Mentari

Mentari
Episode 165



Kini Mentari sudah di bawa pulang, walaupun Mentari cukup berat hati karena pulang tanpa kedua anak-anaknya. Tapi Arka terus meyakinkan nya jika anak-anak mereka akan baik-baik saja.


Di sinilah keduanya berada, di rumah kedua orang tua Arka. Mentari tidak menolak ataupun membatah. Bagaimana pun Arka adalah suaminya, dan kemana Arka membawanya maka ia ikut saja. Lagi pula rumah kedua orang tuanya pun sangat dekat. Hingga ia bisa pulang kapan saja ia mau.


"Sayang Kakak punya hadiah buat kamu," ujar Arka.


Arka dan Mentari kini berada di kamar, karena Arka ingin Mentari beristirahat. Agar keadaan istrinya segera pulih kembali, karena ada rasa tidak tega melihat Mentari yang sekarang.


"Hadiah?" Mata Mentari berbinar mendengar kata hadiah yang dikatakan oleh Arka, "Apa?" Mentari terlihat antusias akan hadiah yang dikatakan oleh Arka. Tidak perduli itu barang mahal atau tidak, yang jelas mendengar kata hadiah saja Mentari sudah sangat terharu.


Arka berjongkok, ia mengeluarkan sebuah benda kotak berukuran cukup panjang. Dan Mentari tahu itu pasti sebuah kalung, kemudian Arka membukanya dan benar sekali isinya adalah kalung.


"Cantiknya," Mentari terharu, tangannya bergerak dan mengambil kalung tersebut. Tapi lama Mentari menatapnya, ternyata itu sebuah liontin. Rasa penasaran semakin terasa, dan tangannya bergerak, pada liontin berbentuk love itu. Perlahan Mentari membukanya, bibir Mentari tertarik pada masing-masing sudutnya. Karena melihat ada fhoto dirinya yang tengah memeluk Arka di sana, "Kak ini buat Tari?" tanya Mentari yang masih belum percaya.


"Bukan," jawab Arka dengan asal.


Mentari mengerucutkan bibirnya dan langsung menatap Arka dengan tajam, "Terus buat siapa dong?!" kesal Mentari.


"Buat Mommy Satya, dan Sea," kata Arka lagi.


"Tari dong?" tanya Mentari dengan bodohnya.


"Iya iya lah. Buat siapa lagi coba? Kan ada fhoto kamu di situ!" kesal Arka. Niat hati ingin menciptakan suasana romantis, malah hancur seketika karena Mentari yang tidak bisa sedikitpun romantis. Tapi Arka tetap bahagia, karena Mentari wanita dengan segala kekurangannya. Tanpa ada rasa ingin berubah menjadi orang lain, lagi pula cinta membuat juta akan segala nya hingga Arka menerima Mentari tanpa syarat.


"Kakak ish...." kesal Mentari, "Kalau enggak ikhlas enggak usah di kasi!" geram Mentari.


"Sini balikin!"


"Enak aja!" Mentari memegang nya dengan erat, "Udah di kasih mau di balikin?" tanya Mentari kesal, "Mubazir!"


"Yaudah sini....!" Arka berusaha mengambilnya tapi Mentari pun tidak mau kalah, ia juga berusaha terus untuk menyimpan nya.


"Ish.....Kakak apasih, enggak ada romantis nya......enggak bisa apa romantis dikit!" geram Mentari.


"Kakak, mau masangin kalung nya di leher kamu!" jelas Arka.


"O.....hehehe....." Mentari mengangguk mengerti dan menunjukan dua baris gigi rapinya.


Arka mengambil kalung yang di berikan oleh Mentari padanya, "Cengengesan lagi!" kata Arka.


"Ya maaf, kirain kalung nya mau di ambil lagi," jelas Mentari.


"Kamu tu yang enggak bisa romantis!" kata Arka, kemudian ia mulai memasang kalung nya pada leher Mentari.


"Kakak!" Mentari kesal Karena Arka malah menarik kuat kalung nya pada leher Mentari, hingga Mentari merasa seperti tercekik.


"Ahahahhaha....." Arka tertawa melihat wajah kesal Mentari, kemudian ia memakaikan kalinya dengan benar. Niat hati ingin yang romantis-romantisan, tapi rusak karena ia yang tidak pandai dalam melakukan keromantisan. Sedangkan Mentari pun terlalu awam dengan hal yang romantis.


"Ketawa lagi," kata Mentari sambil tersenyum, "Kalung nya bagus Kak," Mentari memegang liontin nya dan ia sangat bahagia.


"Iya dong, kan siapa dulu yang pilihin," Arka membanggakan diri.


