
"Mau ke mana Kak?" tanya Ranti saat melihat Rembulan melewati nya.
Rembulan menghentikan langkah kakinya, ia melihat Ranti yang tengah asik bersama Bik Sum membersihkan bunga, "Ulan mau pergi sama Radit dulu ya Ma..." kata Rembulan, sekaligus ingin meminta ijin pada Ranti.
Ranti menatap Rembulan, seolah ia bingung, "Siapa Radit?" tanya Ranti, seolah tidak tahu.
Rembulan tidak kalah bingung, karena pertanyaan Ranti yang terdengar tidak masuk akal, "Mama amnesia ya?" tanya Rembulan.
"Kok Mama amnesia, kan Mama tanya Kak Ulan..... Radit itu siapa?" Ranti menaikan nada bicaranya, sebab ia memang kesal pada Rembulan.
Rembulan memijat dahinya, kemudian melihat Ranti, "Radit itu suami Ulan Ma," kata Rembulan dengan jelas, tapi juga bercampur kesal.
"O suami ya?"
"Emangnya kenapa Ma?"
Ranti memutuskan matanya, "Mama pikir Radit itu adik kamu!" jelas Ranti.
"Adik?" tanya Rembulan bingung.
"Iya kan kamu ngomong nya Radit! Dasar tidak sopan!" kesal Ranti lagi memperingati Rembulan, "Apa tidak ada panggilan yang lebih baik untuk suami, lihat Mentari memanggil Arka pernah tidak dia memanggil nama Arka langsung?"
"Mama kok banding-bandingin Ulan sama si gesrek Ma?" kesal Rembulan.
Entah sejak kapan Mentari berada di sana, yang jelas begitu ia di sebut gesrek Mentari seperti mengeluarkan tanduknya. Kakinya mulai melangkah cepat mendekati Rembulan, "Gue pites-pites lu ya buluk!" gumam Mentari. Namun saat ia mendekati Rembulan dan hampir menarik rambut Rembulan dari belakang ia justru mendengar hal lain. Hingga ia lebih tertarik untuk mendengarkan terlebih dahulu.
"Emang dia sopan sama suaminya!" ujar Ranti lagi.
"Ulan juga panggil Radit dengan sebutan Abi," jelas Rembulan.
Rembulan sedang mencari aman, dan ia tidak mau di bandingkan dengan adik gesrek nya. Walaupun ia tidak membenci dari hati, namun keduanya memang sering kali bertengkar.
Tawa Mentari seketika pecah, hingga kembuat Ranti dan Rembulan mulai menyadari ternyata ada Mentari juga di antara mereka.
"Obat lu abis dk?" kesal Rembulan.
"Ahahahhaha....." Mentari tertawa terbahak-bahak, ia semakin tertawa saat melihat wajah Rembulan dan Mama Ranti yang kebingungan, "Abi!!!!" ejek Mentari sambil di iringi tawa, bahkan ia sampai memegang perutnya.
"Dasar gila!" seru Rembulan. Rembulan sangat kesal karena Mentari mengejek dirinya, padahal panggilan itu kan Radit yang menginginkan nya.
"Tari...." Ranti menatap Mentari dengan tajam, putri bungsunya itu memang sangat suka menjaili orang lain. Terutama pada Rembulan, "Nggak boleh begitu dek...." kata Ranti lagi.
"Abi....." ejek Mentari lagi, "Ahahahhaha......Kak Abi lu di depan gerbang noh...." Mentari menunjuk Radit yang perlahan memasuki halaman rumah Mama Ranti.
Mata Rembulan langsung melihat arah yang di tunjukan oleh Mentari, entah mengapa Rembulan melihat Radit lebih tampan dari biasanya. Bahkan ada yang berbeda dari Radit, ia datang dengan sepeda motor gede di sana.
"Woy, bengong aje.....mau ampek kapan lu liatin Kak Radit begitu, buruan...." kata Mentari.
Saat mendengar ocehan Mentari, Rembulan seketika mulai tersadar. Malu sekali rasanya melihat Radit dengan pandangan penuh kekaguman, "Ma....Ulan pamit ya," Rembulan mencium punggung tangan Ranti.
"Pulangnya jangan larut ya Kak," kata Ranti.
"Caelah Ma, Kak Ulan sama Kak Radit itu suami istri!" celetuk Mentari.
"O iya....Mama lupa," Ranti merasa bodoh karena lupa jika kedua Putri nya sudah menikah.
"Mama ada aja sih!" kata Mentari lagi.
"Sama aja, pulang nya nggak boleh larut kamu lagi hamil muda," kata Ranti lagi memberi peringatan pada Rembulan.
