Mentari

Mentari
Episode 168



"Kita tidak ada urusan! Kenapa kau malah membawa ku begini!" tanya Rembulan.


Diva tersenyum miring, saat ini Rembulan tengah berdiri di hadapannya. Diva hanya menahan amarah yang selama ini ia tahan, di tengah hutan dengan penerangan yang minim dan juga gubuk sempit. Dengan harapan bisa membuat Rembulan jera dan takut padanya.


"Aku ini tidak ada urusan dengan mu!" geram Rembulan lagi.


"Kau memang tidak memiliki urusan dengan aku! Tapi kau tahu Rembulan. Kau penyebab aku di permalukan, di hadapan orang banyak!" jawab Diva yang tidak mau kalah.


"Aku tidak pernah mempermalukan mu, aku bahkan tidak pernah meminta Radit untuk bertahan bersama ku. Bukankah pernah beberapa kali aku meminta kalian berbicara berdua saja, aku pun tidak pernah meminta Radit untuk tetap bersama ku saat itu," tegas Rembulan.


Karena pada saat ia bertemu dengan Radit, Rembulan jatuh pingsan lalu pendarahan. Dan Radit yang membawanya ke rumah sakit, sampai akhirnya Rembulan mengatakan ia tengah hamil anak Radit. Tapi tidak pernah Rembulan meminta Radit untuk bertanggungjawab, karena saat itu Radit sudah bertunangan dengan Diva. Dan sebagai seorang wanita Rembulan mengerti akan perasaan wanita lainnya, hingga ia tetap menyiapkan hati walau pun sakit. Jika nanti Radit tidak bisa bertanggung jawab atas anaknya.


"Tapi tetaplah sama saja, kau datang dan menghancurkan semuanya. Aku di sisihkan sekarang di dalam keluarga ku sendiri!" kesal Diva.


Semenjak pertunangan nya dan Radit resmi dibatalkan, Diva memang memiliki jarak dalam keluarga besarnya. Hingga Diva di sisihkan dan di anggap remeh, karena merasa keluarga besar Radit sudah mempermainkan keluarga besar mereka.


"Aku tidak tahu dengan itu semua, dan aku tidak ada sangkut pautnya. Lagi pula aku dan Radit itu suami istri, apakah aku pantas di sebut perusak hubungan kalian? Aku dan Radit sudah lebih dulu menikah jauh sebelum kalian bertunangan!" jelas Rembulan agar Diva mengerti, lagi pula mungkin Diva memiliki rasa penasaran ataupun pertanyaan yang tidak bisa ia jawab sendiri.


"Tapi pernikahan kalian tidak sah!" ujar Diva karena ia masih ingin menang di saat kata-kata Rembulan yang mulai menyudutkan dirinya.


"Kata siapa tidak sah?" tanya Rembulan lagi.


"Mana ada orang sedang hamil boleh menikah!" jawab Diva menatap remeh Rembulan, "Atau jangan-jangan kau menikah dengan Radit karena awalnya kau yang menjebak Radit, setelah kau hamil kau datang minta pertanggungjawaban!" Diva menatap perut buncit Rembulan, karena ia yakin jika apa yang ia katakan itu memang benar.


"Alasan kenapa kami menikah itu hanya kami berdua yang tahu, dan cukup kami saja!" jawab Rembulan. Bagi Rembulan apapun yang di lakukan Radit saat itu demi bisa menikahi nya, adalah suatu hal yang tidak perlu di umbar. Karena Radit adalah suaminya, dan Rembulan tidak akan tega mengumbar kejahatan Radit saat menjebaknya, "Dan satu lagi, aku saat itu tidak hamil. Ingat itu baik-baik, saat kami menikah aku tidak sedang hamil!" tegas Rembulan. Sebab sebelum menikah ia memang mendatangi dokter, dan dokter mengatakan ia memang tidak hamil. Alasan nya mau menikah dengan Radit hanya demi mendapatkan maaf dari Arka, hingga ternyata setelah ia menikah dengan Radit fakta lain terjadi ia hamil anak dari Radit. Jadi Rembulan tidak akan terima jika Diva menganggap remeh janinnya.


