
...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...
...Happy reading...
*****
Cut menatap Dio yang tertidur di sofa. Hatinya berdenyut sakit saat melihat suaminya lebih memilih tidur di sofa setelah ia tertidur, sebenarnya ada masalah apa sebelum ia kecelakaan? Kenapa rasanya menyakitkan saat melihat suaminya sendiri tidur di sofa dan tak mau seranjang dengannya.
Sungguh itu lebih menyakitkan dari apapun. Apakah Dio tak mencintainya lagi? Apakah Dio bertahan dengannya karena dirinya sedang sakit? Memikirkan itu membuat hatinya Cut berdenyut sakit. Jika benar apa yang ia pikirkan tersebut bagaimana kehidupannya selanjutnya? Karena Cut benar-benar merasa janggal dengan semuanya. Tak hanya Dio, kedua orang tuanya, adik-adiknya, dan keluarga yang lainnya sangat terlihat aneh apalagi saat Dio berada di kamar bersama dengan dirinya.
Cut berjalan mendekati Dio yang tertidur di sofa, ia memandang wajah Dio dengan sangat dalam, tangannya terulur untuk menyentuh wajah Dio dengan lembut.
"Bang, apa kamu gak mencintaiku lagi hingga tertidur di sofa dan gak mau seranjang denganku?" gumam Cut dengan sedih.
Sudut mata Cut berair ia ingin menangis sekarang. Sebenarnya sebelum kecelakaan itu apa yang terjadi? Kenapa ia dan Dio bisa berantem? Apa penyebabnya orang ketiga? Terlihat dari gerak-gerik Dio yang selalu menghindarinya saat ia ingin disentuh membuat Cut sedikit membenarkan pikiran buruknya tentang Dio yang selingkuh.
Dio yang sudah terbangun sejak tangan Cut menyentuh wajahnya, berpura-pura tetap tertidur, ia mendengar semua ucapan Cut yang merasa curiga dengannya. Padahal Dio melakukan ini agar tidak khilaf menyentuh Cut yang belum halal baginya.
"Abang, apa Abang belum bisa mencintai aku? Tapi kenapa kita bisa menikah bahkan Mashita lahir dari rahimku saat pernikahan kita?" gumam Cut dengan lirih.
Cukup!
Dio tak tahan lagi melihat Cut yang bersedih karena sikapnya yang seperti ini. Dio membuka matanya dengan perlahan, ia menatap Cut dengan penuh cinta.
"Hoammmm. Jam berapa ini, Sayang? Kenapa kamu belum tidur? Maafkan Abang yang ketiduran di sofa," ujar Dio berbohong agar Cut tidak bersedih kembali.
"Jam 1 malam, Bang! Kenapa Abang tidur di sofa? A-apa Abang... "
"Ssttt... Jangan berpikir macam-macam. Abang hanya mencintaimu, sampai kapan pun hanya mencintaimu," ujar Dio dengan tegas yang membuat Cut lega dan bisa tersenyum lagi.
"Ayo tidur lagi! Tapi jangan di sofa ini sempit untuk kita berdua!" ucap Cut dengan tersenyum.
Cut membelai dada Dio dengan lembut yang membuat Dio menahan napasnya. Ia mrncegah tangan Cut yang hendak turun ke bawah, bisa bahaya jika ini di teruskan. Dio menggenggam tangan Cut dan mengecupnya saat melihat wajah kecewa Cut kembali.
"Abang akan melakukannya jika kamu sudah benar-benar sembuh. Jangan berpikir yang tidak-tidak tentang Abang, Cut. Saat kamu sembuh bersiaplah dengan gempuran Abang, " ucap Dio diselingi candaan yang membuat pipi Cut memerah. Bukankah dirinya terlihat begitu menginginkan sentuhan Dio? Duh malunya!
Cut menyembunyikan wajahnya di dada Dio. Ia pikir Dio tak lagi mencintainya, ia pikir lelaki itu berbohong kepadanya, ia pikir Dio sudah bosan dengannnya. Ternyata Cut salah Dio masih sangat mencintai dirinya.
Dio membelai punggung Cut dengan lembut, hingga ia mendengar suara napas yang teratur dari Cut. Dio tersenyum dan memberanikan mengecup kening Cut dengan lembut.
"Aku gak bisa seperti ini terus. Aku harus meminta izin menikah dengan Cut kepada om Sultan dan tante Ika serta keluarganya yang lain. Aku tidak ingin membuat kesalahan yang akan membuatku menyesal nantinya. Maafkan Abang ya, Cut! Mungkin kisah kita ini didasari oleh kebohongan tetapi percayalah jika Abang sangat mencintaimu! Biarkan Abang egois kali ini untuk memilikimu, menjagamu, menjaga Cika, dan membahagiakan kalian berdua," gumam Dio dengan lirih sebelum ia ikut memejamkan matanya menyusul Cut.
****
"Ada apa kamu mau berbicara dengan saya?" tanya Sultan saat dia dan Dio berada di taman belakang rumah Cut.
"Om, saya gak bisa terus-terusan berbohong kepada Cut jika saya ini suaminya. Saya takut khilaf Om dan menyentuh Cut sebelum kami halal, saya meminta izin untuk menikahi Cut, Om. Ya walaupun ini terdengar egois tetapi saya ingin menjaga martabat Cut sebagai seorang wanita," ucap Dio dengan tegas.
Sultan menghela napasnya dengan kasar, inilah yang sejak semalam ia pikirkan hingga dirinya tidak bisa tidur.
"Ini yang saya takutkan dari awal Dio. Setelah masa iddah Cut selesai kamu bisa menikahi Cut secepatnya, saya tidak ingin kalian berbuat yang tidak-tidak karena Cut mengetahui jika kamu adalah suaminya," ujar Sultan dengan bijak.
Dio tersenyum. "Makasih, Om! Walaupun pernikahan Dio dan Cut didasari oleh kebohongan tetapi Dio yakin jika Dio bisa membuat Cut bahagia. Dio akan menunggu masa iddah Cut selesai dan setelah itu Dio akan langsung menikahi Cut. Sekali lagi makasih Om mau merestui niat baik Dio," ucap Dio dengan lega.
"Ini saya lakukan demi anak saya agar tidak berzin* dengan kamu Dio. Anak saya tahunya kamu adalah suaminya, pasti nanti Cut akan bertanya kenapa kamu tidak mau menyentuhnya atau bisa saja kamu memanfaatkan kesempatan ini untuk menyentuh anak saya," ucap Sultan dengam dingin.
"Saya tidak akan menyentuh Cut sebelum Cut menjadi istri Dio, Om. Om bisa pegang ucapan Dio! " ujar Dio dengan tegas.
Setelah masa iddah Cut selesai Dio tak lagi takut untuk menyentuh Cut. Saat ini biarlah Cut bertanya-tanya kenapa dirinya bersikap seperti itu.
"Saya pegang ucapan kamu!"