Mentari

Mentari
Episode 59



"Lah" Mentari sudah tidak bisa berkata-kata melihat bunga yang ia pegang sudah berpindah tempat, "kenapa harus dibuang?" Sambung Mentari melihat bunganya dalam tong sampah kecil itu.


"Sayang kalau mau bunga, saya akan telepon Brian sekarang untuk belikan bunga.. bunga apa? Mawar, melati atau bunga apa?" Tanya Arka bertubi-tubi


Mentari yang malas berpikir "semua jenis bunga" jawabnya


"Oke" jawab Arka lalu ia menelpon Brian


📞"Brian, bawa buket bunga dirumah dengan kembang semua jenis bunga" perintah Arka


📞"Dalam satu buket pak?" Tanya Brian


📞"Iya, cepat ya, tapi harus bagus buketnya" Arka mewanti-wanti asistennya itu


📞"Iya pak" ucap Brian lalu Arka memutuskan sambungan telefon dan Brian pun bergegas ke toko bunga


Brian bingung dengan pesan bosnya semua jenis bunga, ditoko sudah merangkai bunga tersebut dengan berbagai stok kembang bunga ditoko itu dan yang tersisa kembang bunga tai ayam


Brian antara ingin memasukkan bunga tersebut atau tidak, tapi kalau kembali mengingat pesan bosnya bunga tersebut harus masuk dalam buket. Brian kembali menimbang-nimbang sehingga pelayanan toko yang rangkaian jadi lama nunggu


"Maaf pak, kalau boleh tau bunga ini untuk istri atau pacar pak?" Tanyanya setelah melihat wajah bingung Brian


"Istri.." ucap Brian terpotong oleh pelayan toko bunga itu


"Ohhh... Sebaiknya bunga yang satu ini jangan dikasih masuk.. gak enak sama istri bapak.. selama kami merangkai buket bunga, termasuk saya pak" ucapnya sopan dengan menjeda sejenak, "kebanyakan menggunakan bunga mawar pak" sambungnya dengan sopan


"Iya saya mengerti, tapi ini masalahnya lagi hamil" ucap Brian lagi yang dibuat kaget oleh penjaga toko tersebut


"Ohh gitu yaa pak,.. saran saya cukup bunga ini saja kalau pun kembang bunga ini dimasukkan maka itu akan terlihat jelek dan mungkin juga tidak suka dengan modelnya pak" jelas penjaga toko itu lagi


"Baik, berapa harganya?" Tanya Brian


"Langsung kekasir ya pak" arahnya lagi lalu Brian tidak menunggu waktu lama sudah menyelesaikannya tinggal buket bunga ini diantar ke rumah bosnya itu.


"Nona Mentari membuat kita banyak bicara dalam sehari" batin Brian sambil jalan menuju kasir


Beberap menit kemudian, Brian sampai depan rumah bosnya itu sudah disuguhkan dengan kelakuan bosnya Arka. Bagiamana tidak, Arka berubah profesi menjadi galih tanah untuk dibuatkan kolam-kolam kecil. Ia memutuskan untuk menelpon bosnya


📞"pak saya sudah didepan" ucap Brian


📞"Tunggu disitu, jangan sampai mentari melihatmu" larang Arka


📞"Baik pak"


Arka bangkit dari tempat duduknya sambil memperhatikan celananya yang sudah kotor dipenuhi tanah liat. Arka bukan tidak sanggup membiayai orang untuk dibuatkan kolam dirumahnya, namun Mentari tidak mau harus sendirinya yang galih hitung-hitung sebagai minta maaf karena sudah tidak membelikan cilok dan bunga.


Arka menggali penuh keringat dengan wajah yang kotor karena tanah liat, tampang Arka saat ini jauh dari tampang bos.


Mentari melihat model suaminya seperti itu sempat terbesit dibenaknya apakah dia lakukan ikhlas atau hanya ia ingat anaknya, karena bagaimanapun pertumbuhan janin dalam kandungannya itu sangat tergantung darinya. Jika ia stres maka pertumbuhan janin dalam kandungannya terganggu. Mentai mencoba bertanya kepada suaminya itu


"Kak Arka kerja semua ini ikhlas atau hanya takut saya akan marah lagi?" Tanya Mentari dengan hati-hati


"Ikhlas sayang" jawab Arka dengan membuang paculnya diatas pematang dan ia pun keluar dari galian kolam ikan tersebut, "demi baby" sambungnya setelah berdiri sempurna diatas pematang


Mentari mendengar itu langsung berdiri dengan bertolak pinggang, "berarti benar ya kata orang kalau sudah punya anak pasti lebih sayang anaknya ketimbang istrinya"


Arka ingin sekali ketawa mendengar ucapan istrinya itu, ia menghampirinya itu dengan tangan kotor langsung memegang wajah istrinya itu


Sedangkan tukang kebun dadakan Arka sudah datang dengan peralatan lengkap untuk kolam tempat pancing Mentari. Selang untuk memasukkan air dalam kolam termasuk alat pancing serta ikan yang akan dilepas dalam kolam tersebut untuk nantinya dipancing oleh Mentari.