"Aku sekarang mau, kau meminta Radit menikahi ku. Hingga semua orang tidak lagi menyudutkan aku, kau dan Radit masih bisa bersama aku tidak akan menganggu kalian. Karena yang aku butuhkan hanyalah nama ku itu tidak rusak di hadapan orang!" jelas Diva mengatakan apa yang ia rasakan.


"Kau gila sekali Diva, kalau kau butuh Radit tetap menikah dengan mu seharusnya kau menemui dia. Bicara dengan nya! Kenapa kau malah melakukan ini pada ku!" geram Rembulan.


"Sudah aku katakan Diva, kalau kau butuh tanggungjawab temui dia!" kata Rembulan.


"Kau saja yang minta di ceraikan! Lagi pula itu anak haram. Tidak usah bangga!" kata Diva lagi.


"Aku tegaskan Diva, anak ku bukan anak haram! Aku dan Radit menikah tidak di saat aku sedang hamil. Aku hamil setelah kami menikah!" tegas Rembulan dengan jelas.


"Aku tidak butuh penjelasan mu!" Diva langsung memegang lengan Rembulan dengan keras, "Aku ingin kau meninggalkan Radit, agar aku bisa menikah dengan nya! Aku malu, aku malu saat ini orang-orang di luar sana meremehkan aku!" geram Diva.


Rembulan merasa kakinya bergetar, ia duduk di tanah dan merasa perutnya sakit sekali.


"Sssssttt......." Rembulan memegang perutnya dan ia merasa sakit sekali, "Diva tolong aku...." lirih Rembulan.


"Biarkan saja, biarkan kau menderita! Lagi pula kalau kau tiada aku tidak akan merasakan malu lagi," Diva mencengkram erat dagu Rembulan.


Keringat dingin mulai meluncur dari tubuh Rembulan, bahkan ia merasa semakin sakit saja. Mungkin karena terlalu lelah karena Diva membawanya ketengah hutan, di tambah lagi jalannya sangat rusak hingga membuat Rembulan sering kali terhuyung dan itu sangat tidak baik bagi kandungan nya. Bahkan sampai sore hari ini juga ia belum makan ataupun minum.


Diva tersenyum, melihat sakit yang di rasakan Rembulan. Karena menurut Diva itu tidak seberapa bila di bandingkan dengan sakit hatinya, "Bagaimana? Sakit! Biar kau tahu sakit yang aku rasakan selama ini!" Diva tersenyum, karena tanpa di sakitipun Rembulan sudah menderita, "Ternyata aku tidak perlu susah ya, kau sudah menderita sendiri!"


"Diva tolong aku, aku tidak kuat lagi," Rembulan semakin merasa kesakitan. Bahkan ada cairan berwarna putih yang keluar dari sela tubuhnya, "Diva aku mohon," pinta Rembulan.


"Ahahahhaha.....bye Rembulan!!!" Diva melambaikan tangannya pada Rembulan dan ia pergi, "Tinggalkan saja dia di sini. Ambil ponselnya, dan buka pintu ini. Biarkan hewan buas yang masuk menjadi temannya!" kata Diva pada para anak buahnya.


"Diva aku mohon tolong aku," pinta Rembulan, "Aku mohon Diva," pinta Rembulan sambil menangis, "Sssssttt.....auuuu....." Rembulan semakin berkeringat dingin, menahan rasa sakit yang semakin terasa.


"Aku tidak iba, selamat menderita di sini ya," Diva tersenyum lalu pergi dengan anak buahnya meninggalkan Rembulan di tangah hutan itu.


"Diva.....tolong aku!!!!" teriak Rembulan, karena Diva sudah pergi dari sana, "Sssssttt....sakit sekali.....hiks......hiks.....hiks...." Rembulan menangis karena kesakitan, ia mencoba bangun dan berjalan dengan merangkak mengharapkan ada orang yang bisa membantunya. Tapi tidak ada, di tengah hutan lebat itu ia hanya sendirian saja, "Sssssttt......" tidak sampai di jalanan, ia hanya sampai di depan gubuk itu saja dengan baju yang sudah banyak tanah. Rembulan tidak sanggup lagi bergerak dari sana, "Hiks.....hiks....." Rembulan menangis menahan rasa sakit yang semakin terasa.