Mentari

Mentari
Episode 132



"Ish.....Abi apa sih," Rembulan mencubit lengan Radit dengan tersenyum dan malu-malu.


Radit perlahan mengerakkan tangannya, dan begitu juga dengan Rembulan yang merasa tangan Radit mulai masuk di jari-jari nya yang masih menggantung.


Radit yang sudah menggenggam tangan Rembulan, kemudian tersenyum, "Yuk," kata Radit lagi.


"Yuk," Rembulan mengangguk malu, tapi mau juga dan keduanya berjalan menuju lift. Hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar yang memang sudah di khususkan untuk keluarga pemilik hotel Wijaya group. Sampai di depan pintu kamar Rembulan dan Radit berhenti sejenak.


"Umi," goda Radit. Sambil tangannya bergerak membuka pintu kamar.


"Mas!!!" terdengar suara seorang wanita yang berdiri di tidak jauh di belakang Radit dan Rembulan.


Radit dan Rembulan mulai perlahan berbalik, Rembulan pernah melihat wanita itu dia Diva. Begitu juga dengan Radit yang sedikit bingung mengapa Diva ada di sana, tapi ia berpikir positif mungkin Diva memang sengaja di undang untuk datang ke pesta Arka dan Mentari pikirnya.


"Diva," kata Radit. Radit kini sudah memakai kemejanya kembali, karena ia tidak ingin tebar pesona lebih banyak pada orang lain.


Kaki Diva perlahan melangkah mendekat pada Radit dan Rembulan, hingga mereka berjarak cukup dekat dengan saling berhadapan.


"Aku permisi," Rembulan merasa ini bukan urusannya, ia tahu Radit adalah suaminya. Tapi Diva juga korban dari Radit dan harus segera di selesaikan, Rembulan mengerti perasaan Diva. Dimana ia harus rela menerima Radit yang membatalkan pertunangan nya sepihak, bahkan dengan langsung mengatakan sudah beristri. Rembulan berbalik dan berniat ingin masuk ke kamar duluan.


"Tunggu!" kata Diva.


Rembulan merasa Diva memanggil dirinya, ia berbalik dan menatap wajah Diva. Namun hal yang tidak di sangka justru terjadi.


Plak.


Tangan Diva melayang di udara dan mendarat di pipi Rembulan, kemudian Diva tersenyum dengan sinis.


Rembulan terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Diva, pipinya terbawa ke kanan dan sebelah tangannya langsung memegangnya. Terlihat ada sedikit lebam pada pipi mulus Rembulan.


"Umi, kamu nggak papakan?" Radit panik, ia langsung mengangkat wajah Rembulan yang tertunduk dan melihat ada lebam di sana. Kemudian Radit melihat Diva dengan kemarahan, "Kenapa kau melakukan itu!" tanya Radit dengan kemarahan nya.


"Karena wanita ini aku di permalukan di hadapan orang di luar sana!" jawab Diva. Diva tidak mau kalah atau bahkan mengalah ia merasa ia benar dan korban di antara mereka. Bahkan ia sampai menunjuk Rembulan dengan tangan kirinya.


"Maaf Diva tapi aku tidak pernah merebut Radit dari siapa pun," kata Rembulan.


Rasanya tamparan Diva cukup membekas di pipi nya dan terasa begitu sakit, tapi Rembulan hanya menerima mungkin saat ini Diva sedang berada dalam puncak kemarahan nya.


"Kau merebutnya dari ku! Aku yang seharusnya menjadi istri Mas Radit! Sebelum kau hadir bahkan dengan status suami istri!" tegas Diva, "Aku malu bukan hanya pada keluarga besar ku, bukan hanya pada teman-teman ku, tapi pada semua orang di luar sana yang sibuk membicarakan aku! Dan kau penyebabnya!" teriak Diva lagi, la sudah Diva menahan amarah. Hingga saat ia mengetahui berita tentang Anggara yang sudah memperkenalkan Rembulan pada publik dengan status istri Radit, sedangkan beberapa waktu yang lalu sudah di langsungkan pertunangan nya dengan Radit. Hingga banyak gosip miring yang beredar tentang dirinya di luar sana, dan Diva tidak terima itu semua.