Mereka kerja dengan cepat agar saat Mentari ingin memancing maka semuanya sudah siap. Dan benar saja tidak cukup satu jam semua sudah beres dan siap untuk memancing dan bahkan dikail pancing sudah diberikan umpan jadi sang pemilik kolam tinggal duduk santai diatas pematang dengan memegang joran pancing


"Coba lihat wajah kakak sekarang" pinta Arka dengan senyum yang terus mengembang melihat istrinya yang malah melihat ketempat lain, "kakak sangat sayang kalian berdua, sekarang dan nanti" sambungnya


"Hahaha" suara tawa Arka pecah, "gemesin sih" sambungnya dengan menarik hidung istrinya itu dengan lembut. Ia suka jika melihat wajah istrinya kesal membuatnya gemas sendiri


"Kak Arka tangannya kotor" kesal Mentari tepat didepan Arka itu


Arka menjauh dari Mentari menuju halaman rumah, ia baru sadar ternyata Brian sudah menunggu lama didepan dengan buket bunganya


"Kak Arka mau kemana?" Tanya Mentari melihat suaminya yang berdiri sedang dia lagi memegang joran pancingnya


"Depan sebentar, tunggu disini" pamit Arka


Mentari menganggukkan kepala dan ia kembali fokus memancing. Mentari yang larut memancing tiba-tiba mengantuk sehingga matanya tidak bisa ia kontrol lagi


"Mbok" panggil mentari


ARTnya yang hanya mendengar samar-samar suara majikannya itu, ia langsung lari kesumber suara melihat istri bosnya yang lagi mencabut bulu matanya dengan harapan rasa ngantuknya bisa hilang


"Nyonya memanggil saya?" Tanya ARTnya itu memastikan


"Iya mbok, Mentari ngantuk pegang kan joran Mentari ya mbok, mau tidur dulu" pamit Mentari yang tiba-tiba terpeleset


"Mbok... Aoww" pekik Mentari dan jatuh


Mentari tidak membuka matanya, ia takut belum bisa terima kenyataan kalau sekarang ia jatuh dan pikirannya berkecamuk memikirkan keadaan bayinya.


Mentari menghela napas sambil mengusap perutnya, "ya Allah baby, bundamu jatuh" lirihnya lagi


Arka yang ditindih Mentari langsung memukul lengan istrinya pelan dengan setengah mati, "sayang, coba turun dari badanku" ucap Arka setengah mati


"uhuk uhuk uhuk" Arka batuk-batuk


Arka sifatnya kadang jauh dari kata romantis, bukan menanyakan bagaimana keadaan istrinya malah menyuruhnya untuk turun dari badannya.


Mentari mendengar itu bagai angin yang lalu, ia hanya fokus komunikasi dengan baby nya itu


"Baby.. papa buatkan bunda kolam ikan dengan pematang yang empuk baby" ucapnya lagi dengan senyum sambil memejamkan mata karena meskipun ia jatuh tidak merasakan apa-apa


"Ya Allah sayang, ini kakak bukan pematang kolam ikan" suara Arka dengan setengah mati, "mana berat lagi" sambungnya membatin


Arka kembali memanggil istrinya itu


"Sayang, kakak sudah mau mati ini"


Mentari hanya memeluk perutnya itu, "baby... Apa baby mau makan ikan goreng habis itu dikukus kayaknya enak" ucapnya lagi lirih


Arka sudah beberapa kali memanggil istrinya tapi tidak dengar, maka Arka sekarang memutuskan untuk pasrah sampai Mentari sadar sendiri


Mentari yang membayangkan makan yang aneh itu langsung membuka matanya dengan senyum yang masih merekah disudut bibirnya


"Kenapa mbok?" Tanya Mentari melihat muka ARTnya panik


"Itu nyonya, tuan" ucapnya mencoba menyadarkan Mentari


"Kak Arka maksud mbok? Kak arka mana?" Tanya Mentari sambil bangkit dari tempat tidurnya tadi, "kak Arka" sambungnya dengan memanggil suaminya itu setelah sadar ia jatuh diatas suaminya


SEMOGA SUKA ❤️


SEMOGA KITA SEHAT SELALU YA PARA READER YANG BAIK 😘


TERIMA KASIH 🙏