Mentari

Mentari
Episode 203



Setelah selesai mandi dan sebenarnya bukan hanya sekedar mandi saja, karena ada sedikit pemanasan yang membuat nya lebih bahagia. Kini Radit dan Rembulan sudah berada di ruang keluarga, dan seorang baby sitter tengah menggendong baby Raka.


"Nama kamu siapa?" tanya Rembulan.


"Shilla Nyonya," jawan wanita tersebut.


"Em," Rembulan mengangguk, "Sudah punya pengalaman bekerja?" tanya Rembulan lagi sambil memperhatikan penampilan Shilla, karena Rembulan tidak mau kalau wanita yang merawat baby Raka tampil dengan pakaian mini.


"Sudah Nyonya, saya adalah seorang perawat. Tapi saya tertarik bekerja di sini karena gajinya bisa untuk membeli obat Ibu," jawab Silla.


"Iya," Ulan bangun dari duduknya, dan ia melihat Radit yang sibuk menatap ponselnya, "Abi," Rembulan langsung menarik lengan Radit, dan ia baru melihat wajah wanita yang mengasuh baby Raka.


"Silla?" tanya Radit.


"Iya, aku Shilla," kata Silla tersenyum ramah.


Ulan melepaskan tangan Radit, karena ia sangat kesal, "Kalian saling kenal?" tanya Ulan.


"Iya, dia perawatan di rumah sakit. Pernah jadi asisten ku di rumah sakit," jelas Radit lagi.


Rembulan langsung mengerucutkan bibirnya, karena ia merasa kesal sekali.


"Kamu di pecat!" kata Rembulan.


Silla dan Radit terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Rembulan.


"Nyonya jangan pecat saya, saya bisa di marahi. Atau di pecat dari rumah sakit, saya di sini karena dikirim dari rumah sakit untuk menjaga Raka," jelas Silla dengan perasaan yang was-was.


"Saya enggak mau tahu, kamu di pecat!" setelah mengatakan seperti itu Ulan langsung pergi.


"Tuan Radit, tolong jangan pecat saya. Saya sangat butuh pekerjaan untuk biaya hidup saya dan Ibu," pinta Silla.


Radit menarik nafas dan menyusul Rembulan yang kini sudah terlebih dulu masuk ke dalam kamar, mata Radit melihat Rembulan yang tengah berdiri di balkon sambil menatap ke luar. Dengan perlahan kaki Radit juga mengalah ke balkon, dan ia langsung melingkarkan tangannya pada perut Rembulan. Tidak lupa beberapa kali ia mengecup tengkuk istrinya.


Rembulan langsung melepaskan tangan Radit, kemudian ia berbalik dan menatap Radit dengan kesal.


Tapi Radit hanya tersenyum dan menarik Rembulan agar mendekat lagi padanya, bahkan ia tidak melepaskan Rembulan sedikitpun.


"Lepas!!!" kesal Radit.


Radit tidak perduli, ia tahu istrinya tengah cemburu. Dan Radit suka dengan Rembulan yang mulai terang-terangan menunjukan rasa cemburunya, "Kenapa kalau Abi kenal sama Silla?" tanya Radit dengan suara yang lembut.


"Kenapa Abi belain orang lain??!" tanya Rembulan dengan nada yang tinggi, "Lepas!!!" Rembulan masih berusaha melepaskan tangan Radit.


Radit langsung melepaskan karena Rembulan mulai bergerak dengan kencang, karena takut janin Rembulan bermasalah lebih baik Radit yang mengalah. Namun anehnya Rembulan yang kesal, malah semakin kesal.


"Abi pasti suka kan sama wanita tadi?!" tebak Rembulan.


Radit shock mendengar tuduhan Rembulan, kemudian ia terkekeh, "Hehehe....."


Rembulan malah bingung karena Radit yang menertawakan diri nya, "Tuh kan! Abi sekarang malah senyum-senyum, atau jangan-jangan Abi ada main ya!" tebak Rembulan yang semakin gila dan terdengar aneh.


"Ahahahhaha......." Radit tertawa kencang, karena istrinya kini berubah menjadi wanita posesif. Dan ini adalah hal yang di tunggu-tunggu Radit, karena dengan begitu Rembulan benar-benar takut kehilangan dirinya sama seperti ia yang selalu takut kehilangannya Rembulan sejak dulu.


