Mentari

Mentari
Episode 179



Dua hari sudah berlalu, kini baby twins sudah di bawa pulang ke rumah. Kebahagiaan begitu terasa sekali, sebab rumah Linda kini penuh dengan tangisan bayi. Arka dan Mentari kini memang tinggal di kediaman Arka, dan sebagai seorang istri yang baik Mentari hanya ikut dengan apa yang di katakan oleh suaminya.


Oe.....Oe.....Oe.....


Terdengar suara tangisan baby Sea, Mentari yang tidak berani memegang anaknya merasa bingung harus bagaimana. Hingga ia duduk di sisi ranjang dan ikut menangis.


Hiks....hiks....hiks....


Arka yang mendengar suara tangisan anaknya langsung berlari menuju kamar, ia shock saat melihat Mentari juga ikut menangis.


"Sayang kamu kenapa ikut nangis?" tanya Arka panik.


"Kak, hiks....hiks....hiks..." Mentari mengusap air matanya, karena ia benar-benar bersedih, "Tari enggak tahu harus apa, Sea nangis. Tari harus lakukan apa?" tanya Mentari.


"Aduh," Arka juga menggaruk kepalanya, karena ia juga tidak mengerti masalah mengurus bayi, "Hus....hus....hus," kata Arka sambil berusaha membuat baby Sea diam.


Oe.....oe.....oe.....


"Kakak apasih!" kata Mentari yang malah kesal, "Kok hus....hus....emang Kakak pikir Sea ayam apa?" kesal Mentari.


"Terus gimana yang?" tanya Arka lagi.


"Hiks....hiks.....hiks....." Mentari kembali menangis sambil berteriak-teriak.


Arka menutup telinganya, karena perpaduan antara suara baby Sea dan Mentari sangat merusak gendang telinga.


"Ada apa ini?" Linda yang mendengar suara keributan cepat-cepat menuju kamar Arka, dan ia terkejut melihat Mentari yang menangis juga. Padahal Sea juga menangis.


Mentari melihat pintu, dan ada mertuanya di sana, "Mi, Sea nangis. Tari enggak tahu harus apa?" tanya Mentari dengan mata sembab nya.


"Ya ampun Nak," Linda langsung menggendong Sea, kemudian ia meletakan Sea pada pangkuan Mentari.


"Mi, kok di taruh di sini sih?" tanya Mentari panik. Karena ia tidak pandai menggendong bayi. Sebenarnya bukan Mentari tidak mau, hanya saja ia takut bila nanti Sea terjatuh dari pangkuan nya.


"Kamu peluk," kata Linda.


"Tari enggak berani Mi," Mentari mulai gemetaran, karena ia memang tidak pernah memegang bayi.


"Enggak papa, sambil belajar. Sekarang kamu kasih asi, " kata Linda lagi.


Glek.


Mentari meneguk saliva, selama ini baby twins memang meminum asi. Tapi di masukkan kedalam botol, tapi untuk minum asi langsung seperti yang di katakan oleh Linda belum pernah sama sekali.


"Asi Mi" tanya Mentari yang madih terkejut.


"Iya dong, kan kamu Mommy nya," kata Linda lagi dengan jelas, "Cepat Sea nangis terus, dia harus banget ini," kata Linda lagi.


"Caranya gimana Mi?" tanya Mentari lagi dengan bodohnya.


"Buka kancing piama kamu itu, keluarkan, dan kasih sama Sea," jelas Linda.


Keluarkan?" Mentari terkejut dengan apa yang di katakan oleh Linda.


"Sayang ayo keluarkan teko nya, biar Sea bisa minum," timpal Arka lagi.


"Teko?" tanya Mentari lagi.


"Tari cepat! Kasihan anak kamu!" geram Linda, karena ia tidak tega melihat cucunya terus menangis.


"I....iya Ma," Mentari juga takut saat melihat wajah Linda yang marah, "Kak buka in..." pinta Mentari. Karena ia tidak gerani memegang Sea dengan sebelah tangan saja, berat Sea masih belum sama dengan bayi pada umumnya. Hingga memang harus hati-hati sekali, apa lagi Mentari yang masih terlalu awam dalam mengurus bayi. Ini cukup sulit.


"Keluarin," kata Mentari lagi.


Glek.