"Tapi lebih bagus lagi kalau Kakak ngasih satu set perhiasan, Tari suka tuh....gelang, cincin, anting, kalung," jelas Mentari dengan konyolnya.


"Dasar kamu ya serakah!"


Peltak.


Arka mengetuk dahi Mentari, karena istrinya itu memang tidak pandai hal yang berbau romantis.


"Hehehehe.....kan Tari cuman menyampaikan apa yang ada di hati Tari," kata Mentari mencari pembenaran.


"Susah ya, punya bini anak bau kencur," gumam Arka.


"Kakak ngomong apa?" tanya Mentari yang samar-samar mendengar gumaman Arka.


"Aku cinta kamu!" geram Arka.


"Aku enggak!" kata Mentari.


Arka langsung berdiri dan menatap Mentari dengan kesal.


"Aku enggak cinta kamu! Tapi lebih mencintai kamu!" jelas Mentari.


Tok tok tok.


"Masuk!" titah Arka.


Tidak lama kemudian gagang pintu bergerak, dua Art masuk dengan membawa makan siang untuk Mentari dan Arka.


"Kok makannya di bawa kesini?" tanya Mentari. Karena ini tidak biasanya, lagi pula makan itu biasanya di meja makan pikir Mentari.


"Kata Nyonya besar, sampai keadaan Nyonya Mentari pulih. Nyonya makannya di kamar saja," jawab Art tersebut.


"O," Mentari mengangguk, "Enak banget ternyata melahirkan, di kasih hadiah. Makam di suapin, terus apa-apa di layanin," gumam Mentari.


"Kami permisi Nyonya," Art tersebut keluar dan hanya Mentari dan Arka.


"Kak suapin," pinta Mentari.


"Enggak semangat, Kakak nyiapin kamu!" jawab Arka.


"Kenapa?" tanya Mentari bingung.


"Enggak bisa yang 21+ nya!" kata Arka.


Plak.


Mentari memukul Arka dengan kesal, "Dasar otak tercemar! Suapin Tari!" titah Mentari. Karena ia memang ingin di suapin Arka, hanya saja Mentari tidak pandai dalam memberikan kode atau pun sebagai nya.


"Siap ratu....."Arka mengangkat Mentari untuk duduk di sofa, dan ia mengambil makanan untuk Mentari, "Makan ratu ku," Arka mulai menyuapi Mentari. Dan Mentari pun makan dengan lahap, "Enak?" tanya Arka.


"Enak dong," Mentari mengacumkan jempolnya.


"Siapa dulu yang nyuapin!' celetuk Arka dengan bangga.


"Ahahahhaha....." Mentari malah tertawa dengan terbahak-bahak, karena jawaban konyol Arka, "Makan enak itu karena yang masak pintar, apa hubungannya sama yang nyuapin!" kata Mentari yang terus terkekeh, karena Arka sangat lucu.


"Ya ada dong, karena yang nyiapin juga membawa dampak yang baik.....dan bisa membuat makanan menjadi enak!" jawab Arka dengan bangganya.


"Iya.....iya.....iya," jawab Mentari masih dengan tawanya, "Iya, yang waras ngalah!"


Arka langsung menatap Mentari dengan tajam, "Maksud kamu Kakak gila?" geram Arka.


"Emang Tari bilang Kakak gila?" tanya Mentari baik.


"Enggak sih," jawab Arka dengan bodohnya.


"Ahahahhaha....." Mentari semakin tertawa lebar, karena jarang sekali Arka bisa kelihatan bodoh begini. Dan itu terjadi hanya bila bersama dengan Mentari, CEO dengan sedingin es balok itu bisa berubah menjadi kucing yang menggemaskan bila sudah bertemu dengan Mentari.


"Sayang kamu kok ketawa sih?" tanya Arka bingung.


"Enggak papa," Mentari mengibaskan tangannya.


"Sayang kamu masih mikir Kakak gila!"


"Ahahahhaha....." Mentari kembali tertawa, "Tari enggak ngomong itu kan? Kaka sendiri yang merasa."


Arka diam dan menggaruk kepalanya, "Iya juga ya," kata Arka.


"Nah kan?" kata Mentari yang semakin tertawa terbahak-bahak.


"Tergila-gila sama kamu!" kata Arka dengan jelas.


"Uhuk....uhuk....uhuk...." Mentari langsung terbatuk-batuk, dan menghentikan tawanya.


"Kualat! Rasain!" kata Arka.


"Minum," pinta Mentari.


Dan Arka langsung memberikannya dengan senang hati.


"Ahahahhaha......" keduanya tertawa bahagia, Karena dengan kekonyolan mereka sendiri.