
Matahari semakin meninggi disertai sibuknya orang-orang dalam rumah di kediaman Algantara. Mentari dan Arka pun tidak kalah sibuk karena pagi ini, ia ingin mengikuti suaminya ke kantor karena sudah lama kesana.
"Dek pagi-pagi sudah rapi, mau kemana?" tanya Aldi setelah mereka duduk diruang makan.
"Iya nih, apa gak sebaiknya sore aja gitu baru pulang nak" timpal ibu Anita sambil menyendok nasi goreng untuk suaminya.
"Benar kata bunda mu, nanti kami antar. Gimana Arka?" tanya Hadi.
"Boleh juga" respon Arka.
Mentari langsung menoleh melihat suaminya, ia ingin suaminya mengatakan kalau ia ikut ke kantornya.
"Mentari ingin ke kantor Kak Arka" Ucapnya yang membuat Ibunya menatapnya dengan memelas.
Mentari kembali berucap sembari senyum lebar setelah melihat ekspresi ibunya, "Bunda, sekalian Mentari ke toko juga"
"Arka dia memang keras kepala" Ucap Aldi mendengar ucapan Adiknya, bagaimana tidak berkata seperti itu, malah orang disekitarnya yang khawatir dengan keadaannya dibandingkan dirinya. Orang lain sudah mau jantungan dia malah santai.
"Kak Aldi, stres Mentari kalau dirumah terus. Nanti kalau punya isteri baru tanya istrinya "Apakah dia bahagia dirumah terus gak kemana-mana atau tidak?" eehhh lupa kak Aldi belum menikah" ucap Mentari yang membuat Aldi hilang selera makan. Bukan tidak suka tapi itu merupakan bahasa pancingan yang membuat orang tua mereka berdua akan terus bertanya
"Nah itu, bunda juga heran sama kakak kamu, kamu udah mau nambah dia bini saja kapan-kapan mau dapat" Timpal ibu Anita Anita.
"Itukan bunda terpancing lagi" batinnya sambil memijit pelipisnya .
"Kenapa kak?" tanya Mentari lagi dengan sengaja
"Kena kamu kak, lagian sih bilangkan aku keras kepala" Batin Mentari
"Gak kok, apa papa dan Arka belum berangkat?" tanya Aldi mengalihkan pembicaraan.
Hadi melihat jam di lengannya, "Ayo, sudah selesai sarapan. Papa dan Aldi duluan, assalamualaikum" Pamit Aldi dan Hadi bersamaan.
"Wa'alaikumussalam" jawab mereka bertiga bersaan pula.
Aldi dan Hadi pergi, sisa Mentari, Arka dan Ibu Anita di rumah.
"Ayo kak kita berangkat, gak sabar mau lihat toko" Ucapnya antusias dan sudah berdiri disamping suaminya.
"Bunda kami berangkat dulu yaa, assalamualaikum" Pamit Arka dan Mentari, lalu mereka pergi sambil bergandengan tangan.
Ibu Anita memanggil ART untuk membersihkan meja makan lalu ia pergi siap-siap untuk le toko Mentari, ia penasaran dengan toko kue itu sekaligus ingin memastikan apakah benar putranya kesana hanya sekedar memantau atau ada hal lain.
...πππ...
"Assalamualaikum pak Arka" Ucap Asisten Brian berpapasan pas pintu utama, dan posisi saat itu asisten Brian mau keluar dari gedung sedangkan Arka dan Mentari baru masuk dalam gedung tersebut.
"Bapak Brian, mau kemana?" tanya Mentari.
"Ada urusan nona" jawabnya.
"Kemana?" tanya Mentari lagi, "Harus jelas bapak Brian" Sambungnya lalu melihat Arka, "Iya kan kak?" tanya kepada suami.
"Brian jawab jujur saja dari pada gak kelar-kelar, mana istriku hamil besar" Ucap Arka dengan sedikit berbisik.
Karena tinggi Arka dan asisten Brian tidak jauh berbeda jadi dengan gumaman saja bisa didengar berbeda dengan Mentari yang tingginya mungil jadi tidak mendengar kalimat yang keluar dari suaminya.
"Kenapa bisik-bisik?" tanya Mentari lagi
"Sebenarnya saya mau ambil berkas dirumah nona, ada berkas yang tertinggal dirumah" Jawaban itu membuat Mentari mengangguk mengerti, lalu Brian pergi begitupun dengan Mentari dan Arka jalan menuju ruangan mereka.
Arka menekan tombol lift yang menuju ruangannya dan saat itu Mentari tiba-tiba teringat waktu pertama datang bersama asisten Brian di perusahaan suaminya itu.
"Tau gak kak, dulu pertama kali datang dengan Bapak Brian disini. Bapak Brian jalannya cepat, betis Mentari rasanya mau pecah, mana diberi waktu istirahat 5 menit" Ucap Mentari sembari senyum merasa lucu mengingat kejadian itu.
