
...Maaf ya upnya lama. Sibuk banget akhir-akhir ini....
...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...
...Happy reading...
****
Dua bulan sudah pernikahan Dio dan Cut. Keduanya semakin mesra dan Cut semakin manja kepada suaminya, kedua orang tua dan semua adik Cut juga sudah pindah ke Jakarta dan menempati rumah mereka sendiri.
Pagi ini Dio dan Cut pergi bersama ke rumah sakit karena Cut juga sudah bisa kerja kembali.
Dio mengusap tengkuknya saat tiba-tiba perutnya terasa mual. "Sayang ada permen gak?" tanya Dio yang menahan mualnya.
"Permen?" tanya Cut dengan bingung lalu ia memeriksa kantung jas dokternya dan menemukan satu permen kiss di sana karena seingatnya ia memiliki satu permen.
"Ini, Bang!" Cut memberikan permen itu kepada Dio dan suaminya itu langsung menerimanya dengan cepat Cut memperhatikan suaminya yang tampak menahan sesuatu.
"Abang kenapa? Sakit?" tanya Cut dengan cemas. Ia langsung meletakkan punggung tangannya di dahi Dio tetapi suhu tubuh Dio sama sekali tidak panas.
Dio menghis*p permennya dengan cepat. "Gak tau, Sayang. Tiba-tiba perut Abang mual banget," ucap Dio dengan lirih.
"Abang masuk angin? Kalau gitu kita pulang aja ya," ucap Cut dengan cemas sekaligus perhatian kepada suaminya.
Dio terkekeh. Ia mencubit pipi Cut dengan gemas. "Perhatian banget sih istri, Abang!" ucap Dio bahagia.
"Abang, serius! Kalau Abang sakit kita pulang aja ya!" ucap Cut dengan merengek manja.
"Kita sudah sampai rumah sakit, Sayang. Abang gak apa-apa cuma mual aja, nanti pasti hilang mualnya," ucap Dio dengan lembut.
"Beneran?" tanya Cut.
"Bener, Sayang. Ya udah Abang kerja dulu ya, kamu juga nanti istirahat kita ketemu lagi," ucap Dio dengan mengusap pipi Cut lembut.
Para dokter dan suster hanya bisa tersenyum melihat kemesraan keduanya. Akhirnya Dio dan Cut bisa kembali bersama setelah sekian lama.
****
"Uwekk...."
"Uwek..."
Dio terus berusaha mengeluarkan isi perutnya, ia terus merasa mual sejak pagi dan sampai saat ini hingga Dio merasa tubuhnya sangat lemas tak berdaya. Dio pikir semuanya akan baik-baik saja ketika Dio memakan banyak permen kiss ternyata tidak membawa efek apapun untuk rasa mualnya yang ada semakin menjadi-jadi ketika ada bau yang menyengat di hidungnya.
"Hari ini aku kenapa?" tanya Dio pada dirinya sendiri setelah membersihkan mulutnya di wastafel.
Lemas membuat Dio tidak ingin melakukan apapun termasuk bekerja, yang ia inginkan saat ini adalah berbaring dan memejamkan matanya. Tetapi rasanya tidak mungkin karena tanggungjawabnya masih ada hari ini di rumah sakit bahkan sampai malam.
Dio berjalan tertatih keluar dari kamar mandi, wajahnya sudah terlihat pucat sejak ia terus mencoba memuntahkan sesuatu tetapi tidak ada satu pun yang keluar, Dio sungguh tersiksa dan ingin sekali beristirahat. Mual sejak pagi membuat Dio tak berdaya.
"Abang kenapa?" tanya Cut dengan panik saat melihat tubuh Dio hampir terjatuh.
Cut memapah tubuh suaminya ke arah sofa di ruangan Dio. Dio langsung merebahkan kepalanya di paha Cut dan wajahnya menghadap ke perut Cut.
"Mual banget, Sayang! Tadi suster udah Abang suruh beli permen kiss karena dibayangan Abang itu permen pasti enak dengan bikin mual lagi tapi ternyata Abang salah, permennya gak memberikan efek apapun di perut Abang," rengek Dio dengan manja.
Cut membelai rambut Dio dengan lembut. "Abang beneran masuk angin. Nanti kita periksa ke dokter Andi ya," ucap Cut dengan lembut. "Atau aku ambilkan obat ke apotek sebentar, Abang tunggu di sini ya!" ucap Cut.
Dio menggelengkan kepalanya. Ia malah memeluk perut Cut dengan erat, rasa mualnya tiba-tiba saja hilang saat mencium wangi tubuh Cut dan memeluk Istrinya.
"Gak usah. Mualnya sudah hilang, Sayang. Ini aneh sekali tadi ada salah satu pasien Abang yang pakai parfum menyengat dan Abang langsung pusing dan juga mual tapi Abang cium parfum kamu gak malah enak banget dan perut Abang sudah tidak mual. Tapi Abang kok tiba-tiba pengin asinan jambu ya," ucap Dio menelan ludahnya sendiri membayangkan asinan jambu masuk ke ketenggorokannya, pasti rasanya segar dan enak.
Cut terkekeh. "Abang kayak ibu hamil yang sedang ngidam!" ucap Cut dengan tertawa.
Dio terdiam. Ia langsung terbangun dan menatap Cut dengan lekat.
"Ibu hamil? A-apa jangan-jangan kamu hamil, Yang?" tanya Dio dengan berbinar.
Tubuh Cut langsung mematung. "A-aku hamil?" tanya Cut dengan terkejut.