Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~23 (Dengan Berat Hati)



...Happy reading...


***


Laura merasa kehilangan pelukan Leon saat ia terbangun dari tidurnya. Badannya masih sedikit lemas dan dengan berat hati ia tidak berangkat bekerja, walau ada rasa tak enak hati pada Leon yang sudah sangat baik kepadanya. Laura bangun dari tidurnya dengan kepala yang sedikit berdenyut, sakit yang ia rasakan kemarin ia coba hilangkan karena ada Dirga yang harus ia mandikan. Air hangat sudah ia persiapkan sejak tadi saat dirinya ke dapur.


"Anak Bunda baik banget hari ini," ucap Laura dengan tersenyum. "Maafin Bunda ya, Bunda sangat takut ketemu dengan ayahmu, Nak. Dia sangat menyeramkan, tapi kamu jangan membencinya, cukup Bunda saja yang membenci ayahmu," tutur Laura dengan tersenyum lirih karena bagaimanapun ia tidak mau membuat anaknya menjadi pendendam kepada orang tuanya sendiri, walau kehadirannya tidak diharapkan Zico sama sekali.


"Sekarang kamu mandi dulu ya," ucap Laura melepaskan baju anaknya dengan perlahan. Dirga tampak diam memainkan jemarinya hingga air ludahnya keluar, suara gumaman Dirga menambah kegemesan Laura kepada sang anak.


"Kenapa setiap Bunda perhatikan semakin ke sini kamu tidak mirip dengan ayahmu tetapi mirip dengan pak Leon," gumam Laura dengan lirih. Setelah itu ia menggelengkan kepalanya karena pikiran melanturnya yang sudah entah kemana-mana. Mana mungkin Dirga mirip dengan Leon sedang mereka sama sekali tidak memiliki ikatan darah sedikit pun.


Laura menggendong Dirga menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur. Sebenarnya ia masih sedikit menggigil ketika terkena air, tetapi sakit yang ia rasakan dirinya saat ini tidak ia bawa rasa sedikit pun. "Dirga jangan main air ya, Nak. Bunda kedinginan," ucap Laura saat Dirga memainkan air yang berada di bak mandinya. Dengan cepat Laura menyudahi mandi anaknya karena tidak ingin dirinya bertambah demam karena ia harus cepat sembuh untuk bisa bekerja kembali di restoran.


***


Malam harinya Leon kembali datang ke rumah Laura. Entah mengapa kakinya terus melangkah ke rumah wanita dengan anak satu itu, pikiran Leon bercabang, ia menjadi sangat bimbang untuk meninggalkan Laura dan Dirga begitu saja. Di satu sisi Laura adalah wanita yang sangat ia cintai dan di sisi lain ada kakak dan kakak iparnya yang sangat membutuhkan bantuannya. Andai saja Jihan tidak mengalami trauma yang sangat dalam mungkin Leon bisa berpikir dengan tenang saat ini karena pasti Alan tidak meminta bantuannya, tetapi semuanya bukanlah di bawah kuasa Leon, ia harus membantu orang yang sangat ia sayangi selama ini.


Laura terkejut dengan kedatangan Leon yang sudah berada di depan pintunya, tumben sekali lelaki itu mengetuk pintunya, biasanya Leon langsung membuka pintunya dengan kunci serep yang ia dapatkan entah dari mana.


"K-kenapa Bapak bisa berada di sini lagi?" tanya Laura dengan terbata saat melihat wajah datar Leon menatapnya dengan instens.


"Saya ingin!" jawab Leon dengan singkat, padat dan jelas. Laura hanya bisa menghela nafas karena sifat kaku Leon yang menurutnya sangat membuat semua orang kesal.


Tanpa disuruh oleh pemilik rumah, Leon langsung duduk di sofa rumah Laura dengan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Laura menyusul Leon dengan wajah bingungnya saat melihat wajah penuh beban dari seorang Leon.


"Laura!" panggil Leon dengan tegas.


"Iya Pak," jawab Laura dengan menelan ludahnya kasar karena merasa ada yang berbeda kali ini dengan Leon.


"Berikan Dirga pada saya!" ujar Leon dengan dingin. Laura langsung memberikan Dirga pada Leon karena anaknya sejak tadi ingin menggapai tangan Leon saat lelaki itu datang ke rumahnya. Dirga langsung tertawa saat sudah berada di pangkuan Leon membuat lelaki itu tersenyum tipis, bermain dengan Dirga mungkin akan menghilangkan rasa lelahnya.


"Ada urusan apa Bapak datang ke rumah saya lagi?" tanya Laura dengan tegas.