Rembulan meneguk saliva dan emosinya semakin tidak terkendali, karena reaksi Radit yang biasa saja. Bahkan dimata Rembulan kini Radit tengah berpihak pada wanita tadi.


"Abi belain dia karena Abi suka sama dia, karena Abi mau ambil kesempatan kan!" tebak Rembulan lagi


"Mana tahu, sekarang laki-laki buaya. Enggak ada yang setia!"


"Kok buaya, kamu kok bawa-bawa buaya, padahal buaya enggak salah lho. Buaya juga setia," kata Radit sambil mencolek hidung Rembulan.


"Kalau di air, kalau udah keluar dari air? Baru cari mangsa!" kesal Rembulan.


Radit tersenyum dan menarik sebelah alis matanya, "Kau sedang cemburu?" tanya Radit.


"Enggak!" elak Rembulan.


"O..... baiklah, Abi temui Silla dulu," bohong Radit.


"Abi," dengan cepat Rembulan memeluk lengan Radit, karena ia takut padahal Radit dan Silla tidak memiliki hubungan apa-apa.


"Em?" jawab Radit dengan dingin.


"Abi beneran enggak suka sama cewek tadi?" tanya Rembulan lagi.


Radit diam saja tanpa menjawab, ia ingin melihat seperti apa reaksi Rembulan. Jika masalah cinta rasanya tidak perlu di pertanyakan lagi, bukankah Radit sudah berjuang untuk mendapatkan Rembulan.


"Abi jawab dong?" tanya Rembulan penasaran, "Memangnya Umi udah enggak menarik lagi?!" tanya Rembulan lagi.


Radit masih diam saja, ia berharap akan mendapatkan sedikit hal yang mengejutkan. Dan ia ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh Rembulan.


"Abi kok nggak ngomong sih!" kesal Rembulan, dan Rembulan malah takut dengan diamnya Radit. Karena Radit tidak pernah diam bila ia sedang berbicara.


"Abi harus bilang apa?" tanya Radit balik dengan santainya.


"Ish....." Rembulan mendadak kesal dan cerewet, dengan cepat ia melepaskan dress yang terpasang di tubuhnya nya.


Radit terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Rembulan, tubuh indah dengan perut sedikit membuncit itu membuat Radit merasa gerah.


"Abi pikir Umi ini bisa di gantikan!" kesal Rembulan lagi dan ia langsung duduk di lantai.


Radit terkejut karena Rembulan tenyata malah membuka ikat pinggangnya yang sudah terpasang rapi, dengan cepat Rembulan memainkan pusaka miliknya, "Emmm....." Radit. merasa ini luar biasa dan sangat menyenangkan, tanpaknya kehamilan kedua Rembulan akan lebih banyak menguntungkan dirinya pikir Radit.


Mulut Rembulan dengan asik dan lincahnya menghisap dan memainkan lolypop panjang dengan ukuran cukup besar, warna kecoklatan dan berurat sungguh terasa nikmat. Sesekali Rembulan melihat wajah Radit yang kini juga tengah menatap dirinya.


"Sayang kau cantik sekali," kata Radit.


"Bagus kalau kau sadar!" jawab Rembulan.


Rembulan kembali membuktikan pada Radit, kalau ia jauh lebih baik dari pada wanita manapun termasuk Silla. Dengan lincahnya Rembulan membuka kemeja Radit, dan mendorong Radit ke atas ranjang. Dengan cepat Rembulan naik dan memulai penyatuan, dan bergerak dengan beraturan.


"Uuugkkk!!!!!" Radit merasa ini tidak ada duanya, Rembulan yang lebih aktif membuat nya merasakan sensasi yang berbeda dan luar biasa, "Sayang kau memang tiada duanya....." kata Radit.


"Iya betul!" jawab Rembulan dengan bangga, dan kini tangan Radit berada di pinggang Rembulan yang tengah bergerak membuktikan pada Radit bahwa ia tetap yang terbaik.


"Sayang lebih kencang....."


"Seperti ini?"


"Lagi sayang!" pinta Radit, "Sial, ini nikmat sekali!"