Arka meneguk saliva, ini adalah cobaan terberat dalam hidupnya. Jika biasanya ia sangat bersemangat tapi kali ini 8a sangat bersedih, karena hanya bisa membuka namun Sea yang kini pemiliknya.


Karena Arka masih diam, akhirnya Mentari memberanikan diri. Kemudian ia mengeluarkan teko asi nya. Karena tadi Arka menyebutkan itu adalah teko, dan ada airnya, "Mi, Sea enggak mau," kata Mentari.


"Mau, kamu lebih dekat lagi....kasih asi nya," kata Linda.


Dan benar saja setelah banyak nya drama, akhirnya Mentari berhasih memberi asi pada Sea. Sea minum asi dengan lahapnya.


Linda hanya geleng-geleng kepala, pantas saja Mentari dari tadi gerar hati mengeluarkan tegi nya untuk Sea. Ternyata pada teko itu banyak sekali tanda berwarna merah keunguan, sepertinya ada bayi besar lainnya yang lebih ganas dari pada baby twins.


Mentari menunduk, karena ia sebenarnya dari tadi sedang berusaha menutupi tanda itu. Mentari sangat malu sekali, tapi bagaimana lagi, walaupun tidak lebih dari itu. Tapi tetaplah rasanya sangat malu.


"Mulai sekarang kamu harus belajar kasih asi, jangan malah ikut nangis ya," kata Linda memperingati Mentari.


"Hehehe...." Mentari menggaruk kepala mengingat beberapa saat lalu ia begitu bodoh, karena ikut menangis, "Maaf ya Mi, Tari soalnya masih bingung," kata Mentari lagi.


Linda tersenyum, karena merasa lucu pada tingkah Mentari. Lagi pula, Linda mengerti. Seharusnya Mentari saat ini memang belum waktunya menjadi seorang ibu, dan masih menikmati indahnya menjadi seorang mahasiswa. Tapi sebuah pilihan sulit menuntunya untuk memilih jalan lainnya, hingga mau tidak mau ia harus bisa. Walaupun Mentari masih memiliki banyak kekurangan tapi Linda tidak mempermasalahkan nya, sebab apa yang di lakukan Mentari benar-benar membuat mereka bahagia.


"Mami juga dulu begitu,


awal-awal masih bingung. Tapi lama kelamaan Mami bisa deh, akhirnya bocah tengil ini tumbuh," kata Linda menatap Arka.


"Arka udah besar Mi," kesal Arka, "Itu titisan Arka, dua!" kata Arka lagi menunjuk Sea yang masih meminum asi, sedangkan baby Satya tadi di gendong oleh mertuanya Ranti.


"Sekarang kamu besar, dulu mah.... kecil!" kata Linda yang tidak mau kalah.


"Iya...iya ...yang waras ngalah!" seloroh Arka, mengikuti gaya bicara Mentari.


"Anak kurang aja!" geram Linda, kemudian Linda melihat Mentari, "Kenapa?"


"Mi, kok sakit ya?" tanya Mentari.


"Awal-awal memang begitu, sakit mang tapi nanti kamu akan terbiasa," jelas Linda lagi.


"Em, gitu ya Mi," Mentari mengangguk mengerti, ia malah bingung kini tapi tidak berani bertanya kepada Linda.


"Mami keluar dulu ya, Mami pengen masak," kata Linda berpamitan.


"Mi, disini aja. Nanti kalau Sea nangus lagi gimana?" tanya Mentari kembali panik.


"Kamu kasi asi lagi," jawab Linda.


"Tapi Tari enggak ngerti Mi," kata Mentari penuh harap.


"Sea udah tidur lagi, nanti kalau Sea udah kenyang kamu bisa letakan saja di ranjang pelan-pelan. Atau Panggil Mami nanti," kata Linda.


"Beneran ya Mi?" tanya Mentari.


"Iya, tenang aja," Linda mulai keluar dari kamar, karena ia ingin memasak.


"Sayang, kenakan Kakak atau Sea?" tanya Arka.


"Malu tau Kak, pokonya Kakak enggak boleh. Lihat teko nya Sea banyak merah-merah nya, malu banget!" omel Mentari.


"Itu teko bermotif yang, kalau polos kurang cantik," jawab Arka dengan keisengan nya. Karena ia takut bila Mentari malah marah dan benar-benar tidak mengijinkannya.