Mentari

Mentari
rencana kejutan



Hari ini Mentari berniat pergi ke kampus,dimana namanya sudah terdaftar disana sebagai calon mahasiswa tahun ajaran baru nanti. Ia ingin melihat-lihat kondisi kampusnya seperti apa. Kampus impian yang dia dapatkan dengan mudah. Mentari benar-benar masuk melalui jalur khusus dari Rayan. Padahal tadinya tak terpikirkan oleh Mentari bisa berkuliah disana.


Ia sudah janjian dengan Meli, kelas XII sudah bebas dari pelajaran sekolah. Mereka hanya tinggal menunggu hari kelulusan tiba. Jadi mereka bebas juga mau datang ke sekolah ataupun tidak.


"Wah gede juga ya calon kampus kita", Meli berkomentar ." Lo mah enak Tar, udah terdaftar disini dengan mudahnya".


Kami sudah masuk halaman kampus pilihan kami. Rencananya Meli juga akan masuk kampus ini.


"Lo kan juga bisa ikut jalur khusus"


"Lewat apa? pesawat?", Meli nyolot. "Udah tahu otak gue pas-pasan kayak lo,lo nyindir gue?"


"Ya elah sensitif amat sih neng, kan lo bisa lewat jalur yang lain. Bokap lo kan kaya", Mentari melengos, meninggalkan Meli. Dia tidak mau kena damprat sahabatnya itu karena secara tidak langsung menyuruhnya masuk kampus dengan menggunakan uang. Papa Meli sangat menyarankan anaknya masuk melalui jalur seleksi biasa. Beliau termasuk bebisnis yang mengutamakan kejujuran. Tidak tahu saja Mentari kalau dirinya juga masuk dengan jalur 'uang'. Tepatnya uang dari Rayan.


" Sialan! kayak sendirinya nggak bego aja lo Tar!", Meli mengumpat sambil mengejar Mentari.


Mentari memelankan langkah saat melewati koridor kampus yang cukup ramai. Mungkin karena calon mahasiswa baru yang sedang melihat-lihat seperti dirinya. Atau mahasiswa senior yang sedang ada keperluan di kampus,pasalnya sekarang juga musim liburan para mahasiswa.


"Eh Tar,itu bukannya Angga?",Meli menunjuk seorang cowok yang sedang berinteraksi dengan gadis cantik.


"Oh iya, ngapain dia disini?",Mentari ikut penasaran.


"Hemmm, gue tahu tuh anak ngapain", bibir Meli mencebik. Dia mulai tahu maksud kedatangan Angga di kampus.


"Emangnya dia mau kuliah disini juga ya? Bukannya dia mau kuliah ikut kakaknya ke London", Mentari dengan polosnya bertanya.


"Bukan buat kuliah lah...",Meli sewot.


"Oh mungkin saudaranya kuliah disini"


"Bukan juga Tari....", Meli jengkel dengan Mentari."Lo nggak lihat gimana cara Angga memperlakukan tuh cewek?"


Mentari mengamati Angga yang sedang menyelipkan rambut si gadis ke belakang telingnya. "Jangan bilang Angga mau modusin tuh cewek?",Mentari baru menyadari sesuatu.


"Lo tuh udah pernah pacaran sama dia,tapi kayak nggak tahu gimana sifat Angga aja sih?", Meli memutar bola matanya.


"Ye... sama gue dia nggak kayak gitu. Dia nggak modus sama gue", Mentari masih membela Angga.


"Lo aja yang nggak sadar", bibir Meli terus mencebik.


"Eh Mel,bukannya Angga lagi jalan sama Della anak kelas XI?", Mentari penasaran.


"Emang. Kan emang begitu si Angga sekarang. Balik lagi kayak dulu,suka mainin cewek. Lo nggak sadar apa bahkan dia udah minta ijin sama lo buat jadi playboy lagi?"


"Iya sih...", Mentari nyengir. "Cuma gue mah cuek aja dia mau ngapain. Yang penting gue udah ingetin dia"


"Iya...iya....Di otak lo ini cuma ada Om Awan yang ganteng", Meli mencibir Mentari.


"Samperin yuk!", ajak Meli tiba-tiba menarik tangan Mentari menuju Angga.


"Angga",Meli memanggil.


Angga menoleh,terkejut mendapati Mentari dan Meli disana. Angga langsung mati gaya karena Mentari.


"Ngapain lo?", Meli bertanya sambil melirik gadis di sebelah Angga.


"Gue...gue lagi jemput temen. Iya... temen.",Angga nampak gugup.


"Hai,kenalin gue Meli temen sekolah Angga",Meli mengulurkan tangan pada si gadis.


