Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~88 (Terluka & Kecewa)



...Happy reading...


****


Ika keluar dari rumahnya setelah kemarin mengurung diri di kamarnya, bahkan Ika sama sekali belum makan sejak kemarin, rasanya ia tidak bisa menelan sebutir nasi pun ke tenggorokannya. Nasi itu seakan berubah menjadi batu di dalam mulutnya.


Ika melihat Sultan keluar bersama dengan Cut. "A-abang!" panggil Ika dengan terbata tetapi Sultan hanya diam, biasanya Cut langsung memanggilnya dengan histeris tetapi anak itu juga diam dengan wajah yang masih sedikit pucat. Ika berlari mengejar mobil Sultan tetapi apa yang ia dapat hanyalah sebuah rasa aneh di hatinya yaitu sakit yang lebih menyakitkan dari pada kehilangan Rama.


Ika jatuh terduduk dengan airmata yang mulai mengalir di kedua matanya. Lalu ia tertawa sumbang, menertawakan nasib hidupnya. "Kamu memang gak berhak bahagia Ika!" ucapnya dengan datar.


Perhatian Sultan yang sama sekali tidak ia dapat dari Rama membuat Ika sangat mudah mencintai Sultan. Perhatian dan kebaikan Sultan membuat hati Ika mulai bergetar. Namun, karena kesalahannya di masalalu Sultan juga menjauhinya.


"Baiklah Ika. Tidak ada cinta di hidupmu. Lakukan hidupmu hanya untuk bekerja dan bekerja!" ucap Ika dengan dingin. Lalu ia menghapus air matanya dengan kasar. Sakit hatinya ia tekan begitu saja hingga menimbulkan sesak yang membuat dadanya seakan terhimpit.


"Lo gak boleh lemah Ika! Takdir hidup lo tidak pernah dicintai! Hidup bahagia dengan orang yang lo cintai hanya sebuah angan belaka. Lo harus bisa!" ucap Ika dengan lirih menangis tanpa suara.


Lalu ia berjalan ke arah mobilnya, untuk berangkat ke restoran. Mengabaikan rasa yang menusuk perutnya.


***


"Kasihan Mama!" gumam Cut dengan meneteskan air mata.


Sultan menghela napasnya. "Cut harus sembuh dulu baru ketemu Mama. Cut masih mau kan kalau kak Ika menjadi mamanya Cut?" ucap Sultan memberikan pengertian.


Cut mengangguk dengan patuh. "Tapi tadi mama kasihan. Mukanya juga pucat kayak Cut," gumam Cut dengan sedih.


Sultan tahu itu. Ia juga tidak tega dengan Ika, tetapi ia harus membawa Cut ke klinik kembali.


Sultan mengambil ponselnya, lalu ia menghubungi nomor seseorang. "Halo, Pak!" sapa Sultan dengan ramah saat seseorang mengangkat teleponnya.


"Halo pak Sultan!" balas seseorang dengan nada dinginnya.


"Ada yang harus saya bicarakan serius dengan anda tetapi tidak bisa melalui telepon. Apakah kita bisa bertemu?" tanya Sultan dengan ramah.


"Baiklah. Dua minggu lagi saya akan kembali, pastikan yang anda katakan sangat penting!" ucap seseorang dengan nada tegas.


"Tentu saja. Saya akan menyusul anda. Kabari saya jika anda sudah kembali, saya akan datang ke rumah anda dengan segera," ucap Sultan dengan tegas.


"Baik!"


"Saya tutup teleponnya. Terima kasih atas waktunya," ucap Sultan dengan ramah.


Bibir Sultan tersenyum lebar saat semua apa yang ia inginkan akan segera terwujud.


"Cut mau ketemu mama Ika nanti," ucap Cut dengan sendu.


"Setelah Cut diperiksa kita akan ke restoran mama!" ucap Sultan dengan tersenyum membuat Sultan bahagia.


Satu jam kemudian..


Cut sudah selesai diperiksa oleh dokter yang berada di klinik dan keadaan Cut sudah mulai membaik walau masih terlihat lemas dan pucat. Tetapi wajahnya sangat ceria ketika mobil milik Sultan berhenti di depan restoran milik Ika. Sultan keluar dan segera membuka pintu penumpang anaknya, ia menggendong Cut dengan cepat.


"Mama pasti senang Cut ke sini," ucap Cut dengan gembira membuat Sultan terkekeh. Pasti Ika sangat terkejut dengan kedatangannya dan Cut.


"Selamat datang di Restoran Brawijaya," ucap seseorang wanita membungkukkan tubuhnya. Sultan hanya membalasnya dengan senyuman.


"Silahkan duduk. Nanti akan ada pelayan yang akan mengantarkan buku menu untuk anda," ucap karyawan tersebut dengan ramah.


"Hmm Mbak saya kesini untuk bertemu dengan pemilik restoran ini," ucap Sultan dengan ramah.


