
...Happy reading...
****
Sultan menetap Ika dengan sendu. Baru saja ketiga anak kembarnya berusia 2 tahun dan sekarang Ika sudah hamil kembali padahal Sultan masih ketakutan ketika melihat Ika melahirkan dan sekarang harus menghadapi persalinan kembali. Tetapi anak adalah titipan yang akan membuka pintu rezeki dengan mudah bagi Sultan maupun Ika.
Ika tak mengalami mual sama sekali bahkan ngidam pun tidak tetapi yang mengalami itu semua adalah sang suami. Ngidamnya Sultan membuat Ika geleng-geleng kepala, karena pasalnya setiap ada iklan makanan di TV, Sultan sangat menginginkannya dan berakhir sang suami yang sibuk mencari makanan yang dirinya sendiri inginkan.
"Papa, mama!" teriak si kembar dengan ceria saat melihat kedua orang tuanya sedang duduk memakan rujak yang baru saja Sultan inginkan.
Reisya memeluk Sultan dengan erat. Anak perempuannya itu sangat dekat dengan Sultan, wajahnya sangat mirip dengan Sultan versi perempuan dan Reisya adalah primadona di kompleks perumahannya. Jangan lupakan Rifki dan Rizki yang sangat tampan, wajah mereka seperti bule antara perpaduan wajah Sultan dan Ika, membuat ibu-ibu kompleks rumah mereka sering kali menjodohkan anak mereka dengan anak Sultan dan Ika, bahkan ibu-ibu yang masih hamil kerap kali menjodohkan anaknya yang belum lahir itu.
"Anak cantik papa dan mama baru bangun hmmm?" ucap Sultan memeluk Reisya yang terlihat manja sekali berbeda dengan ketiga kakaknya yang seakan mengerti memposisikan diri mereka sebagai seorang kakak, apalagi Cut yang tidak tinggal bersama mereka.
"Iya Papa. Leisya ngompol," jawab Rifki dengan polosnya.
"Kasulnya basah," timpal Rizki dengan memeluk mamanya.
"Leisya minta maaf Mama, Papa. Tadi Leisya mimpi pipis telus pipis benelan," jawab Reisya dengan takut-takut dan matanya sudah berkaca-kaca.
Sultan dan Ika saling memandang satu sama lain dan mereka tersenyum pada akhirnya. "Mama sama papa maafin Reisya. Sekarang Reisya sudah ganti celana, kan?" tanya Ika dengan lembut.
"Iya Leisya bisa pakai celana sendili tadi. Kata kak Lifki dan kak Lizki, Leisya gak boleh manja, halus bisa pakai celana sendili," ucap Reisya dengan manja.
"Wah anak mama dan papa hebat!" ucap Ika dengan senang membuat ketiga anaknya bersorak.
"Lifki juga hebat!"
"Lizki juga hebat!" teriak keduanya secara berbareng membuat kelimanya tertawa dengan bahagia.
"Mama ambilkan makan ya. Kalian belum makan siang tapi sudah tidur duluan," ucap Ika dengan lembut.
"Makan yeee.. Cacingnya udah bunyi kalena lapal!" ucap Reisya yang memang sejak bangun tidur sudah merasa lapar tetapi karena ketakutannya ia sedikit melupakan rasa laparnya.
"Abang Rifki dan Abang Rizki sama papa dulu," ucap Ika yang diangguki oleh kedua anaknya.
"Papa, kapan kita ketemu kak Cut?" tanya Reisya dengan manja.
"Nanti kalau kak Cut libur sekolah. Sekarang kita belum bisa ke sana kan mama sekarang lagi hamil. Adiknya Reisya, Rifki, dan Rizki ada di dalam perut mama," jelas Sultan yang membuat ketiga anaknya paham tetapi di dalam lubuk hati mereka sangat merindukan Cut yang sangat menyayangi dan memanjakan ketiganya.
*****
Dirga menatap kedua adiknya dengan datar, pasalnya mainan mereka sudah memenuhi ruangan keluarga. Dirga sudah lelah membersihkannnya, bocah 5 tahun itu tampak frustasi menghadapi kedua adiknya yang sangat aktif berbeda dengan dirinya yang pendiam.
"Ayah, kakak sudah capek!" teriak Dirga dengan frustasi memanggil Leon dengan kencang. Leon dan Laura yang sedang makan cepat-cepat menghampiri ke-tiga anaknya. Saat ini Leon sengaja pulang untuk makan siang bersama dengan istri dan ketiga anaknya.
"Kenapa, Kak?" tanya Laura dengan lembut.
"Huh... Lihat itu, Bun! Mainan mereka sudah mememuhi ruangan ini. Mainan Kakak juga yang dibelikan ayah dan papa sudah dirusak oleh mereka!" ucap Dirga dengan sebal.
Dirga memasang wajah masamnya membuat Leon menghela napasnya dengan perlahan. Menghadapi Dirga lebih mudah dari pada menghadapi Vino dan Vina. "Nanti Ayah belikan lagi ya. Kakak jangan nangis," ucap Leon dengan lembut.
"Kakak gak nangis cuma kesal saja sama mereka berdua!" ucap Dirga dengan kesal.
"Vino, Vina. Minta maaf sama kakak!" ucap Laura dengan tegas.
Keduanya menunduk takut dan perlahan mendekat ke arah Dirga. "Kakak, maafin Vino dan Vina ya. Mainan kakak tadi rusak!" ucap Vino dengan lirih.
"Vina dan Vino tidak sengaja menarik sayap pesawatnya, dan rodanya hingga terlepas," ucap Vina menimpali.
"Huhu. Kalian ini suka sekali merusak mainanku!" ucap Dirga yang masih sebal. "Aku maafkan, lain kali jika sudah selesai bermain atur mainan kalian ke tempat semula. Aku sudah tidak mau mengaturnya lagi!" ucap Dirga dengan datar.
Kedua anak berusia 3 tahun itu hanya bisa mengangguk patuh. Keduanya sangat takut melihat Dirga marah karena Dirga seperti ayah mereka dingin, tenang, tetapi jika sudah marah sangat menyeramkan.
"Kami janji Kak!" ucap Vino dan Vina berbarengan
Leon dan Laura bernapas dengan lega saat ketiga anak mereka sudah berdamai. Setiap harinya seperti ini membuat keduanya pusing apalagi sudah berkumpul dengan para sepupu-sepupu mereka, rumah seakan pasar dan kapal pecah.
******
1-2 part lagi ya. terus cus ke cerita baru dan cerita Cut dan Dio.
Gimana dengan part ini?
Seru gak?
Ramaikan lagi yak!