Mentari

Mentari
Tantangan Rayan



Mentari menekuk wajah, bibirnya manyun, tangannya bersedekap dan matanya menatap tajam pada Awan yang sedang sibuk dengan setumpuk berkas di atas meja kerjanya. Dia kesal setengah mati pada Awan, pasalnya sudah hampir dua jam dia hanya diam dan bermalas-malasan di sofa ruang kerja Awan. Sejak masuk kantor, pria itu terus merengek kepada Mentari untuk mengunjunginya di kantor. Katanya, pria kangen dan ingin bertemu tapi terbentur pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.


"Sebenarnya aku kesini ngapain sih om?"


Awan mendongak sebentar lalu melakukan pekerjaannya lagi. " kan udah aku bilang nemenin aku"


"Tapi aku bosen Om"


"Kamu kan bisa main gadget, terus makan makanan yang ada di depan kamu". Pasalnya ada banyak makanan di meja depan Mentari. Mulai dari junkfood sampai makanan kekinian yang Awan tak tahu namanya. "Kalau pengen yang lain, kamu bisa tinggal bilang sama Via"


"Enggak!", Mentari menjawab cepat. Via, sekretaris Awan yang cantik dan seksi. Tapi suka melotot kepada Mentari. Dia sering berusaha menggoda Awan tapi tak pernah ditanggapi Awan. Meskipun tidak terlalu terobsesi tapi Via merasa kalah dari anak ingusan macam Mentari.


" Kenapa?", tanya Awan sambil mendekat ke arah Mentari.


"Nggak apa-apa", Mentari tersenyum kikuk. "Om udah selesai?", Mentari berbinar melihat Awan menghampirinya.


"Belum, masih banyak berkas yang belum selesai", dia duduk di samping Mentari, langsung merebahkan kepalanya di paha Mentari. "Nanti dulu, nungguin Indra dulu, aku mau melepas kangen sama kamu dulu", Awan meraih tengkuk Mentari dan mengecup bibirnya sekilas.


Rupanya Awan tak puas, ia lantas bangkit dan langsung menyergap bibir Mentari. Jelas saja Mentari membalas dengan sama bergairahnya. Tangan Awan yang tak bisa diam terus memberi sentuhan memabukkan bagi Mentari.


drrrttt... drrrttt.


Ponsel Mentari bergetar mengganggu aktivitas bergelora itu. Mereka sontak menghentikan kegiatannya dan mengalihkan pandangan pada ponsel Mentari. Tertera id caller Rayan dalam layar itu.


Mentari melihat Awan, melihat wajah tak bersahabat itu. Mentari jadi ciut nyalinya. Ia ingat kalau Awan secara tak langsung mengutarakan rasa tak sukanya pada Rayan.


"Angkat!",perintah Awan galak.


Mau tak mau dengan takut-takut Mentari mengangkat panggilan itu.


"Halo"


"Halo Mentari. Apa kamu sibuk?"


"Nggak Om, ada apa ya?"


"Nggak apa-apa cuma pengen denger suara kamu aja", Mentari melirik Awan takut-takut. Dan benar saja ekspresinya sudah seperti mau makan orang.


"Oh...", Mentari tertawa Sumbang.


" Selamat atas kelulusan kamu Mentari"


"Om Rayan tahu?", Mentari sedikit terkejut. Untuk apa seorang direktur mengurusi anak sekolah yang lulus?


"Apa sih yang tidak ku ketahui dari kamu"


Mentari menggaruk kepalanya. Semakin salah tingkah di depan Awan akibat perkataan Rayan.


"Aku bahkan tahu kesibukan apa yang sedang kamu lakukan sampai kamu tak pernah mengangkat teleponku"


"Maksud om?"


"Kamu sedang sibuk dengan Awan kan kekasih kamu itu? Terkadang kamu hang out bareng adik Awan. Siapa namanya? Cloudya ya? Hahahaha. Kamu juga sering jalan dengan teman kamu yang bernama Meli. Apa aku benar Mentari?"


Mentari bergidik mendengar ucapan Rayan. Sedangkan Awan sudah mengepalkan tangannya. Rahangnya juga mengetat menahan amarah. Dia merebut ponsel dari tangan Mentari.


"Anda jangan kurang ajar menguntit Mentari seenaknya", Awan berkata dengan nada rendah tapi menekan. Geram,itu yang ia rasakan.


