
"Apa anda serius ingin merebut Mentari dari pak Awan?"
"Sudah aku bilang Jim, Mentari itu tipe cewek idamanku". Rayan menyandarkan tubuhnya nyaman di kursi kebesarannya sambil setengah memutar-mutarnya.
"Karena mirip Amel?",sambar Jimi.
Rayan tak menjawab, dia mendongak menatap langit-langit ruangan kantornya. Menerawang jauh pada sosok yang baru saja disinggung oleh Jimi.
Jimi menghela napas. Sepertinya dia harus melaporkan kelakuan tak wajar Rayan kepada pak Wisnu, kakek Rayan. Beliau menitipkan Rayan pada Jimi karena beliau menetap di Sidney menikmati masa tuanya bersama sang istri. jangan tanyakan orang tua Rayan yang telah meninggal karena kecelakaan pesawat lima tahun yang lalu. Pak Wisnu masih memantau perusahaan dan masih menjadi pemilik utama perusahaan Rayan setelah anaknya meninggal dunia. Dan sekarang Jimi mulai merasakan sinyal buruk karena kelakuan Rayan akhir-akhir ini. Ia akan meminta pendapat kepada pak Wisnu yang menjadi wali Rayan, ia takut kejadian sebelas tahun lalu terulang lagi.
"Anda harus minum obat dulu Pak". Jimi menyodorkan sebutir pil dan juga segelas air. Rayan menurut dan meminum obatnya. Begitulah, tak ada yang tahu kondisi Rayan yang sebenarnya kecuali Jimi dan kakek Rayan.
***
Awan dan Mentari sedang menyusuri jalan menuju rumah Mentari. Dengan senyum jahilnya, Awan memberikan ide untuk pulang dari kantornya dengan menggunakan motor Mentari. Awan berdalih, biar romantis katanya.
"Om, aku boleh ikut ke acara perpisahan sama anak-anak besok ya Om", suara Mentari tertelan angin malam kota Jakarta yang membuai mereka. Sudah jam sembilan malam, tapi lalu lalang kendaraan belum surut.
"Acara sekolah?", Awan juga sama meninggikan suaranya.
"Bukan, acara kita sendiri. Temen-temen dekat aja", dia memeluk erat Awan.
"Laki-laki atau perempuan?"
" Ada laki-laki ,ada perempuan. Om kan tahu temen-temen aku siapa aja"
"Berarti ada cecunguk itu juga?", Awan melotot.
"Pasti adalah... kan emang Angga yang bikin acara", Jelas Mentari.
" Nggak usah pergi!", titah Awan ketus.
"Yah, kok nggak boleh sih? Kan ini perpisahan sebelum kami kuliah di tempat yang berbeda Om....",ia merengek, menggoyang-goyangkan tubuh Awan. "Please.... sekali aja ya... Ini paling juga menjadi yang terakhir pertemuan kita sebelum kuliah ke tempat yang berbeda"
Awan berpikir sejenak, kasihan juga kalau Mentari nggak ikut perpisahan dengan teman-teman yang menemaninya semasa SMA. Mungkin Awan juga akan sedih kalau itu terjadi dengannya.
"Ya udah,boleh. Tapi jangan malam-malam pulangnya"
"Makasih...", Mentari memeluk Awan semakin erat, menempelkan pipinya di punggung calon suaminya itu.
"Emangnya mau ngadain acaranya dimana?", Awan bertanya.
"Di Bali", jawab Mentari canggung.
"Apa?", Awan luar biasa terkejut. "Kalian kan akan sibuk masuk universitas, kenapa malah pada kelayapan sampai Bali? Dan pasti nggak ada dampingan orang tua kan?"
"Kan mereka semua ank orang kaya Om, udah diurusin semua kuliah mereka sama uang orang tuanya"
"Kenapa mesti ke Bali sih?"
"Aku juga nggak tahu. Yang lain pada Oke, cuma aku yang belum. Mereka kasih aku waktu sampai malam ini"
"Emangnya ada apa sih harus jauh-jauh ke Bali?", Awan masih tak habis pikir.
"Kita cuma tiga hari disana om"
"Nginep dimana? Jangan-jangan cecunguk itu niat modus", belum apa-apa pikirannya sudah kalut.
"Kita nginep di villa keluarga Angga. Tapi Angga ngajakin ceweknya kok. Om juga boleh ikut kalau mau"
"Aku seminggu ini sibuk Mentari"
Motor Mentari berhenti di depan rumahnya. Setelah membuka gerbang Mentari masuk. Tapi dia lihat Awan ikut masuk dengan motor Mentari.
