Mentari

Mentari
Episode 131



Sayangi pasangan kalian dengan sepenuh hati, cintai dia yang bersedia menghabiskan sisa umurnya hanya dengan kalian. Padahal kalian tahu di luar sana banyak yang menginginkannya, tapi dia menolak hanya karena tidak ingin dengan yang lain. Karena dibalik marah, cemburu dan ego dia sangat mencintai kalian. Jadi peluk pasangan kalian dengan penuh cinta, katakan padanya kalian juga mencintainya. Biarpun mereka diam bukan berarti dia tidak mencintai kalian, karena dia tengah berpikir cara untuk membahagiakan kalian. Jadi hargai dia yang mencintai mu.


"Mentari," Arka berlutut dan memegang seikat bunga di tangannya.


Mentari lagi-lagi menitihkan air matanya, ia menutup mulut nya yang terbuka lebar. Tidak menyangka Arka yang terkesan dingin dan irit bicara bisa memperlakukan nya semanis ini. Mentari yang memilih bar-bar di hadapan Arka karena ingin membuat Arka banyak bicara, dan bisa berkomunikasi dengan baik layaknya suami istri. Dan lihatlah kini suami dinginnya itu begitu romantis.


"Aku mencintaimu sayang, maaf jika selama ini aku tidak baik dan tidak memperlakukan mu dengan baik....tapi aku katakan sekali lagi, aku mencintai mu dan insyaAllah sampai di surgaNya nanti," kata Arka lagi.


"Kak," Mentari tidak mengambil seikat bunga yang di pegang Arka, ia memegang kedua lengan Arka dan memintanya berdiri. Mentari menitihkan air mata bahagia, ia memegang tangan Arka yang masih memegang bunga, "Makasih ya Kak, maaf kalau Tari belum bisa jadi istri yang baik dan sempurna," kata Mentari.


"Tidak ada yang sempurna di dunia ini sayang kecuali sang Pencipta, aku mencintai mu dengan apa adanya," jawab Arka sambil menatap manik mata indah Mentari.


"Terima Kasih," Mentari mengangguk dan mengambil bunga yang di bawa Arka, kemudian Arka dengan cepat memeluk istrinya.


"Waaaaaaa....."


Semua bersorak histeris akan keromantisan pasutri yang ada di hadapan mereka, bahkan mereka seakan hanyut dalam cinta yang menyatu dengan pernikahan suci tersebut.


"Pak Arka....Mentari....." teriak Lala dengan hebohnya.


"Huss," Rika menepuk pundak Lala, karena ia kesal pada Lala yang super heboh.


"Hehehe....." Lala cengengesan, kemudian matanya melihat Dimas berdiri tidak jauh darinya, "Hay," Lala tersenyum pada Dimas yang hanya menunjukan wajah datarnya.


"Lala!" Rika menjitak kepala Lala, ia sangat kesal bila Lala menggoda Dimas menurut Rika itu merendahkan harga diri Lala. Karena lelaki yang mencintai kita dia yang mengejar kita bukan sebaliknya, itulah prinsip dalam hidup Rika.


"Sakit!" keluh Lala sambil menggosok kepalanya.


Tidak mau kalah dengan dua pasutri yang baru saja menunjukan keromantisan nya, karena ada satu pria tampan lagi yang ingin mengabulkan permintaan istri tercintanya. Dia Radit, Radit yang mencintai Rembulan dalam diam selama bertahun lamanya. Pria tampan itu mulai berjalan dengan gagahnya, hingga semua perhatian juga mengarah padanya.


"Waaaaaaa......"


"Itu dokter Radit kan?" tanya dokter Merisa.


"Iya, nggak nyangka ya, cool banget," kata Alia seorang dokter yang bekerja di rumah sakit bersama Radit.


"Anggi, itu dokter Radit kan?" tanya dokter Velisya Khumairah, ia juga datang ke acara itu. Karena suaminya adalah rekan kerja dari Arka dan Radit.


"Iya Vel," jawab Anggia, "Si Abang mau nggak ya kalau aku minta begitu?" kata Anggia pada Veli, sedangkan Bilmar berdiri di samping nya.


"Kita udah tua yang, malu sama umur anak udah tiga," bisik Bilmar.


"Iya... iya," Anggia mengangguk mengejek, Bilmar berbicara seolah ia sudah tidak lagi dengan segala kebucinannya. Padahal sama saja Bilmar tidak pernah mau jauh darinya.