"Kalau aku tau, kakak jodoh aku dulu aku pasti gak mau datang disini" Ucapnya lagi dan sekarang sudah keluar dari lift dan tinggal beberapa meter lagi sampai depan pintu ruangan Arka.
"Kenapa?" tanya Arka penasaran.
"Iya gak mau aja, itu sama saja aku yang cari kakak bukan kakak yang cari aku" Jelas Mentari sambil jalan pelan yang diikuti Arka. Arka menyeimbangkan langkahnya kepada istrinya itu.
"Lho, bukan gitu juga konsepnya, saat itu datang bimbingan kan bukan datang cari kakak?" tanya Arka dan Mentari mengangguk cepat
"Tapi tetap aja" ucap Mentari tidak mau kalah.
"Masuk, udah gak benar otakmu ini" Ucap Arka membuat Mentari ketawa.
"Hahaha.. Otak-otak, gimana dengan ujian proposal aku Kak?" tanya Mentari yang tiba-tiba lagi.
"Itu gak penting, yang terpenting sekarang baby" Ucap Arka sambil menunju kursi kebesarannya.
"kok aku punya suami seperti ini sih?, orang lain bangga punya istri yang berpendidikan ini malah patahin semangat aku" Gumamnya sambil bersandar di sofa.
Arka sibuk dengan berkas-berkas diatas meja sedangkan Mentari sibuk dengan ponselnya. Mentari mulai bosan dengan rutinitasnya pagi ini, ia minta izin untuk keliling perusahaan seorang diri.
"Kak Arka, boleh keluar?" tanya Mentari dengan hati-hati
"Kemana?" tanyanya yang masih fokus diberkas-berkasnya
"Diluar"
"Luar mana?" tanya Arka lagi.
"Luar ruangan, bosan"
"Tunggu lima menit" Ucap Arka lagi.
"Gak mau" Jawab mentari lagi
"Lima menit atau jangan keluar sampai kita pulang" Ucap Arka sambil menutup berkas yang ia habis tanda tangan.
Mentari mendengar itu langsung berdiri dan masuk diruang pribadi suaminya. Ia jalan sambil menyeka air matanya sedangkan Arka melanjutkan pekerjaannya.
Waktu begitu cepat berputar, sekarang sudah waktunya makan siang namun Mentari belum keluar juga dari kamar itu. Arka mulai khawatir, maka ia menyusul istrinya.
Arka senyum melihat Mentari yang tidur dengan pulas, tapi setelah menghampiri istrinya senyumnya tiba-tiba memudar, ia melihat bekas air mata sang istri di bantal yang ia gunakan dan sesekali Mentari mengeluarkan air mata meskipun ia sudah tertidur.
"Kamu kenapa dek?" tanya Arka sambil mengaitkan rambut itu ditelinga sang isteri yang menutupi sebelah wajahnya.
Arka ingin sekali membangunkan istrinya untuk makan siang diluar. Namun ia tidak tega, maka ia menyuruh asisten Brian membeli makanan diluar untuk mereka berdua.
Setelah mengirim pesan kepada asisten Brian, ia menyusul istrinya diatas tempat tidur dan merebahkan badannya disana.
Arka mulai membuka aplikasi Al Qur'an dalam ponselnya untuk mencari nama.
"Nur dan Ahmad" Gumamnya lagi setelah lama dalam pencariannya. Entah kenapa nama itu tiba-tiba muncul dalam benaknya.
Arka sudah tidak sabar menunggu anaknya untuk segera lahir di dunia, Arka mengarahkan tangannya ke perut sang isteri sembari membacakan ayat-ayat suci Al Quran.
"Cewek ataupun cowok, papa sudah sediakan kalian nama" Ucapnya dengan bangga menyebut dirinya sendiri dengan sebutan papa, "Papa gak sabar ingin segera melihatmu nak" sambungnya lagi
Sedangkan Mentari begitu nyenyak sampai perutnya bunyi karena lapar membuat Arka lucu sendiri.
"Ohh baby lapar, papa telepon dulu asisten Brian yaa" ucap Arka lalu bangkit dari pembaringannya
π Arka : "Assalamualaikum asisten Brian, sudah dimana?.. ohh oke, assalamualaikum" percakapan Arka dengan asistennya ditelepon.
Arka kembali melihat ponselnya setelah meletakkan diatas meja samping tempat tidurnya.
"Oh ibu" gumamnya lalu menjawab telepon dari ibunya.
π Arka : "Assalamualaikum bu"
π Ibu Dewi : "Wa'alaikumussalam, bagus ya mentari hak dibawa pulang di rumah. Mantu ibu mana Arka?"
Arka mengerutkan keningnya tidak mengerti mendengar ucapan Ibunya itu, "Memang perempuan kadang membuat laki-laki serba salah tanpa melakukan apa-apa" Batin Arka
π Arka : "Tidur bu"
π Ibu Dewi : "Arka ini sudah waktunya makan siang, aduuhh gimana sih" Ucap ibu Dewi lagi di telepon itu.