"Loh, kok dimasukin? Om nggak pulang pakai motor aja?", Mentari keheranan.
"Aku nginep ya... semalem aja...", Awan tersenyum memohon. Itulah alasannya kenapa ia memberi ide untuk pulang pakai motor. Yang modus itu bukan Angga seperti tuduhannya. Tapi Awanlah yang lebih modus.
"Kalau aku boleh nginep, kamu boleh berangkat ke Bali". Tawaran mematikan.
Mentari merengut. Ia kalah telak dari Awan. Mau tak mau Mentari membuka pintu lebar-lebar agar Awan juga bisa masuk. "Sekalian motornya masukin!", perintah Mentari galak. Ia tinggalkan Awan yang entah masih dengan urusan apa. mungkin dia mengunci pintu.
"Awas aja kalau sampai ada orang yang tahu om nginep disini", ancam Mentari sebelum ia masuk kamar mandi.
" Kalau ketahuan kan bagus, kita pasti dinikahin", sahut Awan meledek.
Brraaaakkkk, Mentari membanting pintu kamar mandi. Kesal dengan Awan.
"Awas pintunya rusak. Nanti mandinya kelihatan dari luar"
"Bodo amat", Mentari berteriak.
"Emang harus bodo amat. Lagian kan aku pernah lihat semuanya. Meskipun belum ngerasain", celetuknya enteng. Dia bertopang kaki di sofa ruang tamu. Tahu kan seperti apa bentuk rumah subsidi?
Mentari membuka lagi pintu kamar mandi dengan wajah galak.
"Kenapa? mau ngajakin mandi bareng?",Awan menaikkan alisnya.
Byuuuurrrr, Mentari mengguyur kepala Awan dengan sedikit air. "Biar otaknya nggak kotor terus",ucapnya nyolot tak peduli Awan yang gelagapan karena kaget.
"Basah sofanya by". Dia khawatir sofanya, padahal dirinya yang lebih basah.
"Biarin, biar di beliin yang baru sama kamu", Jawabnya asal.
Awan mendekat dengan seringainya. "Oooo jadi mau sofa baru? hm?". Mentari mundur selangkah tapi Awan semakin mendekat.
"Kenapa? Biar nggak sempit lagi kalau kita sedang bercumbu?"
Mentari sudah mentok ke tembok di rungan yang tak seberapa luas itu.
"Ih... mesum!", Mentari mendorong Awan wajah Awan yang sudah ancang-ancang menciumnya.
"Kayaknya lebih asyik di kamar mandi", Awan langsung menyeret Mentari ke kamar mandi.
"Eh...Ngapain? Aku nggak mau!", Mentari berontak sambil teriak.
"Berisik! Mau kamu dinikahin sekarang?". Mentari tak bisa menjawab karena Awan membekap mulut Mentari dengan tangannya. Dia hanya bisa menggeleng.
"Ya udah sana mandi", Ia mendorong pelan Mentari masuk kamar mandi."Buruan! gantian ini udah malem. Mana nggak ada air anget lagi", Awan berdecak.
" Siapa suruh nginep di sini?", Mentari bersungut-sungut.
"Besok aku suruh orang pasang pemanas air", jawaban Awan membuat Mentari urung untuk mandi.
"Sekalian aja rumah ini direnovasi. Jadi gede, bertingkat-tingkat terus ganti semua barangnya dengan yang baru", Mentari kesal dengan Awan yang seenaknya . Dia bersungut-sungut.
"Oke, kalau kamu udah ngizinin. Besok aku suruh Indra urus semuanya. Rumah sebelah kayaknya kosong kan?", Awan malah menanggapi serius.
Mentari melotot. "Bukan begitu Om...", ia kesal menghentakkan kakinya berulang.
" Kenapa? Kamu serius juga aku malah seneng. Kita bisa tinggal disini setelah nikah". Mentari berbinar.
"Emangnya om mau tinggal disini?"
"Kenapa enggak? Rumah ini lumayan deket dari kantor"
Mentari memeluk Awan. "Makasih Om", Mentari menangis.
"Kan belum di renovasi. Nggak usah terharu begitu", Awan mencandainya.
"Aku seneng om ngizinin aku tetap deket sama ayah"
Awan merangkum pipi Mentari. Dia menghapus air mata Mentari dengan punggung jarinya. Lembut. "Anything for you baby". Kesempatan itu Awan gunakan untuk ******* bibir Mentari yang ternyata bersambut.