Semua mata masih melihat ke depan, Radit berdiri berbalik dan ada nama Rembulan di sana.


"Waaaaa......"


"Waaaaaaa...."


"Dokter Radit......."


Semua berteriak histeris, bahkan yang sudah tua termakan lapuknya usia juga ikut tersenyum bahagia menyaksikan hal ini.


Kaki Radit berjalan kearah Rembulan, Rembulan yang dari tadi berdiri hanya menatap bingung. Ia bertanya-tanya apakah itu Radit yang tengah berjalan mendekatinya, apakah itu benar-benar Radit sahabat nya sekaligus suaminya kini. Rembulan melongo dan tidak bisa berbicara satu patah katapun, Radit mengabulkan keinginannya. Padahal ia sudah diam dan ingin menangis saat melihat Arka yang mengabulkan keinginan Mentari. Namun tidak di duga sama sekali ternyata Radit juga memberikan dirinya kejutan. Hingga akhirnya Radit berdiri tepat di hadapan Rembulan, tidak tanggung-tanggung Radit juga menulis nama Rembulan di dadanya.


"Aku mencintai mu, sejak dulu kini dan selamanya," kata Radit penuh cinta.


"Istri ku," Radit membawa sebuah cincin di tangannya, dan ia mengangkat tangan Rembulan yang diam menggantung.


"Makasih," dengan cepat Rembulan memeluk Radit dengan begitu erat, ia sungguh tidak menyangka jika Radit mampu membuat nya bahagia.


Radit juga tersenyum bahagia, dan Arka mengacumkan jempol pada Radit. Begitu juga dengan Radit.


"Waaaaaa....."


Prok prok prok.


Semua bertepuk tangan dan ikut hanyut dalam kebahagian yang ada, bahkan banyak yang berteriak histeris.


"Umi, lepas dong," Radit menyadari Rembulan terus memeluknya. Padahal ini adalah acara resepsi pernikahan Arka, namun Rembulan masih saja meluknya dengan erat.


Rembulan tersadar dan ia mulai menjauh karena merasa malu.


Radit terkekeh melihat senyum malu-malu Rembulan, "Nyaman ya?" tanya Radit.


Rembulan mengangguk, "Lumayan," jawab Rembulan, sambil tertunduk malu.


"Mau di pakein atau pakek sendiri?" tanya Radit, menunjukan cincin yang ia bawa tadi, belum sempat ia pakaikan pada Rembulan.


Rembulan mengambil cincin yang di pegang Radit, "Pakek sendiri aja," Rembulan langsung memakaikan cincin yang di berikan Radit pada jari manisnya, ia memilih jalur aman dari pada ia malah mendadak jantungan karena ketampanan dan pesona seorang Radit. Sekaligus Rembulan ingin menutupi rasa malunya yang malah tidak ingin melepaskan pelukannya barusan.


"Iya Umi ku sayang," kata Radit.


"Waaaaaa....."


Prok prok prok.


Semua merasa ikut terhanyut dalam kebahagian pengantin baru itu, hingga akhirnya di lanjutkan dengan pesta dansa.


Arka langsung menarik Mentari, dan Mentari melingkarkan tangannya di tengkuk Arka.


"Istri ku?" bisik Arka.


"Suami ku," jawab Mentari dengan senyum bahagia.


Banyak pasangan yang ikut berdansa, semua masih begitu antusias dan bahagia. Tidak pernah mereka bayangkan bisa menyaksikan CEO mereka yang sedingin es itu bisa begitu hangat pada istri nya Mentari. Bahkan tidak pernah terlintas di pikiran para karyawan dan rekam bisnis Wijaya group bisa menjadi saksi tentang Arka yang begitu hangat pada istrinya.


"Abi?" kata Rembulan yang hanya diam melihat banyak pasangan yang berdansa di depan sana.


"Iya Umi," Radit langsung melihat Rembulan yang berdiri di samping nya.


"Nggak ngajakin Umi ikut dansa?" tanya Rembulan dengan senyuman malu-malu nya.


Radit tersenyum kemudian menggeleng, "Ke kamar aja yuk," kata Radit.


Wajah Rembulan seketika memerah mendengar ajakan Radit.


*


Like dan Vote ya Kakak, tolong ya.