
...Happy reading...
****
Sebulan hampir tidak bertegur sapa dengan Ika membuat Rama frustasi pasalnya ia sangat merindukan gadis yang sangat membuatnya candu. Keberanian Ika, senyuman Ika, tawa Ika, dan wajah muak Ika terus menghantui Rama. Kini, di hari pernikahan Ica dan Ryan akhirnya Rama bisa bertemu dengan Ika, walau gadis itu tetap datang ke restoran tetapi Rama sering tidak melihat Ika jika mereka dalam satu ruangan kerja yang sama maka Ika akan menghindar entah kemana barulah jika Rama pergi Ika akan masuk ke ruangannya.
Saat ini Rama mengejar Ika yang entah berlari kemana, baru kali ini Rama merasakan kekhawatiran saat melihat wajah Ika yang sangat pucat. Rama mendesah lega saat melihat Ika masuk ke toilet. Namun, mendengar suara Ika yang muntah membuat Rama khawatir dan ingin mengetuk pintu toilet tetapi niat itu ia urungkan karena banyak wanita yang melihatnya dengan pandangan aneh, alhasil Rama hanya bisa menunggu Ika sampai kekasihnya itu keluar. Hari ini Rama ingin menyelesaikan semuanya, tetapi Rama masih diliputi kebimbangan yang luar biasa tetap bertahan dengan Kirana yang sudah lama bersama dengannya hampir 8 tahun atau dengan Ika. Rama dan Ika menjalin hubungan sudah 3 tahun dan bahkan Ika sudah menyerahkan semuanya. Ia ingin memilih Ika tetapi hatinya berat untuk melepaskan Kirana karena bagaimanapun Kirana sudah bersamanya sejak lama. Tetapi kebersamaannya dengan Ika adalah hal yang tidak bisa Rama lakukan dan Rama sangat merasa bersalah kepada Ika karena telah merusak gadis ceria itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rama kepada dirinya sendiri, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Rama tidak ingin kehilangan Ika dan juga Kirana.
Bunyi pintu toilet menyadarkan Rama dari lamunannya. Kedua mata mereka saling memandang, Rama menarik Ika untuk mendekat ke arahnya. Ika yang lemas hanya bisa pasrah saat Rama membawanya entah kemana.
"Mas bisa lepas tangannya?!" ucap Ika dengan datar.
"Kamu gak bisa menghindari Mas terus menerus, Ka. Kita harus menyelesaikan semuanya," ucap Rama dengan tegas.
Kenapa Rama tidak kaku lagi saat bicara kepadanya? Ika benar-benar lelah! Menyelesaikan permasalahannya dengan Rama adalah jalan terbaik agar ia bisa pergi dari kehidupan Rama. "Bisa pelan-pelan gak, Mas? Aku pusing!" ucap Ika dengan jujur membuat Rama sedikit memelankan langkahnya. Genggamannya pun berubah lembut kepada Ika karena Rama sadar sudah menyakiti Ika. Hal itu Rama lakukan agar Ika tidak bisa lergi darinya, ia sudah sangat menantikan waktu berbicara berdua dengan Ika.
Rama membawa Ika ke bangku taman yang ada di sebelah gedung tersebut. Mereka saling terdiam satu sama lain hingga Rama membawa Ika ke dalam pelukannya. "Saya gak mau kehilangan kamu, Ka!" ucap Rama dengan jujur.
"Mas gak mau kehilangan aku? Lalu bagaimana dengan Kirana? Aku perempuan Mas, seharusnya jika aku tahu dari awal aku bisa membentengi hati aku agar tidak jatuh cinta kepada Mas Rama," ucap Ika dengan tegas.
"S-saya juga gak bisa melepas Kirana begitu saja! Please bertahan sebentar lagi!" ucap Rama dengan memohon.
Ika menatap Rama dengan senyuman tipis. "Lepaskan aku, Mas. Anggap semua yang kita pernah lalui tidak pernah terjadi!" ucap Ika dengan datar hatinya begitu sakit saat Rama mengatakan tidak bisa melepaskan Kirana.
Ah... Siapa Ika? Ika hanyalah kekasih selingan untuk Rama dan dengan bodohnya Ika menyerahkan seluruh yang ia punya untuk Rama. Tubuh, hati, bahkan jiwa Ika sudah untuk Rama.
Rama tersulut emosi mendengar ucapan Ika. "Seenaknya kamu mengatakan jika sesuatu yang terjadi kepada kita harus saya lupakan begitu saja! Ka, saya cinta kamu! Kamu tidak bisa pergi dari hidup saya dan melupakan segalanya!" ucap Rama dengan marah.
