Mentari

Mentari
Episode 145



"Wahahaaaa......" tawa Mentari pecah saat melihat Rembulan yang menatapnya tajam, setelah Radit pergi untuk ke rumah sakit. Radit ke rumah sakit hanya untuk mengajukan cuti, karena ia ingin fokus mengurus Rembulan. Namun Mentari malah memanfaatkan momen kepergian Radit sebagai pelepas tawanya.


"Sialan lu dek!" kesal Rembulan. Ia duduk di sisi ranjang sambil melihat Mentari yang terus tertawa terbahak-bahak.


"Tante Nina menyelamatkan Kak Ulan, padahal hampir aja Kak Ulan jadi pasien Rumah sakit jiwa," kata Mentari sambil memeluk perutnya.


Nina memang tahu rencana mereka yang tengah mengerjai Radit, karena Arka sudah menceritakannya. Bukan tanpa alasan menceritakannya kepada Nina melainkan Arka takut jika nanti malah Rembulan benar-benar dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Karena ia tahu istrinya Mentari pasti nanti akan jahil dan membuat Rembulan akan benar-benar gila. Arka tidak perduli pada Rembulan bila masuk rumah sakit jiwa sekalipun, hanya saja Arka tahu Rembulan tengah mengandung. Bagaimanapun anak Rembulan tidak bersalah sama sekali.


"Jangan gitu dong kasian cucu Tante," kata Nina sambil mengelus perut buncit Rembulan.


Rembulan terharu kemudian ia memeluk Nina dengan erat, "Makasih ya Mah udah sayang sama Ulan padahal, Ulan udah kecewain Mama," kata Rembulan.


"Mama yang minta maaf sama kamu karena Mama gagal mendidik Radit, makanya Radit senekat ini bahkan sampai tega menjebak kamu begini," Nina juga memeluk Rembulan dengan tidak kalah erat.


Ranti terharu karena ternyata Rembulan begitu disayangi oleh keluarga Nina, sekarang Ranti tidak perduli kalaupun Rembulan belum menikah resmi dengan Radit tidak apa. Bila Nina meminta untuk Rembulan tinggal bersamanya Ranti pun sudah mengizinkannya, karena kasih sayang Nina sudah Tidak diragukan lagi sungguh inilah yang diharapkan oleh Ranti selama ini.


"Dek Besok kalau ngasih ide tuh jangan gitu dong, gimana Kalau Kak Radit beneran masukin Kak Ulan ke rumah sakit jiwa?" kata Rembulan menatap Mentari.


"Iya biarin, berarti Kakak jadi pasien Rumah sakit jiwa..... Ahahahahah....." jawab Mentari.


"CK....." Rembulan kesal pada Mentari.


"Kak Radit pulang," kata Mentari yang berdiri di depan pintu.


Nina cepat-cepat berdiri, sedangkan Ranti seolah bersedih. Sedangkan Rembulan malah seolah sedang kembali gila, dan mengacak rambutnya.


"Mmmmfffffpp....." Mentari menutup mulutnya dan menahan tawa, "Tapi boong!" kata Mentari dengan tawa yang melebar, "Wahahaaaa....." Mentari tertawa karena berhasil mengerjai semua orang.


"Kamu ya Dek," Randi menarik telinga Mentari, anak bungsunya itu sudah menikah tapi tetap saja kebiasaan jahilnya tidak pernah hilang. Malah semakin parah saja.


"Aduh Ma sakit," Mentari berniat kabur tapi tidak bisa karena Ranti yang masih menjewer, Mentari yang berdiri di pintu kemudian benar-benar melihat Radit berjalan kearah mereka, "Ma, Kak Radit Ma..." kata Mentari dengan jujur, dan meminta Ranti agar melepaskan telinganya yang di jewer.


"Boong dia Ma jewer aja!" kata Rembulan yang tidak percaya.


"Tari serius enggak boong ini, Kak Radit beneran berjalan menuju ke sini Ma," kata Mentari lagi.


"Paling boong lagi!" kata Rembulan karena tidak ingin Mamanya berhenti menarik telinga Mentari.


"Tari kamu kenapa?" tanya Radit yang kini sudah berdiri di depan pintu.


Semua menjadi gelagapan, Nina langsung mengacak rambutnya seolah ia tengah gila. Sedangkan Rembulan malah seolah tengah kasihan pada Nina.


"Kebalik!" teriak Mentari.


"Apa nya yang kebalik?" tanya Radit bingung sambil melihat Mentari.


