perutnya yang buncit membuat sulit untuk bergerak leluasa.


Radit tidak tahu harus menjawab apa, ingin menjawab sangat sakit rasanya sangat gengsi di hadapan Rembulan. Namun jika menjawab tidak papa juga tidak mungkin karena nyatanya ini memang sangat sakit sekali.


"Mmmmfffffpp......" Arka menahan tawa melihat wajah Radit, karena ia menderita tidak sendirian. Ada Radit yang juga menderita.


"Kakak," Mentari kesal karena Arka bukannya iba malah terlihat bahagia, "Gimanasih Kakak," omel Mentari.


"Abis lucu sayang," jawab Arka lagi sambil terus terkekeh.


Sementara Ranti juga mulai mendekat pada Radit, "Kamu baik-baik saya?" tanya Ranti.


"Iya Ma," jawab Radit.


"Ulan ayo bantu Radit bangun," pinta Ranti, sebab tidak mungkin Ranti yang memegang Radit.


"Iya Ma," Rembulan menatap iba pada suaminya, "Abi, ayo Umi bantuin," Rembulan mengulurkan tangannya.


Radit menerima uluran tangan Rembulan, "Iya," Radit berjalan dengan susah payah bahkan seperti baru selesai disunat jalan dengan sedikit mengangkang pinggangnya terasa hampir patah.


"Abi Duduk dulu," Rembulan membantu untuk Radit duduk di sofa, "Sebentar ya Abi, Umi ambil es batu dulu buat ngompres pinggang nya," Rembulanlan cepat-cepat menuju dapur dan mengambil es batu di kulkas.


Arka yang sudah berada di dekat Radit menertawai Radit habis-habisan penuh rasa bahagia, "Jalan ke ngankang bro habis disunat?" seluruh Arka.


"Kakak masih juga ngejekin Kak Radit padahal kalau begini kan nggak boleh gitu tahu Kak," kata Mentari memperingati Arka.


Tidak lama kemudian Rembulan datang dengan membawa es batu dan juga kain handuk dan duduk di samping Radit, "Abi buka bajunya," pintar Rembulan.


"Buka baju, jangan di sini Umi kalau mau," kata Radit panik. Sepertinya Radit berpikir jika Rembulan semakin berbahaya.


Rembulan melihat Radit dengan bingung, "Apanya yang jangan di sini?" tanya Rembulan.


"Umi mau ngapain, nyuruh Abi buka baju?" tanya Radit penuh rada penasaran.


"Mau ngobatin pinggang Abi yang sakit, di kompres biar sakitnya berkurang," Rembulan menunjukan es batu dalam wadah kecil yang ia bawa, "Emangnya mau ngapain?" tanya Rembulan balik.


Glek,


Radit meneguk saliva, padahal ia sudah berpikir yang tidak-tidak. Karena Rembulan memintanya untuk membuka baju.


"Ketika otak mulai tidak bisa di kondisikan!" timpal Arka, mengejek Radit. Arka duduk di sofa sambil berhadapan dengan Radit dan Rembulan yang duduk di sofa tapi di batasi meja.


Rembulan melihat Radit, "Emangnya Abi mikirin apa?" tanya Rembulan.


"Nggak papa Umi," Radit perlahan mengangkat kemeja bagian bawahnya, ,"Engga usah di buka dari atas, nanti dia nafsu!" kata Radit mengejek Arka.


Rembulan menggelengkan kepalanya, ada saja yang menjadi pembicaraan dua lelaki itu. Rembulan mulai melihat ada memar, dan ia mulai mengompres nya.


"Umi, sakit," rintih Radit.


"Sabar," kata Rembulan dengan hati-hati mengompres es batu pada pinggang Radit.


"Sayang," Arka menepuk sofa di samping nya, dan ia ingin Mentari duduk di sana.


Mentari langsung duduk di samping Arka, "Kakak ada yang sakit?" tanya Mentari karena Arka juga tadi sempat terjatuh.


"Enggak, Kakak aman saja.....itu kecil buat Kakak," kata Arka dengan sombongnya.


"O, Tari pikir Kakak ada juga yang sakit....." kata Mentari.