"Iya Ma, Ulan pamit ya...."
Ranti mengangguk dan ia tersenyum pada Rembulan.
Rembulan langsung berjalan ke arah Radit, ia berdiri di sana, "Kok naik motor sih Dit?" tanya Rembulan, kata Abi sangat sulit sekali ia ucapkan. Bukan tidak mau tapi masih merasa cukup malu.
"Nggak sopan sama suami, nggak jadi pergi nih," kata Radit.
"Eh...." Rembulan gelagapan, "Kok nggak jadi?" tanya Rembulan bingung.
Rembulan diam sambil melihat Radit, bahkan ia mengigit bibir bawahnya.
"Kalau mau menggoda suami jangan disini?" celetuk Radit.
"Kok ngegoda sih?" tanya Rembulan bingung.
"Itu bibirnya ngapain di gitu in coba!"
"Ish...." Rembulan mencubit lengan Radit, karena ia tidak menyangka pikiran Radit yang miring.
"Sakit," ringis Radit.
"Makanya jangan aneh-aneh...." Rembulan tersenyum karena sudah membuat Radit kesakitan.
"Em....senang ya liat suami sengsara?" kata Radit seolah kesal, tapi sebenarnya ia hanya berpura-pura kesakitan saja.
"Hehehe...." Rembulan lagi-lagi terkekeh, tapi tidak ada niatan untuk tidak menghargai Radit, "Sakitkan?" tanya Rembulan lagi penuh rasa bahagia.
"Sebenarnya sih enggak juga, karena cubitan nya rasa sayang," kata Radit.
Mata Rembulan melebar, dan wajahnya memerah saat mendengar gombalan Radit. Entah mengapa hatinya seketika bahagia dan ingin bersorak dengan penuh gembira, beruntung Rembulan masih waras hingga ia bisa menahan rasa yang bergejolak di dadanya. Dan sedetik kemudian Radit mengkedipkan matanya pada Rembulan, "Papa!!!!" seru Rembulan tanpa sadar, kemudian ia cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya, karena ia hampir saja menangis saat melihat tingkah nakal suaminya.
"Hehehe....." Radit tersenyum melihat wajah Rembulan yang bersinar, bahkan sudah seperti udang rebus. Kalau dulu Radit hanya diam-diam mengagumi Rembulan, maka kini ia lebih terang-terangan. Bahkan kini Radit menatap senyum Rembulan dengan langsung, dulu ia hanya mencuri-curi pandang saat melihat senyum manis itu.
"Nggak jadi deh kepuncak!" kesal Rembulan, dan ia berniat masuk kembali kedalam rumah. Namun tangan Radit dengan cepat memegang tangan Rembulan.
"Kenapa?"
"Kamu juga gitu," Rembulan memanyunkan bibirnya, seolah ia kesal. Tapi sebenarnya ia ingin Radit memaksanya untuk pergi jalan-jalan dan sekarang ia hanya berpura-pura tidak mau ikut, karena menutupi rasa malunya.
"Maaf Umi, ayo naik," Radit menarik Rembulan kembali mendekat kepadanya, dan ia langsung memasang helm di kepala Rembulan. Sejenak Radit terdiam menatap wajah Rembulan dengan jarak yang begitu dekat, rasanya mata Rembulan mampu meneduhkan hatinya.
"Radit...." Rembulan melambaikan tangannya, hingga Radit tersadar.
"Panggilnya nggak sopan!"
"Abi," kata Rembulan memperbaiki panggilannya, karena itu yang di inginkan Radit. Dan benar saja wajah Radit kini berubah berseri-seri tanpa bisa di tutupi.
"Iya Umi ku...." Radit tersenyum karena bahagia dengan panggilan Rembulan.
Rembulan merasa geli sendiri memanggil Radit dengan sebutan Abi, hingga ia langsung menaiki motor Radit.
"Udah?" tanya Radit.
"Udah."
"Belum!"
"Apanya?"
"Menurut Umi apanya yang belum?" goda Radit.
"Apasih, mau di cubit lagi!" kata Rembulan, seolah marah padahal tersenyum di belakang Radit. Tanpa di lihat oleh Radit, yang menatap ke depan.
"Jangan di cubit, di sayang mau!" ujar Radit.
"Jadi pergi nggak sih!"
"Peluk."
Glek.
Rembulan mendeguk saliva, rasanya berdekatan dengan Radit sangat membuatnya tidak karuan. Akan tetapi ia senang bila di dekat Radit.
*
Like dan Vote nya dong Kak, tolong ya.