"Saya ingin bertanya kepadamu," ucap Leon dengan menatap Laura tajam.


"T-tanya apa?"


"Jika saya pergi apa kamu akan merindukan saya?" tanya Leon dengan tegas ada beban berat yang seakan menimpa hatinya saat ini.


Laura tidak menjawab, wanita itu hanya diam seribu bahasa karena tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Leon yang diajukan untuknya.


"Jawab Laura! Karena saya butuh jawaban itu dengan segera," ucap Leon dengan tidak sabaran karena melihat keterdiam Laura.


"Mana mungkin saya merindukan anda, Pak. Karena kita tidak memiliki hubungan khusus," jawab Laura dengan mantap walau hatinya merasa tidak terima dengan jawaban Laura tersebut.


"Termasuk jika saya tidak pernah lagi bertemu denganmu dan juga Dirga?" tanya Leon dengan datar. Jawaban Laura membuat hatinya berdenyut sakit, namun ia mampu menyembunyikan rasa sakit itu dengan baik.


Leon menghela nafasnya dengan berat. "Saya tanya sekali lagi. Apa kamu tidak memiliki rasa sedikit pun kepada saya?" tanya Leon dengan tegas.


"Dari awal sudah saya katakan jika saya..."


"Cukup!" ujar Leon dengan dingin. Berulang kali Leon menghela nafasnya dengan berat, ini sudah sekian kalinya ia ditolak oleh Laura dan rasanya tetap sangat menyakiti hatinya. Dengan berat hati mungkin ia akan pergi meninggalkan Laura dan Dirga dalam waktu yang sangat lama.


"Saya akan pergi ke Singapura," ucap Leon dengan datar. Namun, sukses membuat Laura terkejut menatap ke arah Leon dengan pandangan yang sulit diartikan.


"S-singapura?"


"Ya. Mungkin ini adalah keputusan yang sangat tepat, walau saya dengan berat hati harus meninggalkan kamu dan Dirga begitu saja dalam waktu yang sangat lama. Dan malam ini adalah penolakan kamu untuk sekian kalinya terhadap saya tetapi entah mengapa hati saya tetap memilihmu walau banyak di luar sana wanita cantik yang menginginkan saya," ujar Leon dengan panjang lebar dan baru kali ini ia bicara seperti ini kepada Laura.


"Mungkin kepergian saya adalah kebahagiaanmu, satu pesan saya hiduplah bahagia bersama Dirga," lanjut Leon dengan datar.


"B-berapa lama?" tanya Laura dengan terbata. Ada perasaan tidak rela saat Leon akan pergi ke luar negeri.


"Tidak tahu, yang pasti dalam waktu yang sangat lama," jawab Leon dengan datar. Ia sengaja tidak memberitahukan berapa lama ia berada di Singapura kepada Laura.


Laura hanya terdiam sibuk dengan pikirannya sendiri saat ini.


"Dirga sama bunda ya. Ayah mau pulang," ucap Leon kepada Dirga. Leon sengaja memanggil dirinya dengan sebutan ayah ketika bersama dengan Dirga karena ia ingin Dirga mengenalnya sebagai sang ayah dari anak itu.


Dirga langsung menangis saat Leon memberikan Dirga kepada Laura, membuat wanita itu tersentak karena tangisan Dirga yang cukup keras, tangan dan kakinya terus bergerak ingin digendong oleh Leon kembali.


"Cup.. Cup... Dirga gak mau Ayah pergi ya?" tanya Leon kembali menggendong Dirga. Rasanya berat hati sekali untuk meninggalkan Dirga. Leon kecup pipi Dirga hingga anak itu kembali terdiam.


"Sepertinya Dirga tidak mau lepas dengan Bapak," ucap Laura dengan lirih.


"Apa itu artinya bundanya tidak ingin saya pergi juga?" tanya Leon dengan dingin. Laura kembali tersentak dan terdiam ia hanya memainkan jemarinya dengan gugup.


"Saya akan tidurkan Dirga. Setelah itu saya ingin menghabiskan waktu berdua dengan kamu," ucap Leon dengan tegas. Laura tidak bisa berpikir dengan jernih apa yang Leon katakan kepadanya, ia hanya mengikuti langkah Leon ke kamarnya dan betapa herannya Laura melihat anaknya yang sudah terlelap dalam gendongan Leon.


Leon meletakkan Dirga di kasur dengan perlahan setelah itu ia mendekat ke arah Laura, menarik tubuh wanita itu agar mendekat ke arahnya.


"Saya menginginkan kamu Laura!"


****


Gimana dengan part ini?


Ada yang penasaran setelah ini mereka ngapain? 🙈


Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!