"Enggak apa-apa, lihat," Arka berdiri dengan angkuhnya dan menggerakkan tubuh nya namun tiba-tiba ia merasa ada yang tidak enak. Arka tentu saja tidak mau di sebut lemah, ia tetap berdiam dengan angkuh sambil menahan sakitnya.


"Assalamualaikum," sapa seorang pria yang tidak jauh dari mereka.


"Mas Haikal," Mentari bangun dari duduknya dan tersenyum, "Mas Haikal apa kabar?" tanya Mentari ramah dan kaki nya berjalan mendekati Haikal.


"Jawab salam dulu Adek," kata Haikal sambil tersenyum ramah.


"Oh.....iya, Tari lupa," Mentari menepuk jidatnya, "Waalaikumusalam Mas," kata Mentari menjawab salam Haikal barusan.


Arka berjalan mendekati Mentari, ia menarik tangan Mentari agar tidak berdekatan dengan Haikal, "Tidak usah dekat-dekat bukan mahram," kesal Arka.


"Kak, ini Kak Haikal......tetangga yang jago manjat tadi Tari bilangin sama Kakak," kata Mentari dengan polosnya, ia tidak tahu jika suaminya tengah cemburu.


"Sudah-sudah tidak usah berbicara lagi," geram Arka.


"Nak Haikal," sapa Ranti yang baru saja masuk.


"Tante," Haikal tersenyum dan langsung mencium punggung tangan Ranti.


"Kamu udah lama pulang dari Kairo?" tanya Ranti.


"Dua hari yang lalu Tante, Haikal mau ngantar oleh-oleh...... sebenarnya mau ngantar kemarin tapi enggak sempat, maaf ya Tante," kata Haikal sambil memberikan paperbag pada Ranti.


"Terimakasih, aduh sudah repot-repot ini," kata Ranti dengan ramah dan tersenyum.


"Tidak apa Tante," kata Haikal.


"Tari kamu enggak pengen cerita sama Haikal dulu, kalian teman baik kan?" tanya Ranti yang belum tahu jika Arka tengah menatap Tari dengan tajam.


"Tari mau makan dulu Ma, Tari lapar," kata Mentari dengan tidak enak hati.


"Tidak apa Tante," Haikal melihat perut buncit Mentari, "Kamu udah nikah Tari?" tanya Haikal.


"Ud....." belum sempat Mentari menjawab Arka sudah memotongnya.


"Sudah, dan istri saya sedang mengandung," jawab Arka dengan mata tajamnya.


Haikal mengangguk mengerti, Haikal tanpaknya tahu jika Arka tengah cemburu, "Aku telat dong, padahal aku mau sekalian melamar kamu hari ini," kata Haikal lagi.


"Mas...." lagi-lagi dengan cepat Arka memotong kata Mentari.


"Bagus kalau sadar, pintunya di sebelah sana," Arka menunjuk ara pintu keluar.


"Kak," Mentari menggelengkan kepalanya karena Arka begitu kadar pada Haikal, padahal ia sama sekali tidak ada perasaan pada Haikal. Mentari ramah hanya karena Haikal tetangganya dan keduanya berteman baik. Sebab dari dulu Mentari memang ramah dan memiliki banyak teman.


"Ayo," Arka menarik lengan Mentari menuju dapur, ia takut Mentari benar-benar lapar. Arka menarik kursi meja makan, "Duduk," kata Arka.


"Ish....." Mentari kesal, tapi tetap saja ia duduk.


Sesaat kemudian Bik Sum terlihat membuat secangkir teh.


"Bik, itu teh buat siapa?" tanya Arka.


"Buat tamu di depan tuan," jawab Bik Sum.


"Bik coba mabilkan bubuk cabai," Arka mendekati teh yang di buat bik Sum.


"Saya antar teh ini dulu ya tuan," kata Bik Sum.


Arka diam dengan wajah dinginnya, ia menatap Bik Sum dengan tajam.


"I....iya tuan, saya ambil sebentar," Bik Sum bergidik ngeri, dan ia mengambilkan apa.yang di pinta Arka dengan segera tanpa membantah lagi, "Ini tuan," Bik Sum cepat-cepat memberikan bubuk cabai yang di pinta Arka barusan.


*


Emak-emak berdaster tolong kasih Like dan Vote ya, kasihani author nulis sambil jagain mesin cuci.