
...Kembali lagi dengan dua part yang uwu nih. Jangan lupa ramein part ini ya dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya! Part untuk hari ini selesai dan berjumpa kembali di hari jumat....
...Happy reading...
*****
Setelah beberapa hari mengirim surat untuk Dio. Hari ini Cut, Ihsan, Saera, Ulan, dan Alan akan berlibur ke Medan sekaligus merencanakan pernikahan Cut dan Ihsan. Sementara Leon, Laura, Ica dan Ryan tidak bisa ikut karena anak-anak mereka masih sekolah.
Ke-limanya sudah sampai di bandara untuk menunggu keberangkatan mereka ke Medan sebentar lagi. "Abang saja yang bawa kopernya!" ucap Ihsan dengan tegas dan mengambil koper yang berada di tangan Cut karena keduanya akan berlibur sedikit panjang di Medan.
Pernikahan Cut dan Ihsan akan dilakasanakan di Medan juga karena kota tersebut adalah tanah kelahiran keduanya. tentu saja di Jakarta juga akan ada pesta karena mengingat banyak teman-teman Cut dan Ihsan yang berada di sana.
Cut tersenyum karena merasakan perhatian Ihsan setiap harinya. Bahkan dengan sangat mudah lelaki itu membuatnya jatuh cinta walau belum sepenuhnya tetapi berhasil menggeser nama Dio di hati Cut. Siapa yang tidak mudah jatuh cinta dengan lelaki bertanggungjawab seperti Ihsan? Pasti perempuan di luar sana juga akan sangat mudah jatuh cinta pada sosok lelaki tinggi yang berjalan di sampingnya.
"Terima kasih, Bang!" ucap Cut dengan tulus.
"Apapun untukmu, Dek!" jawab Ihsan dengan tersenyum manis.
Saera, Ulan, dan Alan yang melihat keromantisan keduanya juga ikut tersenyum bahagia karena mereka ikut merasa dalam romansa yang keduanya ciptakan. Mereka mengingat waktu semasa muda mereka yang juga seperti Cut dan Ihsan. Kebahagiaan terpancar di mata Cut dan Ihsan, entahlah rasa bahagia itu tidak bisa dijabarkan dengan mudah karena saat ini hati mereka lah ya g merasakannya.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Cut, Ihsan dan yang lainnya sudah naik pesawat. Saera duduk bersama dengan sang nenek, begitu pun Ulan yang duduk bersama sang suami sedangkan Ihsan duduk dengan seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. Tetapi walaupun terpisah, Ihsan masih bisa melihat Cut yang berada di sampingnya hanya mereka dibatasi oleh jarak saja.
Keduanya saling memandang dan tersenyum dengan manis. Pesawat yang mereka tumpangi sudah mulai terbang. "Bahagia pulang ke Medan?" tanya Ihsan dengan lembut.
"Bahagia banget, Bang!" ucap Cut dengan tersenyum.
"Apalagi sebentar lagi akan menikah dengan, Abang pasti tambah bahagia, kan?" tanya Ihsan dengan terkekeh.
"Abang!" rengek Cut dengan manja membuat Ihsan kembali dilanda rasa gemas yang luar biasa pada calon istrinya. Secepatnya ia harus menghalalkan Cut ketika nanti mereka sudah sampai di Medan. Ihsan tidak bisa menunda lagi bisa-bisa ia gila karena kegemasannya terhadap Cut.
"Kalau gini caranya Abang gak mau menunda pernikahan kita, Dek!" ucap Ihsan dengan gemas.
"Tuh kan Abang yang gak sabaran," ucap Cut mengerucutkan bibirnya.
Ihsan tertawa lirih. Ya memang dirinya yang tak sabaran ingin menikahi Cut karena ia tidak ingin ada lelaki yang melirik Cut karena Cut hanya akan menjadi miliknya sampai ajal menjemputnya.
"Jujur, Abang memang sudah tidak sabar ingin menjadikan kamu istri untuk Abang dan ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti," ucap Ihsan dengan lembut. "Terima kasih mau menerima Abang walau di hati kamu masih ada Dio. Terima kasih juga kamu sudah mengerti perasaan Abang karena kamu rela keluar dari rumah sakit agar tidak melukai perasaan Abang karena kamu bertemu dengan Dio setiap hari. Abang tidak salah memilih calon istri sebaik dan se-pengertian seperti kamu," lanjut Ihsan dengan sangat tulus.
"Seharusnya aku yang berterima kasih karena Abang tetap mencintai gadis seperti aku. Aku bukan perempuan yang baik tetapi aku berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk Abang dan anak-anak kita kelak. Terima kasih karena cinta dan perhatian Abang mampu menggeser nama bang Dio di hatiku walau belum sepenuhnya tetapi aku yakin nama bang Dio akan hilang dengan sepenuhnya digantikan dengan nama Abang, lelaki yang penuh tanggungjawab," ucap Cut dengan penuh perasaan.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Ihsan sekarang yang jelas lelaki itu sangat bahagia dengan pengakuan cinta Cut kepadanya walau belum sepenuhnya tetapi itu sudah sangat membuat Ihsan bahagia bahkan matanya sampai memerah karena merasa haru dan Ihsan yakin di hati Cut akan ada namanya sepenuhnya tanpa ada Dio di sana.
****
Hari ini Dio tidak semangat dalam bekerja. Dirinya lebih banyak melamun tidak seperti biasanya. Ratu dan Cut adalah nama dua perempuan yang selalu berada di dekatnya dan sekarang Cut tidak akan lagi berada di sisinya bahkan mencintainya. Mengapa Dio merasa kehilangan akam sosok Cut yang selalu bersamanya setiap hari dan membantunya dalam menangani pasien. Seharusnya Dio bahagia dengan kepergian Cut. Hidupnya pasti akan damai, bukan? Dio tinggal memikirkan perasaannya sendiri kepada Ratu. Ia yakin bisa memiliki Ratu bahkan menikahi gadis itu.
Ahh... Dio merindukan masakan Cut yang diberikan untuknya.
Kenapa selalu gadis itu sih yang membayangi pikirannya? Lama-lama Dio bisa gila karena bayangan Cut yang tersenyum untuknya.
"Aku bahagia dengan kepergianmu, Cut!" ucap Dio meyakinkan diri.