" Apa anda takut pak Awan?", Terdengar tawa menggelegar dari seberang telepon.


"Urusan saya bukan dengan anda pak Awan, tapi dengan Mentari. Apa anda lupa siapa yang akan membiayai kuliah Mentari?"


"Anda bisa membatalkannya. Saya masih sanggup membiayainya"


"Sayang sekali, Mentari dan saya sudah menandatanganinya"


"Anda bisa membatalkan perjanjian yang anda buat sendiri"


"Kalau saya nggak mau, anda mau apa?". Sekali lagi tangan Awan mengepal erat. Rayan sedang menantangnya secara terang-terangan untuk mendapatkan Mentari. Dia mematikan begitu saja panggilan itu dan melempar asal ponsel Mentari sampai membentur sudut sofa.


"Yah... ponselku Om", Mentari memelas, mengambil ponselnya. Tapi sudah retak dan tak bisa dioperasikan lagi. "Rusak deh....", sesalnya.


"Nanti aku belikan lagi", jawab Awan enteng.


"Yang keluaran terbaru ya Om", Mentari malah kegirangan. Ia belum tahu kekalutan Awan.


"Hemmm". Awan bangkit menuju meja kerjanya, memanggil Indra melalui saluran interkomnya. "Ke ruangan gue sekarang Ndra!"


Tak lebih dari dua menit, Indra sudah muncul dari balik pintu.


"Kenapa boss?"


"Hubungi James. Suruh anak buahnya menjaga Cloudya dan Mentari"


"Maksudnya?", Indra jelas bingung. Dan Mentaripun sama tidak mengertinya.


"Rayan sudah menantangku. Dia ingin Mentari". Indra dan Mentari terkejut. setahu Mentari Rayan memang memberi sinyal ketertarikan terhadapnya. Tapi ia tak tahu jika masalahnya akan sebesar itu sampai Awan memberinya pengawasan.


"Selidiki apa motifnya. Berhubungan dengan perusahaan atau hanya sebatas obsesi kepada Mentari", imbuhnya lagi.


" Lalu, apa hubungannya dengan Cloudya?"


" Untuk jaga-jaga saja, tadi dia menyebut nama Cloudya"


Indra mengangguk mengerti. Ia keluar ruangan dan melakukan tugasnya. Ia berpikir sesaat, apa sih yang menarik dari seorang Mentari yang masih rata? Pikiran mesumnya jelas tak sampai kalau bicara ketulusan. Pasalnya, Istri Indra itu seksi, dan itu yang membuat Indra bucin.


"Apa segawat itu sampai om menyuruh orang menjagaku?"


Awan menghampiri Mentari. "Apa yang sudah kamu lakukan pada Rayan?", bukannya menjawab pertanyaan Mentari, Awan malah balik bertanya.


"Nggak ada" ,Mentari mengingat-ingat. Seingatnya dia tak pernah membuat kesalahan pada Rayan.


Awan menghela napas. "Aku nggak tahu apa motif Rayan. Tapi kamu harus hati-hati kepadanya. Dulu, dia pernah depresi berat sampai harus di rawat di rumah sakit jiwa", jelas Awan. Dia tentu tahu kabar sesama koleganya.


Mentari terkejut. "Apa orang yang pernah gangguan jiwa bisa jadi direktur?"


"Itu kan perusahaan milik orang tuanya. Dia pewaris laki-laki satu-satunya. Jadi, begitu dinyatakan sembuh, dia langsung terjun ke perusahaan. Kemampuannya dalam berbisnis tidak diragukan lagi, dan selama ini dia juga masih normal-normal saja"


Mentari jadi takut sekarang. Dia berpikir tak mau bertemu Rayan lagi jika hanya berdua.


Awan melihat kegelisahan di wajah Mentari."Sudah, jangan dipikirin. Itu biar aku yang urus. Sekarang kamu urus saja aku", kata Awan yang mulai mendekatkan wajahnya lagi.


"Tunggu!', Mentari mendorong wajah Awan. "Jadi kan beli ponsel baru?", dia malah kepikiran ponsel.


"Iya, tapi ada imbalannya", sahut Awan yang lantas mencium bibir Mentari, **********, menghisap dan sesekali menggigit gemas. Awan mengangkat Mentari ke pangkuannya. agar lebih mudah ia eksplorasi tubuh Mentari.