"Cukup Diva!" Radit tidak ingin Diva terus membentak Rembulan, karena Rembulan tidak bersalah sama sekali dalam hal ini. Bahkan Rembulan tidak pernah berusaha untuk merebutnya dari Diva, yang ada saat itu Rembulan meminta bercerai darinya. Hingga Radit merasa bersedih hingga ia menerima Diva, karena merasa ia dan Rembulan sepertinya tidak berjodoh.


"Kenapa kamu membela dia Mas?" tanya Diva dengan segala kesal si hatinya.


Diva menggelengkan kepalanya, "Tapi Mas sudah mau menikah dengan ku baru Mas bilang begini! Aku malu!"


"Lalu apa mau mu?"


"Nikahi aku!" kata Diva dengan jelas.


Deg.


Air mata Rembulan seketika menetes begitu saja, "Menikah?" tanya Rembulan dengan perasan terluka.


"Iya! Aku mau Mas Radit tetap menikahi aku! Aku bukan sampah yang bisa di campakkan begitu saja!" tegas Diva lagi.


Rembulan menggeleng, tidak ada yang salah bila Radit mau menikah lagi. Bahkan Agama pun tidak melarangnya, hanya saja Rembulan terlalu takut berbagai cinta, "Aku nggak bisa," kata Rembulan dengan air mata yang terus menangis.


"Diva cukup ya? Aku sudah punya istri dan aku tidak akan mungkin lagi menikahi mu!" kata Radit.


"Aku nggak perduli, aku udah terlanjur di permalukan kalian juga harus merasakan malu yang aku rasakan!" tambah Diva lagi.


Rembulan menatap Radit, "Aku minta maaf Diva, mungkin di sini memang aku yang salah sampai akhirnya kesalahpahaman ini terjadi....kalau kalian tetap akan menikah silahkan, tapi aku mundur," kata Rembulan, dengan hati yang terasa sakit. Melepaskan Radit rasanya sangat sulit sekali, jika saat ini takut kehilangan Radit maka itu benar. Namun bila ia hanya masalah saja ia yang akan menyerah, Rembulan sungguh tidak menyangka jika kesalahan semalam itu masih saja menjadi penyebab retaknya hubungan orang lain. Bahkan di saat ia pikir akan segera hidup bahagia.


"Kamu bicara apa?" Radit dengan cepat membawa Rembulan masuk kedalam kamar, ia tidak ingin Rembulan semakin merasa tertekan. Karena ia memang tahu sejak dulu Rembulan selalu memiliki hati yang baik, yang tidak mau orang sakit hati karena dirinya.


"Mas.....Mas Radit!!!!" teriak Diva yang masih di depan kamar, bahkan pintu kamar sudah tertutup rapat, "Ini penghinaan, untuk kedua kalinya kalian menghina aku!" gumam Diva dengan penuh amarah.


Sedangkan Rembulan kini duduk di sisi ranjang, ia hanya diam saja. Perasaan nya kini sangat tidak karuan sekali, mungkin karena hormon kehamilan juga hingga ia mudah tersinggung.


"Umi," Radit mendekat pada Rembulan dan ia melihat sebelah pipi Rembulan yang lebam, Radit mengambil ponselnya ia menghubungi seseorang untuk mengantarkan kotak p3k dan segera mengobati luka Rembulan.


"Aku nggak papa kalau kamu mau nikah sama Diva," kata Rembulan yang langsung saja keluar dari bibirnya.


"Umi bicara apa? Semua bis di bicarakan baik-baik," jawab Radit.


"Hiks .....hiks.....hiks....." Rembulan menangis, ia pun tidak bisa membayangkan bila hidup tanpa Radit.


"Umi," Radit menghapus air mata Rembulan, "Ya udah nangis aja, jangan di tahan," Radit membawa kepala Rembulan agar bersandar pada pundaknya. Ia sangat merasa bersalah karena sudah membuat Rembulan menangis.


*


Jangan lupa like dan Vote nya kawan.