Mentari

Mentari
Episode 188



"HILANG?"


Radit langsung terbangun, karena ia sangat shock mendengar kata hilang yang dikatakan oleh Arka.


"Kok bisa?" tanya Dimas yang tidak kalah panik, bahkan ia mulai berlari kearah pintu luar.


"Dim, mau ke mana," tanya Arka.


"Keluar!" Dimas langsung berlari dan mencari ke tiga bayi itu.


Sedangkan Radit berlari ke dapur, namun saat sampai di dapur ia kembali berlari ke ruang keluarga.


"Arka, tadi lu ngomong apa sih?" tanya Radit bingung, karena sepertinya ia salah mendengar. Dan ia bingung sendiri kenapa ke dapur, dan apa yang ia cari ke dapur.


"Huuuufff....." Arka menarik nafas dengan panjang karena sepertinya Radit tidak sadar saat langsung berlari menuju dapur barusan, "Terus tadi lu ngapain ke dapur?" tanya Arka.


Radit menggaruk kepalanya, "Enggak tahu juga, aku juga enggak tahu barusan ngapain ke dapur," jawab Radit yang masih kebingungan, "Emangnya ada apa sih?" tanya Radit lagi.


"Tuh," Arka menunjukan kasur bulu-bulu yang tadi tempat Raka tidur.


Radit melihat arah yang di tunjuk Arka, tapi ia masih belum mengerti dan kembali melihat Arka penuh tanya, "Apa sih?"


"Dasar oon!" geram Arka, "Raka di mana?" tanya Arka.


"Enggak tahu," jawab Radit santai, kemudian ia kembali melihat Arka, "Emang Raka kemana?" tanya Radit balik.


Arka memijat kepalanya, kemudian ia kembali melihat Radit dengan serius, "Latihan berenang!" jawab Arka asal.


"O...." Radit kini berubah tenang, namun sesaat kemudian ia kembali tersadar, "Tapi mereka masih bayi!" kata Radit yang mengingatkan Arka.


"Tadi, lu, gua, dan Dimas jagain Raka, Sea, sama Satya. Setelah mereka tidur, kita juga ikut tidur. Dan sekarang mereka di mana?" tanya Arka yang kembali panik lagi.


"Hilang," jawab Radit santai. Bahkan ia belum menyadari apa yang barusan ia katakan, "Memangnya mereka ke mana?" tanya Radit lagi dengan bodohnya.


"Lu kan udah jawab barusan!" geram Arka.


"Aku jawab apa?" tanya Radit yang belum mengerti lagi.


Setelah beberapa menit kemudian Dimas kembali masuk dengan nafas yang naik turun tidak beraturan, karena kelelahan, "Kira-kira kemana baby twins sama Raka ya. Apa jangan-jangan mereka di culik!" kata Dimas sambil menunduk memegang kedua lutut nya, sebab ia sangat lelah habis berlari tidak jelas arah dan tujuan.


"Di culik?" Radit terlihat mulai panik dan mulai menyambung dengan pembicaraan mereka, kemudian ia melihat tempat tidur Raka barusan. Dan juga otaknya mulai mengingat kata-kata Arka barusan, "Jadi Raka hilang?" tanya Radit.


"CK.....baru nyambung dari tadi kemana aja!" geram Arka.


Radit mulai panik, ia berlari menuju dapur dan tiba-tiba ia menabrak seseorang.


Buk!


Radit melihat orang tersebut terjatuh, dan itu adalah istri nya sendiri.


"Umi," Radit langsung membantu Rembulan untuk berdiri, tapi wajahnya masih sangat panik.


"Abi kenapa?" tanya Rembulan bingung melihat wajah Radit.


Glek.


Radit meneguk saliva karena ia takut bila Rembulan tahu jika anak mereka hilang, "Enggak papa Abi pergi dulu ya," kata Radit berpamitan.


"Abi tunggu," Rembulan memegang tangan Radit, "Raka......" belum sempat Rembulan berbicara Radit sudah melepaskan tangan Rembulan lalu cepat-cepat pergi.


"Nanti kita bicara lagi Umi," teriak Radit karena ia sangat ketakutan.


"Kenapa sih?" Rembulan bingung dan ia menggaruk kepalanya, karena tingkah Radit sungguh sangat aneh sekali.


