Mentari

Mentari
Baikan



Perhelatan besar pesta pernikahan Awan dan Lusi tak ubahnya sebuah petaka bagi seorang Awan Bimantara. Hanya ada senyum terpaksa tersungging di bibirnya saat para kolega bisnisnya menyapa dan memberikan selamat. Acara resepsi itu masih tampak ramai hingga pukul 8 malam,bahkan masih ada saja yang baru datang.


"Pa,ma,Awan ke kamar dulu ya. Awan capek", ijinnya kepada orangtuanya. Lelah?Pasti, tapi lebih lelah lagi hati dan otaknya.


"Ya sudah,biar papa yang temui para tamu. Kamu ajak Lusi naik!", titah sang papa. Acara penikahan di hotel mewah itu tentu saja memberikan fasilitas kamar untuk pengantin baru.


Awan menepuk pelan lengan papanya,"makasih pa"


Lusi yang sejak tadi berada di samping Awan,tentu saja mengekor Awan saat Awan meninggalkan pesta. Dia heran,pasalnya langkah Awan bukan menuju kamar mereka melainkan ke luar gedung.


"Sayang, mau kemana sih?",Lusi nampak tertatih mengejar Awan yang berjalan lebih dulu.


"Bukan urusan lo", Awan berbicara ketus,tak menghentikan langkahnya sama sekali. Bahkan menoleh saja tidak.


"Awan,tunggu dulu", Lusi berusaha menggapai lengan Awan.


"Lepas!!", katanya menyentak tangan Lusi kasar.


"Awan...Awan...!! Arght!!", Lusi kesulitan mengejar Awan karena heels tinggi dan gaun yang teramat berat." Sial!! kalau bukan gara-gara anak sial itu pasti Awan tetep cinta sama gue".


Awan melajukan mobilnya cukup kencang membelah keramaian ibu kota malam itu. Bukan apartemen seperti tujuan awalnya, Awan malah melajukan mobilnya menuju rumah Mentari.


Awan menghentikan mobilnya di depan rumah Mentari. Dia tak peduli lagi jika akan dipergoki orang lagi saat mengamati rumah Mentari. Yang ia inginkan hanya melihat Mentari. Ia merindukan Mentari, sangat merindukannya. Dia saja bingung,kenapa bisa sejatuh cinta itu dengan Mentari hanya dalam waktu sebentar.


"Sepi banget, belum jam sembilan perasaan",Awan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya." Masa sih udah tidur? tapi kok gelap semua sih? Dia tinggal disini nggak sih?"


Sedang asyik melamun, Awan dikejutkan dengan sebuah motor sport yang berhenti di depan mobilnya. Dia tahu mereka. Angga dan Mentari yang baru saja turun dari motor itu. "Jam segini baru pulang sekolah?! Wah ngajarin nggak bener tuh anak",geram Awan mencengkeram stir mobil.


Awan lebih terkejut saat melihat Angga tiba-tiba memeluk Mentari. Dengan emosi menggebu, Awan turun dari mobilnya, menarik Angga dan memberikan bogem mentah tepat di hidung Angga,sehingga Angga jatuh tersungkur ke jalanan.


"Angga!!", teriak Mentari yang kaget, ia lantas membantu kekasihnya berdiri.


"Hidung kamu berdarah Ngga, diobatin dulu yuk!", Mentari memapah Angga.


"Nggak usah deket-deket kayak gitu", hardik Awan menarik Mentari.


Mentari yang tadinya ingin mengabaikan Awan jadi begitu kesal dengan sikap semena-mena Awan. " Om itu kenapa sih? Dateng-dateng bikin rusuh? Mending om pergi dari sini sebelum aku laporin pak RT"


"Kok kamu belain dia sih? Dia udah mesum sama kamu. Sekarang peluk, besok minta apa lagi?", Awan sungguh mengkhawatirkan Mentari. "Lagian jam segini masih pake seragam sekolah,dari mana saja kamu baru pulang jam segini?"


"Bukan urusan om ya", Mentari melengos kesal dengan Awan.


"Lagian bukannya om menikah hari ini? seharusnya om sedang di kamar pengantin bersama istri om dan bukan disini", tandas Angga.


"Hey anak ingusan! Nggak usah sok tahu,bukan urusan lo!",balas Awan


"Apapun yang ada hubungannya dengan Mentari, itu urusan gue. Asal om tahu Mentari itu cewek gue", tegas Angga. "Dan lo, pria beristri harusnya nggak ada disini bersama gadis lain yang nggak ada hubungan apa-apa saat istri lo sedang menunggu dikamar pengantin", sindir Angga sambil menekan telunjuknya kedada Awan.


