Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~98 (Tak Ingin Kamu Pergi!)



...Happy reading...


***


Suasana rumah sakit yang sangat ramai terasa begitu menegangkan bagi Zico. Awalnya ia merasa semua ini hanyalah mimpi tetapi ia sadar Intan benar-benar terluka karenanya, tubuhnya sudah dilumuri oleh darah segar yang keluar dari kepala, mulut, dan dari sela-sela paha istrinya membuat Zico seperti orang bodoh menatap darah Intan yang sudah mulai mengering di baju dan tangannya.


"Ini mimpi!" gumam Zico dengan lirih. Hatinya merasa tak terima dengan apa yang terjadi pada istrinya lagi dan lagi Zico didera rasa takut yang teramat dalam saat mengingat mata indah milik Intan tertutup dengan rapat.


Sakit!


Hati Zico benar-benar sakit lebih sakit dari pada berpisah dengan Laura! Lebih sakit saat cintanya ditolak oleh Ika. Yang jelas perasaannya sangat sakit sekarang menunggu kabar keadaan Intan yang masih ditangani oleh dokter.


Zico masih berharap ini adalah sebuah mimpi yang akan menyadarkannya dari sebuah rasa cinta untuk Intan di hatinya tetapi Zico dihempaskan oleh kenyataan saat melihat darah Intan yang masih melekat pada bajunya, bajunya yang berwarna putih kini sudah berganti warna merah di bagian depannya. Zico tak merasa jijik dengan darah itu, ia lebih merasa menyesal telah membuat Intan seperti ini.


Tepukan tangan di bahunya membuat Zico tersadar dari rasa syoknya, kemudian ia terisak saat Farezki memeluknya. "Intan gak boleh pergi, Pa! Aku cinta sama dia... Aku sadar sekarang kalau aku cinta sama Intan, Pa! Hiks...hiks" Zico terus meracau di pelukan sang ayah. Anggun yang tak kuasa melihat anaknya seperti ini menjadi menangis tanpa suara. Ini yang ia takutkan dari Zico, anaknya akan menyesal ketika seseorang yang ia sia-sia kan sudah pergi.


Jika berpisah karena bercerai, tidak akan sesakit berpisah karena seseorang pergi untuk selama-lamanya dari dunia. Rasa itu lebih sakit dari pada melihat mantan istri berbahagia dengan suami barunya. Bukankah kehilangan yang seperti ini jauh lebih menyakitkan? Tidak bisa melihatnya lagi! Tidak bisa menyentuhnya lagi! Yang hanya kita bisa lakukan meratapi semua kesalahan yang terjadi.


"Mama sudah bilang jangan mempermainkan perasaan Intan. Tapi kamu gak mau mendengarnya. Mama berharap semua ini hanyalah mimpi yang membuat kamu menyesal tetapi ini adalah sebuah kenyataan yang membuat kamu lebih sangat-sangat menyesal, Zico. Hiks..hiks... Apa yang kamu pikirkan sebenarnya? Intan baik! Intan mau memaafkan semua kesalahan kamu! Dan Intan sangat mencintai kamu, ia menyampingkan perasaan terlukanya karena kehilangan kedua orang tuanya karena katanya kamu sudah berubah sangat baik kepadanya, mencintainya dan sayang kepada dirinya. Tanpa ia ketahui rasa yang kamu lakukan selama ini adalah palsu. Intan menganggap hanya kamu yang berarti di dalam hidupnya yang membuat dia melupakan kesedihannya dan menerima kepergian kedua orang tuanya. Lalu ketika ia tahu semuanya bukankah membuat hatinya mati rasa? Mama yakin dalam benaknya ia ingin pergi jauh dari kamu," ucap Anggun dengan tajam. Entahlah perasaannya sangat sakit sekarang mengingat bagaimana cerianya Intan saat bercerita kepadanya tentang Zico.


Zico semakin tergugu mendengar kata-kata sang mama yang sangat tajam. Semua yang dikatakan mamanya benar. "Intan gak boleh pergi! Gak boleh!" teriak Zico dengan histeris. Sungguh sangat menyesakkan dadanya sekarang yang membuat dirinya lepas kontrol dan berteriak di depan seseorang yang telah melahirkannya.