Ranti cepat-cepat melepaskan telinga Mentari, karena ia pun terkejut.


"Ma, yang gila Ulan....kok Mama yang begini," bisik Rembulan dengan suara pelan.


"Oiya....lupa," Nina cepat-cepat merapikan rambutnya, karena ternyata yang beracting gila itu adalah Rembulan, "Berasa jadi gila beneran," gumam Nina.


Rembulan mulai duduk di sisi ranjang sambil tersenyum-senyum, sesekali ia memanyunkan bibirnya. Sebenarnya Rembulan ingin tertawa, tapi kini ia harus menahan tawa. Bila Radit menatap iba, maka lain halnya dengan Mentari.


"Mmmmfffffpp......" Mentari memeluk perutnya, ia sudah merasa sangat lemas.


"Sumber air sudah dekat..." kata Rembulan menunjuk Mentari.


Semua melihat Mentari, dan ternyata apa yang dikatakan oleh Rembulan memang benar sekali. Karena Mentari mengompol, ia tidak kuat menahan tawa sampai mengompol.


"Mama keluar dulu," cepat-cepat Nina keluar dari kamar itu, karena kamar itu sangat menyiksa dirinya yang waras bisa benar-benar gila hanya karena tidak kuat melihat bertapa lucunya Mentari.


Ranti yang terus berusaha tenang mulai berjalan kearah Mentari, "Aduh dek, kamu Kok begini...." Ranti berpura-pura iba, "Kamu pasti terlalu mikirin Kak Ulan ya, makanya kamu Sampek begini," kata Ranti lagi penuh iba, "Ayo ke kamar Mama bantu," Ranti langsung memapah Mentari, seolah Mentari perlu bantuan. Sampai di kamar Mentari yang bersebelahan dengan kamar Rembulan, tawa Ranti seketika pecah, "Ahahhaha......"


"Mama..... Ahahahhaha......" Mentari juga ikut tertawa.


"Bersihin sana, ngompol! Dasar jorok!" kata Ranti pada Mentari.


"Hehe....." Mentari cengengesan, "Sumber air sudah dekat kan Ma?" Mentari menirukan suara Rembulan barusan.


"Ahahahhaha....dasar jorok," Ranti keluar dari kamar Mentari sambil tertawa, karena hari ini sungguh membuatnya terhibur.


Sementara Nina kini berada di ruang keluarga, Mahesa yang duduk dari tadi menunggunya di sana merasa bingung. Karena Mahesa memang tidak tahu tentang mereka yang mengerjai Radit, bahkan ia juga tidak tahu jika Rembulan berpura-pura gila saat ini.


"Mama?" Mahesa bingung melihat istrinya, "Mama nggak kenapa-kenapa kan?"


Nina menggeleng, namun ia masih memeluk perutnya. Sedangkan tawanya terus saja keluar, "Ahahahhaha....."


"Ma, apa Mama juga butuh dokter jiwa?" tanya Mahesa.


Nina seketika berhenti tertawa, "Papa pikir Mama gila!" kesal Nina.


"Bukan begitu, tapi Mama aneh banget...." jawab Mahesa.


Sedangkan dikamar Rembulan hanya diam, kemudian ia masuk kedalam kamar mandi. Rembulan mengunci pintu terlebih dahulu, kemudian ia menyalakan kran air, dan juga shower. Agar tawanya tidak terdengar oleh Radit, "Ahahahahah......." Rembulan duduk di lantai, karena ia pun hampir mengompol. Rembulan takut malah terpeleset, jadi ia memilih jalur aman dengan duduk di lantai saja, melepaskan tawa yang tertahan namun tetap aman untuk ia dan juga bayinya, "Ahahahhaha..... lama-lama aku bisa beneran gila, karena ide konyol Mentari," kata Rembulan berbicara sendiri, "Ya ampun aku ngompol juga," Rembulan juga melihat jika ia kencing, "Ya ampun ketularan Tari si gesrek kan..." kata Rembulan bagi, namun ia kembali tertawa, "Wahahaaaa......"


Tok tok tok....


"Ulan kamu enggak papakan?" Radit yang berada di luar panik, karena Rembulan tidak juga keluar. Ia sangat takut bila terjadi hal sesuatu di dalam sana. Karena kalau sampai terjadi pendaran untuk yang ketiga kali ini sudah di pastikan jika janin nya tidak bisa lagi di selamatkan.


*


Kak, aku pengen banget lanjut, tapi kasih aku semangat dong. Like dan Vote ya Kak. Tolonglah.