Awan menepis tangan kurang ajar Angga. "Mentari itu keponakan gue"


"Ya keponakan ga du ngan!",cibir Angga. "Lo kira gue nggak tahu otak licik lo yang manfaatin Mentari di tengah kesulitannya"


"Udah stop!!!!", Teriak Mentari.


" Ada apa Tari?",tanya ibu-ibu tetangga Mentari yang melongokkan kepalanya di pintu gerbang. Mungkin beliau terusik karena berisik.


"Nggak apa-apa bu, ini mereka udah mau pulang kok", Mentari tak enak hati." Maaf ya bu anita".


Bu Anita masuk lagi ke dalam rumahnya. Mentari mengalihkan atensinya ke Awan setelah memastikan tetangganya masuk rumah. "Ngapain om kesini?"


"Aku mau ngomong sebentar sama kamu"


"Mau ngomong apa lagi sih? Lo nggak sadar juga ya? Ingat istri lo sedang menunggu om", sindir Angga.


"Jangan banyak omong lo anak badung, lo pasti ngajarin Mentari yang jelek-jelek kan? Kalau nggak, nggak mungkin lo balikin dia semalem ini",Awan tak mau kalah.


"Gue sama Mentari...." Belum selesai Angga menjawab,sudah dipotong oleh Mentari.


"Stop!!!",desis Mentari menahan amarahnya. "Kalian kalau masih mau berantem, jangan disini. Silahkan cari tempat lain!"


"Plaese Baby, aku mau ngomong sebentar", Awan memelas.


"Heh? Baby?", Angga tak hentinya mencibir Awan.


" Udah Ngga, kamu pulang dulu ya"


"Tapi ay...", Angga berat meninggalkan Mentari bersama Awan.


"Aku akan ngomong di sini aja, ini juga masih rame", Mentari mengerti kegundahan Angga sambil memperhatikan sekitar yang masih ada satu dua orang yang lewat.


"Baiklah kalau itu mau kamu. Tapi inget! kamu harus hati-hati sama cowok brengsek"


" Apa lo bilang?", Awan tidak terima dibilang brengsek.


"Apalagi namanya kalau bukan brengsek? punya istri tapi gangguin cewek orang"


"Udah Ngga, please...", Mentari memohon.


Angga mengalah,"Ya udah, aku balik dulu. Ada apa-apa telepon aja ya", ucap Angga mengalah. Tak lupa ia tinggalkan jejak tangannya mengkusuk lembut rambut Mentari. Membuat Awan geram,namun ia tahan.


Dua anak manusia itu memperhatikan Angga sampai menghilang di balik gang perumahan.


"Om mau ngomong apa?"


"Masuk dulu!", Awan menarik tangan Mentari menuju rumah Mentari." Buka!",titahnya lagi saat mereka berada tepat di depan gerbang rumah Mentari.


"Ngapain sih? Disini aja kalau mau ngomong", Dia enggan membuka kunci.


Mentari mengerti jika Awan akan mengajaknya pergi. "Di dalem aja, aku capek kalau pergi lagi"


Mentari membuka kunci,membiarkan Awan masuk ke dalam rumah mengikutinya.


"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?", tanya Awan saat sudah mendudukan tubuhnya di sofa panjang. Sementara Mentari duduk di sofa single lainnya.


"Main lah"


"Sampai malem begini?"


"Lagian bukan urusan om lagi", Mentari terus berbicara dingin dan ketus.


Awan menghela napas. " Okey,aku ngalah. Aku harap kamu nggak ngelakuin hal aneh-aneh yang bisa menyulitkan kamu nantinya"


"Aku udah biasa hidup mandiri,dan aku juga bisa jaga diriku sendiri,bahkan jauh sebelum ada om"


"Aku harap begitu", Awan harus mengalah kali ini. Sebisa mungkin dia harus berbicara baik-baik dengan Mentari.


Hening.


"Aku kesini mau minta maaf sama kamu",Awan memulai pembicaraan setelah mereka diam beberapa saat.


"Om nggak perlu minta maaf"


Awan menghela napas lagi. Sulit berbicara baik-baik dengan Mentari saat ini. "Please Mentari, aku sangat mencintaimu. Ini di luar kendaliku, aku yakin Lusi sengaja menjebakku"


"Bukan urusanku juga kan om?!"


"Ini jelas jadi urusan kamu Mentari. Aku tahu kamu marah sama aku. Aku tahu kamu terluka. Sama sepertiku, aku juga terluka Baby", mata Awan berkaca-kaca.


Pertahanan Mentari menghalau sedihnya runtuh saat melihat wajah Awan yang sangat bersungguh-sungguh. Lolos juga air mata gadis itu di pipi mulusnya.