π Arka : "Lagi tunggu asisten Brian bawa makanan kok bu, jangan khawatir yaa"
π Ibu Dewi : "Bagaimana tidak khawatir ini menyangkut mantu dan cucu ibu"
Arka mendengar itu tidak ada pilihan lain selain mengalah untuk mempersingkat perdebatan dengan ibu.
π Ibu Dewi : "Ibu mau video call"
Kalimat itu terakhir dari ibu Dewi sebelum beralih ke Video Call
π±Arka : "Itu menantu ibu kalau tidak percaya"
π± Ibu Dewi : "Ok, bangunin Mentari untuk makan siang nak"
π± Arka : "Iya bu"
Percakapan Arka dan Ibunya tiba-tiba terputus.
"Dek bangun makan siang dulu" ucap Arka sambil menggoyangkan badan Mentari dengan pelan.
"5 menit lagi" ucap Mentari sambil mengangkat tangannya.
"Lima menit yaa, kalau sudah lima menit harus bangun" Ucap Arka lagi.
"Hmmm" respon Mentari
5 menit kemudian, Asisten Brian datang dengan makanannya begitupun dengan ibu Dewi dengan paper bag makanannya juga.
Asisten Brian masuk dalam ruangan Arka yang terlebih dahulu mengetuk pintu tanda dirinya sudah datang dan tidak lupa mengirim pesan pada bosnya itu.
Tidak menunggu waktu lama Arka muncul dari ruangan pribadi/privasinya dan disana sudah melihat ibunya bertolak pinggang.
"Mantu ibu mana?" tanya ibu Dewi lagi.
"Bukannya ibu di rumah?" tanya Arka balik tanpa menjawab pertanyaan ibunya itu.
"Tadi ibu dijalan menuju kantor, ibu sudah duga pasti mantu ibu akan terlambat makan siang dikantor" Ucap ibu Dewi lagi.
Arka menoleh melihat Brian sembari berkata, "Lihat kan asisten Brian, semenjak Mentari hamil posesifnya ibu semakin bertambah kadang membuat saya pusing sendiri"
"Sabar bos, namanya juga cucu pertama dan mantu satu-satunya, jadi wajar" Respon asisten Brian yang membuat Arka hanya mengangguk paham.
"Ya sudah kita duduk dulu asisten Brian, ada hal yang perlu saya bicarakan" Ucap Arka.
Diruang pribadi dimana ibu Dewi dan Mentari sedang makan berdua sembari menyelipkan candaan.
"Nak, rencana punya anak berapa?" tanya ibu Dewi.
"Gak tau bu, ini saja belum lahir bu" jawab mentari sambil mengusap perutnya.
"Maksud ibu rencananya berapa?" Tanya ibu Dewi lagi. Ia ingin sekali tau karena keinginannya ingin memiliki banyak cucu.
"Belum bahas itu sama kak Arka" Jawab Mentari lagi jujur sambil menyuapkan nasi dalam mulutnya.
"Itu penting harus di bahas" Ucap ibu Dewi lagi.
"Kalau aku sih maunya 2 saja, cewek dan cowok. Bagus kan bu pasangan?" tanya Mentari sembari senyum.
"Waduh, kalau hanya 2 orang, Arka pasti tidak izinkan anaknya tinggal dirumah" Batin ibu Dewi
"Ibu kenapa diam, apa jawaban Mentari salah?" tanyanya dengan hati-hati.
"Ohh gak, tapi apa itu tidak terlalu sedikit? 4 orang atau 5 mungkin supaya ramai dalam rumah" Usul ibu Dewi.
"5 orang, itu kebanyakan bu bisa-bisa kuliah saya gak kelar-kelar"
"Itu gampang, nanti ibu suruh Arka ujian proposal sampai ujian meja dirumah" Ucap ibu Dewi.
"Haaa, emang bisa bu?" tanya Mentari, Jujur Mentari baru dengar kalau bisa ujian proposal sampai ujian meja dirumah.
"Kampus itu milik Purnawan, jadi itu bisa diatur. Gimana?" tanya Ibu Dewi lagi sembari senyum kepada mantunya itu.
Mentari membalas senyum ibu mertuanya itu dengan seulas senyum sembari mengangguk. Ibu Dewi senang melihat respon Mentari.
"Ibu Anita bagaimana cara mendidik Mentari sehingga seperti ini, bukan hanya mampu menyenangkan suaminya tapi mampu menyenangkan semua orang ada disekitarnya" Batin Ibu Dewi mengagumi kepribadian mantunya.
Jangan Lupa dukungannya ya, LIKE, KOMEN dan SHARE ke teman-temannyaπ
...SEMOGA SUKA β€οΈ...
...TERIMA KASIH π...