"Iya Mbak. Apa saya bisa bertemu dengannya. Ada urusan yang harus saya bicarakan dengannya," ucap Sultan dengan tegas.


Karyawan tersebut bimbang tetapi Ranti yang mengetahui langsung menghampiri ketiganya. "Ada apa ya?" tanya Ranti dengan sopan.


"Ini Bu, Bapak ini ingin bertemu dengan Nona Ika," ucap karyawan tersebut dengan sopan.


"Maaf, Pak. Nona Ika sudah pulang 15 menit yang lalu. Ia mengaku tidak enak badan, hingga saya memaksanya untuk pulang karena wajahnya sangat pucat," ucap Ranti dengan sopan ada kecemasan di matanya membuat Sultan sangat cemas.


"Baik terima kasih. Saya akan segera menyusulnya," ucap Sultan dengan cepat.


Sultan sangat khawatir dengan keadaan Ika sekarang karena tadi ia mengabaikan Ika. Dengan menggendong Cut, Sultan dengan cepat memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya dengan tak sabaran.


"Cepat Pa. Pasti mama kesakitan sendirian di rumah," ucap Cut dengan khawatir. Sultan mengangguk, ia sangat cemas sekarang.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama akhirnya Sultan sampai di rumahnya tetapi ia mengeryit bingung saat tak ada mobil Ika di rumah. Kemana gadis itu? Dengan cepat Sultan menelpon Ika tetapi suara operator yang mengatakan jika Ika tidak bisa dihubungi membuat Sultan kesal.


"Dek!" teriak Sultan mengetuk pintu rumah Ika tetapi tidak ada jawaban dari Ika karena sejak tadi memang Ika belum ada pulang ke rumah. Entah kemana gadis itu dan sekarang Sultan sangat gelisah.


"Dimana mama, Pa?" tanya Cut dengan sedih.


"Hmmm sekarang Cut tidur dulu ya. Mungkin mama ada kepentingan di luar. Pasti nanti setelah Cut bangun mama sudah ada di rumah. Cut ditemani bibi dulu ya," ucap Sultan dengan lembut.


Cut yang seakan mengerti kegelisahan sang papa langsung mengangguk setuju. Sultan langsung membawa anaknya ke dalam rumahnya dan memanggil bibi yang bekerja di rumahnya untuk menjaga Cut. Cut yang memang cukup dekat dengan bibi yang bekerja di rumah Sultan langsung patuh dan segeta tidur karena pengaruh obat juga yang membuatnya sangat ngantuk.


Sultan kembali ke rumah Ika. Ia duduk di teras rumah Ika dengan gelisah. Berulang kali ia melihat jam tangannya menunggu Ika dengan gelisah. "Kemana kamu, dek! Jangan buat Abang khawatir!" gumam Sultan dengan cemas.


Sultan terus menunggu hingga jam terus berganti sekarang sudah jam 2 siang tetapi Ika belum menampakkan wajahnya. Apa orang-orang di restoran tadi membohonginya? Tetapi Sultan merasa jika mereka tidak membohonginya karena mobil Ika memang tidak ada di sana.


Deru mesin mobil membuat Sultan tersentak. Ia menghela napas lega saat mobil Ika lah yang datang. Sultan menghampiri mobil Ika karena Ika tak kunjung keluar.


Tok...tok..


"Dek, buka pintunya!" ucap Sultan dengan cemas.


Tak ada jawaban dari Ika karena sejak tadi Ika menahan sakit pada kepala dan perutnya. Tadi hampir saja ia menabrak mobil saat akan pulang ke rumah.


"Dek!" teriak Sultan dengan cemas berusaha membuka pintu mobil Ika.


Dengan tangan gemetar dan keringan dingin yang muncul di dahinya. Ika mencoba membuka pintu mobilnya. "A-abang," gumam Ika dengan lirih.


"Astaghfirulah. Kamu pucat sekali, Dek" ucap Sultan dengan cemas.


Sultan bimbang harus menggendong Ika atau tidak tetapi ringisan dari bibir Ika membuat Sultan cemas.


"Sssstttt. A-aku udah gak kuat lagi," ucap Ika dengan terbata. Matanya sudah berkunang-kunang sekarang.


Dengan cepat Sultan menggendong Ika. Ia sudah sangat cemas dengan keadaan Ika sekarang. "Panas sekali," ucap Sultan dengan keras. Panasnya melebihi Cut kemarin. Tubuh Ika juga semakin lemah di gendongannya hingga Ika kehilangan kesadarannya membuat Sultan tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia membawa Ika ke rumahnya, setelah itu ia akan memanggilkan dokter untuk mengecek keadaan Ika.


*****


Sepertinya akan banyak part Ika setelah ini ya. karena Leon sudah bahagia, nanti akan ada part-part romantis Leon dan Laura dan juga Zico, Intan.


Gimana dengan part ini?


Ramein dengan like, vote, dan coment yang banyak ya!