Awan mendekati Mentari,berlutut di depannya dan mendekap erat tubuh kecil itu. Tangisan Mentari pecah, dia meraung sejadi-jadinya. Meluapkan semua yang ingin ia luapkan kepada Awan.


"Menangislah Baby"


"Om jahat!", ucap Mentari sambil meraung-raung. Ia memukul-mukul punggung Awan.


"Percaya sama aku baby, aku cintanya sama kamu. Buat apa aku kesini kalau aku nggak cinta sama kamu padahal acara tadi belum selesai?"


Mentari tak menjawab, hanya terus menangis dan menangis


"Aku janji nggak akan hianatin kamu,aku nggak akan sentuh Lusi. Aku juga akan tinggal di tempat berbeda dengan Lusi"


"Mana bisa seperti itu? Orang tua om pasti nggak akan biarin om kayak gitu", Mentari sudah bisa menjawab. Hanya isaknya sesekali yang masih tersisa.


"Aku akan cari cara, tapi aku juga mau kamu janji nungguin aku",Awan bangkit. Mengangkat Mentari mendudukkan Mentari dipangkuannya. Kini ia yang menduduki sofa Mentari tadi. Mentari sendiri menurut, malah memeluk leher Awan dengan erat. Menjatuhkan wajahnya di ceruk leher Awan.


"Baby, kamu membangunkan singa yang lagi tidur", Awan mati-matian menahan gejolak hasrat karena keintiman mereka.


Mentari tak peduli malah terkesan sengaja menyiksa Awan.


"Ah....", desah Awan karena perlakuan Mentari yang menggodanya. Padahal Mentari masih diam saja. "Jangan sampai malam pertamaku pindah disini baby"


Mentari mengangkat kepalanya,memandang wajah Awan. " Gimana cara om menghindari Kak Lusi? Dia itu istri sah om Awan"


" Tenang aja Baby, pernikahan ini nggak seperti yang kamu bayangin. Ini hanya status buat nyelametin nama baik keluarga. Aku udah nggak punya rasa sama sekali dengan Lusi. Dan aku sangat yakin kalau itu bukan anak aku"


"Tapi Om nglakuin kan?", Mentari merajuk.


"Iya sih", Awan tersenyum canggung. "Tapi aku ngelakuinnya sebelum kita jadian loh"


"Kapan kita jadian?".Memang tidak ada tembak-menembak diantara mereka. Hanya sekedar menjalin cinta setelah mengungkapkan perasaan.


"Aku anggap kita udah jadian", jawab Awan santai.


"Tapi sekarang aku punya pacar,dan pacar aku bukan om", ledek Mentari.


"Oke. Kita bikin kesepakatan"


"Kesepakatan apa lagi?"


"Kamu boleh pacaran sama cecunguk itu selama aku belum cerai sama Lusi. Tapi kamu nggak boleh terlalu dekat sama dia", ide gila yang muncul dikepala Awan." Kamu masih milik aku!", Tandas Awan.


"Kok jadi ngatur sih?"


" Aku nggak bisa terima kamu deket-deket sama dia, aku sakit baby. Apalagi lihat kamu pelukan sama dia tadi"


"Dia peluk aku karena ngasih semangat aku om", Mentari tertawa melihat wajah memelas Awan.


"Semangat apa?", Awan menautkan alisnya.


"Biar aku nggak sedih lagi ditinggal om Awan nikah"


Ekspresi wajah Awan berubah, "Maaf baby",lirihnya. "Jadi dia tahu soal kita?"


Mentari mengangguk. " Tadi aja dia ngajakin aku jalan,katanya mau hibur aku. Terus pas mau pulang malah diajakin ke basecamp nya Angga sama temen-temennya. Disana juga ada Meli. Mereka bikin aku cukup happy hari ini meskipun disini masih sakit", jelas Mentari, ia memegang dada sebelah kirinya.


"Maaf baby", Awan menyesal. Memeluk erat Mentari,mencurahkan beribu maaf untuk gadisnya. "Aku mau tidur disini", celetuk Awan tiba-tiba.


Mentari kaget,melepaskan pelukan Awan. Bahkan nyaris terjatuh. "Ngapain? Ditungguin noh sama istrinya", ejek Mentari.


"Istriku itu kamu", kata Awan yang lantas menangkup wajah Mentari dan ******* bibir ranum itu. Mentari membalas tak kalah menggebunya seolah mereka menyalurkan rasa rindu yang membuncah.


Malam itu Awan benar-benar menginap di tempat Mentari. Dengan syarat tidak boleh ngapa-ngapain kata Mentari. Tentu saja Indra yang dibuat repot oleh Awan. Mengambil mobil Awan dari rumah Mentari dan harus menciptakan drama kebohongan untuk menutupi kelakuan Awan dari Lusi dan keluarga Awan tentunya.