"Sherly", katanya sambil membalas uluran tangan Meli.


"Udah lama kenal sama Angga?",Meli sengaja bertanya. Dan Sherly nampak mulai tak nyaman dengan kelakuan Meli yang sok akrab. Ia terganggu dengan sikap Meli yang seperti meledeknya.


"Lumayan",jawabnya singkat. Senyumnya tampak dipaksa.


Mentari menyenggol Meli. "Udah,jangan bikin orang nggak nyaman deh Mel",bisik Mentari.


"Biarin, sengaja gue",Meli juga berbisik sambil cekikikan.


"Emmm,Ngga. Gue sama Meli pergi dulu ya. Masih ada urusan",Mentari langsung menyeret Meli menjauhi Angga. Dia merasa tak enak dengan Angga. Menurutnya Angga juga punya privasinya sendiri.


"Eh Tar, Gue masih mau ngobrol sama mereka", Meli memberontak,namun tetap kalah dengan tenaga Mentari.


"Besok aja ngobrolnya. Lo janjian disekolah sama dia"


Sementara Angga sendiri jadi salah tingkah kepergok PDKT sama cewek oleh Mentari. Padahal Mentari biasa-biasa saja. Entahlah,hanya Mentari cewek yang dianggap Angga berbeda saat ini.


***


"Ndra, tolong bikinin janji supaya gue bisa ketemuan sama Mentari"


"Tumben boss minta tolong",cibir Indra.


"Lo mau apa enggak?",tegas Awan.


"Iya iya...memang Boss lah yang maha benar",celoteh Indra.


Awan memutar bola matanya. Malas menanggapi Indra.


"Tapi lo pastiin kalau Mentari nggak tahu. Gue takut dia malah nggak mau kalau dia tahu gue yang ngajakin ketemuan"


"Gimana kalau kita bikin surprise party aja buat Mentari. Dia kan bentar lagi ulang tahun"


Awan menegakkan tubuhnya yang semula bersandar di singgasananya."Mentari ulang tahun?",Awan cukup terkejut dengan berita itu.


"Katanya cinta,tapi hari ulang tahun Mentari aja nggak tahu",Indra mencibir bossnya."Jangan bilang lo juga nggak tahu Mentari ultah yang keberapa?",selidik Awan.


"Tahulah...",Angga kembali menyandarkan punggungnya."Lo bikin private party yang romantis buat gue sama Mentari. Gue nggak mau tahu gimana caranya,yang penting semua beres"


"Siap!!",Indra mengangkat telapak tangannya tanda hormat kepada Awan."Tapi lo harus kasih bonus liburan ke gue sama bini gue kalau rencana ini berhasil. Waktu gue sama keluarga gue udah tersita banyak gara-gara ngurusin kisah percintaan lo boss"


"Oke", Awan menyanggupi permintaan Indra. Dia juga merasa bersalah dengan sahabatnya itu.


"By the way,kapan sih ultah Mentari?",Awan bertanya dengan senyum kikuk. Malu juga ketahuan Indra bahwa Awan buta informasi tentang Mentari.


Indra memutar bola matanya. "Gitu aja bilangnya cinta",Indra terus mencibir.


"Tinggal bilang aja apa susahnya sih? Nggak perlu ngledek gue segala kali",Awan tak terima.


"Ya lo sih,bilangnya cinta,katanya pacar,tapi doi ultah aja lo nggak tahu"


"Nggak usah ceramah,lo tinggal bilang kapan",ketus Awan.


"Nanti gue lihat lagi datanya ya.Gue juga lupa",Indra nyengir. Tadi aja udah koar-koar mencibir Awan, tak tahunya dia juga lupa. "Tapi yang jelas dalam bulan-bulan ini". Setidaknya masih ada yang dia tahu daripada Awan.


"Hmmm,oke. Gue cari sendiri"


"Mau cari diaman lo? semua urusan lo aja gue yang pegang,termasuk soal Mentari. Cuma urusan bercinta aja yang nggak lewat gue". Indra benar-benar anak buah kurang ajar. Sebegitu beraninya meledek Awan.


"Terserah lo! Gue mau yang penting beres", Ucap Awan pada akhirnya,dia malas meladeni Indra berdebat terus. Mungkin karena akhir-akhir ini tugas dari Awan sangat banyak,jadi Indra sedikit cepat terpancing kesal oleh Awan. Awan juga tahu hal itu,dia cukup peka dengan asisten sekaligus sahabatnya itu. Sebelum Indra meminta,Awan sudah berencana memberikan bonus kepada Indra setelah masalahnya dengan Mentari selesai. Mungkin mereka bisa berlibur bersama,double date Sepertinya asyik.