Sementara di ruang keluarga Arka juga tengah mondar-mandir kebingungan, hingga Mentari yang menuruni anak tangga merasa bingung dengan tingkah suaminya.


"Kakak," panggil Mentari.


"Ya ampun," Arka langsung mengusap dada, karena ia terkejut saat Mentari menepuk pundaknya. Sebab ia masih memikirkan keberadaan baby twins.


"Arka," Radit kini juga menuju Arka, dan melihat Mentari di sana.


"Kalian kenapa?" Mentari kini beralih menatap Radit penuh tanya.


"Enggak papa!!" jawab Arka dan Radit bersamaan.


Mentari melihat bingung pada kedua pria itu, "Sejak kapan Kak Arka sama Kak Radit jadi akur banget?" tanya Mentari bingung, sebab biasanya kedua pria itu selalu terlibat perang dingin dan tidak ada yang mau mengalah.


"Jadi gimana....." kata Dimas, namun karena Arka menatap nya tajam Dimas tidak lagi berbicara.


"Jadi gimana?" tanya Mentari bingung.


"Abi," Rembulan juga kini sudah ikut bergabung di ruang keluarga, "Kalian Kenapa sih? Kok tegang banget?" tanya Rembulan saat melihat wajah-wajah aneh tiga pria di sana.


Arka, Radit dan Dimas saling melihat, mereka bertiga tidak tahu harus bicara apa.


"Kak," Mentari memegang pundak Arka, "Sea sama Satya...."


"Sayang, Kakak keluar sebentar," Arka cepat-cepat pergi, dan ia berlari dengan cepat demi menghindari pertanyaan Mentari.


"Aku sebentar ya," kata Radit yang juga ikut menyusul Arka.


Tinggal Dimas yang masih berada di sana, dan dua wanita tersebut menatapnya penuh tanya.


"Saya juga permisi," pamit Dimas.


Namun sayang, belum sempat Dimas berlari Mentari dan Rembulan dengan cepat berdiri di depan Dimas. Dan kedua wanita itu menatapnya dengan begitu tajam.


"Aku enggak ikutan," kata Dimas yang kini ketakutan, karena ia takut bila nanti salah menjawab.


"Sebenarnya ini kenapa?" tanya Rembulan.


"Lan, aku enggak tau," bohong Dimas.


"Tari, ambil pistol Arka," titah Rembulan.


"Em," Mentari mengangguk dan seolah ia akan pergi.


"Tari, aku bakalan ngomong," kata Dimas yang merasa takut. Dan benar saja Mentari tidak lagi pergi, setelah Dimas berjanji mau bercerita.


"Ceritakan?" tanya Mentari dan ia tidak jadi mengambil apa yang di perintahkan oleh Rembulan.


Glek.


Dimas meneguk saliva, kemudian ia berdoa dalam hati semoga setelah ini ia tidak akan di habisi oleh Arka dan Dimas.


"Cepat!" kata Rembulan.


Dimas mengangguk dan ia mulai bercerita pada Mentari dan Rembulan tentang apa yang tengah terjadi, tanpa ada yang di tutupi.


"Mmmmfffffpp......"Rembulan dan Mentari saling pandang, dan keduanya tertawa.


Dimas merasa bingung, bukankah seharusnya Mentari dan Rembulan bersedih karena bayi mereka hilang, "Kalian enggak sedih?" tanya Dimas, "Anak kalian hilang lho.....Apa kalian sadar?"


"Ahahahhaha....." Rembulan dan Mentari semakin tertawa kencang.


Hingga Dimas semakin bingung dan menggaruk kepalanya, "Enggak istri, enggak suami. Sama aja, sama-sama aneh," gumam Dimas, "Kalian serius enggak sedih?" tanya Dimas yang ingin memastikan lagi.


"Biasa aja, lagian aku juga pusing banget sama Anak Kak Arka itu!" kata Mentari asal, agar Dimas semakin bingung.


"Iya sama, aku juga merasa senang. Karena anak Radit itu memang merepotkan!" timpal Rembulan.


Sebenarnya Mentari dan juga Rembulan tentu saja sangat menyayangi anak, akan tetapi ia sengaja mengatakan begitu agar Dimas semakin pusing. Dan benar saja wajah Dimas terlihat kebingungan.


"Ahahahhaha.." Mentari dan Rembulan pergi sambil membawa tawanya yang begitu kencang.