"Sudah. Sebaiknya kita tenang dan berdoa untuk kesembuhan Intan!" lerai Farezki dengan tegas. Membuat kedua orang yang berada tak jauh darinya terdiam, Farezki saat ini tidak bisa berkata-kata yang menyudutkan sang anak yang terlihat sangat kacau, bahkan tubuhnya terlihat gemetar.


Ceklek...


Pintu ruangan UGD terbuka membuat Zico yang sejak tadi duduk karena kakinya sangat lemas akhirnya berdiri menghampiri dokter yang menangani istrinya.


"Suami pasien?" tanya dokter dengan membuka masker yang menutupi wajahnya.


"S-saya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Zico dengan suara yang sangat gemetar.


Dokter tersebut menatap Zico dengan sorot mata yang sama sekali tidak bisa ditebak oleh ketiganya. "Maaf, Pak. Saya harus menyampaikan kabar duka ini...."


Farezki dan Anggun langsung menenangkan anaknya yang terlihat kacau. "Lanjutkan, Dok!" ucap Farezki dengan tegas.


"Pasien mengalami pendarahan yang cukup parah sehingga janin yang di kandung nona Intan tidak bisa kami selamatkan. Dan akibat benturan di perut dan kepalanya yang cukup keras pasien mengalami koma, benturan yang terkena perutnya juga akan susah membuat nona Intan hamil kembali," ucap Dokter yang membuat Zico mematung.


Bruk...


Tubuh Zico terjatuh di lantai dengan nyawa yang dipaksa keluar dari tubuhnya. Istrinya hamil dan sekarang keguguran, bahkan ia tidak memgetahui sebelumnya jika Intan hamil, pantas saja beberapa minggu ini Intan sangat manja kepadanya. Dan sekarang istrinya koma. Tuhan, apakah ini karma untuknya? Jika iya, tolong pindahkan semua rasa sakit yang di derita Intan kepadanya. Semua ini salahnya! Jangan Intan yang mendapatkan penderitaan ini, Tuhan!


"Istri saya pasti sembuh kan, Dokter? Dia gak mungkin pergi meninggalkan saya kan, Dok?" tanya Zico dengan suara serak bahkan suaranya hampir habis karena terus menangisi Intan.


"Kita berdo'a saja, Pak. Semoga Tuhan memberikan kesembuhan untuk nona Intan. Kami akan memindahkan nona Intan ke ruang ICU karena saat ini pasien benar-benar membutuhkan penanganan yang lebih intensif," ucap dokter dengan tegas.


"Lakukan yang terbaik untuk menantu saya, Dok! Karena Intan hanya mempunyai kami sebagai keluarganya! Kami tidak ingin kehilangan Intan. Dok, memgenai benturan di perut menantu saya apakah separah itu?" ucap Farezki dengan tercekat.


"Kami belum bisa mamastikan, Pak. Ini diagnosa awal saya dan tim yang lainnya, sebaiknya nanti ketika nona Intan sudah sadar periksa lebih lanjut ke dokter kandungan. Saya permisi," ucap dokter dengan tegas membuat Farezki dan Anggun mengangguk tetapi tidak dengan Zico. pandangan lelaki itu kosong dan diliputi rasa bersalah kepada istrinya. Zico tak peduli jika Intan tak bisa hamil kembali asal wanita itu tidak pergi meninggalkannya.


"Sayang!" teriak Zico saat para suster membawa tubuh lemah Intan yang terbaring di brankar. Zico berlari menghampiri istrinya, hatinya berdenyut sakit saat melihat banyaknya peralatan medis yang melekat pada tubuh istrinya.


Zico menggenggam tangan Intan dengan pelan. "Maaf! Jangan hukum aku seperti ini!" gumam Zico dengan lirih. Tak kuat melihat Intan yang terbaring lemah akhirnya Zico jatuh pingsan dengan air mata yang tak hentinya mengalir, Zico menyesal! Sangat menyesal!


"Aku mencintaimu, Intan!"


***


Nyesek ketik part ini.


Banyak bawangnya😭😭


Ramein lagi part ini biar bisa double up.


Like, vote, coment, dan favoritkan cerita ini ya!