"Terus aku harus seperti apa, hah? Kamu egois Mas. Kamu mau menikahi kami berdua? Sekarang aku tanya jika aku menyuruh Mas melepaskan kirana, Mas mau?" tanya Ika dengan tajam membuat Rama terdiam.
"Kamu gak bisa jawab kan, Mas? Itu artinya kamu tidak bisa melepaskan Kirana untuk memilih aku," ujar Ika dengan tajam.
"S-sayang, S-saya...."
"Cukup, Mas! Dari awal harusnya aku paham posisi aku di hati kamu itu apa. Aku sudah capek Mas. Untuk apa bertahan jika bukan aku yang kamu pilih?" ucap Ika dengan emosi.
Ika yang hendak bangun dari duduknya merasa pusing dan hampir terhuyung kebelakang jika tidak dengan sigap Rama menolongnya. "K-kamu sakit?" tanya Rama dengan khawatir.
"Aku gak apa-apa, Mas. Dan aku masih bisa hidup walau tanpa kamu! Jadi, jangan pernah berpikir jika aku adalah wanita lemah! Aku masih bisa berpijak di bumi walau berulang kali kamu sakiti!" ucap Ika dengan tajam dan langsung meninggalkan Rama yang terdiam mematung mencerna ucapan Ika yang sangat menusuk hatinya.
****
Ica mengerjapkan matanya, Ica tidak bisa menggerakkan kakinya dengan benar, jika ia bergerak sedikit saja maka miliknya akan terasa perih. Semua ini gara-gara Ryan!
"Mas bangun! Mas harus tanggungjawab!" rengek Ica dengan manja menggerakkan tangan suaminya yang berada di perutnya.
"Kenapa, Ca? Mau lagi?" tanya Ryan dengan suara seraknya saat melihat wajah istrinya yang kesal kepadanya.
"Aku gak bisa jalan, Mas. Malu sama orang tua kita ihh.. Kamu apain sih punya aku semalam? Burung Mas lapar atau gimana kok rakus gini?" tanya Ica dengan kesal.
"Ya aku masukin kamu lah, Sayang. Kita praktek reprokduksi buat anak yang lucu. Burung aku masuk sangkar nemu makanan lezat ya jadi rakus. Maaf kalau khilaf sampai buat kamu gak bisa jalan," ucap Ryan dengan mengecup bibir Ica dengan gemas.
"Bibirnya jangan di majuin gitu. Mau aku patuk lagi?" ucap Ryan dengan mesum.
"Ihh.. Aku gak mau lagi. Punya aku masih sakit Mas," rengek Ica hingga matanya berkaca-kaca.
"Uluh-uluh kesayangannya Mas Ryan. Jangan nangis dong," ucap Ryan dengan geli.
"Ish. Aku aduin nih ke Bunda," ucap Ica dengan kesal.
"Kamu mau aduin apa hmm? Mau bilang kalau burung suami kamu itu besar sampai kamu kesakitan dan gak bisa jalan? Ya terus bilang aja, aku sih gak masalah," ucap Ryan dengan santai membuat Ica kesal dan memukul dada suaminya.
Ryan terbahak. Pagi hari melihat wajah Ica yang menggemaskan membuat gairah Ryan memuncak. "Sayang, burungnya mau masuk lagi. Boleh ya?! Janji cuma satu kali," ucap Ryan dengan lirih.
"Gak mau! Ah....." Ica bergerak gelisah saat Ryan menyentuh miliknya dengan lembut tanpa sadar ia melebarkan pahanya dan membuat Ryan lebih mudah melancarkan aksinya.
"Lecet sedikit, Sayang! Nanti aku obati setelah kita selesai enak-enak," ucap Ryan dengan mesum.
Ryan benar-benar melakukannya. Ica hanya bisa bergerak gelisah ketika Ryan menyentuh kulitnya dengan lembut, mengecup setiap inci tubuh Ica hingga meninggalkan jejak kemerahan yang cukup banyak.
Suasana semakin memanas saat suara ******* mereka saling bersautan di pagi hari. Ryan lupa jika ada keluarga mereka yang menunggu keduanya untuk sarapan bersama karena baginya memakan Ica sudah sangat mengenyangkan. Hingga keduanya mendapatkan pelepasan bersama dengan Ica yang semakin lemas, sandi-sandi kakinya seperti dipaksa lepas dari kakinya. Ryan benar-benar membuat Ica tidak bisa berjalan dengan benar. Mungkin efek meminum obat kuat yang ia dapat dari sang papa.
*****
Silahkan kalau ada yang mau timpuk Rama😲😲😲
Kasihan Ika.
Kalian tim siapa nih?
Ramein gak nih?
Ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya.